
Sudah dua hari Panji berada di luar kota, dan selama itu pula Panji merindukan Nadin, walau mereka sering mengobrol di telpon atau berkirim pesan, tetap saja dia merindukannya.
Begitu juga dengan Nadin, dia juga merindukan Panji. Rasanya ada yang kurang saat dia tidak melihat Panji dikonveksi. Nadin tersenyum sendiri saat dia teringat apa yang dilakukan Panji dalam mobilnya, sesaat sebelum dia turun.
Kecupan Panji dipipinya, iya dia ingat itu. Hangatnya bibir Panji saat menyentuh pipinya, masih bisa dia rasakan sampai saat ini. Membayangkannya saja sudah membuat bulu romanya merinding, sekaligus membuatnya merindukan Panji.
Nadin tak menyangka perasaanya akan sedalam ini pada Panji. Dia benar-benar mencintai Panji. Rasa cintanya pada Panji perlahan menghapus rasa cintanya pada Bily. Hanya nama Panji yang ada dihatinya saat ini.
....
Selama bekerja di konveksi banyak laki-laki yang menyukai dan mendekati Nadin. Tapi Nadin menganggap mereka hanya sebatas teman kerja.
Dan entah darimana Panji bisa tahu semua itu. Apa mungkin Sambaru yang memberitahunya? Tapi mana mungkin?. Nadin tahu kalau Panji mempunyai orang kepercayaan yang selalu mengikutinya, tapi apa mungkin orang itu juga bisa masuk ke dalam konveksi?. Tanya Nadin dalam hatinya.
Sudah satu minggu Panji di luar kota. Nadin semakin merindukannya. Sekarang hari minggu, biasanya dia sudah dirumah Panji membuatkan sarapan pagi lalu sarapan bersamanya. Nadin merindukan saat-saat itu, padahal dulu dia akan sangat senang kalau tidak pergi kerumah Panji, tapi sekarang sebaliknya.
Hari minggu ini Nadin hanya berdiam diri dirumahnya. Doni juga tidak bisa dia ajak pergi karena harus lembur dihari minggu.
Kalau saja hubungannya dengan Irma baik, mungkin saja dia bisa mengajaknya pergi untuk sekedar berjalan-jalan ke mall atau tempat lainya.
Mengingat perbedaan usia yang tidak terlalu jauh, seharusnya mereka bisa menjadi saudara atau paling tidak teman yang baik.
Nadin mulai merasa bosan berdiam diri tanpa melakukan apapun. Panji juga tidak menghubungi atau mengirimnya pesan.
Apa dia sibuk?. Tapi kan ini hari minggu, masa hari minggu dia masih kerja?. Apa jangan-jangan dia sibuk dengan gadis lain?. Hahhh apa sih yang aku fikirkan.
Tapi......bisa aja kan bener dia punya pacar atau selingkuhan disana. Kamu tahu sendiri kan gimana sifat aslinya dia. Dia tak sedingin itu.
Aahh enggak mungkin, aku yakin dia gak seperti itu. Aku yakin dia setia dan cinta sama aku.
"Kenapa kamu bisa seyakin itu?. Kamu tahu sendiri ko Panji itu laki-laki yang sangat tampan. Banyak gadis yang ngejar-ngejar dia. Kamu bayangin aja, kalau ada gadis cantik yang jatuh cinta sama dia, terus ngejar-ngejar dan rela melakukan apa aja demi mendapatkan cinta ko Panji, apalagi sampai rela menyerahkan diri mereka, laki-laki mana yang akan nolak?. Mana ada kucing yang nolak diberi ikan gratis.
Kalau benar dia selingkuh, aku juga bisa selingkuh kok.
Mana mungkin kamu bisa selingkuh. Sedangkan orang kepercayaan ko Panji selalu membuntuti kamu. Dia bisa tahu apapun, bahkan saat kamu sedang dikamar mandi.
Aahhhhhh. Dialog Nadin dalam hati.
Tak lama kemudian, mak Ebah dan Hirlan datang. Mereka baru pulang dari pasar.
Nadin membantu membereskan belanjaan neneknya. Mak Ebah memang selalu pergi ke pasar setelah para pekerja bangunan sarapan pagi diwarungnya.
Sekarang mak Ebah bersiap akan kembali ke warung, karena jam makan siang sebentar lagi, pasti warungnya akan ramai oleh pekerja yang lembur hari itu.
Nadin membantu melayani pembeli yang makan siang diwarung neneknya. Para pekerja kembali lembur dihari minggu, setelah beberapa minggu kebelakang mereka libur.
Setelah itu, mak Ebah menyuruhnya pulang.
__ADS_1
Nadin menurut, karena pembeli juga tidak seramai tadi, bahkan warung cenderung sepi saat jam makan siang sudah selesai.
Nadin kesal karena Panji tidak juga menghubunginya. Dia mau menghubunginya lebih dulu, tapi dia malu. Dia takut kalau dirinya memang tidak dianggap penting.
Ponsel Nadin berdering, ada panggilan masuk. Nadin senang, karena dia fikir pasti Panji yang menghubunginya, tapi ternyata dia salah. Bukan Panji yang menghubunginya tapi Doni.
Dia kecewa, karena terlalu berharap. Untung saja Doni yang menelponnya, kalau orang lain, dia tidak mau menjawabnya.
"Hallo."
"Hallo beb. Gi ngap?." ( Lagi ngapain?)."
"Lagi bete."
"Bete kenapa?."
"Males ngomonginnya. Ada apa Don kamu telpon aku?."
"Ohh iya ampir lupita. Ekeu mewong ajak iyey mekong di kafe deket butik tempat ekeu kerjong. Mumpung kafenya baru buka dan lagi ngadain promo. Iyey mau kaaaaannn?. Ekeu deh yang traktir."
( Oh iya hampir lupa. Aku mau ajak kamu makan dikafe deket butik tempat aku kerja.......)
"Beneran beb?. Aku mau doong. Kebetulan aku juga lagi suntuk banget ini."
"Ya udah ekeu tunggu ya nanti jam setengah tujuh malam. Soalnya ekeu pulang jam 6. Eh tapi iyey bakal diijinin keluar gak ?."
"Aku pasti diijinin kalau sama kamu. Nanti aku minta adikku nganterin kesana."
"Gak lah. Ngapain juga dia marah?. Dia kan cuma pacar, bukan suami aku."
"Ya sutra kalo gitu. Ekeu tunggu. Sampai ketumbar nanti."
(Ya sudah kalau gitu. Sampai ketemu nanti).
Percakapan dua sahabat pun berakhir.
Nadin segera meminta ijin pada mak Ebah, dan dia mengijinkan karena Hirlan yang akan mengantarnya.
Sesuai janjinya, Nadin dan Doni bertemu di kafe itu jam setengah tujuh malam.
Doni juga mengajak Hirlan ikut makan disana, tapi Hirlan menolak, karena Hirlan juga sudah janjian dengan teman-temannya.
Doni dan Nadin sudah memesan makanan juga minumannya. Mereka asyik mengobrol.
"Eh beb, gimana hubungan iyey ama si koko?."
"Baik-baik aja."
__ADS_1
"Baik-baik gimana. Jelasin yang detail dong beb ah. Si koko gak macem-macem kan sama iyey."
"Gak lah Don. Dia baik kok dan gak macem-macem. Satu macem aja sih." Terang Nadin.
"Hemm, terus apose deseu pernah nyumi lo?."
(Apa dia pernah nyium lo?).
"Apa sih Don?. Gak ada pertanyaan lain apa?."
"Ha-haa, ayo ngaku iyey udah di cumi ya sama deseu."
"Eh enggak lah. Sotoy kamu Don. Kalau iya kenapa? Endul tauu, hahhaaa."
"Ahh berarti bener kan lo udah di cumi sama si Koko?. Iyey dicumi dimandose, di pipi apa dibibir?."
"Kenapa sih iyey kepo banget?. Udah ah aku gak mau cerita, nanti iyey pengen lagi."
"Oh ya beb, by the way, apa iyey beneran cinttong ama deseu?."
"Jujur aja Don, iya, aku cinta ama dia."
"Terus...terus."
"Terus terus kayak tukang parkir aja sih."
Makanan datang membuat percakapan mereka terhenti sejenak. Doni kembali menanyakan hubungan Nadin dan Panji. Nadin menjawab apa adanya. Termasuk tentang Panji yang belum menghubunginya hari itu.
"Ya mungkin aja kan deseu lagi sibuk. Tapi Ekeu yakin kok beb, deseu beneran lope lope sama iyey."
"Iya sih, aku juga ngerasa gitu. Walau..."
"Walau apose?."
"Kamu juga ngerti maksud aku kan Don?." Tanya Nadin, tatapannya sendu, saat dia ingat perbedaan diantara dirinya dan Panji.
"Alaah gak usah fikirin masalah itu beb. Jalanin aja. Biar takdir yang menentukan."
"Iya aku tahu. Lagian belum tentu juga kan aku dan dia berjodoh."
"Ya sutralah jangan difikirin, mending kita mekong. LUPUS.... Lupakan urusan pacaran, utamakan selingkuh."
"Bisa aja kamu Don."
Mereka lalu menikmati makananya.
.
__ADS_1
.
TBC❤️