Panji & Nadin

Panji & Nadin
Tentang Mikha


__ADS_3

Sejak pertemuan pertama mereka, Mikha dan Nadin sekarang sudah menjadi teman akrab. Hampir setiap hari Mikha menemui Nadin ditaman belakang, saat dia sedang istirahat.


Mikha merasa Nadin begitu baik dan menyayanginya.


Mikha selalu senang bisa bertemu dengan Nadin, dia merasa tidak kesepian lagi sekarang. Mikha sering bercerita kalau dia sangat sedih karena tidak punya teman bicara selain suster Wati, dan tante Prisa


Nadin yang penasaran menanyakan tentang Mikha kepada suster Wati.


"Suster Wati, Mikha kok selau bilang kalau dia nggak punya mama. Emang mamanya kemana?. Apa mamanya Mikha sudah meninggal?." Tanya Nadin.


"Ceritanya panjang Nad."


"Kalau nggak keberatan, suster mau kan menceritakannya pada saya? Bukan apa-apa, saya hanya kasihan dengan Mikha. Saya juga tau bagaimana rasanya tidak mempunyai ibu."


"Saya juga tidak tahu kejadian pastinya. Karena saya menjadi babysitter non Mikha, saat non Mikha sudah berumur satu atau dua bulan. Tapi menurut cerita yang saya dengar dari Dewi,


Jadi dulu itu, orang tua non Mikha pacaran cukup lama, hingga akhirnya non Vanesa hamil dan lahirlah non Mikha.


Tapi tuan Panji tidak mau mengakui kalau dia menghamili non Vanesa, dan dia tidak mau mengakui non Mikha sebagai anaknya.


Keluarga non Vanesa sangat marah pada tuan Panji. Mereka lalu datang menyerahkan non Mikha, pada saat non Mikha berumur satu minggu. Pak Bahtiar dan bu Soraya akhirnya memutuskan untuk merawat bayi itu, karena memang mereka menginginkan seorang cucu, apalagi non Jesika sama tuan Wily belum memberikan cucu.


Tapi tuan Panji tetap tidak mau mengakui non Mikha sebagai putrinya, hingga akhirnya dia memilih pergi dari rumah. Saat itu bi Sum dan Dewi yang merawat non Mikha, sebelum akhirnya saya yang merawatnya."


"Ohh gitu, kasian banget ya Mikha. Lalu dimana nona Vanesa sekarang? Apa dia tidak pernah menemui anaknya?."


"Entahlah, kami juga tidak tahu dimana dia sekarang. Setelah non Mikha lahir, dia seperti menghilang ditelan bumi, tidak pernah ada kabar darinya ataupun keluarganya."


"Lalu gimana dengan ayahnya? Apa dia masih tidak mau mengakui Mikha sebagai anaknya?. Apa dia tidak pernah menemui Mikha?."


"Tuan Panji tetap tidak mau menerima dan mengakui non Mikha sebagai anaknya. Bahkan dia seperti membencinya."


Dasar lelaki brengsek. Ayah macam apa itu? Tega-teganya dia membenci anaknya sendiri. Setelah ngehamilin anak orang, malah tidak mau mengakui anaknya sendiri. Batin Nadin.


"Untung saja non Prisa dan pak Bahtiar memperlakukan Mikha dengan baik, dan juga menyayanginya. Ibu sepuh juga."


"Ibu sepuh? Siapa dia?." Tanya Nadin


"Beliau ibunya pak Bahtiar, yang juga tinggal dirumah ini. Kalau bu Soraya sendiri, dia sepertinya acuh tak acuh pada non Mikha. Bu Soraya dulu yang bersikeras ingin merawat Mikha, tapi sekarang dia seperti tidak peduli padanya."


"Lalu, apa ayah Mikha sudah menikah sekarang?."


"Belum, sejak kejadian itu, tuan Panji tidak pernah terdengar berpacaran atau dekat dengan wanita manapun. Katanya sih dia trauma. Bu Soraya bahkan sudah sering menjodohkannya dengan gadis cantik pilihannya, tapi tuan Panji selalu menolak.


Kamu tahu Nadin, beberapa hari yang lalu, tuan Panji murka, gara-gara bu Soraya menetapkan tanggal pertunangan tuan Panji dengan non Jovanka, tanpa sepengetahuannya. Dia datang ke sini marah-marah, untung saja ibu sepuh bisa menenangkannya, kalau tidak, mungkin perang dunia ke tiga akan terjadi di rumah ini."


"Emang tuan Panji itu seperti apa sih orangnya?."


"Dia tampan, tapi judes dan jarang sekali bicara atau tersenyum kepada siapapun.Tapi menurut Dewi, dulu dia tidak seperti itu. Dulu dia baik, ramah dan murah senyum seperti tuan Wily dan non Prisa. Saya yakin kalau kamu lihat dia, pasti kamu juga akan jatuh cinta."

__ADS_1


"Enggak ah suster, saya nggak suka cowok seperti itu, walaupun dia tampan, tapi kalau tidak mau mengakui anak sendiri sih, saya No."


"Masa sih, yang bener?." Goda suster Wati.


"Udah ah sus, saya mau ke gedung, sepuluh menit lagi saya masuk. Mikha, kakak kerja dulu ya. Mikha main lagi sama suster Wati. Besok kita ketemu lagi, oke."


"Oke kak." Sahut Mikha. Lalu suster Wati membawa Mikha dari sana.


Nadin dan semua karyawan sudah kembali disibukkan dengan pekerjaanya masing-masing. Berbeda dari biasanya, orang-orang seperti lebih sibuk.


Siang itu diadakan mega cleaning. Bahkan Yadi sudah tiga kali mengepel lantai, dengan pembersih yang begitu wangi.


Semua karyawan yang memegang mesin, juga harus membersihkan mesin, alat kerja, juga area kerjanya sebersih mungkin.


"Ada apa sih Nov? Kok hari ini lain dari biasanya?." Tanya Nadin.


"Kamu nggak tau Nad? Kamu nggak ikut meeting tadi ya?." Novi balik bertanya.


"Enggak, aku gak tau."


"Kamu kemana aja tadi?."


"Tadi aku ngobrol sama suster Wati."


"Oh pantes. Denger Nad, hari ini ko Panji, adiknya ko Wily akan datang kesini jam dua. Makanya kita disuruh bersih-bersih."


"Emang sepenting itukah dia?."


Apalagi ini order Jepang Nad. Setiap ada order Jepang, ko Panji emang suka datang kesini. Pokonya semuanya harus seperti yang dia mau.


Dia juga suka konsen sama penumpukan. Kalau dia lihat penumpukan dia akan langsung menghampiri proses tersebut. Dan inget ya Nad, saat nanti dia dateng, kamu jangan coba-coba liat ke arahnya, karena dia akan langsung tahu, kalau kamu sedang ngelihatain dia. Bisa-bisa kamu kena tegur, kayak si Mira." Jelas Novi.


"Masa sih dia bisa tahu, emang dia punya banyak mata?.


"Matanya sih cuma dua, tapi ko Panji itu sangat jeli. Udah ah, pokonya kamu harus inget apa yang aku katakan tadi. Jangan sampai kamu kena tegur dan dituduh tidak serius kerja."


"Tapi aku penasaran pengen lihat dia Nov, gimana dong?."


"Terserah kamu, yang penting aku udah ngasih tahu sama kamu." Pungkas Novi.


Setelah selesai bersih-bersih semua karyawan kembali bekerja. Dan pak Sambaru meminta Nadin membantu dibagian packing, karena bagian pakcing keteteran.


Dengan berat hati, bu Ratna membiarkan pak Sambaru membawa Nadin membantu bagian packing, sedangkan posisi Nadin sendiri digantikan oleh Dalis.


Nadin yang awalnya sedikit kaku dengan pekerjaan barunya, lama-lama bisa dan terampil mengerjakan pekerjaanya.Tak lama kemudian, bu Ratna menghampiri pak Sambaru, untuk meminta dia mengembalikan Nadin ke proses sebelumnya, karena orang yang menggantikan Nadin keteteran, tapi pak Sambaru tidak setuju, dia ingin Nadin tetap bekerja dibagian packing. Nadin tersenyum dalam hatinya, mendengar percakapan dua atasannya itu.


Baru ditinggal sebentar, udah keteter kan? Rasain. Suruh aja tuh si kuda nil bantuin, biar nggak makan gaji buta dia. Kata Nadin dalam hatinya.


"Apa kamu tidak tahu, kalau hari ini ko Panji akan datang kesini?." Tanya pak Sambaru

__ADS_1


"Aku tahu. Makanya aku minta kamu kembalikan Nadin. Kamu lihat, tuh kerjaan numpuk gitu, gimana kalau ko Panji keburu dateng?." Tanya bu Ratna dengan wajah cemas.


"Kamu tenang saja, ko Panji tidak akan ngecek per proses. Biasanya dia kan langsung mengecek barang yang sudah jadi."


"Tapi kalau dia mengecek per proses gimana?. Apa kamu lupa kalau ko Panji selalu konsen sama penumpukan?." Tanya bu Ratna.


"Itu tugas kamu sebagai supervisor. Kamu balancing dong, kalau tahu pekerjaan anak buah kamu keteter." Jawab pak Sambaru, membuat bu Ratna sedikit kesal.


Dia kembali mengahampiri Dalis, membantunya buang benang, sambil terus mengomeli Dalis. Bu Ratna akhirnya memanggil Nina.


"Nina!! Sini."


"Ada apa?."


"Bantuin buang benang kek, bukannya malah jalan-jalan. Kamu disini buat kerja, bukan buat jalan-jalan."


"Nah kan aku bilang juga apa, si Nadin emang gak becus kerja. Buktinya dia selalu keteteran kan." Ucap Nina dengan senyum menyeringai, karena merasa dia sudah menjatuhkan Nadin dihadapan bu Ratna.


"Makanya kerja tuh yang bener, jangan nyusahin orang aja lu Nad...." Nina tidak meneruskan kalimatnya, saat dia tahu kalau yang ada disana bukan Nadin, melainkan Dalis.


"Si Nadin kemana?." Tanya Nina.


"Dibawa pak Sambaru ke packing."


"Kenapa?."


"Tadi packing keteter, makanya Nadin dibawa kesana. Tau gini, tadi aku gak akan kasih si Nadin, mending si Dalis yang dibawa." Ucap bu Ratna.


"Ternyata ada yang lebih lelet dari si Nadin." Sahut Nina, yang masih berusaha menjatuhkan Nadin.


Jam dua siang, akhirnya Panji benar-benar datang, bersama asistenya Adam. Pak Sambaru dan bu Ratna segera menghampirinya, dan Panji yang tidak suka basa-basi langsung melakukan apa yang ingin dia lakukan disana.


Seperti apa yang dikatakan pak Sambaru, Panji langsung mendatangi bagian packing mengecek jaket hasil produksi anak buah kakaknya. Dengan detail dan sangat jeli, dia mengamati jaket itu.


Nadin yang berdiri sekitar dua meter disamping kiri Panji, mencuri pandang, penasaran ingin melihat seperti apa wajah Panji, ayah Mikha yang tidak mau mengakui Mikha sebagai anaknya sendiri.


Dia menatap sekilas wajah Panji, yang sedang serius mengecek kualitas jaket itu.


Bener lho, dia ganteng banget ternyata, kayak opa-opa korea. Batin Nadin.


Ehh...tapi kok aku ngerasa pernah bertemu dia. Ahh mungkin karena aku kebanyakan nonton drakor kali. Aku kayak lihat bintang drakor.


Nadin bekerja sambil terus mengingat-ngingat dimana dia melihat Panji sebelumnya. Karena dia yakin, dia pernah bertemu dengannya.


Dan......mata Nadin membulat saat dia ingat sesuatu.


Ya Tuhan, dia kan laki-laki yang tempo hari mobilnya aku lempar batu. Kata Nadin dalam hati, sambil kembali menatap ke arah Panji, memastikan sekali lagi apa dia benar-benar orang yang sama.


Nadin kembali menunduk, saat dia yakin kalau Panji benar-benar orang yang mobilnya sudah dia lempari batu.

__ADS_1


Duuh mati aku. Gimana kalau dia lihat kesini? Ahh semoga saja dia tidak mengenaliku.


__ADS_2