Panji & Nadin

Panji & Nadin
Perasaan lain.


__ADS_3

"Gimana beb, iyey udah kasihin dutanya (duit) sama si koko?." Tanya Doni.


"Belum." Jawab Nadin.


"Why?."


"Tadi aku udah kasihin, tapi dia nggak mau terima, dan minta aku tetep datang kerumahnya untuk bayar hutangku."


"Terus iyey setuju?."


Nadin mengangguk. "Aku gak bisa nolak Don. Dia maksa dan balikin uangnya lagi, padahal aku udah paksa dia terima uangnya. Aku takut kalau aku nolak. Kamu udah tahu sendiri kan dia orangnya kayak gimana."


"Ya sutra lah. Mungkin deseu masih mau ketumbar samsara iyey, makannya deseu nolak dutanya." Ujar Doni.


"Apa sih iyey." Balas Nadin sedikit malu.


"Oh ya Don, ini aku balikin uang kamu."


"Simpen aja beb, aku nitip. Lagian ekeu belum butuh sekarang."


"Enggak ah, aku gak mau pegang duit orang, kalau kepake gimana?."


"Udah lah beb, mending iyey simpen aja


Siapa tahu nanti si koko berubah pikiran, dan minta dutanya lagi sama iyey."


"Tapi bukannya uang ini buat beli motor baru?."


"Emberran beb, tapi kan belum ada buat tambahanya. Aku masih harus ngumpulin lagi buat nambahinnya, jadi aku nitip aja di iyey yes?."


"Ya udah kalau kamu percaya, aku simpen uang ini."


.....


Satu minggu kemudian.


Hari minggu ini Nadin kembali datang ke rumah Panji. Kali ini ada perasaan yang sedikit lain dari biasanya. Nadin merasa malu saat dia bertemu Panji, karena dia teringat kejadian minggu lalu, waktu Panji memeluknya saat dia hampir terjatuh.


Apalagi Nadin tahu, Panji juga terus menatapnya. Ini bukan kali pertama Panji menatapnya, tapi entah mengapa Nadin merasakan sesuatu yang lain dalam hatinya, saat Panji menatapnya.


Biasanya dia acuh, dan kali ini jantungnya langsung berdegup kencang saat melihat Panji. Apalagi sikap Panji hari itu sangat baik, membuatnya semakin tidak karuan.


Nadin sudah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah, dan juga memasak untuk makan siang, dan Panji mengajaknya makan bersama.


Kalau biasanya Nadin makan dengan acuh, siang itu dia nampak sangat canggung. Walau dia sudah berusaha bersikap seperti biasanya.


"Nadin.!! Suara Panji membuat Nadin tersentak.


"Eh ....iya ko, kenapa?."


"Kamu kenapa makannya kayak nggak selera gitu?. Kamu sakit?." Tanya Panji.


"Enggak ko. Hehehe." Jawab Nadin sambil tersenyum simpul, lalu menunduk karena melihat tatapan Panji.


Ko Panji kenapa mandangin aku terus dari tadi?. Bikin salting aja. Dan kenapa semakin kesini dia kelihatan semakin tampan?. Mana sikapnya hari ini baik banget lagi. Dan kenapa ini jantungku deg-deggan kayak gini?. Udah biasa bukan kalau dia mandangin aku?. Plis hatiku jangan baper ya.


"Oh ya ko, bi Lasmi sama bi Ita kemana?." Tanya Nadin, Walau sebenarnya Nadin sudah tahu dari bi Lasmi dan bi Ita. Dia membuka percakapan, berusaha menetralkan perasaanya.


"Mereka libur. Aku sengaja memberi mereka jatah hari minggu, makannya aku minta kamu datang setiap minggu, menggantikan tugas mereka."


"Bukannya mereka gantian liburnya ko?." Tanya Nadin lagi, dan kali ini Panji tidak menjawab, dia kembali menatap Nadin.

__ADS_1


"Mas Adam tumben gak kesini?." Ujar Nadin, dan Panji masih tidak menjawab.


Nadin menyudahi makan siangnya. Dia tidak merasa lapar ataupun kenyang saat itu, hanya perasaan tak karuan yang dia rasakan.


Nadin membereskan meja makan, lalu mencuci piring bekasnya dan Panji. Setelah itu dia pamit pulang. Rasanya Panji ingin sekali melarang Nadin pulang, tapi dia tidak punya alasan.


"Nadin."


"Iya ko."


"Ini, buat kamu."


"Apa ini ko?."


"Ini tas baru buat kamu."


"Buat saya?. Tapi..."


"Saya tidak suka di tolak. Sekarang kamu bawa tas ini dan pakai. Saya akan senang dan tidak akan merasa bersalah sama kamu."


"Baiklah. Makasih banyak ko. Kalau gitu saya permisi." Ucap Nadin.


"Nadin." Panggil Panji lagi.


"Iya ko."


"Kamu pulang naik apa?." Tanya Panji.


Duuh kenapa sih ko Panji hari ini sok baik banget. Bikin tambah baper aja.


"Saya naik angkot ko." Jawab Nadin.


"Kamu tunggu sebentar, aku anter kamu pulang?."


"M-mmaksudku aku juga mau pergi ke.....ketemu Mikha, iya ketemu Mikha.


(Alasan yang bagus).


Kamu tunggu sebentar, kita bareng." Ujar Panji lalu pergi ke kamarnya, mengambil kunci mobil, lalu mereka berdua pergi.


"Kamu mau ikut ketemu Mikha?." Tanya Panji.


"Enggak ko. Saya masih ada urusan. Lagian setiap hari, saya ketemu kok sama non Mikha."


Ada urusan apa? Sebenarnya mau kemana dia?. Batin Panji.


Ya Tuhan ada apa ini? Kenapa dia? Jangan biarkan baper ini berkepanjangan ya Tuhan. Batin Nadin.


Mereka akhirnya sampai di depan gang menuju rumah Nadin. "Makasih banyak ya ko sudah mengantar saya. Makasih juga tasnya. Sampaikan salam saya sama non Mikha." Ucap Nadin sebelum turun dari mobil Panji.


"Tunggu Nadin." Ucap Panji.


"Iya, kenapa ko?."


"Mana nomor kamu?."


Nadin termangu mendengar ucapan Panji.


"Saya bilang mana nomor kamu?. Atau saya gak akan biarin kamu turun." Ancam Panji.


"I-iiya ko. Nomor saya 08xxxxxxxxx." Nadin menyebutkan nomor hp nya, dan Panji menyimpannya. Setelah itu Nadin pun turun.

__ADS_1


"Hahhhh." Nadin menghela nafas panjang seperti orang yang sedang melakukan pendinginan setelah olah raga. Iya benar, jantungnya baru saja berolah raga.


"Mobil siapa tuh?." Tanya Irma, sepupu Nadin yang kebetulan berpapasan dengan Nadin.


"Eh kak Irma. Mau kemana kak?." Tanya Nadin.


"Ditanya malah balik nanya. Kamu belum jawab pertanyaanku tadi, kamu naik mobil siapa?


Jangan-jangan kamu dianterin om-om lagi."Ucap Irma menduga-duga, lalu menatap Nadin penuh selidik


Dia juga menatap paper bag yang Nadin pegang. Paper bag bertuliskan sebuah merk tas terkenal, dan dia tahu tas itu bukan tas kw.


Si Nadin beli tas H*rm*s ori?.Punya uang dari mana dia?. Apa jangan-jangan dia punya sugar daddy?.


"Bukan kok kak, tadi itu mobilnya ko Panji, anak pemilik konveksi tempat saya kerja." Jawab Nadin.


"Oh ya?. Anak pemilik konveksi? Kok bisa-bisanya dia mau nganterin kamu. Jangan-jangan kamu ada main sama dia."


"Enggak kak. Ko Panji memang baik sama semua orang. Kak Irma bisa tanyakan langsung sama bi Sum." Jelas Nadin yang mulai kesal.


"Oh jadi namanya Panji. Aku kok jadi penasaran, apa bener dia orang baik, atau kamu..."


"Maaf kak Irma, aku duluan." Kata Nadin dengan wajah kesal. Dia tidak tahu kenapa sepupunya itu selalu saja sinis kepadanya.


Sedangkan disana, Panji tersenyum bahagia. Dia bisa merasakan kembali rasa yang sudah lama hilang, karena Nadin. Hatinya berbunga-bunga hanya karena hal sederhana seperti itu. Dia bisa memandang Nadin, makan bersama dan satu mobil dengannya saja sudah membuat Panji bahagia.


Apa aku benar-benar jatuh cinta pada gadis itu?. Gadis yang sudah melempar mobil ini?. Iya mobil ini yang sudah mempertemukan aku dan dia. Batin Panji.


....


Nadin sudah ada dikamarnya. Dia langsung membuka paper bag berisi tas yang diberikan panji.


"Wah tasnya bagus banget, dan ini, ya Tuhan!! Ini tas ori. Aku pernah lihat tas ini dicounter aslinya, dan harganya jutaan. Ya Tuhan, ko Panji gantiin tas aku dengan tas yang harganya hampir seratus kali lipat dibanding tasku?. Hahhhh gak mungkin, pasti dia merencanakan sesuatu. Pantesan aja tadi dia baik banget, rupanya ada udang dibalik batu.


Dia mau aku berhutang lagi sama dia, biar dia bisa minta aku kerja terus dirumahnya buat gantiin bi Lasmi dan bi Ita saat mereka libur


Hemmmm....pinter sekali dia, duuh nyesel aku tadi sempet baper. Dasar Nadin bodoh. Enggak, aku gak mau. Aku akan kembalikan tas ini." Gumamnya.


Drttt....drttt... Handphone Nadin bergetar, ada yang menghubunginya. Sebuah nomor baru terpampang dilayar hp nya.


"Hallo."


"Hallo, Nagin."


Suara Siluman Panci. Nagapain lagi dia nelpon.


"Maaf dengan siapa ya?."


"Dengan orang yang sedang kamu fikirkan?."


Apa? Kenapa dia bisa tahu aku sedang mikirin dia? Hemm benerkan yang ku pikirkan, dia sengaja ngasih tas ini cuma modus biar aku tetep kerja di rumahnya.


"Maaf, siapa ya?."


"Kamu gak usah pura-pura Nagin. Akting kamu gak meyakinkan."


"Ko Panji?." Ucapnya pura-pura.


"Iya aku. Memangnya siapa lagi orang yang sedang kamu fikirkan?."


TBC ❤️

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan vote nya ya 🤗


__ADS_2