
Nadin melangkahkan kakinya dengan terburu-buru, saat ponselnya kembali berdering. Dia tahu Panji yang menelponnya. Sesampainya di kamar, Nadin langsung menjawab panggilan dari Panji.
"Hallo!!.
"Kamu darimana aja sih, ko gak angkat telpon aku?."
"Iya maaf-maaf jangan marah ya sayang."
"Apa?. Kamu bilang apa barusan?."
"Jangan marah."
"Bukan itu, sesudahnya?."
"Apa?."
"Tadi kamu panggil aku apa?. Jangan pura-pura. Cepat ulangi."
"Jangan marah ya."
"Lalu?."
"Lalu apa?."
"Baiklah kalau kamu gak mau bilang, aku gak maksa. Asal nanti kalau aku pulang, ciumnya jangan lupa."
"Ya udah cepettan pulang kalau mau nyium. Katanya cuma semingggu. Ini udah seminggu tapi kok belum juga pulang. Jadi ciumnya batal ya."
"Enak aja batal."
"Jangan bahas lagi ah. Ngomong-ngomong kenapa baru telfon? Kemana aja dari tadi?."
"Kamu kangen aku ya sayang?."
"Iya lah. Biasanya sehari berapa kali ada yang nelpon, atau ngirim pesan, tapi hari ini ditungguin dari pagi sampai sore kok gak ada kabar juga."
"Maaffin aku, tadi aku meetting seharian. Aku mau kerjaan disini cepet beres, biar bisa cepet-cepet nyium kamu."
"Nyium-nyium aja yang difikirin."
"Terus kamu mau diapain lagi selain dicium, ayo bilang sama aku."
"Ihh apaan sih, genit banget."
"Oh ya, ngomong-ngomong seharian ini kamu ngapain aja?. Jangan bilang seharian ini kamu ngangenin aku."
"Heheh sayangnya iya. Seharian ini saya kangen banget sama....mas Adam. Udah lama saya gak ketemu sama mas Adam."
"Apa ? Adam?. Kok Adam sih."
"Emang kenapa kalau saya kangen sama mas Adam?. Nggak boleh?."
"Ya enggaklah."
"Tadi katanya jangan bilang saya ngangenin ko Panji, eh my lovely. Sekarang saya ngomong kangen mas Adam, malah nggak boleh. Gimana sih?."
"Jadi bener kamu kangen sama Adam?."
"Iya."
"Oke sekarang kamu telpon dia."
"Baiklah."
__ADS_1
"Aku tutup ya telfonnya."
"Iya."
"Aku ngambek nih."
"Ngambek aja."
Tut....tut...tut... Panji memutuskan sambungan telponnya sepihak. Nadin terkejut. Dia kira Panji hanya bercanda.
"Lahh, dia marah. Serius dia marah?. Masak gitu aja marah sih." Gumam Nadin.
Nadin segera menelpon Panji, dia takut Panji benar-benar marah. Telfon tersambung, tapi Panji tidak mengangkatnya. Nadin mencobanya lagi, dan Panji tetap tidak menjawabnya.
"Ya Tuhan, apa dia benerran marah? Sensi amat sih jadi orang." Kata Nadin, sambil terus berusaha menghubungi Panji. Sudah lebih sepuluh kali Nadin menghubungi Panji, dan ini panggilannya yang kesebelas. Panji masih tidak mengangkatnya.
"Oke, ini panggilan terakhir, kalau dia tidak mengangkatnya, fix aku juga gak bakalkan hubungi dia lagi." Gumam Nadin.
Ini panggilan Nadin yang ke selusin. Panji masih tidak mengangkatnya. Oke fine my lovely siluman panci, kalau mau marah terserah." Cicit Nadin, sebelum mengakhiri panggilan.
Namun ternyata kali ini Panji menjawab panggilannya.
"Hallo!!.
"Hallo my lovely!! Akhirnya kamu mau ngangkat telfonnya. Jangan marah ya. Masa gitu aja marah sih. Iya deh ngaku, saya memang kangen. Cepat pulang ya."
"Siapa yang marah?. Aku gak marah kok."
"Terus kenapa tiba-tiba mutussin telpon, tadi?."
"Oh itu. Aku tadi kebelet pengen ke toilet. Masa iya aku bawa hp aku ke toilet. Nanti kamu bisa denger suara terompet aku dong."
"Apaaaahhh?."
"Iya lah. Bisa-bisa nanti minta ganti rugi terus kalau marah."
"Aku janji gak akan minta ganti rugi kok, paling minta nyium."
"Nyium terus dari tadi yang dibahas."
"Ya udah sayang, katakan tadi kamu kemana aja?."
"Gak kemana-mana, dirumah aja sama bantuin nenek. Terus Doni ngajak makan di kafe."
"Kamu ketemu sama siapa aja hari ini?."
Kenapa dia bertanya seperti itu?. Apa jangan-jangan dia tahu, aku bertemu kak Bily?.
"Sayang, kamu masih disitu kan?."
"Iya. Gak ketemu siapa-siapa, cuma Doni dan kak Bily."
"Bily?. Kamu ketemu dia dimana?."
"Di kafe."
"Terus apa yang di lakukan sama kamu?."
"Nggak ada. Dia cuma nyapa aku."
"Bener cuma itu."
"Bener."
__ADS_1
" Ya udah kalau gitu, mulai besok kalau kamu mau kemana-mana, kamu bilang sama aku ya."
"Hahh??."
"Aku gak mau tahu, pokoknya kamu harus bilang aku kalau kamu mau pergi kemanapun. Oke!!
"Kalau saya ke toilet, apa harus bilang juga?."
"Pokoknya kamu gak boleh pergi kemanapun sebelum bilang sama aku.
Apaan sih, posesif banget.
"Kalau saya selingkuh boleh nggak?."
"Coba aja kalau berani."
"Siapa takut."
"Lebih baik kamu bunuh aku Nad, daripada kamu selingkuhin aku." Suara Panji terdengar serius ditelinga Nadin. Dia lupa kalau dulu Panji dikhianati kekasihnya. Dan itu yang membuatnya berubah selama ini.
"Hehe maaf ya sayang, becanda kok. Saya gak mungkin selingkuh punya pacar ganteng, perhatian dan baik kurang apa lagi coba."
"Kamu ngerayu aku?."
"Enggak. Itu fakta kok. Udah dulu ya, saya dipanggil bapak. Kayaknya dia baru pulang kerja."
"Sun dulu dong."
"Nanti aja kalau ketemu. Udah ya. Selamat malam my lovely."
"I love you my sunshine."
"Love you to.". Balas Nadin memelankan suaranya. Karena takut bapaknya mendengar apa yang dia ucapkan tadi. Dan panggilan pun berakhir.
Keduanya tersenyum bahagia seperti biasanya setelah berbincang di telpon. Rasa rindu yang mereka rasakan sedikit terobati, tapi itu hanya sesaat, karena tetap saja mereka ingin segera bertemu langsung.
Aku nggak peduli hubungan kami ke depannya akan seperti apa?. Sekalipun nantinya hubungan ini berakhir aku gak peduli. Yang jelas saat ini aku bahagia. Batin Nadin.
....
Bily berdiri di balkon kamarnya, menatap langit malam yang sangat indah. Banyak bintang bertaburan dan berkelipan, menambah indahnya langit malam itu.
Semua keindahan yang dia lihat, tidak mampu membuat luka dihatinya berkurang seujung kuku pun. Bily terluka mengetahui Nadin berhubungan dengan Panji.
Bily masih sangat mencintai Nadin. Dia tidak rela Nadin berhubungan dengan pria lain. Sejak pertama melihatnya disekolah hingga saat ini, rasa cintanya tidak berkurang sedikitpun pada Nadin. Walau banyak gadis cantik disekelilingnya, entah kenapa dia tidak bisa melupakan Nadin.
Kenapa aku sulit sekali melupakan kamu Nadin?. Sedangkan kamu, dengan mudah kamu berpaling dan melupakan cinta kita. Apa kamu tidak tahu kalau aku masih sangat mencintai kamu?.
Dan kenapa kamu harus berhubungan dengan Panji, kenapa harus dia? Walau sebenarnya aku tidak rela kamu berhubungan dengan pria manapun, tapi aku lebih tidak rela kamu berhubungan dengannya. Kata hati Bily.
Bily mengetahui hubungan Panji dan Nadin dari orang suruhannya. Dia membayar seseorang untuk mencari tahu tentang Nadin. Orang itu mengikuti Panji dan Nadin saat mereka pergi ke dufan.
Dan selama disana, dia mengirimkan banyak foto kebersamaan Nadin dan Panji, membuat hatinya teriris perih, karena dia bisa melihat cinta dimata Nadin untuk Panji.
Bily tidak mengetahui kalau perbuatannya itu diketahui Panji. Dia tidak tahu orang suruhan Panji selalu mengawasi Nadin dan Panji dari kejauhan.
Panji juga tahu, kalau Prisa dan Bily memang tidak saling mencintai, tapi Panji tidak tahu siapa lelaki yang disukai Prisa. Dan dia meminta orang suruhannya untuk mencari tahu siapa lelaki itu.
Bily.....kamu fikir kamu bisa dapettin apa yang sudah jadi milikku? Jangan harap. Tapi kita lihat saja, sampai dimana usaha kamu untuk dapettin Nadin. Kata Panji dalam hati.
.
.
__ADS_1
TBC☘️