Panji & Nadin

Panji & Nadin
Terima kasih Nadin


__ADS_3

Malam ini, Panji sudah merebahkan diri di ranjang besarnya. Dia menatap langit-langit kamarnya, memikirkan sesuatu. Lalu dia mengambil ponselnya dan mulai mengetikkan pesan. Pesan terkirim.


Ting....satu pesan masuk di hp Nadin. Dia yang baru saja akan tidur, sedikit tersentak melihat siapa orang yang mengirimnya pesan.


"Ko Panji." Gumamnya, lalu membuka dan membaca pesan dari Panji.


"Mulai sekarang kamu tidak perlu datang membersihkan rumahku lagi. Kamu cukup menjaga Mikha dengan baik."


"Apaa?? " Teriak Nadin tak percaya. Dia sangat senang membaca pesan itu. Nadin lalu membalasnya.


"Beneran ko? Ko Panji serius?. Apa ini berarti hutang saya sudah lunas?."


"Aku selalu serius dengan kata-kataku. Kamu jangan senang dulu, karena hutang kamu belum lunas. Kamu masih hutang 70 hari lagi, ingat itu Nagin."


"Hahh? 70 hari?." Gumam Nadin.


"Masa 70 hari lagi sih ko?. Perasaan pengurangan 10 hari kerja saya sudah sering ko Panji berikan, tapi kenapa hutang saya masih terus 70 hari lagi. Ko Panji jangan korupsi, jangan curang."


Panji tersenyum membaca balasan dari Nadin. Lalu dia kembali mengirim pesan.


"Kamu yang korupsi, enak saja nuduh aku. Jelas-jelas hutang kamu 70 hari lagi. Bisa ngitung gak kamu?.


"Ingat ya Nagin, hutang kamu 70 hari lagi, titik. Dan kamu harus membayarnya. Kamu harus tetap mau melakukan apa yang aku katakan dan lakukan. Dan itu akan mengurangi masa kerja 10 hari, tapi kalau kamu melanggar, hutang kamu jadi nambah 20 hari, ngerti?."


"Ihh nyebelin banget sih ini teko panci. Aku jual sama tukang rongsokkan baru tau dia." Gerutu Nadin, lalu membalas pesan Panji.


"Semua terserah padamu, aku begini adanya. Ku hormati keputusanmu, apapun yang akan kau katakan."🙄


Panji kembali tersenyum membaca balasan Nadin. Dia tidak percaya dia bisa sesenang ini, hanya karena berbalas pesan dengan Nadin. Andai saja ada yang melihatnya saat ini, pasti mereka tidak akan percaya Panji tersenyum setulus dan sebahagia malam ini, hanya karena sebuah pesan.


Sebaliknya disana, Nadin terus mengerutu, dan memaki Panji, yang terasa mempermainkannya.


Awalnya Nadin sangat senang, karena Panji mengatakan dia tidak harus datang lagi ke rumahnya, tapi nyatanya dia tetap harus melakukan apa yang diperintahkan Panji, untuk membayar hutangnya yang tidak lunas-lunas.


***


Sejak saat itu, Nadin tidak lagi datang dan membersihkan rumah Panji. Tapi kini Panji yang sering datang ke rumah pak Bahtiar untuk menemui Nadin, eh bukan menemui Mikha.


Hubungan Panji dan Mikha juga semakin dekat dan jauh lebih akrab. Tidak ada lagi rasa takut yang Mikha rasakan saat melihat Panji. Begitupun sebaliknya, tidak ada tatapan dingin dan kebencian dimata Panji kepada Mikha. Sebaliknya, sekarang sikap Panji begitu hangat kepada Mikha, seperti seorang ayah pada anaknya, walau dia tetap tidak mengakui Mikha sebagai anak kandungnya.


Ting-tong....suara bel rumah keluarga pak Bahtiar berbunyi. Dewi segera membukakan pintu. Ternyata Jovanka yang datang. Dia ingin bertemu Prisa yang kebetulan baru pulang kuliah. Mereka mengobrol diruang tamu. Jovanka ingin menanyakan siapa sebenarnya wanita yang Panji kenalkan sebagai kekasihnya, dan dibawa ke pesta malam itu.


Prisa tidak percaya mendengar cerita Jovanka. Setahu dia kakaknya itu tidak punya kekasih.

__ADS_1


Apa mungkin selama ini diam-diam kak Panji memang sudah memiliki kekasih?. Batin Prisa.


Tak lama kemudian, Mikha dan Nadin turun, berjalan menuju taman belakang. Mereka tidak melihat keberadaan Prisa dan Jovanka, karena Mikha berjalan setengah berlari dan Nadin mengejarnya.


Kalau Nadin tidak melihat keberadaan Jovanka, tapi tidak dengan Jovanka. Dia melihat Nadin dengan sangat jelas.


Kenapa dia ada disini, dan kelihatan akrab sekali dengan Mikha? Apa Panji juga ada disini? Tapi ini masih jam kantor, dan aku juga tidak melihat mobilnya. Kata Jovanka dalam hati.


"Kak Jovanka....kak.!!


"Ehh...iya Pris, kenapa?."


"Kak Jovanka liattin apaan sih, ko serius gitu?."


"Enggak, tadi kok aku lihat Mikha, sama siapa dia?."


"Ohh aku kira apaan. Itu pasti Nadin, pengasuh sementara Mikha.


"Apa? Pengasuh?."


"Iya, kenapa? Kak Jovanka kenal?."


"Enggak, aku gak kenal. Tapi aku ngerasa pernah ngelihat dia. Tapi aku lupa dimana."


"Oh ya Prisa, aku boleh kan ketemu Mikha?."


"Ya boleh lah kak. Kebetulan aku juga mau mandi, jadi kak Jovanka temuin aja dia. Biasanya sih dia ditaman kalau jam segini. Oh iya kak, sikap kak Panji ke Mikha udah berubah lhoo."


"Berubah gimana?."


"Sikap kak Panji sekarang tidak dingin dan sepertinya dia juga menyayangi Mikha."


"Oh ya, masa sih dia berubah secepat itu?."


"Aku juga gak nyangka, tapi kami semua sangat senang melihat perubahan sikap kak Panji sama Mikha."


"Kalau gitu, kamu do'akan biar sikap kakak kamu itu juga berubah sama kakak. Dia tidak dingin dan mau menerima kakak."


"Iya kak, aku doakan semoga sikap kak Panji juga berubah sama kak Jovanka."


"Ya sudah kalau gitu, aku mau nemuin Mikha sekarang." Pungkas Jovanka, lalu melangkahkan kakinya, menuju taman. Sebenarnya dia bukan ingin menemui Mikha, tapi dia ingin memastikan kalau pengasuh Mikha itu adalah wanita yang dibawa Panji ke pesta atau bukan. Dan ternyata memang dia orangnya. Dia juga wanita yang pernah dia temui di rumah Panji.


Jovanka memperhatikan penampilan Nadin sore itu, yang sangat jauh berbeda pada saat menghadiri pesta. Dia tersenyum miring, lalu menghampiri Nadin yang belum menyadari kehadiran Jovanka.

__ADS_1


"Ehmmm..." Suara Jovanka, mengagetkan Nadin yang sedang menjaga Mikha bermain di taman. Dia semakin kaget saat menoleh ke arah suara.


Dia...kenapa dia ada disini. Aduuh mati aku. Bisa-bisa dia tahu kalau aku ini bukan kekasih ko Panji. Duuh gimana ini.


"Ohh jadi rupanya ini kekasih seorang Panji yang terhormat itu. Gue heran, kenapa selera Panji bisa kampungan kayak gini. Ya walau gue akuin pada saat dipesta lo kelihatan sedikit beda, tapi ya tetep aja sih, lo gak akan bisa nutupin siapa elo sebenernya. Upik abu yang menjelma menjadi sinderella, dan kembali menjadi upik abu pada saat lewat jam 12 malam, hahaha." Ucap Jovanka memaki Nadin.


"Hehh denger ya gadis kecil tak tau malu, lo jangan pernah bermimpi bisa dapettin pangeran, lo itu upik abu, jadi gak pantes dapetin pangeran seperti Panji. Dengerin gue, mulai saat ini, gue minta sama lo, jauhi Panji. Panji itu milik gue, lo jangan coba-coba dekettin dia lagi, kalau tidak lo akan bermasalah sama gue." Ancam Jovanka.


"Lagian siapa juga yang mau deket-deket sama dia. Maaf ya nona, saya ini memang cuma upik abu, tapi saya tidak pernah mendekati apalagi menggoda tuan Panji. Dan saya juga gak pernah bermimpi bisa dapettin ko Panji. Saya tahu ko Panji emang ganteng, tapi dia buka tipe saya. Saya disini kerja cari uang, bukan cari masalah."


"Pake ngeles lagi. Gue tanya sama lo, kenapa lo bisa dateng ke pesta bareng Panji? Terus kenapa waktu itu lo bisa ada di rumah Panji. Lo mau godain dia kan? Ngaku lo?."


"Sebenarnya saya malas menjelaskannya, tapi saya juga gak mau anda salah paham sama saya. Baik saya akan ceritakan semuanya, tapi anda harus janji tidak akan mengatakan ini sama ko Panji. Gimana?."


"Oke, deal."


Nadin lalu menceritakan semuanya pada Jovanka, hingga akhirnya Jovanka mengerti. Senyuman mengembang dibibir Jovanka, saat dia tahu kalau selama ini Panji sengaja menyuruh Nadin berpura-pura menjadi pacarnya.


"Anda sudah tahu semuanya, jadi jangan marah-marah lagi sama saya. Saya sudah kenyang dimarahin sama ko Panji. Eh iya anda sudah janji tidak akan mengatakan kalau anda tahu semua ini dari saya kan non..."


"Jovanka...namaku Jovanka. Kamu tenang aja, aku tidak akan mengatakan apapun pada Panji. Terima kasih atas penjelasan kamu. Dan maaf kalau tadi omonganku kasar sama kamu."


"Iya sama-sama."


"Kalau gitu aku pulang dulu, sekali lagi terima kasih Nadin." Ucap Jovanka, lalu berlalu dari sana dengan senyum di bibirnya. Dia sangat senang setelah tahu semuanya dari Nadin.


Tadi marah-marah, sekarang senyum-senyum sendiri, emang aneh orang-orang disini. Tapi aku akuin sih ternyata nona Jovanka itu baik. Dia tidak malu meminta maaf dan berterima kasih pada upik abu sepertiku. Selain itu dia juga cantik, masa sih ko Panji gak mau sama wanita secantik itu? Apa dia bener-bener udah gak suka sama perempuan, dan penyuka sesama jenis?.


Maafkan saya ko Panji, saya terpaksa harus mengatakan semuanya sama dia. Saya tidak mau dimarahin orang lagi, dan saya tidak mau dihina lagi. Saya tidak mau punya musuh.


Ah semoga saja non Jovanka benar-benar tidak mengatakan sama ko Panji, apa yang sudah aku ceritakan kepadanya. Batin Nadin


....


Di mobil Jovanka.


Senyum manis Jovanka masih mengembang di bibirnya. Dia benar-benar sangat bahagia, karena merasa masih mempunyai kesempatan untuk mendekati dan mendapatkan Panji. Dia semakin bertekad untuk memenangkan hati dan cinta Panji.


Aku tahu Panji, kamu gak mungkin pacaran dengan gadis itu. Saat aku melihat kamu di pesta dengan gadis itu, aku juga sangat yakin dia bukan pacar kamu, dan ternyata dugaanku benar kan. Aku tidak akan menyerah, aku akan terus berusaha mendapatkan cinta kamu.


Dan aku yakin suatu saat nanti, kamu juga akan mencintaiku, atau mungkin saja saat ini kamu sebenarnya sudah mencintaiku, hanya saja kamu tidak mau mengakuinya.


Apa mungkin alasan kamu menolakku, karena aku ini keponakan tante Soraya? Ah iya bisa aja kan, setahu aku hubungan kalian itu memang tidak baik. Dan aku tahu kamu juga tidak menyukai tante Soraya. Batin Jovanka.

__ADS_1


Tbc❤️


__ADS_2