Panji & Nadin

Panji & Nadin
Satu sama


__ADS_3

"Mas Adam sebenarnya mau kemana sih kita?." Tanya Nadin.


"Ke Baghdad." Jawab Adam sambil tersenyum.


"Ihh mas Adam, saya serius."


Adam tidak menjawab pertanyaan Nadin, walau dia terus bertanya, karena Adam melihat tatapan mata Panji di kaca spion mobilnya, Adam mengerti Panji ingin dia diam, sampai akhirnya mobil pun berhenti disebuah restoran mewah. Panji akan makan siang disana, bersama Adam dan juga Nadin.


"Kenapa saya dibawa kesini?." Tanya Nadin.


"Kalau orang datang ke restoran itu, ya mau makan, masa berobat." Jawab Adam.


"Enggak, saya gak mau makan disini. Nanti pasti ujung-ujungnya, ko Panji minta ganti rugi. Saya nggak mau berhutang lagi sama dia. Mending saya pulang." Ujar Nadin


Panji yang sudah hampir masuk ke dalam restoran, kembali menghampiri Nadin dan Adam yang masih berdiri didekat mobilnya. Panji menarik tangan Nadin, lalu membawanya masuk ke restoran itu.


"Apa-apaan sih ko? Main tarik-tarik aja."


"Diajak makan aja pake drama segala kamu. Ingat Nagin, hari ini kamu gagal membuatkan makan siangku, jadi kamu masih berhutang padaku." Jelas Panji.


Mereka makan siang di ruangan privasi restoran itu. Panji meminta Nadin mengambilkan semua makanan untuknya. Dia menunjuk makanan yang dia mau, namun saat Nadin sudah mengambil dan menyimpan makanan itu dihadapannya, Panji mengatakan dia tidak mau makanan itu, dan meminta makanan lain.


Panji terus melakukannya berulang kali, sampai dia merasa puas mengerjai Nadin. Panji senang melihat wajah kesal Nadin. Adam yang melihat semua itu, hanya tersenyum tipis, walau dia merasa sedikit kasihan pada Nadin.


Adam tidak mengerti apa yang terjadi atau difikirkan Panji saat ini. Selama ini, belum pernah ada satu orang pun yang Panji ajak makan bersama selain Adam, atau klien pentingnya. Tapi sekarang, Panji sengaja membawa Nadin makan bersama, bahkan dia tidak pernah mengirit suaranya saat bicara dengan Nadin.


Apa Panji menyukai Nadin, atau mungkin jatuh cinta padanya? Rasanya itu tidak mungkin. Adam akui Nadin adalah gadis yang cantik dan manis, tapi dia bukan tipe Panji. Mungkin Panji hanya ingin mengerjainya saja, karena saat ini, hal itu yang membuat Panji senang. Nadin memang lucu saat sedang merasa kesal.


Makan siang mahal Nadin untuk pertama kali didalam hidupnya itu sudah selesai. Sekarang mereka keluar dari restoran, dan pergi menuju mall, dimana Panji bertemu dengan Nadin minggu lalu.


Nadin menolak ikut, tapi Panji memaksa dan mengancamnya. Sesampainya di mall, Panji membeli baju juga kebutuhan lainya. Dia meminta Nadin membawakan semua belanjaannya, dan Panji melarang Adam membantu Nadin.


Nadin menenteng dua buah paper bag ditangan kiri, dan tiga paper bag ditangan kanan. Dia berjalan satu langkah dibelakang Panji. Namun tiba-tiba saja, Nadin maju mensejajarkan langkahnya dengan Panji, lalu merangkul lengan kekar miliknya, membuat sang empunya menoleh dan menatap Nadin dengan perasaan heran sekaligus kaget.


Nadin balas menatap Panji yang sedang keheranan sembari menampilkan senyum manis yang terkesan dipaksakan. Tak hanya Panji yang terlihat heran dan kaget, tapi juga Adam.


"Apa-apaan kamu?." Tanya Panji, sembari memegang tangan Nadin dan hendak melepaskannya.


"Saya mohon ko Panji jangan melepaskan tangan saya, kali ini saja. Tadi saya sudah membantu ko Panji, sekarang giliran ko Panji yang bantu saya. Kita jadi satu sama kan?."Sahut Nadin, setengah berbisik, dan entah kekuatan apa yang dimiliki Nadin, hingga pada saat itu, Panji mau menurutinya.


Dia membiarkan Nadin bergelayut manja ditangannya, walau dia belum mengerti, kenapa Nadin melakukan hal itu.


Nadin semakin mengeratkan rangkulannya saat mereka berpapasan dengan tiga orang lelaki, yang usianya mungkin tidak jauh berbeda dengannya. Nadin bersikap seolah-olah dia dan Panji adalah sepasang kekasih yang saling mencintai.


Nadin bersikap manis dan sok mesra kepada Panji, apalagi saat mereka dan ketiga lelaki itu berpapasan. Dengan mengeraskan suaranya, Nadin mengucapkan terimakasih pada Panji, karena Panji sudah membelikanya barang-barang mahal, padahal jelas-jelas belanjaan itu milik Panji.


Aktingnya berhasil membuat salah satu dari tiga lelaki itu terus melihat kearahnya. Nadin tersenyum puas, saat melihat lelaki itu diam ditempatnya, dan pandanganya terus tertuju padanya dan Panji. Sekarang Panji mengerti situasinya. Nadin ingin memanas-manasi salah satu dari tiga lelaki itu.

__ADS_1


Nadin masih merangkul erat tangan Panji, dan sesekali, dia menolehkan kepalanya ke arah lelaki itu, yang ternyata masih menatap ke arahnya. Dia tersenyum puas melihat wajah lelaki itu.


Saking senangnya, Nadin sampai tak mempedulikan tatapan tajam mata Panji, yang sedang melihat kearahnya. Dia membalas tatapan itu dengan senyumnya.


Sebenarnya siapa lelaki itu? Apa dia mantan pacarnya?. Tanya Panji dalam hati.


Nadin melepaskan rangkulanya, saat menuruni eskalator, karena lelaki itu juga sepertinya sudah tidak terlihat.


"Berani-beraninya kamu lakukan itu padaku Nagin." Ucap Panji


"Hehehe, maaf ko. Anggap saja ko Panji balas budi sama saya." Sahut Nadin


"Balas budi apa maksud kamu?." Tanya Panji tak mengerti.


"Tadi pagi ko Panji kan udah meluk saya tanpa ijin, mana bilang sayang lagi, sekarang gantian, saya yang melakukanya. Kita impas kan sekarang." Ujar Nadin


"Apa kamu bilang? Panji meluk kamu?." Tanya Adam tak percaya.


"Iyaa!! Bilang sa...." emmmmh...emmmh..." Suara Nadin, saat Panji membekap mulutnya dengan telapak tangan.


"Eh sumpeh lo Panji? Lo beneran meluk Nadin?." Tanya Adam penasaran.


"Berisik lo."


"Eh serius gue mau......."


"Diam."Sergah Panji,membuat Adam langsung diam seketika. Panji melepaskan tangannya dari mulut Nadin, lalu mereka menuju parkiran, dan pulang.


"Ngomong-ngomong cowok tadi siapa?."Tanya Adam.


"Cowok mana?."


"Yang di mall."


"Ohh dia. Ada deh, mau tau aja." Jawab Nadin.


"Ahh pasti mantan kamu ya?."


"Bisa dibilang gitu sih."


"Lumayan ganteng juga, walau masih gantengan aku sih, eh bukan maksudku dia." Tunjuk Adam pada Panji.


"Mas Adam bener, kalian berdua emang jauh lebih ganteng dari cowok tadi. Kenapa sih, mas Adam sama ko Panji milih kerja dikantoran?. Kenapa nggak milih jadi foto model aja gitu, misalnya?."


"Emang menurut kamu, aku dan Panji cocok jadi foto model?."


"Cocok....cocok banget ."

__ADS_1


"Menurut kamu, kira-kira aku sama Panji cocoknya jadi model apa?."


"Kalau menurut saya sih, mas Adam sama ko Panji itu, cocoknya jadi foto model majalah flora dan fauna, atau enggak majalah aneka satwa langka yang hampir punah." Celetuk Nadin. Membuat Adam dan Panji menoleh kearahnya.


"Teman kamu yang aneh itu, yang lebih pantas jadi model majalah satwa langka. Ngomongnya aja bahasa alien, nggak bisa dimengerti manusia normal." Timpal Panji.


"Hahaha..." Adam tertawa.


"Oh iya sampai lupa, ada salam dari Doni, buat ko Panji, sama mas Adam. Katanya dia suka banget sama kalian berdua, terutama ko Panji."


"Hahaha...lo denger tuh Ji, penggemar lo nambah satu." Sahut Adam.


Panji tidak menjawab, hanya melirik Adam dengan malas.Tak terasa mereka telah sampai di jalan dekat menuju rumah Nadin. Nadin turun dan mobil Panji pun berlalu dari sana.


***


Dirumah Panji.


"Ji, lo beneran meluk si Nadin tadi? Lo nggak salah makan kan?." Tanya Adam.


"Kalaupun iya, emang kenapa? Lo cemburu?."


"Hahaa...ya enggak lah, masa gue cemburu. Gue justru bersyukur, gue seneng banget kalau lo meluk cewek, apalagi sampe jatuh cinta sama dia. Itu artinya lo beneran gak jatuh cinta sama gue.


By the way, kenapa sih lo sampai meluk gadis nakal itu? Jangan bilang lo mau ngerjain dia Ji, atau jangan-jangan, lo udah jatuh cinta sama dia."


"Ini gak seperti yang lo fikirkan Dam.


Tadi Jovanka datang kesini, dan.....gue yakin lo ngerti."


"Ohh...jadi lo manas-manasin dia dengan cara lo meluk Nadin, gitu? Awas lo Ji, gimana kalo Jovanka sampe macem-macem sama Nadin."


"Gak mungkin, gue yakin dia gak bakalan lakuin hal itu. Kalau sampai dia macem-macem, gue sendiri yang akan turun tangan. Lo suruh anak buah lo, awasi gadis nakal itu.Tapi ingat, jangan sampai dia tahu atau curiga, ngerti."


"Siaap bos Panji." Seru Adam.


.....


Malam ini, Panji masih duduk di kursi yang ada didekat kolam renang. Entah kenapa dia masih memikirkan kejadian di mall tadi siang, dan juga kejadian dirumahnya, tadi pagi. Dia ingat saat dia memeluk Nadin dan saat Nadin memeluk tanganya di mall.


Panji tak mengerti, kenapa dia bisa melakukan hal itu, padahal selama ini dia seperti mengharamkan diri, berdekatan atau menyentuh makhluk Tuhan yang bernama perempuan. Tapi bisa-bisanya dia memeluk Nadin, dan membiarkan Nadin memeluknya, walau Nadin hanya memeluk tangannya.


Panji akui, dia tidak merasa keberatan saat itu. Apa mungkin karena usia Nadin yang sebaya dengan Prisa, dan memang dia masih polos? Panji juga tahu, Nadin tidak pernah berniat menggodanya, sehingga Panji tidak merasa keberatan, Nadin memeluknya seperti tadi.


Walau dalam hatinya, Panji merasa heran dengan sikap Nadin yang cuek dihadapanya. Dia tidak pernah terlihat genit, atau mencari muka dihadapan Panji, seperti gadis lainya.


Bahkan menurut Panji, Nadin seperti tidak terpengaruh sedikitpun melihat wajah tampannya, dan jujur saja ini membuatnya semakin penasaran terhadap Nadin. Selain itu, dia juga penasaran dengan sosok lelaki yang sudah membuat Nadin sampai nekat memeluknya.

__ADS_1


Tbc🌻.


Vote, like dan komentarnya ya, biar makin semangaattt yes😉🤭


__ADS_2