
Esoknya.
Pagi-pagi sekali Nadin sudah selesai membereskan kamarnya. Dia berniat akan pergi ke kamar Mikha. Diluar, Nadin berpapasan dengan Dewi, mereka saling bertegur sapa.
"Selamat pagi Nadin!!.
"Selamat pagi kak Dewi!!
"Nadin mata kamu kenapa? Kamu habis nangis ya?." Tanya Dewi, saat melihat mata Nadin yang sembab dan sedikit bengkak, karena menangis dan juga tidak tidur semalaman.
"Oh ini. Iya kak Dewi, semalam saya begadang nonton drakor, ceritanya sedih banget jadi ikutan nangis." Bohong Nadin.
"Aduh segitunya menghayati, sampai ikutan nangis."
"Hehehe, iya. Ya udah kalau gitu, saya mau ke kamar non Mikha dulu, takut dia keburu bangun."
"Ini masih pagi banget Nad, non Mikha juga gak akan bangun sepagi ini. Mending kita ngopi atau nge teh dulu sebentar."
"Enggak kak makasih, saya udah nge-teh, baru saja. Ya udah ya kak Dewi saya duluan." Pamit Nadin, lalu melangkahkan kakinya menuju kamar Mikha.
Nadin memang sengaja datang lebih awal ke kamar Mikha, karena dia tidak mau bertemu dengan penghuni rumah, ataupun para art lainya, apalagi bi Sum, bibinya.
Dia tidak ingin mereka semua melihatnya dalam keadaan seperti sekarang. Tapi nyatanya dia malah bertemu dengan Dewi. Nadin berharap Dewi percaya pada ceritanya tadi, dan tidak mengatakan apa-apa pada bi Sum.
Walau sebenarnya, Dewi tahu kalau Nadin menangis bukan karena nonton drakor, tapi karena Panji memarahinya. Semalam dia berniat akan ke kamar Nadin, namun tak sengaja dia mendengar saat Panji membentak Nadin, hingga Dewi mengurungkan niatnya, dan kembali ke kamarnya.
Dewi fikir, mungkin saja Panji memarahi Nadin karena Mikha, apalagi pagi ini Nadin datang lebih awal ke kamar Mikha.
Nadin berjalan sambil menundukkan kepalanya, karena takut ada yang melihat matanya yang sembab. Sialnya, dia malah menabrak seseorang, membuat dia dan orang yang dia tabrak sama-sama terkejut, dan refleks saling menatap. Namun dengan cepat Nadin membuang mukanya, seraya mengucapkan maaf, lalu berjalan cepat menuju kamar Mikha
Orang yang dia tabrak itu adalah Panji, yang akan pergi joging pagi. Dia menatap Nadin hingga sosoknya tidak terlihat. Perasaan bersalahnya kembali dia rasakan saat dia melihat mata sembab Nadin. Panji sangat yakin Nadin pasti menangis, setelah dia memarahinya tadi malam. Dia sungguh menyesal.
Bodoh.!! Umpatnya dalam hati.
Singkat cerita, Nadin sudah selesai memandikan Mikha pagi itu, dan sekarang dia akan sarapan pagi. Mereka berdua turun menuju ruang makan, dan saat sampai dibawah, Nadin dan Mikha berpapasan dengan Panji yang baru selesai joging.
Panji menyapa Mikha, sedangkan Nadin hanya menundukan kepalanya. Panji berjongkok, mensejajarkan tingginya dengan Mikha.
"Selamat pagi Mikha!!
"Selamat pagi juga om.!!
"Mikha mau kemana, udah cantik?."
"Mau sarapan om."
"Mikha, gimana kalau habis sarapan kita pergi jalan-jalan, Mikha mau?."
"Mau om?."
"Oke, kalau gitu om mandi dan siap-siap dulu."
"Oke om." Jawab Mikha dengan wajah ceria dan senyum bahagianya. Panji melirik Nadin yang masih saja menundukan kepalanya.
Panji berdiri, lalu berkata pada Nadin:
"Kamu denger kan tadi, kamu siap-siap, kita akan pergi sebentar lagi." Kata Panji dengan nada rendah.
Nadin diam dan masih menunduk. Panji ingin mendengar jawaban Nadin, tapi dia tidak juga mendengar Nadin mengatakan "iya atau baik ko" seperti biasanya.
__ADS_1
Panji pun berlalu ke kamarnya, dan Nadin membawa Mikha ke meja makan untuk sarapan pagi.
Setelah Mikha sarapan pagi, Nadin mengatakan pada Prisa kalau Panji akan membawa Mikha jalan-jalan. Dia lalu meminta Prisa ikut menemani Mikha. Nadin meminta ijin, karena dia tidak bisa menemani Mikha.
Dia berbohong dan beralasan kalau dia sedang tidak enak badan. Prisa setuju dan memberi ijin Nadin untuk tidak ikut. Prisa dan ibu sepuh menyuruh Nadin istirahat saja, karena mereka melihat wajah Nadin yang memang pucat.
"Sebaiknya kamu juga sarapan, terus minum obat dan istirahat biar cepat sembuh." Kata ibu sepuh.
"Iya bener Nadin. Kamu bisa istirahat selama Mikha pergi jalan-jalan. Kalau kami udah pulang nanti, aku yakin Mikha akan menanyakan dan meminta kamu menemaninya."
"Iya baik non. Terima kasih banyak non Prisa, dan ibu sepuh karena sudah memberi ijin saya tidak ikut menemani non Mikha." Ucap Nadin.
Panji sudah rapi dan terlihat macho dengan kaos putih dan celana jeans biru muda yang dikenakannya pagi itu. Dia duduk di meja makan, sarapan bersama Prisa dan ibu sepuh. Sedangkan Mikha baru saja menyelesaikan sarapanya.
Mata Panji menjelajah ruang makan dan juga dapur, mencari sosok Nadin, tapi dia tidak menemukannya bahkan sampai saat dia sudah selesai dengan sarapannya, Nadin tidak juga muncul.
"Kak Panji mau mengajak Mikha jalan-jalan ya?."
"Iya. Kenapa?."
"Aku akan ikut."
"Kenapa, bukannya kamu biasanya pergi sama pacar kamu kalau hari minggu?."
"Aku janjian nanti sama dia. Bolehkan aku ikut. Lagian Nadin kan gak bisa ikut. Kalau nanti Mikha pengen ke toilet, emang kak Panji mau nganterin dia?."
"Kenapa dia nggak ikut?. Udah seharusnya kan dia ikut kemanapun Mikha pergi, itu tugas dia."
"Nadin lagi nggak enak badan, tadi dia udah minta ijin sama aku dan oma. Anggap saja dia libur sebentar. Lagian kasian juga, dia kan gak pernah libur." Jelas Prisa. Panji diam saja. Ada rasa cemas dalam hatinya saat ini, mendengar Nadin tidak enak badan. Selain itu, dia juga merasa semakin bersalah.
Tadinya Panji sengaja mengajak Mikha jalan-jalan, karena dia ingin meminta maaf pada Nadin, tapi ternyata semua tidak berjalan seperti rencananya.
Singkat cerita Panji dan Mikha pergi, dan Prisa ikut. Panji banyak diam pagi itu. Dia seperti kehilangan semangatnya. Pagi itu Panji membawa Mikha kembali ke mall, hanya saja bukan mall yang tadi malam mereka kunjungi.
Prisa menelpon kekasihnya, dan janjian bertemu disana.
Prisa bermaksud akan mengenalkan kekasihnya pada Panji, padahal sebenarnya Panji sudah tahu.
Tak lama kemudian, Bily kekasih Prisa sampai disana. Dia terkejut saat melihat Panji ada disana bersama Prisa. Ternyata benar apa yang dikatakan ibunya (bu Ranti), kalau Prisa adalah adik Panji, pengusaha muda yang terkenal itu.
Panji dan Bily saling menatap, dengan tatapan yang tidak bisa di artikan, sebelum akhirnya saling bersalaman, memperkenalkan diri masing-masing.
Setelah puas bermain, mereka lalu pulang. Panji meminta Prisa membawa Mikha, karena dia masih ada urusan.
Prisa pun pulang membawa Mikha bersama kekasihnya Bily, sedangkan Panji pulang ke rumahnya.
Panji menghubungi Adam, memintanya segera. datang.
"Baru aja kemaren kita ketemu, lo udah kangen aja sama gue Ji." Cicit Adam, saat tiba di rumah Panji.
"Gue ada perlu sama lo."
"Ya iya lah pasti, kalau lo ada perlu sama gue. Kalo enggak, lo juga gak bakallan hubungin gue kan. Ada apa?."
"Gue minta lo cari tahu tentang laki-laki bernama Bily, kekasih adek gue, Prisa. Lo cari tahu sedetail mungkin, dan kabari gue secepatnya."
"Itu aja?."
"Ada lagi."
__ADS_1
"Apa?."
"Gue minta lo kasih bonus tambahan untuk para buruh di pembangunan mall kita. Dan gue minta lo yang awassin langsung pembagianya. Gue nggak mau lo titippin lagi ke orang lain.
Lo harus pastiin uangnya harus sampai ke tangan mereka. Jangan sampai nyangkut di orang yang tidak bertanggung jawab. Lo ngerti kan?."
"Oke siap obos." Sahut Adam.
Panji pergi ke kamarnya untuk istirahat, karena semalam dia tidak tidur. Sedangkan Adam menontom film kesukaanya di ruang tengah.
Dirumah pak Bahtiar.
Prisa dan Mikha baru saja sampai, bersama Bily. Mereka duduk diruang tamu. Prisa meminta Dewi membuatkan minum, dan memanggilkan Nadin, agar membawa Mikha ke kamarnya.Bily dan Prisa tampak mengobrol, sedangkan Mikha anteng dengan boneka barunya.
"Ngomong-ngomong, kapan orang tua kamu kembali?." Tanya Bily.
"Kalau aku nggak salah, mungkin kurang lebih sepuluh apa lima belas harian lagi kayaknya.."
"Eh Pris, Mikha ini anak siapa?. Bukanya kak Wily belum punya anak?." Tanya Bily lagi.
"Mikha memang bukan anak kak Wily, dia anak kak Panji." Jawab Prisa, dengan memelankan suaranya.
"Apaaa?. Anak kak Panji?."Ucap Bily kaget.
Prisa mengangguk.
Jadi dia udah punya anak? Tapi bagaimana mungkin. Batin Billy.
"Jadi gini, duuh gimana ya aku jelassinnya. Entar deh ya aku ceritain, tapi nggak sekarang."
"Iya gapapa, lagian aku bukan tipe cowok kepo." Sahut Bily, padahal sebenarnya dia sangat penasaran ingin tahu tentang Panji dan Mikha.
Tak lama kemudian seseorang menghampiri mereka, membawa sebuah nampan berisi dua gelas minuman segar, juga satu piring puding buah kesukaan Prisa. Prisa menolehkan pandanganya ke arah orang yang membawa nampan, dia tersenyum ramah.
"Nadin? Kenapa kamu yang membawa minuman ini?. Mbak Dewi kemana?." Tanya Prisa.
"Mbak Dewinya lagi sibuk bantuin bi Sum, jadi saya yang bawain, sekalian mau bawa non Mikha ke kamarnya." Jawab Nadin.
"Kak Nadin, lihat nih aku punya boneka baru." Cicit Mikha, sambil menunjukan bonekanya.
Nadin tersenyum.
Mendengar nama Nadin, dan mendengar suara yang sepertinya tidak asing, Bily yang memunggungi Nadin, segera memutar badan, melihat ke arah suara, dan degg....dia sangat terkejut saat tahu kalau orang itu adalah Nadin yang dia kenal.
Nadin!! Kenapa dia bisa ada di rumah ini?. Apa jangan-jangan dia sudah menikah dengan Panji?. Tanya Bily dalam hati.
Tak hanya Bily yang terkejut, tapi juga Nadin. Mereka berdua sama-sama terkejut. Nadin merasakan jantungnya tiba-tiba berdebar kencang, kakinya terasa lemas dan gemetar.
"Gimana keadaan kamu sekarang? Udah baikan?." Tanya Prisa.
"Su-su-sudah non." Jawab Nadin terbata.
Non? Kenapa dia memanggil Prisa "non"?.
"Saya permisi, mau bawa non Mikha ke kamar." Pamit Nadin, lalu membawa Mikha, meninggalkan Bily dan Prisa.
Rasanya Bily ingin meminta penjelasan pada Nadin, tapi tak mungkin dia melakukannya,ada Prisa disana. Bagaimana pun dia harus menghargai dan menjaga perasaan Prisa. Bily akan menanyakannya perlahan pada Prisa, agar dia tidak curiga.
Tbc ❤️
__ADS_1