
"Apa ko Panji merindukan saya?.'
"Apa maksud kamu?."
"Ahh ko Panji jangan pura-pura. Ko Panji rindu kan sama saya? Kalau enggak kenapa ko Panji masih disini? Non Mikha nya kan udah tidur. Ayo ngaku aja."
Sialan...kenapa dia bisa tau?. Batin Panji.
Panji beranjak dari duduknya, berdiri lalu melangkah menghampiri Nadin. Nadin yang juga sedang duduk di dekat pintu, lantas berdiri. Dia mengembangkan sedikit senyumnya, karena dia fikir Panji akan segera keluar dari kamar, dan rencanaya berhasil.
Namun senyum tipis dibibirnya tiba-tiba memudar, saat Panji semakin dekat dan dia tidak keluar, tapi Panji malah menghampiri dan menatapanya dari jarak yang sangat dekat. Nadin beringsut, dia memundurkan badannya, namun sayang dia tidak bisa kemana-mana, tubuhnya sudah mentok ke tembok kamar.
Nadin menatap mata Panji yang juga menatapnya dengan tatapan yang aneh menurut Nadin. Bahkan wajah Panji hanya berjarak beberapa senti saja dari wajahnya.
Nadin melihat senyum smirk di bibir merah alami milik Panji.
Dia ketakutan sekarang. Jantungnya tiba-tiba berdegup kencang, karena takut Panji mungkin saja tersinggung dan akan berbuat macam-macam padanya.
Ingin sekali rasanya Nadin mendorong tubuh Panji, tapi nyalinya menciut, keberanianya menghilang entah kemana. Bahkan kini dia tidak berani menatap wajah Panji.
"Ngomong apa tadi kamu? Coba ulangi sekali lagi, aku gak denger." Ucap Panji, yang semakin mendekatkan wajahnya ke wajah Nadin.
Duuh kenapa juga ini wajah siluman panci malah makin deket ?Jangan-jangan bener lagi dia nyip*k aku. Enggak gak mungkin. Dia gak mungkin melakukannya. Dia kan gak suka sama cewek.
"Eng...gak ko, maaf saya cuma bercanda, hehe." Jawab Nadin tersenyum kikuk. Wajahnya sudah merah seperti kepiting rebus.
"Bercanda kamu bilang?. Bercanda kamu nggak lucu."
"Iya kok, maaf. Saya janji gak akan pernah mengulanginya. Ko Panji jangan marah."
"Siapa yang marah?." Tanya Panji.
"Ko Panji gak marah?." Nadin bertanya, sambil kembali menatap wajah Panji.
"Menurut kamu?." Panji balik bertanya, sambil mendekatkan wajahnya kembali, membuat Nadin langsung membuang muka. Dan Panji tersenyum dalam hati, rasanya dia sangat senang saat itu.
"Maaf ko, bisa kan ko Panji jangan berdiri terlalu dekat ke saya kayak gini?."
"Tidak bisa." Jawab Panji cepat.
"Kamu jangan coba-coba ngatur aku Nagin. Lagian kamu sendiri yang bilang akan menuruti apapun yang aku katakan. Iya kan?."
"Iya ko, tapi bukan kayak gini juga kan. Kalau ada yang lihat gimana?. Mereka pasti akan berfikir yang tidak-tidak."
"Apa peduliku?." Tanya Panji.
Ihhh nyebelin banget sih. Percuma ngomong sama teko. Mending ngomong sama tembok sekalian. Gerutu Nadin dalam hati.
"Kenapa diam?." Tanya Panji.
Suka-suka aku. Apa peduli kamu.
"Hey Nagin, aku bertanya kenapa kamu diam?."
"Karena saya gak bicara. Maaf ko, saya sudah ngantuk, saya mohon dengan hormat, ko Panji bisa kan keluar sekarang dari kamar ini?."
__ADS_1
"Kamu berani ngusir aku?."
"Saya bukan mengusir, tadi saya sudah mohon dengan hormat kan?. Ini sudah tengah malam, apa ko Panji tidak ngantuk?. Tolong kasihani saya, kali ini saja, besok saya harus bangun pagi-pagi sekali."
"Dari tadi aku sudah menyuruh kamu tidur bukan?."
"Iya, tapi mana mungkin saya tidur, kalau ko Panji masih ada disini. Kalau ko Panji macam-macam sama saya gimana?. Ehh." Nadin langsung menutup mulutnya, karena merasa sudah keceplosan.
Aduuh ini mulut kenapa lagi pake blong remnya?.
"Apa kamu bilang?."
"Hehehe...enggak ko becanda. Iya kalau gitu saya akan tidur sekarang. Selamat malam ko Panji yang baik hati dan tidak sombong." Ucap Nadin sambil sedikit mendorong tubuh Panji, lalu dia berjalan setengah berlari menjauh dari Panji.
Dia menggelar kasur lantai yang biasa digunakannya untuk tidur di kamar Mikha. Dia tidak peduli Panji masih ada disana. Nadin berbaring , menarik selimut dan menutupkan ke seluruh tubuhnya, dengan posisi memunggungi Panji.
Nadin sebenarnya juga tidak mau tidur di kamar Mikha, tapi selama ini Mikha yang meminta dan memaksa Nadin agar tidur dikamarnya, dan ibu sepuh juga memang menyuruhnya tidur di kamar Mikha.
Sebenarnya Nadin ingin tidur dikamar belakang yang dikhususkan untuk para art, tapi mana mungkin dia menolak keinginan majikanya.
Tak lama kemudian lampu dikamar Mikha padam, karena Panji mematikannya. Lalu dia keluar dari kamar Mikha. Nadin akhirnya bisa bernafas lega, lalu dia secepatnya tidur, dan masuk ke alam mimpi.
Sebaliknya dengan Panji yang saat ini tidak bisa tidur. Dia masih mengingat kejadian di kamar Mikha. Wajah Nadin yang ketakutan, dan bersemu merah sangat menggangunya.
Panji tahu, Nadin memang ketakutan, dia bisa mendengar detak jantung Nadin yang berdegup kencang, walau sebenarnya jantungnya sendiri juga berdegup kencang. Hanya saja bukan karena dia ketakutan seperti Nadin, tapi karena sesuatu yang lain.
Entah kenapa menurut Panji, Nadin terlihat lebih cantik saat dia memandangnya dari jarak yang sangat dekat.
Wajah cantik yang alami tanpa sentuhan make up, juga kepolosannya membuat Panji merasa gemas sendiri.
Panji memutuskan akan tinggal di rumah pak Bahtiar, sampai pak Bahtiar kembali. Dia meminta Prisa dan ibu sepuh tidak mengatakan hal ini pada ayah dan ibu tirinya, Prisa dan ibu sepuh setuju.
Dan selama dia tinggal disana, sesekali Panji tidur di kamar Mikha, dan Nadin tidur di kamar belakang, bersama para art lainya. Nadin tidak mau kejadian dikamar Mikha terulang kembali, sedangkan Panji sebaliknya, dia berharap bisa mengulang kembali kejadian itu.
Semakin hari Panji dan Mikha semakin dekat saja. Kini Panji benar-benar tulus menyayangi Mikha.
Jovanka yang sudah tahu kalau Panji tinggal dirumah pak Bahtiar, tidak menyia-nyiakan kesempatan. Hampir setiap hari dia datang kesana, menemui Panji.
Jovanka mengatakan pada Panji, kalau dia sudah tahu selama ini Panji berbohong. Nadin bukanlah kekasihnya seperti yang dia katakan selama ini, melainkan hanya seorang pengasuh.
Panji tidak mempedulikan semua itu. Dia tidak peduli kalau Jovanka sudah tahu kebohonganya, karena baginya itu sama sekali tidak penting.
Melihat sikap Panji yang dingin dan tak mempedulikanya, Jovanka mencoba cara lain. Mikha, iya dia akan mendekati Mikha. Jovanka ingin memenangkan hati Mikha, agar lebih mudah mendapatkan simpati Panji, fikirnya.
Dia tahu dari Prisa kalau sekarang Panji sangat menyayangi Mikha dan menuruti semua keinginanya.
Setiap datang, dia selalu membawakan Mikha mainan bagus dan mahal, tapi sepertinya Mikha tidak terlalu menyukai Jovanka, ataupun mainan yang dia bawa. Membuat Jovanka sedikit kesal, tapi tidak menunjukannya. Dia tetap bersikap tenang dan sabar, demi mendapatkan Panji.
Malam minggu ini, Jovanka mengajak Mikha pergi ke mall. Jovanka berjanji pada Mikha akan membelikan Mikha mainan apapun, asal dia mau ikut dan mengajak Panji.
Awalnya Mikha tidak mau, tapi Nadin membujuknya, sesuai permintaan Jovanka. Dia tahu Mikha selalu menuruti Nadin, dan ternyata benar, Mikha langsung mau saat Nadin membujuknya, asalkan Nadin harus ikut.
Tidak masalah, yang penting Panji ikut. Lagian kalau Nadin tidak ikut, anak ini bisa menggangu aku dan Panji nanti. Batin Jovanka.
Singkat cerita, malam itu Nadin, Mikha dan Panji pergi ke mall. Panji membawa mobil sendiri tanpa Adam, Nadin dan Mikha duduk disebelahnya.
__ADS_1
Di tengah jalan tiba-tiba saja mobil mereka di hentikan oleh seorang wanita yang tak lain adalah Jovanka. Dia mengatakan kalau mobilnya tiba-tiba mogok.
Panji tidak ingin menghiraukannya, tapi Mikha malah meminta Panji mengajak Jovanka ikut bersama mereka, karena kebetulan Jovanka juga akan pergi ke mall yang sama dengan mereka.
Walau sebenarnya ini bukanlah sebuah kebetulan, tapi memang semua sudah direncanakan.
Panji terpaksa menuruti Mikha dan membiarkan Jovanka ikut. Nadin segera turun dan pindah ke jok belakang. Dia membiarkan Jovanka duduk di depan, disamping Panji bersama Mikha.
"Siapa yang suruh kamu duduk dibelakang?."Tanya Panji.
Nadin pura-pura tidak mendengarkan Panji, dan sibuk dengan ponselnya, membuat Panji sangat kesal, apalagi dia melihat Jovanka duduk disampingnya.
Panji memutar badan dan merampas hp Nadin, membuat Nadin tersentak kaget.
"Siapa yang suruh kamu duduk di belakang, ayo pindah." Titah Panji.
"Tapi ko, saya..."
"Aku bilang pindah."
"Maaf ko, saya gak kuat kalau duduk didepan. Ac-nya terlalu dingin, saya gampang masuk angin kalau kena ac."
"Alesan. Cepet pindah." Titah Panji.
Nadin menatap Jovanka yang juga sedang menatap ke arahnya.
"Tunggu apa lagi? Cepet Pindah."
"Om jangan marahin kak Nadin, kasihan." Ucap Mikha.
"Om gak marahin kak Nadin Mikha, om cuma minta kak Nadin pindah duduknya disini sama Mikha."
"Sudahlah, masalah duduk aja kok diributtin. Mending cepet kita berangkat." Ucap Jovanka menimpali.
"Iya om, ayo berangkat, aku pengen beli mainan." Ucap Mikha.
Dengan hati kesal Panji pun menuruti Mikha. Dia melajukan mobilnya dengan cepat, hingga tak lama, mereka pun sampai di mall itu.
Selama disana, Jovanka terus saja berusaha mencari kesempatan agar bisa berdekatan dengan Panji. Sedangkan Nadin dan Mikha, mereka berdua seolah sengaja menjauh, dan membiarkan Panji dan Jovanka berduaan.
Panji sangat geram dan kesal saat itu, tapi dia tahan emosinya karena dia sadar dia berada di tempat umum. Saat akan pulang, Panji meminta Jovanka naik taksi, tapi dia menolak dengan alasan dia ingin menemui Prisa karena ada urusan penting.
"Aku ikut sama kalian lagi ya." Ucap Jovanka."
"Dasar tak tahu malu." Cerca Panji.
Kekesalan Panji semakin menjadi saat mereka pulang. Nadin dan Mikha duduk dibelakang, dan Jovanka tetap duduk di depan, padahal tadi Panji sudah meminta Nadin duduk di depan.
Dan sepertinya Nadin memang sengaja membiarkan dirinya dan Jovanka berdekatan. Apalagi saat ini, Nadin dan Mikha tertidur di jok belakang, walau sebenarnya Panji tahu, Nadin tidak benar-benar tidur. Dia hanya pura-pura.
Begitu sampai, Panji langsung turun, dan membanting pintu mobil dengan keras. Dia lalu menggendong Mikha yang sudah tertidur, tanpa bicara sepatah kata pun.
Air mukanya memang sudah tidak bersahabat sejak tadi. Ada rasa takut di hati Nadin saat ini, tapi dia berusaha menghilangkan rasa takutnya itu.
Tbc❤️
__ADS_1
Like, vote, dan komennya jangan lupa ya dears🤗