
Apa maksudnya dia akan menjemputku?. Ahh masa bodo, yang penting dia udah tahu kalau aku akan bekerja menjaga anaknya." Nadin bergumam.
Nadin menerima tawaran menjadi suster pengganti untuk Mikha, karena keluarga Nadin dan Panji mengijinkanya. Mikha sangat senang mengetahui Nadin yang akan menggantikan posisi suster Wati.
Suster Wati, bisa pulang kampung lebih awal, dan Nadin akan menjaga Mikha, setelah suster Wati pulang. Pak Bahtiar bisa tenang, karena ada Nadin yang menjaga cucunya, setelah suster Wati pulang kampung.
.....
Hari-hari berlalu, kini Nadin sudah resmi menjadi suster yang menjaga Mikha. Mereka berdua semakin akrab, tawa ceria selalu terlihat diwajah mungil Mikha.
Hari ini, hari minggu. Nadin ingat kalau Panji akan menjemputnya, tapi dia yakin Panji tidak akan datang, dan memang dia berharap Panji tidak datang.
Lima belas menit kemudian, ternyata Panji benar-benar datang. Nadin tidak tahu apa yang akan dikatakan Panji pada ibu sepuh, dan Prisa yang saat itu sedang bersamanya dan Mikha.
Apa dia akan mengatakan kalau aku harus bekerja dirumahnya, untuk membayar hutang?.Tanya Nadin dalam hati.
Panji menyapa nenek dan adik perempuanya. "Aku datang kesini mau menjemput Mikha." Ujar Panji, membuat orang yang ada disana terkejut, termasuk Nadin.
"Menjemput Mikha?." Tanya ibu sepuh tak percaya. Dia dan Prisa saling pandang.
"Kak Panji beneran, mau jemput Mikha?." Tanya Prisa memastikan.
"Iya. Mulai saat ini, setiap hari minggu, aku akan datang menjemput Mikha. Ayo Mikha kita pergi." Ajak Panji.
Mikha sepertinya takut pada Panji, tapi hari itu sikap Panji tidak sedingin biasanya, membuat rasa takut Mikha sedikit berkurang.
Singkat cerita, Panji membawa Mikha dan Nadin dari rumah pak Bahtiar. Nadin masih tidak percaya, Panji benar-benar datang menjemputnya dengan cara seperti ini, dan Panji datang sendiri, tanpa Adam.
Apa ko Panji benar-benar tidak mau rugi? Dia mau aku tetap bekerja dirumahnya, padahal dia tahu sekarang aku sedang bekerja menjaga anaknya. Atau karena memang dia ingin mendekatkan dirinya kepada Mikha? Ah iya aku harap itu benar. Aku harap ko Panji bisa menerima dan menyayangi Mikha selayaknya seorang ayah yang menyayangi anaknya.
Nadin bersyukur karena Panji tidak mengatakan yang sebenarnya kepada ibu sepuh dan Prisa. Kalau sampai Panji mengatakan peristiwa pelemparan batu itu, Nadin akan merasa sangat malu.
Nadin dan Mikha duduk di jok belakang, dan Panji mengemudi sendiri, seperti seorang supir untuk mereka berdua.
Tidak ada pembicaraan apapun selama dalam perjalanan menuju rumah Panji.
Panji hanya sesekali melirik kaca spion didepannya, melihat pantulan dua orang perempuan yang ada dibelakang.
Sesampainya dirumah Panji, seperti biasa Nadin mulai melakukan pekerjaanya, dan Mikha duduk manis memperhatikannya. Nadin meminta Mikha duduk bersama Panji diruang tv, tapi Mikha menolak.
Pekerjaan Nadin lebih cepat selesai, karena hari itu Panji hanya meminta Nadin menyapu dan mengepel. Nadin meminta Mikha tidak mengatakan apa yang dilakukan Nadin dirumah Panji kepada orang-orang dirumah pak Bahtiar.
Sekarang dia sedang bermain di taman belakang rumah Panji bersama Mikha. Panji diam-diam memperhatikan keakraban mereka dari kaca dapur. Dia tak mengerti kenapa Nadin bisa sedekat dan seakrab itu dengan Mikha.
Panji melihat Nadin sedang berjalan ke arah dapur, dia bergegas pergi darisana, karena takut ketahuan kalau dia sedang mengintip mereka.
Nadin berniat akan membuatkan camilan untuk Mikha, setelah meminta ijin kepada Panji. Dia membuatkan sosis bakar untuk Mikha dan untuknya. Nadin juga menawari Panji. Dia juga bertanya mungkin saja Panji ingin dibuatkan sesuatu, tapi Panji menjawab tidak mau apa-apa.
__ADS_1
Nadin merasa heran dengan sikap Panji hari itu, tapi dia senang, karena hari itu Panji tidak menyusahkannya, mungkin karena kehadiran Mikha, fikirnya.
Tak disangka Panji memesan makan siang untuk mereka bertiga, dari aplikasi di hpnya.
Mereka bertiga makan bersama siang itu. Panji menatap Nadin dan Mikha bergantian, membuat mereka berdua tidak nyaman. Tatapan Panji yang tidak bisa Nadin artikan.
"Boleh kami kembali sekarang ko? Sebentar lagi waktunya non Mikha tidur siang." ucap Nadin.
"Emang dia nggak bisa tidur di rumah ini?."Sahut Panji.
"Bukan gitu ko. Saya hanya....."
"Kalau dia mau tidur siang, bawa saja dia ke kamar itu. Kalian berdua boleh tidur disana. Kalian tidak akan kembali, sebelum Adam datang. Dia nanti yang akan mengantarkan kalian pulang."
Nadin sebenarnya hanya mencari alasan agar dia bisa segera kembali ke rumah pak Bahtiar, dia benar-benar tidak nyaman berada disana, begitu juga dengan Mikha.
Nadin membawa Mikha ke kamar yang ditunjuk oleh Panji. Mereka diam disana menunggu Adam yang tidak datang-datang, karena memang hari itu dia tidak akan datang, karena hari ini Panji memberikan jatah libur untuk Adam, membiarkannya menikmati waktunya sendiri.
Mikha sudah tertidur, sedangkan Nadin walau dia mengantuk, Nadin tidak ingin sampai tertidur. Nadin membuka sosmednya, tidak ada yang menarik sama sekali, dia mengirim pesan pada Doni, Doni tidak membalas pesannya.
Ahh membosankan. Batin Nadin.
Tak lama kemudian, Mikha terbangun, Nadin mengajak Mikha pulang naik taxi online, Mikha mengangguk.
Mereka berdua keluar dari kamar mencari Panji, untuk meminta ijin pulang. Tapi Panji tidak mengijinkanya, apalagi naik taxi online.
"Emang kamu fikir disini gak ada air untuk mandi?. Kamu bisa mandiin dia disini kan?."
"Tapi saya gak bawa baju ganti buat non Mikha."
"Itu bukan masalah, aku bisa minta Prisa mengirimkan bajunya kesini." Ujar Panji, lalu dia menghampiri Mikha.
"Mikha, Mikha jangan dulu pulang ya, nanti kita beli boneka buat Mikha, Mikha mau kan?."Bujuk Panji pada Mikha.
Mikha mengangguk setuju dan tampak senang mendengar Panji akan membelikanya boneka.
Apa aku nggak salah lihat? Apa telingaku nggak salah denger? Si Panci bocor bersikap baik pada Mikha. Apa karena dia hanya ingin kami tetap disini, atau dia memang sudah menyadari dan mengakui Mikha sebagai anaknya?
Mudah-mudahan saja begitu. Aku harap ko Panji benar-benar mau mengakui dan memperlakukan Mikha sebagai anak. Gumam Nadin dalam hati.
Nadin memandikan Mikha, lalu menganti bajunya dengan baju yang baru saja dikirim Prisa melalui jasa gosend. Seperti janjinya tadi, Panji benar-benar membawa Mikha ke sebuah toko boneka, saat dia akan mengantarkanya pulang.
Mikha sangat senang karena dia bisa memilih sendiri boneka yang disukainya. Untuk pertama kalinya, Panji merasakan hatinya menghangat, melihat senyum tulus dan tawa bahagia Mikha hari itu.
Dia merasa lega sekaligus mendapat ketenangan dan kedamaian hati, setelah melakukan semua itu. Namun tetap saja Panji tidak mau mengakui Mikha sebagai anaknya, karena dia tidak merasa telah menghamili Vanesa.
Selesai memborong boneka, mereka lalu pulang. Panji meminta Nadin dan Mikha duduk di jok depan disampingnya, dan Nadin menuruti. Mikha mengucapkan rasa terima kasihnya pada Panji, yang telah membelikannya banyak boneka. Wajah bahagianya tidak bisa dia sembunyikan.
__ADS_1
Sepanjang jalan Mikha terus berceloteh ria, membuat Nadin ikut senang melihatnya. Sesekali Nadin menatap Panji yang sedang mengemudi. Walau dia tidak melihat senyum diwajah Panji, tapi aura kebahagian jelas terlihat diwajahnya. Nadin berharap ini adalah awal yang baik untuk hubungan Mikha dan Panji.
"Kenapa kamu menatapku seperti itu? Apa kamu baru menyadari kalau aku ini tampan?."Tanya Panji, membuat Nadin tersentak. Dia lupa kalau Panji mempunyai mata yang sangat jeli.
"Ehh...tidak ko, saya hanya senang melihat sikap baik ko Panji kepada non Mikha hari ini."
"Apa maksud kamu? Apa kamu mau bilang kalau selama ini, sikapku tidak baik sama dia, iya?."
"Maaf ya ko, tapi saya harus jujur. Menurut saya iya. Selama ini, sikap ko Panji sama non Mikha itu, tidak seperti seorang ayah kepada anaknya." Celetuk Nadin.
Dia memang bukan anakku. Batin Panji.
Apa dia marah? . Tanya Nadin dalam hati.
"Hehehe....jangan marah ya ko. Kejujuran memang kadang menyakitkan." Kata Nadin.
Panji diam saja, tapi dalam hatinya Panji membenarkan ucapan Nadin.
"Aku tidak akan marah, asal kamu mau melakukan sesuatu untukku."
"Melakukan apa?."
"Malam minggu nanti, kamu temani aku pergi."
"Pergi? Pergi kemana?."
"Ke ujung dunia." Jawab Panji.
"Ayo ko!! Saya penasaran dan ingin tahu, sebenarnya ujung dunia itu ada dimana?."
"Kamu tidak perlu tahu, pokonya kamu harus mau."
"Tapi ko, saya kan harus menjaga non Mikha."
"Aku gak mau tau. Pokonya malam minggu nanti kamu harus pergi denganku, titik. Aku akan memotong empat hari masa kerjamu di rumahku."
"Empat hari? Kalau sepuluh hari baru saya mau."
"Oke, aku setuju."
"Yang bener ko?."
"Apa kamu lupa, kalau aku selalu serius, dengan semua yang aku katakan?."
"Hehee.....iya ko, saya mau." Jawab Nadin kegirangan.
Tbc🌻
__ADS_1