Panji & Nadin

Panji & Nadin
Ingin melihat


__ADS_3

Dua hari kemudian


Hari ini Irma sudah resmi bekerja di konveksi. Dia ditempatkan di posisi yang sama seperti Nadin dulu, yaitu buang benang.


Sedangkan Nadin sendiri saat ini masih tetap menjadi distribusi menggantikan Anis, yang dipindahkan ke bagian packing, karena sekarang dia sedang hamil.


Karyawan hamil tidak mungkin bekerja berdiri dan berlalu lalang kesana kemari, melayani operator jahit , ataupun mengecek turun barang.


Irma senang karena menurutnya ini adalah pekerjaan yang sangat mudah. Iya, memang mudah kalau yang dibuang benangnya cuma satu atau dua lusin, kalau ratusan lusin?.


Irma sesekali menolehkan kepala ke kiri, dan kekanan, sepertinya dia sedang mencari seseorang. Iya, dia memang mencari sosok Panji yang tidak juga terlihat. Irma sungguh ingin sekali melihat wajah Panji.


Dan karena tidak fokus bekerja, dia mulai keteteran, pekerjaannya semakin menggunung. Wajahnya terlihat panik, apalagi saat bu Ratna menghampirinya.


Bu Ratna menegur Irma dan memintanya agar bisa lebih cepat lagi. Irma hanya bisa mengangguk dan mengatakan iya.


Irma menoleh ke arah Nadin. Dia merasa iri karena menurutnya pekerjaan Nadin lebih mudah dibandingkan dengan pekerjaanya. Nadin hanya mengantarkan benang dan jarum saat operator jahit membutuhkannya. Setidaknya itulah yang dipikirkan Irma, padahal kenyataanya tidak seperti itu. Pekerjaan Nadin sebagai distribusi, cukup menguras tenaga dan fikiran.


Bu Ratna meminta Nina membantu pekerjaan Irma. Nina terlihat sangat kesal, walau begitu dia tetap membantu Irma, karena tidak mungkin dia membantah perintah atasannya.


Nina mulai berani mengomeli Irma, saat bu Ratna tidak ada. Nina tahu kalau Irma adalah saudara sepupu Nadin, dan itu membuatnya tidak suka dengan kehadiran Irma.


"Orang gak bisa kerja kayak gini kok bisa keterima disini ya?. Heran. Dulu si Nadin, sekarang kamu. Mentang-mentang punya kenalan orang dalam." Ucap Nina menyindir Irma.


Irma diam saja. Walau kesal, dia tidak mau cari masalah dengan Nina. Dia sadar dirinya karyawan baru yang baru masuk hari ini.


Dari apa yang dikatakan Nina, Irma bisa menyimpulkan kalau Nina itu tidak menyukai Nadin. Karena dari tadi dia terus saja menjelek-jelekkan Nadin.


Jam istirahat pun tiba. Nadin mengajak Irma istirahat. Karena tidak punya teman, Irma terpaksa menerima ajakan Nadin istirahat dan makan bersamanya.


Tak disangka, di tempat makan mereka bertemu dengan bi Sum yang sengaja menunggu Irma.


Nadin dan bi Sum saling bertegur sapa, lalu Nadin makan bersama Novi dan karyawan lain.


Irma duduk, di ikuti bi Sum.


"Gimana pekerjaan kamu tadi?. Lancar?." Tanya bi Sum.


"Lancar." Jawab Irma.


"Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu, ibu senang. Mudah-mudahan kamu betah kerja disini ya. Sekarang kamu makan, ibu harus kembali ke dapur." Ujar Bi Sum. Lalu meninggalkan Irma.


Nadin sudah selesai makan siang, dan seperti biasanya, dia menemui Mikha yang sudah menunggunya di bangku taman, bersama suster barunya, suster Elin.


Irma memperhatikan mereka dari tempatnya sekarang. Dia merasa tidak suka melihat Nadin begitu akrab dengan anak majikannya. Apalagi saat dia ingat wajah Panji yang menurutnya sangat tampan. Dia merasa sangat iri, karena Nadin bisa satu mobil dan diantarkan langsung oleh Panji.

__ADS_1


Sudah tiga hari Irma bekerja di konveksi, tapi dia belum juga bertemu atau melihat Panji. Hari itu kok Wily datang, dan Irma sempat menyangka kalau dia adalah Panji, karena wajah mereka mirip.


Hanya saja memang ko Wily terlihat sedikit lebih dewasa dibanding Panji, dan rambutnya juga panjang seperti Giorgino Abraham. Irma yakin dia bukan Panji, apalagi saat itu ko Wily datang bersama istrinya, Jesika.


Tak lama kemudian, orang yang diharapkan Irma akhirnya datang. Panji dan Wily memang janjian bertemu di konveksi, karena Wily kembali mendapat orderan dari Jepang, dan meminta Panji ikut andil dalam pengerjaan order itu. Mereka meeting di ruangan Sambaru.


Selesai meeting, mereka semua turun ke lapangan. Wily mengecek proses produksi, dan Panji dia ingin mengecek data turun barang.


Sambaru memanggil Nadin, dan meminta apa yang Panji mau.


Nadin menyerahkan data tersebut, dan menjelaskan beberapa size yang tidak bisa turun, karena komponen yang tidak lengkap.


"Kamu bisa kan buka masker kamu?." Tanya Panji pada Nadin.


Apa? Buka masker? Kenapa juga aku harus buka masker?.Bukannya selama bekerja operator dilarang membuka masker? Atau dia sengaja ingin mencari kesalahanku lagi?.


"Kamu denger saya kan?." Tanya Panji.


"I..iiya ko. Saya dengar." Jawab Nadin, lalu membuka maskernya.


Panji tersenyum dalam hati, karena dia berhasil membuat Nadin membuka maskernya. Panji hanya ingin melihat wajah Nadin siang itu.


Dasar modus. Kata Adam dalam hati, sambil mengulum senyumnya.


"Katakan, size berapa saja yang tidak bisa turun?." Tanya Panji.


"Jadi berapa lusin semuanya yang tidak bisa turun?." Tanya Panji.


"Sebentar ko, saya ambil dulu catatan lengkapnya." Jawab Nadin, Lalu melangkahkan kakinya dengan cepat menuju meja distribusi.


Panji mengikutinya, juga Sambaru dan Adam.


"Mana?." Tanya Panji membuat Nadin tersentak. Dia tidak tahu kalau Panji mengikutinya.


"Ini ko. Semuanya saya tulis disini." Jelas Nadin.


"Coba kamu sebutkan saja." Titah Panji.


Lalu Nadin pun menyebutkan berapa jumlah barang yang tidak bisa turun. Panji tidak bisa menahan dirinya untuk tidak menatap Nadin.


"Lo jangan pandangin dia kayak gitu terus, entar orang-orang disini tau, lo suka sama Nadin." Bisik Adam ditelinga Panji.


"Gue bilang gue gak suka sama dia, gue itu cinta sama dia, ngerti lo." Balas Panji, berbisik di telinga Adam. Sambaru dan Nadin menatap dua orang lelaki yang sedang berbisik-bisik tetangga di depan mereka.


Pikiran buruk Nadin tentang Panji yang mungkin saja menyukai sejenis, kembali terbesit dalam hatinya.

__ADS_1


"Mending kita pergi sekarang Ji." Saran Adam.


Wily memanggil Sambaru, dan Panji ke area packing. Sambaru segera menuju Packing, sedangkan Panji dan Adam masih berdiri di tempatnya. Panji mendekatkan dirinya pada Nadin, lalu berbisik.


"Minggu besok aku minta kamu datang lebih awal." Ucapnya lalu pergi menuju area packing.


Dasar bucin. Batin Adam.


Kenapa sih harus ngomong disini?. Dia bisa kan nge chat aku. Kata Nadin dalam hati.


Omg, ko Panji ternyata ganteng banget jir. Kalau saja aku tahu dari awal, anak majikan ibu seganteng itu, udah dari dulu aku kerja disini.


Gumam Irma dalam hati.


Irma begitu terpesona, saat melihat Panji lewat tepat dihadapannya. Dia benar-benar tampan, bahkan jauh lebih tampan dari ko Wily.


Sejak hari itu, setiap hari Panji selalu menyempatkan diri datang ke konveksi dengan begitu semangat. Dia harus mengecek sendiri order Jepang yang kualitasnya harus 110 persen. Dan Panji juga harus memastikan dirinya bisa melihat Nadin setiap hari.


Panji selalu saja punya alasan agar dia dan Nadin bisa berkomunikasi, sekalipun itu hanya masalah pekerjaan.


Walau demikian, tidak ada yang curiga melihat interaksi Panji dan Nadin, termasuk Nadin sendiri. Nadin memang merasa sikap Panji sangat baik padanya. Dan entah itu hanya perasaanya atau memang benar adanya, dia merasa Panji sengaja mendekatinya.


Ya iya lah dia dekettin aku. Dia kan cuma mau mastiin turun barang aja.


Ada yang tidak suka melihat Nadin saat bersama Panji, orang itu adalah Irma dan Nina. Mereka berdua merasa iri, karena Nadin bisa berdekatan dan berkomunikasi dengan bos mereka yang sangat tampan.


Coba kalau aku yang jadi distribusi, mungkin aku yang bisa deket sama ko Panji kayak gitu.


Ah aku harus ngomong sama ibu, biar ibu minta pak Sambaru pindahin aku jadi distribusi. Batin Irma.


Irma ingin sekali dekat dengan Panji seperti Nadin. Dia selalu berusaha carmuk dihadapan Panji, tapi tak sekalipun Panji menoleh kepadanya. Yang ada difikiran Panji saat ini adalah Nadin. Tidak ada gadis lain yang ingin dia lihat kecuali Nadin, siluman ular yang selalu bergentayangan dalam hati dan fikirannya.


Sekarang ini, Panji selalu menemui Mikha saat Nadin juga menemuinya, dan itu semua membuat Irma semakin kepanasan. Dia benar-benar iri pada Nadin yang bisa akrab dengan Mikha dan ayah Mikha.


Irma mendekati dan bersikap baik pada Nadin, karena dia ingin tahu kenapa dia bisa dekat dengan Panji dan Mikha. Walau sudah mendengar cerita bi Sum, tetap saja Irma merasa penasaran.


.


.


TBC❤️


Jangan lupa like ,vote dan komentarnya ya🤗**


Oh ya buat semuanya, Selamat tahun baru ya!!

__ADS_1


Semoga di tahun yang baru ini, semuanya lebih baik dari tahun sebelumya, aamiin🤲😇


Happy new year🎉🎉🎊🎊


__ADS_2