Panji & Nadin

Panji & Nadin
Tentang Lampu merah


__ADS_3

Sepanjang perjalanan, Panji tidak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Nadin. Dia mengucapkan kata-kata cinta dan juga rayuannya kepada Nadin, tanpa mempedulikan Adam dan Doni.


Selain itu, Panji juga terus menggoda Adam dan Doni.Mobil Panji berhenti dilampu merah. Adam teringat sesuatu tentang lampu merah.


"Eh Nad, kamu tau nggak kalau bebeb kamu itu, punya kenangan indah dilampu merah?." Tanya Adam.


"Kenangan indah?."


"Hemm. Kamu mau tahu?."


"Mau dong."


"Coba aja kalau lo berani Dam." Timpal Panji


"Kamu tau nggak Nad alasan ayang beb kamu nggak pernah mau atau ngebolehin buka kaca mobil?."


"Enggak." Sahut Nadin


"Adam." Pekik Panji, meminta Adam tidak meneruskan ceritanya, tapi Adam tidak menghiraukan.


"Biarin aja mas Adam cerita." Ujar Nadin pada Panji.


"Jadi gini Nad, dulu tuh kan..." Kata-Kata Adam terhenti saat Panji memukul pelan kepala Adam, walaupun pelan tapi sukses membuat Adam terkejut.


"Bisa diem nggak sih." Kata Nadin seraya menarik tubuh Panji lalu dia melingkarkan tangannya di lengan Panji, agar Panji diam.


"Ayo mas Adam terussin ceritanya." Pinta Nadin.


Panji berusaha kembali memukul Adam, tapi Nadin menghentikannya.


"Enggak dapet cium lho entar." Ancam Nadin, membuat Panji duduk kembali ditempatnya.


"Oke...oke sayang, tapi janji, cium ya."


"Iya, ....cium tangan." Sahut Nadin, Panji menoleh.


"Sstt." Nadin menyimpan telunjuk di bibirnya, memberi isyarat agar Panji diam.


"Ayang beb kamu itu dulunya juga suka banget buka kaca mobil, tapi semenjak kejadian itu, dia gak pernah lagi mau buka kaca mobilnya apalagi dilampu merah."


"Iya, kejadian apa? Apa dia dirampok? Atau di jambret?."


"Bukan Nad. Jadi waktu itu pas lampu merah ada pengamen. Kebetulan si pengamennya segerombolan makhluk-makhluk aneh, semacam temen kamu ini nih." Adam mengangkat dagunya mengarahkannya pada Doni yang duduk disampingnya. "Tapi rada mendingan temen kamu sih, rada sehat aja gitu penampilannya. Atau mungkin juga mereka itu temen-temen si Donita ini.."


"Haha, terus...terus." Nadin penasaran.


"Mereka nyanyi sambil bawa-bawa kaleng atau apalah itu, buat minta duit dari mobil satu ke mobil lainya. Nah, kebetulan pas dia lewat mobil ini, ayang beb kamu kan lagi buka kaca. Si banci tadi nyamperin dong buat minta duit. Dia ngasih lah tuh si banci duit." Makasih bang." Katanya, lalu dia pergi.


Eh beberapa detik kemudian taunya tuh banci balik lagi, dan langsung nyosor nyium pipi ayang beb kamu. Dia bilang gini "Bonusnya bang. Hahaaha." Adam dan Doni tertawa


"Apaaa?. Yang bener?." Tanya Nadin.


"Kamu tanya aja langsung sama orangnya" Kata Adam.


"Beneran kamu dicium banci?." Tanya Nadin dengan suara pelan. Dia ingin sekali tertawa, tapi dia takut Panji tersinggung, apalagi saat ini mimik mukanya berubah. Mungkin dia malu atau mungkin juga marah.


"Jangan marah ih, kita kan baru ketemu setelah sekian purnama. Aku kangen banget tau." Ucap Nadin merayu Panji, sembari mengusap pelan pipi Panji. Dan rayuan mautnya berhasil meluluhkan Panji.


Dia tidak peduli dengan cerita Adam, walau tadi dia sempat merasa malu, karena Adam telah menceritakan kejadian memalukan itu dihadapan Nadin dan Doni.


"Beruntung binggow sih tuh bences." Gumam Doni, yang terdengar oleh Adam.

__ADS_1


"Lo mau juga?." Tanya Adam.


"Emang boleh?. Mau dong mas Adam." Sahut Doni.


"Mau ini?." Tanya Adam seraya mengarahkan tangannya yang terkepal ke arah Doni.


"Isshh mas Adam, tiga G deh." Balas Doni


"Tiga G? Apaan tuh?." Tanya Adam


"Ganteng-ganteng garang." Jawab Doni.


"Daripada elu. Ganteng-ganteng gemulai." Balas Adam.


"Bisa diem gak sih kalian?. Ganggu orang yang lagi kangen-kangenan aja." Sergah Panji.


"Ngomong-ngomong kita mau kemana sih Ji?.Dari tadi muter-muter gak jelas tujuan." Kata Adam.


"Ke tempat sepi." Sahut Panji.


"Tempat sepi?. Kuburan maksud lo?."


"Kemana aja yang penting sepi." Jawab Panji.


"Gilingan ih, masa orang keyong mawar pecongan di kuburan. (Gila ih, masa orang kaya mau pacaran di kuburan)." Gumam Doni.


"Kenapa kita gak rumah lo aja sih Ji." Saran Adam.


"Ahh lo bener Dam...kenapa gue gak kepikiran ya?."


"Gara-gara cinta, lo ngedadak belet Ji." Gumam Adam.


"Beb." Panggil Doni.


"Iya beb." Sahut Nadin.


Panji menatap tidak suka mendengar Nadin dan Doni saling memanggil dengan sebutan beb.


"Tuh liat." Tunjuk Doni pada sebuah booth portable atau gerobak kekinian yang menjual makanan dan minuman kekinian yang sedang hits dikalangan anak muda seperti mereka. Nadin mengikuti arah pandang Doni.


"Kamu mau itu?." Tanya Panji.


"Mau, tapi nanti aja." Sahut Nadin.


"Ya udah kita beli." Kata Panji.


"Serius?."


"Hemm..."


Panji meminta Adam memarkirkan mobilnya, lalu menyuruh Doni membeli makanan yang diinginkan kekasihnya.


"Mending kita turun dan makan disini." Ajak Nadin, Panji menolak tapi Nadin terus memaksanya turun.


Nadin meminta Panji dan Adam duduk manis dibangku yang disediakan oleh pedagang disana. Nadin dan Doni yang memesan makanan juga minumanya. Mereka berdua jadi pusat perhatian para abg-abg disana.


"Gue kok jadi ngerasa paling tua disini." Celetuk Adam.


"Lo baru nyadar Dam."


"Lihat tuh Ji yang datang kesini rata-rata anak remaja semua, pedagangnya juga. Cuma kita berdua remako disini." Kata Adam.

__ADS_1


"Remako?. Apaan?." Tanya Panji.


"Remaja kolot." Sahut Adam.


"Lu tuh yang kolot."


Panji menoleh ke arah Nadin dan Doni yang masih mengantri. Karena tidak sabar, dan merasa tidak suka melihat banyak mata lelaki yang terus menatap kekasihnya, Panji menyusul Nadin yang sedang menunggu pesananya.


"Udah belum?. Kok lama sih?. Tanya Panji, seraya melingkarkan tangannya dipinggang Nadin, membuat Nadin, sang pedagang juga pembeli lain menoleh kearahnya


Ya elah ini orang gak sabaran amat sih. Nggak lihat apa, yang beli ngantri gini. Maen peluk sembarangan lagi, malu kan pada ngelihatin.


Gerutu Nadin dalam hati.


"Belum, satu lagi. Mending tunggu disana aja ya, biar gak pegel." Sahut Nadin seraya melepaskan tangan Panji dipinggangnya.


"Aku nunggu disini aja sama kamu." Jawab Panji


Terserah bapak Panji, terserah.


"Ini kak pesananya sudah jadi semua."


"Jadi berapa semua?." Tanya Nadin.


"Biar aku yang bayar" Kata Panji.


"Berapa semuanya mas?." Tanya Panji.


"Seratus dua belas ribu kak." Jawab sang pedagang.


"Hah? Seratus dua belas ribu? Nggak salah mas?. Masa makanan sebanyak ini cuma seratus dua belas ribu?." Tanya Panji heran.


Ya Allah apaan sih koko?. Jangan sampe sifat sombongnya keluar deh


"Udah cepettan bayar, jangan banyak nanya, malu ih." Bisik Nadin.


"Sayang, aku cuma mau mastiin aja, takut masnya salah hitung. Masa makanan segini banyak cuma seratus dua belas ribu."


Keributan kecil itu sukses mencuri perhatian orang-orang disana. Nadin sangat malu.


Dia langsung mengeluarkan uang dari tasnya, tapi Panji menghentikan Nadin."Aku bilang, aku yang bayar."


"Ya udah cepettan, malu."


Panji mengeluarkan dua lembar uang berwarna merah, lalu memberikannya kepada pedagang itu. "Ini, ambil saja kembaliannya." Kata Panji.


"Tapi kak, ini ....."


"Ambil saja kak, orang ini gak suka dibantah." Bisik Nadin sebelum akhirnya meninggalkan booth pedagang itu.


Tadinya Nadin ingin menikmati makanan itu disana, tapi karena ulah Panji, Nadin mengurungkan niatnya itu. Mereka pun masuk ke mobil melanjutkan perjalanan ke rumah Panji.


"Pantessan, orang kaya." Kata sang pedagang saat melihat mobil mewah Panji meninggalkan tempat itu.


.


.


TBC☘️


Jangan lupa like, vote , komen, dan favoritnya ya🤗**

__ADS_1


__ADS_2