
Panji membawa Nadin ke sebuah ruangan yang ada dibelakang rumahnya. Ruangan ber-atap seng transparan, memudahkan sinar matahari masuk menembus ruangan itu.
Sepertinya ini tempat mencuci. Batin Nadin, saat dia melihat ada mesin cuci, juga banyak gantungan jemuran, dan ada juga puluhan sepatu berjejer disana.
"Sekarang kamu bersihkan semua sepatu itu, kamu sikat, semir dan masukkan ke dalam masing-masing dusnya. Ingat, sepatu itu harus benar-benar masuk ke dusnya, jangan sampai ketuker, atau salah.
Setiap selesai membersihkan satu sepatu, aku akan memeriksanya. Karena aku nggak mau, kalau sepatuku masih kotor, ngerti?."
"Mengerti pak." Sahut Nadin.
"Waktu kamu hanya sampai jam sebelas siang. Kalau kamu selesai membersihkan semua sepatu ini sampai jam sebelas, aku akan menganggap kamu sudah mengganti rugi sepatuku yang sobek. Kalau tidak, berarti kamu masih berhutang dan masih harus membayar ganti rugi. Sekarang cepat kerjakan."
"Beneran pak? Bapak cuma mau saya mencuci semua sepatu ini, sebagai ganti rugi?."
"Menurut kamu?."
"Tapi pak, apa bapak nggak salah, nyuruh saya ngebersihin sepatu sebanyak itu, hanya sampai jam sebelas?." Tanya Nadin, yang tidak dihiraukan oleh Panji
"Waktu kamu tinggal empat puluh lima menit."
"Pak saya..."
"Kerjakan sekarang atau ..."
"Iya...iya baik." Sahut Nadin dengan wajah kesalnya.
Uuh kayaknya pak Panji sengaja mau nyiksa aku. Mana mungkin sih aku bisa bersihin sepatu sebanyak itu, dalam waktu satu jam. Mana kotor-kotor banget lagi sepatunya. Apa sih sebenarnya mau dia?. Batin Nadin.
Nadin mencuci puluhan sepatu panji dengan cepat, dan hampir saja dia bisa menyelesaikan semuanya sampai jam sebelas siang, namun sayangnya Panji mempersulit pekerjaanya, dan dengan sengaja menyuruh Nadin membersihkan ulang semua sepatu itu, karena menurut Panji, sepatunya belum benar-benar bersih.
"Pak Panji, boleh saya minta minum? Saya haus."
"Kamu boleh minum setelah pekerjaan kamu selesai. Waktu kamu tinggal sepuluh menit. Cepat selesaikan semuanya. Kalau tidak, aku anggap kamu belum membayar ganti rugi sepatuku."
"Saya sikat sepatu ini sampai uler bisa berbulu sekalipun, gak akan selesei-selesei, kalau pak Panji terus saja mengatakan sepatu ini masih kotor. Saya heran, apa penglihatan pak Panji mendadak rabun hari ini?." Sahut Nadin yang kesal dengan ulah Panji.
"Kerjakan saja pekerjaan kamu dengan benar, jangan ngeyel kamu, Nagin. Dan saya sudah bilang jangan panggil saya bapak."
__ADS_1
"Saya juga sudah bilang nama saya bukan Nagin, tapi Nadin."
"Terserah saya mau panggil kamu apa."
"Terserah saya mau panggil bapak apa."
"Kamu berani?."
"Tidak, mana mungkin saya berani sama bapak."
"Kamu......" Kata Panji, yang sudah terlihat begitu kesal. Dia ingin memarahi Nadin, tapi tiba-tiba saja hpnya berbunyi, seseorang menelponnya.
"Hey Nagin !!" Ucap Panji memanggil Nadin, tapi Nadin tidak menyahut, walau Panji terus memanggilnya.
"Nagiiin." Teriak Panji. Nadin menoleh kearah Panji dengan malas.
Lihatlah wajah bodoh kamu itu. Batin Panji
"Aku akan keluar sebentar." Kata Panji
Bodo amat. Mau sebentar kek, mau lama kek, suka-suka deh lo teko panci. Sahut Nadin dalam hati
Nadin mengerjakan semua yang Panji perintahkan dengan cepat seperti biasanya. Dia baru saja selesai membersihkan kamar mandi, dapur, dan menyapu halaman belakang. Dan tadi dia ingat kalau Panji menyuruhnya mengepel taman belakang.
Ngepel halaman belakang? Apa maksudnya itu? Masa iya aku mengepel rumput dan tanah ini? Dasar teko panci .
Nadin baru saja selesai dengan pekerjaannya. Kruckk...krucck, suara perut Nadin yang keroncongan, kepalanya pun mulai terasa pusing, karena dia sangat kehausan, dan juga sudah sangat kelaparan. Dari pagi belum ada makanan yang masuk ke perutnya, kecuali permen.
Tidak ada siapapun dirumah itu, kecuali dirinya.
Kenapa dari tadi aku tidak lihat siapapun disini? Apa pak Panji tidak punya pembantu?. Tanya Nadin dalam hatinya.
Nadin pergi ke dapur untuk mengambil air minum. Dia duduk dan istirahat sebentar, sambil menunggu Panji. Tapi Panji tidak juga datang, padahal Nadin sudah sangat kelaparan. Dia tidak berani mengambil atau memakan apapun makanan yang ada disana, walau dia menginginkanya.
Ada kue dan buah-buahan di meja makan, tapi Nadin, tidak berani mengambil apalagi memakannya. "Pak panji kemana sih, katanya sebentar, tapi kok lama banget?." Gumamnya.
Ting...Panji mengirimnya pesan, dan Nadin segera membacanya.
__ADS_1
"Kamu boleh pulang sekarang. Tapi ingat, kamu masih punya hutang ganti rugi mobil padaku."
Setelah membaca pesan Panji, Nadin segera pulang. Dia senang karena ternyata semua tidak seperti apa yang dia fikirkan.
Alhamdulillaah, rupanya pak Panji memang tidak berniat menyentuhku, aman.
Hahahha...lagian kenapa aku bisa sampai mikir kalau pak Panji mau nyentuh aku sih? Mana mau dia sama aku.
Lagipula menurut suster Wati kan, semenjak ada Mikha, pak Panji tidak pernah mau mendekati cewek manapun. Bisa jadi dia trauma, atau mungkin dia penyuka sesama jenis. Tapi aku tetap harus hati-hati, siapa tahu dia memang punya maksud nggak baik padaku.
Gumam Nadin dalam hati.
Sepulangnya dari rumah Panji, Nadin langsung mandi, lalu beristirahat, setelah sebelumnya mengisi perutnya sampai kenyang.
"ahhh akhirnya aku bisa istirahat juga." Ujarnya, seraya menjatuhkan diri ke kasur.
Hari minggu adalah hari libur, dan waktunya Nadin berisitirahat. Dan hari ini dia harus merelakan waktu istirahatnya berkurang, gara-gara Panji.
.....
Panji berdiri di teras belakang rumah, memperhatikan halaman belakang yang sudah rapi dan bersih. Dia juga mengecek kebersihan dapur dan kamar mandi dapur. Semuanya bersih, sesuai keinginannya.
Pinter juga dia. Puji Panji dalam hati.
Dalam hatinya Panji pun sebenarnya mengakui, kalau Nadin memang termasuk orang yang terampil dalam bekerja. Panji tahu Nadin tidak pernah keteteran dan lingkungan kerjanya pun selalu rapi, saat dikonveksi.
Dan hari ini, dia sudah melihat bagaimana hasil kerja Nadin dirumahnya. Nadin bisa mengerjakan pekerjaan rumah tangga atau pekerjaan lainya dengan baik, menurutnya.
Hari ini, Panji meliburkan art juga tukang kebunnya, karena berniat akan menyuruh Nadin mengerjakan semuanya. Ide ini muncul, saat salah satu art nya meminta ijin pulang ke kampung halaman, karena ada saudaranya yang akan menikah. Awalnya Panji tidak mau mengijinkannya, namun dia juga tidak tega.
Di saat itulah ide untuk mengerjai Nadin muncul dikepalanya. Selain itu dia memang ingin memberi Nadin pelajaran, dan Panji juga merasa senang bisa mengerjainya.
Sejak saat itu, setiap hari minggu Nadin datang ke rumah Panji, untuk membersihkan rumah atau mencuci mobilnya, dan kesempatan itu Panji manfaatkan untuk memberikan jatah libur kepada art dan tukang kebunnya.
Nadin harus merelakan waktu istirahatnya berkurang. Hari minggu yang biasanya dia habiskan untuk beristirahat setelah capek bekerja dikonveksi, kini dia terpaksa menghabiskan waktu istirahatnya dengan bekerja dirumah Panji, sebagai bentuk pertanggung jawaban atas perbuatannya.
Nadin benar-benar menyesal sudah melempari mobil Panji dengan batu. Dia tidak menyangka semuanya akan jadi seperti ini. Nadin berjanji akan lebih menjaga dirinya agar tidak mudah emosi, dan tidak menuruti amarahnya, karena semua itu sangat merugikannya. Kalau saja waktu itu dia bisa mengendalikan emosinya, mungkin saat ini dia masih bisa menikmati hari libur dikamarnya, atau pergi bersama Doni, sahabat dekatnya.
__ADS_1
Tbc🌻
Jangan lupa komen, like, vote dan favoritnya juga ya dears🤗