
"Hay!! Akhirnya kita ketemu lagi." Sapa Panji, dengan senyum miringnya. Nadin bergidik saat melihat seringai Panji yang terlihat mengerikan. Tapi dia tidak boleh takut, dia harus menghadapinya, karena memang Nadin akui, dia bersalah sudah melempar mobil laki-laki dihadapannya ini dengan batu.
"Jadi gimana, apa kamu sudah siap mengganti kerugian mobilku yang penyok, karena ulah kamu itu, nona......"
"Nadin." Sahut Nadin.
"Nagin?."
"Nadin pak, nama saya Nadin. Maaffin saya pak. Waktu itu saya..."
"Aku tidak butuh maaf kamu. Sekarang aku hanya mau kamu ganti rugi, mengerti?."
"Berapa saya harus membayar ganti ruginya?."
"20 jt."
"Apaahh? 20 jt? Mana mungkin bayar ganti rugi mobil penyok dikit sebanyak itu. Bapak mau memeras saya ya?."
"Aku nggak peduli apapun yang kamu katakan. Aku hanya mau kamu membayarnya, kalau tidak ..."
"Kalau tidak apa? Bapak akan nyipo*k saya, iya?." Tanya Nadin.
Adam terkekeh mendengar ucapan Nadin, lain halnya dengan Panji, yang terlihat emosi dan sangat kesal, dia menatap tajam pada Nadin.
"Kalau tidak, aku akan memberhentikan kamu bekerja, dan aku akan datangi orang tua kamu, meminta pertanggung jawaban mereka."
"Jangan pak, saya mohon jangan lakukan itu. Kalau saya tidak bekerja, darimana saya bisa membayar ganti rugi yang bapak minta? Dan saya juga mohon, bapak jangan datangi orang tua saya, saya nggak mau mereka tahu semua ini.
Saya pasti akan bayar, tapi saya minta toleransi. Saya tidak punya uang sebanyak itu. Lagian kalau waktu itu mobil bapak nggak bikin saya kecipratan air genangan itu, saya juga gak akan lempar mobil bapak. Itu juga salah bapak sendiri."
"Kamu berani nyalahin aku?. Asal kamu tahu, yang bawa mobil itu, dia, bukan aku. Jadi kalau kamu mau salahin orang, salahin saja dia." Ujar Panji sembari menunjuk Adam.
"Kalo gitu, bapak minta ganti rugi saja sama dia. Siapa suruh dia bawa mobil ngebut."
"Lah....laah, kok pada nyalahin gue?. Gue ngebut juga gara-gara elo kan Ji." Sahut Adam.
"Aku nggak mau tahu, pokoknya kamu harus ganti rugi lima belas juta. Kamu yang sudah melempar batu itu, jadi kamu harus bertanggung jawab. Aku sudah kasih kamu toleransi. Dan satu lagi, jangan panggil aku bapak. Aku tidak sudi punya anak bar-bar kayak kamu." Tukas Panji.
Siapa juga yang mau jadi anak bapak kayak kamu. Sok-sok an ngomongin tanggung jawab lagi, tapi sendirinya malah lari dari tanggung jawab. Gak mau ngakuin anak secantik Mikha . Uuh dasar.
"Hey... hey..kenapa diam?." Tanya Panji, saat melihat Nadin diam saja.
"Lima belas juta?." Nadin melongo. "Saya tidak punya uang sebanyak itu pak."
"Baiklah, aku minta sepuluh juta, asal kamu bayar sekarang juga." Nadin menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Hey kamu cantik-cantik tapi kutuan sih?."Celetuk Adam
"Biarpun kutuan, yang penting saya cantik."Sahut Nadin.
"Mana uang sepuluh jutanya?." Tanya Panji.
__ADS_1
"Saya sudah bilang, saya tidak punya uang sebanyak itu sekarang pak. Gaji saya dua bulan juga tidak akan ada sepuluh juta. Bapak ini orang kaya, tapi kenapa sih bapak minta uang sama orang miskin seperti saya? Apa bapak nggak kasihan sama saya pak?."
"Enggak. Lagian siapa yang minta. Aku hanya minta uang ganti rugi, bukannya ngemis."
"Tapi kan bapak tahu sendiri saya tidak punya uang."
"Kalau gitu, aku laporkan kamu ke polisi, mau?."
"Jangan pak. Saya nggak mau masuk penjara. Kalau saya masuk penjara, saya akan kehilangan pekerjaan dan akan susah dapet kerja nantinya."
"Itu artinya, kamu mau bayar kan?."
"Baiklah, tapi saya akan mencicilnya gimana, boleh?."
"Nyicil kamu bilang?."
"Iya pak."
"Nggak bisa."
"Tolonglah pak. Saya mohon."
"Aku bukan bapak kamu."
"Saya juga bukan anak bapak."
"Kamu berani? Kamu mau saya..."
"Terserah!! Oke, aku kasih kamu waktu dua bulan. Jadi sebulan lima juta, deal?."
"Mending bapak gantung saya sekalian di Monas deh, saya rela. Daripada harus bayar lima juta sebulan, uang dari mana? Gaji saya sebulan juga tidak sebanyak itu."
"Oke, Pilihan terakhir, kamu perbaiki sendiri mobilku, gimana?."
"Yang bener aja, bapak fikir saya montir mobil, apa?. Gini aja deh. Bapak potong saja gaji saya satu juta, setiap bulan. Kalau bapak tidak mau, ya sudah, saya pasrah saja kalau bapak mau laporin saya ke polisi.
Saya memang salah sudah melemparkan batu itu. Kalau saya dipenjara, mungkin nanti diakhirat Tuhan tidak akan menghukum saya, karena dosa ini." Ujar Nadin.
Panji nampak berfikir, lalu dia berkata:
"Oke, deal. Aku akan potong gaji kamu tiap bulan. Sekarang cepat kamu turun dari mobilku."
Nadin pun turun, dan dengan cepat, mobil Panji pergi dari sana, meninggalkan Nadin yang sedang menyesali perbuatan bodohnya beberapa hari yang lalu, dan kini dia harus mempertanggungjawabkan semuanya.
Aku kira pak Panji tadi tidak mengenaliku. *T*ernyata Novi benar, matanya memang jeli. Belum kering lidahku tadi ngomong sama Novi, setiap perbuatan itu pasti dapet balasan, sekarang aku yang dapet balesan dari apa yang aku lakukan.
Tapi masa iya sih aku harus bayar ganti rugi sebanyak itu. Apa jangan-jangan benar dia ingin memerasku? Tapi buat apa? Dia kan orang kaya. Aku harus searching nih.
Gumam Nadin dalam hati.
Saat di gedung konveksi, awalnya Panji tidak mau menghiraukan, saat dia tahu ada karyawan yang terus mencuri pandang ke arahnya. Namun melihat tangan Nadin yang gemetar, membuat perhatian Panji tertarik, dan dia pun diam-diam mencuri pandang ke arahnya.
__ADS_1
Selama ini tidak ada karyawan yang segugup itu, saat dia datang mengecek proses dilapangan, sekalipun itu karyawan baru. Ekor mata Panji terus memperhatikan manik mata Nadin, karena memang hanya matanya saja yang bisa dia lihat, karena wajahnya tertutup masker.
Saat itu Panji sadar ada yang lain dari karyawannya itu. Dia tahu gadis itu seperti ketakutan. Apalagi saat Panji memperhatikannya saat sedang bekerja. Panji tahu karyawannya semakin ketakutan.
Nadin tidak menyadari kalau gerak-geriknya tadi malah menarik perhatian Panji, dan akhirnya panji pun mencurigai Nadin. Dia curiga kalau Nadin adalah gadis itu.
Gadis yang sudah melempari mobilnya dengan batu. Panji semakin yakin saat menatap Nadin dari kejauhan, dan saat Nadin bertukar posisi dengan Dalis.
Mau tidak mau, sekarang Nadin harus bertanggung jawab dan membayar ganti rugi seperti apa yang diminta Panji. Nadin sudah tahu dari mbah geogle, berapa harga mobil mewah Panji, dan berapa ongkos perbaikannya, seandainya mobil itu lecet atau penyok.
Ternyata Panji tidak berbohong, biaya perbaikannya memang sebesar itu, membuat kepala Nadin langsung pusing, saat dia sadar, dia harus merelakan gajinya dipotong satu juta setiap bulan, untuk sepuluh bulan kedepan.
Dia sekarang hanya bisa menyesali perbuatan bodohnya saat itu, yang tidak bisa mengendalikan emosinya.
Dimobil Panji.
"Gue gak nyangka sama sekali, kalau gadis nakal itu karyawan lo sendiri, Ji." Ujar Adam, yang hanya dibalas kerlingan oleh Panji.
"By the way, lo kok bisa langsung nemuin dia? Maksud gue, lo kok bisa langsung tahu dia gitu? Tadi kan niat lo dateng ke konveksi mau ngecek kualitas, bukan mau nyari gadis nakal itu."
"Itulah bedanya gue sama lo Dam. Gue itu banyak kerja, gak kaya lo yang banyak bicara. Bukan hanya tangan dan otak gue aja yang kerja, tapi mata, hati, telinga dan feeling gue juga ikut kerja." Sahut Panji.
"Gimana dengan jantung? Apa jantung lo juga ikut kerja?." Tanya Adam, dan Panji tidak menjawabnya.
"Tapi lo bener Ji. Gue akuin lo emang bener-bener hebat dalam hal apapun. Menurut gue, lo sempurna. Lo tampan, kaya, pinter, kurang apa lagi coba? Gue gak heran deh banyak cewek yang ngejar-ngejar lo, tapi lo malah lebih milih gue, yang jelas-jelas tidak bisa ngasih lo anak." Canda Adam.
"Tapi Ji, apa lo nggak kasian sama cewek tadi? Lo beneran mau motong gajinya dia?. Sepertinya dia beneran gak punya duit. Emang gak ada cara lain apa, selain lo harus potong gajinya dia?." Tanya Adam.
"Gue hanya mau dia bertanggung jawab atas perbuatannya."
"Iya gue tahu, tapi gimana kalau dia beneran gak punya duit? Gimana kalau ternyata dia itu tulang punggung dan keluarganya bergantung sama dia, lu nggak kasian apa?."
"Terus maksud lo, gue biarin dia aja gitu?."
"Bukan gitu Ji, lo juga ngertilah maksud gue apa."
"Kalo gitu lo aja yang ganti rugi?."
"Oke, nggak masalah." Sahut Adam, sukses membuat Panji sedikit terkejut
"Kenapa sih Dam, lo kayaknya ngebela dia banget, emang lo kenal dia?."
"Enggak. Gue nggak kenal dia. Gue hanya ngerasa kasian aja sama dia. Uang sepuluh juta buat mereka itu adalah jumlah yang sangat besar. Mereka harus mengumpulkannya berbulan-bulan. Sedangkan lo, lo bisa dapetin lebih dari sepuluh juta dalam sehari.
Gue juga dulu ngerasain gimana susahnya cari duit.Tapi lo, gue yakin lo nggak pernah ngerasa gimana susahnya cari duit. Lo udah tajir dari lahir, jadi lo nggak akan pernah ngerasain itu Ji." Ucap Adam panjang lebar, dan seperti biasa Panji hanya diam.
"Kalau lo yang bayarin uang ganti ruginya, dia gak akan tahu artinya bertanggung jawab. Mungkin suatu hari nanti dia akan bertindak seenaknya lagi. Gue tetep akan minta rugi sama dia, gue harus beri dia pelajaran, biar dia gak bersikap seennaknya."
...****************...
Tbc🌻.
__ADS_1
Jangan lupa like, vote, dan komentarnya.🤗