
Di kantor polisi
Polisi mulai mengintrogasi Jovanka. Dia tegang dan ketakutan melihat wajah para polisi yang mengintrogasinya. Walau begitu dia tetap tidak mau mengakui perbuatan yang telah dia lakukan pada Nadin.
Dia malah memutar balikkan fakta, dengan mengatakan kalau Nadin lah yang menyerangnya lebih dulu. Dia berkilah, kalau dirinya hanya ingin membela diri.
Polisi itu tersenyum. Karena mereka sudah melihat rekaman cctv yang diberikan Adam tadi malam.
Tak lama kemudian orang tua Jovanka tiba di kantor polisi, dengan seorang pengacara. Mereka menemui anaknya yang terlihat sangat tegang dan ketakutan.
Jovanka menangis meminta orang tuanya segera membawa dia dari sana. Sayangnya tidak akan semudah itu. Pengacara keluarga Jovanka nampak berbincang dengan salah satu anggota polisi, menanyakan duduk perkara yang sebenarnya.
Setelah dia tahu, pengacara itu sepertinya mulai bernegosiasi dengan pihak kepolisian. Dia mengatakan akan menyelesaikan masalah ini dengan jalan kekeluargaan, dia meminta pada polisi supaya Jovanka jangan sampai ditahan. Sayangnya polisi itu menolak. Lagipula pihak korban atau pihak pelapor belum datang.
Jovanka dan keluarganya berfikir kalau yang melaporkan kasus ini adalah Nadin. Mereka yakin dengan memberi sejumlah uang sebagai ganti rugi Nadin pasti tidak akan mempermasalahkan kejadian ini, dan Jovanka bisa bebas.
Mereka tidak tahu kalau Panji yang melaporkan Jovanka. Sampai akhirnya 30 menit kemudian, mereka semua terkejut saat melihat Panji dan Adam datang ke kantor polisi, dan mereka membawa Nadin, juga seorang pengacara.
Mata Jovanka membulat melihat Panji menggandeng mesra tangan Nadin. Rasa panas, dan cemburu bercampur rasa benci dia rasakan semakin membakar hatinya.
Sebaliknya dengan Panji yang menampakkan senyum smirk-nya saat melihat ekspresi Jovanka.
"Selamat siang pak Panji." Sapa polisi itu ramah.
"Selamat siang.!! Balas Panji.
Panji lalu menyapa orang tua Jovanka, dan terakhir dia menyapa Jovanka dengan senyuman mengejek. Kini mereka tahu kalau Panji lah orang yang melaporkan Jovanka.
Polisi meminta Nadin menceritakan kronologis kejadian yang dia alami. Nadin lalu menceritakan semuanya sesuai apa yang terjadi.
Berulang kali Jovanka menyela dan mengelak semua ucapan Nadin, tapi dia langsung diam seketika, saat Panji memperlihatkan rekaman video yang belum dia ketahui siapa pengirimnya itu
__ADS_1
Jovanka tidak bisa mengelak sekarang. Semuanya sudah jelas, kalau dia memang melakukan penganiayaan. Panji meminta agar polisi menahannya, walau Jovanka dan kedua orang tuanya terus memohon pada Panji agar kasus ini diselesaikan baik-baik. Panji tetap ingin Jovanka ditahan.
"Maaf om, tante tapi dia(Jovanka) harus mempertanggung jawabkan semua yang telah dia lakukan. Apalagi ini sudah termasuk perbuatan kriminal, jadi maaf saya tidak akan melepaskan dia begitu saja."
"Tante mohon Panji, jangan lakukan ini sama anak tante. Lagi pula ini hanya penganiayaan ringan, kita selesaikan saja baik-baik. Kamu tidak perlu sampai menahan Jovanka."
"Apa tante bilang? Ringan?. Kalau saja anak buah saya tidak datang tepat waktu entah apa yang akan terjadi pada Nadin. Tante denger sendiri kan, ancaman yang anak tante katakan?.
Harusnya dia yang tidak melakukan semua ini pada calon istri saya, karena saya tidak akan pernah membiarkan siapapun mengganggu apalagi menyakiti calon istri saya. Jadi maaf, saya tidak bisa melepaskanya begitu saja.
Saya melakukan ini agar semua orang tahu, kalau saya tidak akan diam saja jika ada orang yang mengganggu Nadin ataupun keluarganya. Siapapun orangnya, saya pastikan mereka akan mendapat balasan yang setimpal, tak terkecuali anak tante." Pungkas Panji, lalu meninggalkan kantor polisi bersama Nadin dan Adam.
Nadin menatap Panji penuh arti. Dia terharu mendengar ucapan juga sikapnya. Rasa cinta dan kekagumannya semakin bertambah besar. Rasanya ingin sekali dia memeluk Panji saat itu, tapi dia tidak berani melakukannya.
Dia hanya bisa menatapnya dengan senyuman dan rasa bangga karena memiliki Panji. Namun senyumnya memudar saat dia teringat ucapan pak Samsudin. Apa bisa dia menjauh dari laki-laki yang saat ini sangat dia cintai?. Bagaimana mungkin?. Apa dia sanggup,?. Sedangkan rasa cinta yang dia rasakan saat ini ibarat bunga yang sedang mekar-mekarnya.
Entahlah. Kita fikirkan itu nanti. Yang jelas saat ini aku sangat bahagia bisa mencintai lelaki seperti siluman panci ini. Panci aluminium bocor. Gumam Nadin dalam hati, sembari tersenyum. Dia tidak menyadari kalau Panji memperhatikanya dari tadi. "Kenapa senyam-senyum sendiri?." Tanyanya.
Nadin menggelengkan kepalanya.
"Enggak. Aku lebih seneng kalo bisa bales jambak rambutnya dia."
Panji terkekeh." Emang kamu berani?."
"Siapa takut?."
"Kalau kamu berani, kenapa nggak kamu lawan dia kemaren?."
"Beda cerita. Dia nyerang aku tiba-tiba kayak gitu, aku nggak ada persiapan buat ngelawan dia."
"Oh pantes kamu nggak pernah bales ciuman aku. Jadi ini alasannya, karena aku juga suka nyium kamu tiba-tiba, gitu?."
__ADS_1
"Ihh langsung aja otaknya menjurus kesana."Sahut Nadin seraya mencubit lengan Panji.
Mereka berdua saling melempar senyum tulus dari dalam hati. Nadin tak bisa melihat senyum manis Panji terlalu lama, karena dia akan semakin terpesona.
Dia menyandarkan kepalanya dibahu Panji, sedangkan tangannya sudah melingkar dari tadi di lengan putih dan kekar milik Panji. Rasanya Nadin tidak ingin cepat sampai dirumahnya. Dia ingin menikmati waktu berdua bersama Panji lebih lama. Seandainya dia bisa menghentikan waktu, dia akan lakukan sekarang juga.
Matanya berubah sendu, saat dia membayangkan seandainya saja dia dan Panji benar-benar akan berpisah suatu hari nanti, atau mungkin perpisahan itu sudah di depan matanya. Tidak, dia tidak sanggup. Membayangkanya saja sudah membuat matanya memanas dan berembun, dia ingin menangis, air matanya pun menetes.
Nadin segera mengusap lelehan air mata di sudut matanya, karena takut Panji melihatnya.
Panji memang tidak melihat apa yang dilakukan Nadin, tapi mata Panji yang ada di depan mereka atau Adam melihatnya dari pantulan kaca spion.
Adam bisa melihat dari gerak-gerik Nadin hari itu, kalau dia sedang tidak baik-baik saja. Ada sesuatu yang sedang dia fikirkan. Adam sangat yakin itu.
....
Kembali ke kantor Polisi
Bu Laras tidak berhasil membujuk Panji agar mencabut laporanya. Jovanka semakin panik. Dia tidak mau kalau harus ditahan walaupun cuma satu atau dua hari apalagi satu minggu atau mungkin satu bulan. Dia merengek seperti anak kecil, meminta kedua orang tuanya segera membawanya.
Alih-alih mendapat pembelaan, pak Jendry (ayah Jovanka) justru menyalahkan Jovanka atas perbuatannya pada Nadin. Dia sangat menyesalkan kelakuan anaknya yang tega melakukan hal memalukan seperti itu, hanya karena cinta butanya pada Panji.
Dia juga tidak mau sampai anak gadisnya itu di tahan, tapi dia tahu tidak akan mudah melawan Panji, apalagi melihat sikap polisi yang sepertinya memang lebih hormat kepada Panji dibandingkan pada dirinya. Ditambah semua bukti dan kesaksian Nadin memberatkan anaknya.
Pak Jendry meninggalkan kantor polisi tanpa berkata apapun, sedangkan bu Laras masih setia menemani Jovanka. Dia menghubungi bu Soraya, berharap bu Soraya bisa membantu Jovanka keluar dari sana.
Tak lama kemudian bu Soraya datang. Dia mengomeli Jovanka karena menurutnya Jovanka sudah sangat ceroboh.
Bu Soraya menawarkan sejumlah uang untuk menebus Jovanka. Tapi menurut polisi, Jovanka tetap harus di tahan selama satu minggu atau minimal tiga hari, tergantung kemurahan hati Panji.
Sial....selalu saja Panji. Anak itu memang benar-benar menyebalkan. Batin bu Soraya.
__ADS_1
Dengan berat hati bu Laras akhirnya pulang meninggalkan Jovanka di kantor polisi. Jovanka terpaksa harus menginap di hotel prodeo yang sejuk dan segar itu. Jovanka menangis dan terus berteriak tidak mau, tapi percuma, tidak ada yang menolongnya, dan akhirnya diapun liburan disana.
Bersambung....