
Salsa segera berlalu dari hadapan Panji, tanpa satu kata pun keluar dari mulutnya, namun langkahnya terhenti, saat Panji mencekal tangannya.
"Nadin.!! Panggil Panji, seraya menatap wajah Salsa yang nampak terkejut. Selain karena Panji yang berani mencekal tanganya, keterkejutanya itu karena laki-laki dihadapanya ini memanggilnya dengan nama orang lain.
"Nad!! Ini kamu kan?." Tanya Panji penuh harap.
"Maaf!! Siapa anda?. Tolong lepaskan tangan anda. Kita tidak saling kenal." Sahut Salsa seraya berusaha melepaskan tangannya dari Panji.
Suara itu, adalah suara kekasihnya, Nadin. Walau cara berbicara Salsa terdengar lebih sopan, tapi suara mereka benar-benar sama. Panji semakin yakin kalau gadis ini memang Nadin, kekasihnya.
"Kamu gak usah pura-pura Nad. Aku tahu ini kamu." Kata Panji seraya memegang kedua tangan Salsa, namun Salsa segera menepis tangan Panji.
"Maaf, saya tidak kenal anda. Nama saya Salsa. Mungkin anda salah orang." Jawab Salsa, seraya melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Panji, tapi Panji kembali mencekalnya.
"Tatap mataku Nad, dan katakan kalau kamu bukan Nadin."
Salsa diam, seraya menatap Panji.
"Aku tahu ini kamu Nad. Aku tidak tahu apa yang terjadi sama kamu selama ini. Tapi aku sangat bahagia melihat kamu lagi. Aku....aku sangat merindukanmu Nad." Ucap Panji dengan mata berkaca-kaca.
"Lepaskan saya!! Anda sudah sangat tidak sopan." Sahut Salsa, seraya menepis tangan Panji. Mereka kembali bersitatap beberapa detik, sebelum akhirnya David datang menghampiri mereka.
"Ada apa sayang?. Kamu baik-baik saja kan?." Tanya David. Salsa mengangguk. Lalu David merangkul bahu Salsa, dan membawanya pergi begitu saja dari hadapan Panji.
Panji ingin sekali mengehentikan David, tapi Adam yang datang tepat waktu menahannya.
"Lepassin gue, Dam!! Gue gak mau dia bawa Nadin. Gue gak mau dia bawa calon istri gue."
__ADS_1
"Jaga sikap lo Ji. Orang-orang merhatiin lo."
"Gue gak peduli sama orang-orang disini. Yang gue peduliin cuman Nadin. Lo tahu Dam, gadis itu benar-benar Nadin. Gue harus bawa dia dari tangan laki-laki itu."
"Gue tahu, tapi bukan begini caranya. Mending kita balik, dan bahas ini dirumah lo." Saran Adam. Panji setuju lalu mereka pun pulang.
Sekarang Panji benar-benar yakin kalau Salsa adalah Nadin. Panji tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Nadin, hingga dia tidak mau mengakui dirinya sebagai Nadin.
Yang pasti, Nadin melakukan semua ini pasti karena alasan yang kuat. Panji meminta Adam secepatnya mencari tahu apa yang terjadi dan secepatnya membawa Nadin dari tangan David.
Di mobil David.
Salsa dan David duduk bersebalahan di jok penumpang. Mereka saling diam, hanya terdengar suara David sesekali bertanya pada Salsa, mungkin dia membutuhkan atau menginginkan sesuatu, tapi Salsa selalu menggelengkan kepalanya menolak apapun yang David tawarkan.
Bahkan Salsa tidak mau melihat wajah lelaki disebelahnya sekarang. Dia merasa benci dan marah pada laki-laki ini, tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.
Bukanya tidak bersyukur, tapi baginya ini semua tidak berarti apa-apa, ataupun membuat dia bahagia. Karena kebahagian yang sebenarnya baru saja ada didepan matanya dan tak bisa dia miliki. Air matanya menetes saat dia teringat pada lelaki itu dan semua kenangan indah yang mereka lalui bersama.
Salsa yang tak lain adalah Nadin, merasa sangat bahagia dan sedih sekaligus, saat dia bisa bertemu kembali dengan Panji, laki-laki yang sangat dia cintai tapi tidak bisa dia miliki. Dia bahagia karena ternyata Panji bisa mengenali dirinya, walau penampilanya kini sudah sangat berbeda.
Rasanya Nadin ingin sekali memeluk Panji dan mengatakan kalau dirinya memang Nadin, kekasihnya. Nadin juga sudah sangat merindukan Panji. Panji tidak tahu, ada air mata Nadin yang menetes pada saat David membawanya dari hadapan Panji.
Dia tersenyum getir, mengingat kalau sekarang dia adalah Salsabila Nasrul, seorang penyanyi pendatang baru terkenal dengan kehidupan barunya yang sudah diatur oleh David dan ibunya, bu Ana, wanita baik hati yang ternyata adalah seorang iblis berkedok malaikat dimata Nadin.
Bu Ana lah yang selama ini telah membawa Nadin dan keluarganya ke Surabaya. Semua yang terjadi adalah rencana bu Ana. Orang-orang yang selalu mengawasi dan mengikuti Nadin dan Panji, juga kebakaran itu adalah ulah bu Ana.
Flashback on.
__ADS_1
Malam itu, saat Nadin baru saja memejamkan matanya, dia mendengar suara pintu kamar pak Samsudin terbuka kembali. Nadin berfikir mungkin saja bapaknya itu hendak pergi kembali ke kamar mandi.
Namun, sesaat kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat ke kamarnya dan mengetuk pintu kamarnya. Nadin segera membuka pintu kamar karena dia mengira yang mengetuk pintu kamar adalah pak Samsudin, tapi ternyata dia salah.
Orang itu bukan pak Samsudin tapi orang lain yang tidak bisa dia kenali, karena mereka memakai penutup muka. Dan mereka tidak hanya dua tiga orang, tapi sangat banyak. Nadin yakin mereka adalah perampok. Dia sangat panik.
Baru saja Nadin membuka mulutnya hendak berteriak minta tolong, salah satu dari mereka langsung membekapnya, dan membiusnya hingga Nadin tak sadarkan diri.
Sebagian dari mereka membawa Nadin dan keluarganya kedalam mobil dan membawanya dari sana. Sebagian lainya membakar rumah Nadin, lalu mereka pergi meninggalkan tempat kejadian.
Saat akan meninggalkan lokasi, salah satu dari mereka tertangkap oleh anak buah Panji. Walau sebenarnya dia sengaja melakukanya atas perintah bu Ana.
Bu Ana sudah membuat skenario agar bu Soraya yang akan menjadi tertuduh, dan ternyata semua berjalan sesuai skenario yang dibuatnya. Termasuk masker dan kacamata bu Soraya yang tidak terbakar, juga jerigen bensin yang memang sengaja diletakan sebelum bu Soraya keluar dari rumah Nadin.
Semua itu sudah disusun rapi agar mereka bisa mendapatkan sidik jari bu Ana di jerigen bensin.
Nadin dan keluarganya dibawa ke Surabaya menggunakan jet pribadi milik bu Ana, hingga tak butuh lama untuk mereka sampai di Surabaya. Lalu Nadin sekeluarga dibawa ke rumah mewah milik bu Ana.
Esoknya, saat Nadin tersadar, dia terperanjat karena merasa tidak tahu dimana dia berada sekarang. Dia berada diatas tempat tidur yang sangat empuk dan nyaman dikamar yang sangat luas dan juga terkesan mewah. Kamar ini mirip sekali dengan kamar artis kaya raya, yang sering dia lihat disalah satu aplikasi medsos yang sedang viral saat ini.
Nadin mengucek matanya beberapa kali untuk meyakinkan penglihatanya.
Dimana aku?. Apa aku sedang bermimpi?. Apa aku ada di istana?.
Nadin kembali terperanjat saat dia ingat kejadian tadi malam. Kini dia sadar kalau dirinya mungkin telah diculik. Tapi siapa?. Siapa yang sudah menculiknya.
Tidak...mudah-mudahan ini tidak benar. Aku gak mungkin diculik. Kalau aku diculik bagaimana dengan pernikahanku dan ko Panji ?. Atau jangan-jangan ini semua rencana dia?. Dia sengaja ngelakuin ini, untuk ngerjain aku?. Ah iya, aku harap begitu. Gumam Nadin dalam hatinya. Dia sangat berharap kalau ini semua adalah ulah Panji, calon suaminya, walau hatinya tidak yakin.
__ADS_1