
"Iya aku. Memangnya siapa lagi orang yang sedang kamu fikirkan?."
"Maaf ko saya nggak tahu kalau ini ko Panji. Suaranya beda soalnya, hehe. Ada apa ko? Kenapa menghubungi saya?. Bukankah baru saja kita ketemu?. Masa ko Panji sudah merindukan saya lagi." Canda Nadin.
Aku memang merindukan kamu, siluman ular. Batin Panji.
"Bukan aku yang merindukan kamu, tapi orang lain."
"Siapa?."
"Hallo kak Nadin."
"Mikha."
"Iya kak Nadin, ini aku. Aku kangen sama kak Nadin. Aku mau ketemu dan main sama kak Nadin. Kita main yuk.!!
"Iya Mikha, besok kita ketemu dan bisa main lagi, walau cuma sebentar."
"Aku gak mau besok, aku maunya sekarang. Aku mau main ke mall sama kak Nadin sekarang pokoknya, nggak mau besok."
"Tapi sekarang kakak nggak bisa sayang. Lagian Mikha juga gak mungkin dikasih ijin."
"Siapa bilang?? Sekarang kamu siap-siap, setengah jam lagi kami jemput."Tut...tut..tut....Panji menutup sambungan telefon, lalu mengirim sebuah pesan pada Nadin, memintanya pergi menemani Mikha, karena Mikha yang memintanya. Padahal itu semua idenya.
Nah kan bener dia ngasih tas ini, biar bisa seenaknya nyuruh-nyuruh aku. Oke kebetulan dia ngajak pergi. Aku akan kembalikan tas ini hari ini juga.
Setelah bersiap-siap, Nadin pamit pada mak Ebah yang hari itu tidak berjualan. Nadin berjalan menyusuri gang, menuju pinggir jalan raya. Panji dan Mikha sudah menunggunya disana.
"Kak Nadin." Panggil Mikha dengan wajah gembira, saat dia melihat Nadin.
"Hay Mikha sayang, udah lama nunggu? Maaf ya!!." Sahut Nadin.
"Maaf ko, saya telat." Ucap Nadin.
"Ayo masuk, kita berangkat sekarang." Titah Panji. Lalu Nadin dan Mikha masuk. Mereka duduk di jok samping kemudi. Nadin menolehkan pandanganya ke jok penumpang belakang.
"Kamu nyari siapa?."
"Itu ko, suster Elin."
"Kenapa kamu nyariin dia?."
"Kok dia nggak ikut?."
"Mikha ingin pergi sama kamu, bukan sama dia. Kalau Mikha ingin pergi sama dia, kita gak bakal ajak kamu."
"Oh."
.....
Disisi lain.
__ADS_1
Itu tadi cowok yang nganterin si Nadin bukan sih? Gila cakep bener tuh cowok. Tapi mobilnya sih mobil yang tadi. Apa laki-laki itu yang namanya ko Panji?. Mau pergi kemana ya mereka?
Dan anak kecil tadi kenapa bisa akrab banget gitu sama si Nadin?. Apa jangan-jangan anaknya si ko Panji ko Panji itu? Lalu kenapa mereka pergi bertiga? Kemana ibu anak itu?. Atau jangan-jangan dia duda lagi?. Aku harus cari tahu. Aku akan tanyain sama ibu, nanti.
Kata Irma dalam hatinya, saat dia melihat Panji dan Nadin pergi bersama naik mobil Panji.
Sudah hampir satu bulan Irma jadi pengangguran, sejak ia di pecat dari tempat kerjanya. Bi Sum, menyarankan agar Irma mau bekerja di konveksi bersama Nadin, karena dia sudah minta tolong pada pak Sambaru agar mau menerima anaknya.
Pak Sambaru mengiyakan, tapi Irma tidak mau. Irma ingin bekerja ditempat lain, bukan dikonveksi, apalagi bersama Nadin.
.....
Di mall.
Mikha sedang menaiki wahana permainan, dan Nadin mengawasinya, sedangkan Panji, sibuk mengawasi Nadin. Nadin melambaikan tangan sambil tersenyum, saat Mikha memanggilnya dari wahana yang sedang dia naiki.
Nadin lalu membawa Mikha yang sudah selesai dengan wahana tadi ke wahana lainnya. Nadin melangkahkan kakinya, dengan tatapan yang terus tertuju pada Mikha, hingga dia tak sengaja bertabrakan dengan seseorang yang sedang berbicara melalui handphone yang dipegangnya.
Karena tabrakan itu, handphone berlambang apel yang sudah digigit tikus itu terjatuh. Nadin sangat kaget, begitupun pemilik hp itu. Sang pemilik handphone segera meraih hpnya yang terjatuh.
Wajahnya terlihat kesal dan marah. Walaupun hp nya tidak rusak, tetap saja orang itu merasa kesal. Dia menatap tajam pada Nadin, yang sudah mengucapkan maafnya dari tadi.
"Lo punya mata gak sih?." Tanya orang itu emosi.
"M-mmaaf mas, saya gak sengaja."
"Maaf, maaf. Enak bener lo bilang maaf. Lo lihat hp gue, jadi cacat gini?. Gue gak mau tahu pokoknya lo harus tanggung jawab. Gue minta ganti rugi."
"Saya sudah bilang saya nggak sengaja, dan saya sudah minta maaf kan mas, dan hp mas nya juga gak kenapa-kenapa."
"Ada apa ini?." Tanya Panji.
Laki-laki itu menjelaskan apa yang terjadi pada Panji. Dia juga mengatakan kalau dirinya ingin Nadin bertanggung jawab mengganti kerusakan hp nya.
"Mana nomor rekening kamu?." Tanya Panji, membuat Nadin dan orang itu terkejut, namun dengan segera dia menyebutkan nomor rekeningnya, lalu Panji mentransfer sejumlah uang, melalui transaksi m banking dari hp nya.
"Aku sudah mentransfer uangnya, kamu bisa cek sendiri." Ujar Panji.
Laki-laki itu langsung mengecek dan membuka notif yang masuk ke hp nya. Matanya membola, saat di melihat jumlah uang yang masuk ke rekeningnya.
Gila nih orang, gak salah ngasih duit?. Wah anak sultan kayaknya dia.
"Gimana? Cukup kan buat ganti rugi?." Tanya Panji.
"Cukup kok cukup. Thanks ya." Ucapnya lalu pergi.
"Tunggu." Titah Panji, membuat langkah laki-laki itu terhenti.
"Tadi kamu bilang apa? Tanggung jawab?. Apa kamu sendiri mengerti apa itu arti tanggung jawab?." Kening laki-laki itu mengerut mendengar pertanyaan Panji. Tapi masa bodoh, dia tidak ambil pusing, apalagi baru saja dia mendapatkan durian runtuh.
Nadin hanya tertunduk malu, karena lagi-lagi dia merasa berhutang pada Panji. Tas mahal yang Panji berikan padanya belum sempat ia kembalikan, sekarang Panji sudah kembali mengeluarkan uang yang entah berapa banyak, Nadin juga tidak tahu.
__ADS_1
Tapi Nadin sangat yakin jumlahnya tidak sedikit, buktinya wajah masam dan bengis laki-laki tadi berubah seketika saat melihat berapa uang yang Panji transfer kepadanya.
"Maafkan saya ko?."
"Maaf? Kenapa minta maaf?."
"Maksud saya terima kasih."
Panji mengajak Mikha dan Nadin makan, tapi Nadin tidak memesan apapun. Bagaimana bisa dia makan setelah apa yang terjadi. Dia sungguh merasa tidak enak pada Panji.
Lebih dari itu, dia takut semakin sulit untuk melepaskan diri dari Panji, karena dia merasa hutangnya semakin bertambah banyak. Dia fikir pasti Panji akan semakin seenaknya.
Nadin merasa hidupnya akan dikendalikan Panji, dan dia tidak akan menikmati kebebasan seperti dua atau tiga minggu lalu.
Mereka pulang, dan mengantarkan Nadin lebih dulu. Mikha tidur dari tadi, dan dibaringkan di jok belakang. Sebelum turun, Nadin mengembalikan tas pemberian Panji.
"Maaf ko, saya kembalikan tas ini. Saya tidak bisa menerimanya." Ucapnya.
"Kenapa kamu kembalikan?."
"Tas ini terlalu mahal. Saya nggak enak, lagi pula saya tidak pantas memakainya."
"Apa kamu lupa, kalau aku tidak suka di tolak?. Dan kamu harus ingat, aku bukan sengaja membelikan tas ini, tapi aku hanya mengganti tas kamu yang rusak gara-gara aku."
"Iya ko, saya ingat. Tapi tetap saja saya tidak bisa menerima tas ini. Harganya sangat mahal, jauh sekali dengan harga tas saya. Kalau seandainya harga tas ini sama dengan tas saya, mungkin saya akan menerimanya. Tapi ini terlalu mahal, saya gak bisa terima. Saya bukannya tidak menghargai niat ko Panji."
"Apa hanya karena itu, kamu menolak pemberianku?." Tanya Panji.
"Jujur saja ya ko, selain karena itu, saya juga tidak mau berhutang lagi sama ko Panji.
Saya tahu ko Panji sengaja kan melakukan semua ini. Ko Panji sengaja beliin tas mahal dan juga bayarin ganti rugi hp orang tadi, biar hutang saya makin banyak, supaya ko Panji bisa nyuruh saya kerja di rumah ko Panji, gantiin bi Lasmi dan bi Ita saat mereka libur, iya kan?."
Panji tersentak mendengar jawaban Nadin. Dia tidak menyangka Nadin berfikir seperti itu tentang dirinya. Walau sebenarnya itu bukan salah Nadin kalau sampai dia berfikir seperti itu. Semua ini juga karena Panji sendiri. Niat awal Panji hanya ingin mengerjai Nadin, membuat Nadin berfikir negatif tentang dirinya.
"Saya permisi." Ucap Nadin, lalu membuka pintu mobil, tapi Panji dengan cepat mencekal tanganya.
"Apa itu yang kamu pikirkan tentang aku Nadin?." Tanya Panji dengan senyum yang sedikit aneh.
"Dengarkan aku. Aku memberikan tas ini kepada kamu itu tulus dan sama sekali aku gak berfikir akan menganggap ini jadi hutang kamu.
Jadi terima dan pakailah. Aku akan sangat senang kalau kamu mau memakainya. Kamu pantas memakainya." Kata Panji, sembari menatap Nadin penuh arti, membuat perasaan Nadin kembali tak karuan. Apalagi tangan Panji masih memegang tangganya.
"Tapi ko...."
"Kalau kamu nggak mau pake, kamu bisa buang tas itu, atau kamu berikan pada orang lain, tapi jangan kembalikan padaku, ngerti?."
Nadin mengangguk, seperti orang yang sedang dihipnotis. Dia terhipnotis oleh wajah tampan dan semua kata-kata Panji.
"Bentar lagi maghrib, sebaiknya kamu turun, jangan sampai nenek kamu khawatir." Ucapan Panji kali ini membuat Nadin tersadar, dan sedikit malu.
Dia langsung membuka pintu mobil dan keluar. Panji melajukan mobilnya seiring langkah Nadin yang mulai menyusuri jalan gang menuju rumahnya. Nampak senyuman mengembang dibibir keduanya.
__ADS_1
Entah kenapa, sekarang Nadin merasa Panji sepertinya gampang sekali membolak-balikan perasaanya. Nadin berangkat dan pulang dengan perasaan berbeda terhadap orang yang sama.
Tbc❤️