
Mereka sudah sampai di rumah Panji. Dan malam itu, Nadin terpaksa menginap disana bersama Mikha.
Nadin tidak bisa tidur, karena dia teringat Bily yang dia lihat dipesta tadi, juga semua ucapan bu Ranti di toilet yang membuatnya sakit hati. Untungnya Panji datang dan membelanya. Dia tersenyum saat teringat wajah merah bu Ranti yang seolah tertampar oleh kata-kata Panji.
Ko Panji itu sebenernya orangnya gimana sih?.Bener-bener nggak bisa di tebak. Kadang baik, kadang nyebelin, eh bukan kadang sih, tapi emang banyak nyebelinnya, kalo musik ibaratnya dia itu campur sari. Hahhaaa. Batin Nadin.
Nadin berbaring disamping Mikha yang sudah tertidur pulas. Dia memejamkan mata mencoba untuk tidur, tapi tiba-tiba wajah Bily muncul saat matanya terpejam. Ahh kak Bily, kenapa aku harus melihatnya lagi?.
Sudah lewat pukul 1.00 dini hari, Nadin masih saja terjaga. Tidak ada rasa kantuk sama sekali Nadin rasakan malam itu. Dia gelisah sendirian, dan tidak bisa tidur, hingga akhirnya dia bisa masuk ke alam mimpi saat waktu menunjukan pukul 3 pagi. Nadin terlelap, hingga melewatkan waktu sholat subuh.
Dia dibangunkan oleh Mikha, yang sudah bangun lebih dulu. Nadin terperanjat, dia sangat kaget saat melihat sinar matahari mulai menembus masuk melalui celah gorden kamar.
"Astaga aku kesiangan. Mikha sayang , ayo cepat kita mandi, sebelum ko Panji datang kesini, dan marahin kita." Kata Nadin seraya membawa Mikha ke kamar mandi.
Semalam panji mengatakan akan mengantarkan Mikha dan Nadin ke rumah pak Bahtiar, saat Panji akan berangkat. Dan Nadin tahu, Panji akan berangkat jam 7.00 pagi. Dia tahu karena semalam mendengar percakapan Adam dan Panji.
Nadin memandikan Mikha lebih dulu dengan air hangat, dan membiarkanya berendam di
bathtub, lalu dia mandi dengan cepat. Nadin tidak ingin Panji sampai menunggu mereka. Setelah itu dia memakaikan baju Mikha dan menyisir rambutnya, sementara dia sendiri, belum memakai bajunya.
Saat sedang menyisir rambut Mikha, tiba-tiba pintu kamar di ketuk dari luar dengan keras dan tidak sabar. Bukan mengetuk, lebih tepatnya menggedor. Orang itu yang tak lain adalah Panji, meminta Nadin membukakan pintu kamar.
"Cepat buka pintunya Nagin!! Jam berapa sekarang? Kamu sengaja mau bikin aku telat?."Suara Panji yang terdengar tidak sabar.
Nadin kesal karena suara berisik yang mengganggu indera pendengaranya. Dia beranjak dan dengan segera membuka pintu sambil menggerutu.
Pintu terbuka, Panji berdiri tepat dihadapan Nadin yang masih memasang wajah kesal.
"Gak sabaran banget sih ko." Ujar Nadin dengan wajah kesal.
Panji menatap Nadin dari atas sampai bawah. Tapi sepertinya Nadin tidak peduli dengan tatapan Panji kali ini. Dia merasa sudah terbiasa Panji yang menatapnya seperti itu. Tapi tunggu, kenapa kali ini tatapannya berbeda? Apa yang salah dengan diriku?.
"Apa-apaan kamu? Kamu sengaja ingin menggodaku Nagin? Apa kamu nggak malu dengan penampilan kamu sekarang?. Atau jangan-jangan yang dikatakan bu Ranti semalam bener." Kata Panji.
"Siapa yang ingin menggoda ko Panji? Jangan sembarangan bicara." Sahut Nadin tak terima dengan ucapan Panji.
"Lalu kenapa kamu tidak memakai baju kamu?."Tanya Panji, lalu kembali menatap Nadin, dengan ekspresi yang aneh. Nadin mengikuti pandangan mata Panji. Mata Nadin membulat, saat dia sadar kalau saat ini dia belum memakai bajunya. Hanya handuk putih yang menutupi tubuh dan kepalanya saat ini.
"Astagfirullaah." Ucap Nadin sembari mendorong Panji, lalu menutup kembali pintu kamar dan langsung menguncinya. Dia sangat malu pada Panji. Wajahnya memerah seketika. Dia terus mengumpat dan memaki dirinya sendiri.
"Aku beri kamu waktu sepuluh menit, kalau kamu tidak keluar dalam sepuluh menit, pengurangan kerja sepuluh hari kamu hangus. Kamu denger Nagin?." Tanya Panji.
"Terserah kamu panci bocor." Gumam Nadin.
"Kamu denger kan Nagin?." Tanya Panji, sembari mengetuk pintu kamar.
"Iya ko saya dengar." Sahut Nadin.
Dasar bodoh. Kenapa aku bisa ceroboh kayak gini. Jadi dia mikir yang enggak-enggak kan. Pake bilang aku mau godain dia segala lagi. Ihh sori dori mori deh bo. Aku tidak semurah itu Bambang. Ahh untung aja dia nggak macem-macem sama aku.
Padahal tadi aku kan seksi banget pake handuk itu. Mana pendek banget lagi. Apa jangan-jangan bener kalo ko Panji udah gak ada rasa sama perempuan? Apa mungkin dia beneran suka sama mas Adam? Ihh amit-amit deh kalo itu bener. Gumam Nadin dalam hatinya
Panji mengembangkan senyum lalu berlalu dari sana. Dia senang sekali rasanya pagi itu. Selain bisa menggoda Nadin, dia juga bisa melihat pemandangan indah di pagi hari yang cerah itu.
__ADS_1
Adam yang sudah ada disana menatap Panji yang sedang tersenyum sendiri di ruang tengah.."Lo kenapa senyam-senyum sendiri Ji?." Tanya Adam mengagetkan Panji.
"Eloo?? Ngagettin aja. Kapan lo dateng?." Panji balik bertanya.
"Lo kaget? Ah masa sih?. Lagian biasanya mata lo bekerja dengan baik. Kenapa pagi ini mata lo nggak bisa ngelihat kehadiran gua?." Tanya Adam.
"Banyak omong lo." Sahut Panji. Dia menatap jam di pergelangan tangannya. Sudah sepuluh menit, dan Nadin belum juga keluar, padahal sebentar lagi Panji akan pergi ke kantor.
"Nadin mana? Bukankah dia dan Mikha akan kembali ke rumah bokap lo?." Tanya Adam.
Panji yang berdiri membelakangi Adam mengulas senyumnya saat mendengar pertanyaan Adam. Dia teringat kejadian yang baru saja dilihatnya.
"Eh ini dia orangnya, panjang umur baru juga diomongin." Kata Adam.
"Mas Adam ngomongin saya? Ngomongin apa?." Selidik Nadin, matanya menatap Panji yang berdiri memunggunginya.
"Bukan ngomongin, maksudnya nanyain."Jawab Adam.
Apa jangan-jangan ko Panji ngomongin kejadian tadi ke mas Adam?. Tanya Nadin dalam hati.
"Ayo berangkat, jam berapa ini? Aku tidak mau telat ." Ucap Panji seraya melangkahkan kakinya.
"Ko Panji dan mas Adam berangkat saja duluan. Saya dan non Mikha biar naik taksi online saja."
"Apa kamu bilang?."Tanya Panji, lalu menghentikan langkahnya dan membalikkan badan.
"Ko Panji dan mas Adam berangkat duluan saja, saya dan non Mikha bi ....."
"Enak saja kamu ngomong. Aku sudah nunggu kamu dari tadi, dan sekarang kamu seenaknya nyuruh aku berangkat duluan. Lagian siapa kamu? Berani-beraninya nyuruh-nyuruh aku."Sergah Panji.
"Ngomong apa kamu?." Tanya Panji, membuat Nadin terkesiap.
"Nggak ngomong apa-apa." Jawab Nadin.
"Sekarang kamu dan Mikha ikut. Kami akan mengantarkan kalian titik. Aku tidak mau kalo sampai kamu menculik Mikha." Kata Panji.
"Astagfirullah, ko Panji. Mana mungkin saya mau nyulik non Mikha."
"Makanya kalian ikut sekarang."
"Tapi ko, non Mikha belum sarapan. Saya hanya mau non Mikha sarapan dulu. Saya tidak mau ibu sepuh sampai marahin saya gara-gara non Mikha telat sarapan. Kalo ko Panji mau berangkat, berangkat saja duluan, saya dan non Mikha bisa pulang sendiri nanti." Jelas Nadin.
"Jadi itu alasan kamu?." Tanya Panji, dan Nadin mengangguk.
"Baiklah, kalo gitu kalian berdua sarapan saja dulu. Aku akan menunggu. Aku beri kalian waktu lima belas menit."
"Apa?."
"Aku tidak suka mengulang kata-kataku." Kata Panji sembari melihat jam ditangannya. Tak ingin membuang waktu, Nadin membawa Mikha ke meja makan. Dia mengambilkan sarapan untuk Mikha, lalu menyuapinya. Sedangkan dia sendiri tidak memakan apapun, selain meminum dua gelas air putih. Bukanya Nadin tidak lapar, tapi waktu lima belas menit mana cukup untuknya sarapan, karena dia harus menyuapi Mikha.
Walau sebenarnya dia bisa makan sembari menunggu Mikha mengunyah makananya, tapi Nadin memilih tidak sarapan saja, karena saat ini Panji terus memperhatikannya. Nadin juga masih merasa malu dengan kejadian tadi.
Mikha sudah selesai sarapan, lalu Nadin menuntun Mikha dan menghampiri Panji dan Adam yang masih setia menunggunya. Mereka pun berangkat.
__ADS_1
Sepanjang perjalanan tidak ada pembicaraan yang berarti. Hanya ada Adam yang sesekali tertawa sambil menggoda Nadin, yang duduk disebelahnya.
"Kamu ini masih muda, tapi kayaknya terampil banget ngurus anak kecil." Ujar Adam.
"Ya iya lah mas Adam, itu kan pekerjaan saya sekarang." Sahut Nadin.
"Iya emang, tapi selain itu kamu juga cantik, pinter masak lagi, benar-benar wanita idaman. Beruntung sekali nanti laki-laki yang menikahi kamu" Puji Adam.
"Makasih atas pujianya. Tapi mas Adam terlalu berlebihan." Balas Nadin."
"Aku yakin pasti banyak lelaki yang jatuh cinta sama kamu, iya kan? Ngaku?." Tanya Adam
"Mungkin." Jawab Nadin.
"Kenapa mungkin?."
"Ya gimana ya mas Adam, saya mau jawab iya takut dikira sombong. Tapi kalo mas Adam maksa pengen tahu, ya udah saya jujur aja. Emang iya banyak sekali yang jatuh cinta sama saya, termasuk..."
"Termasuk si Doni itu kan?." Sahut Adam memotong ucapan Nadin.
"Issh....bukanlah. Dia gak jatuh cinta sama saya, dia justru jatuh cinta sama mas Adam. Eh bukan sama ko Panji." Bisik Nadin.
"Ah yang bener kamu Nadin."
"Iya bener. Dia bilang sendiri sama saya, kalo dia jatuh cinta sama ko Panji."
"Hahaha." Adam tertawa.
"Mas Adam, saya boleh bertanya?."
"Apa?."
"Apa ko Panji beneran nggak punya pacar?."Tanya Nadin dengan suara sangat pelan.
"Kenapa kamu menanyakan itu? Jangan bilang kamu juga jatuh cinta sama dia?."
"Ya enggak lah. Mana mungkin saya jatuh cinta sama dia."
"Lalu kenapa kamu menanyakan itu?."
"Mas Adam jawab aja pertanyaan saya."
"Kalau dia punya pacar, dia gak akan minta kamu pura-pura jadi pacarnya tadi malam kan?."Jawab Adam dengan suara yang tak kalah pelan.
"Ahaha....bener juga. Jadi Doni punya kesempatan dong buat deketin ko Panji, hahaha."
Mendengar ucapan Nadin, Adam juga ikut tertawa.
"Diaaam." Teriakan Panji membuat tawa renyah Adam dan Nadin berhenti seketika. Panji dari tadi mendengarkan pembicaraan dua orang didepannya. Walau dengan suara pelan, tapi dia bisa mendengar semuanya.
Hening, tidak ada lagi percakapan diantara mereka, sampai akhirnya mobil Panji tiba didepan gerbang rumah pak Bahtiar. Nadin sudah membuka pintu mobil, dia berniat turun, namun suara Panji tiba-tiba menghentikanya.
"Sabtu depan aku akan jemput kalian lagi."Ucap Panji. Nadin tidak menjawab iya atau tidak, walau dia ingin menolak, tapi itu akan percuma. Karena Nadin tahu, apa yang dikatakan Panji maka itu yang akan terjadi. Mulai sekarang dia harus membiasakan diri dengan situasi seperti ini.
__ADS_1
Tbc❤️