Panji & Nadin

Panji & Nadin
Kamu pinter Nadin.


__ADS_3

Irma bekerja keras agar dia tidak kembali bertukar posisi dengan Nadin. Dia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan untuk bisa berinteraksi langsung dengan Panji, walaupun hanya sebatas masalah pekerjaan. Sambaru akui Irma mulai ada kemajuan dan dia bekerja dengan cukup baik sebagai distribusi.


Hari ini Panji datang ke konveksi untuk inspect lapangan seperti biasanya. Dia mengecek area packing lebih dulu, kemudian area sewing dan terakhir area cutting. Dia hanya mengecek sekilas diarea sewing, karena tidak sabar ingin bertemu dengan Nadin, yang dia fikir masih menjadi distribusi.


Irma senang saat melihat Panji, Adam dan Sambaru berjalan menuju ke arahnya. Dia yakin Panji akan meminta data turun barang padanya.


Panji berdiri di depan meja distribusi. Dia heran kenapa yang berdiri disana bukan Nadin, tapi orang lain.


"Kemana Nadin, distribusi kamu?." Tanya Panji pada Sambaru.


"Nadin udah nggak jadi distribusi lagi ko. Ini Irma, distribusi baru." Jawab Sambaru.


"Ohh, kenapa dia diganti?. Apa kerjanya gak bener?." Tanya Panji lagi.


"Bukan begitu ko, tapi..."


"Cukup, kamu gak perlu jelaskan. Jadi kamu disrtibusi baru?." Panji bertanya pada Irma


"Iya ko." Jawab Irma.


"Siapa nama kamu?."


"Irma."


"Oh Irma. Mana saya minta data turun barang hari ini?."


Irma memberikan data yang Panji minta. Panji memeriksa data itu dengan cepat, dan menyerahkannya kembali pada Irma.


Pandangan matanya langsung tertuju ke area buang benang. Panji menemukan apa yang dicarinya disana. Dia melihat Nadin sedang sibuk dengan pekerjaanya.


Panji melangkahkan kakinya menuju line jahit, dimana ada Nadin diujung line sana, sedang fokus buang benang. Panji mengecek dari proses ke proses, dan kini dia sudah sampai di proses tengah.


Nadin mulai tidak fokus, saat dia mencium wangi parfum yang sangat dia kenal.


Ini kan wangi parfum ko Panji. Apa dia disini?.


Nadin mengedarkan pandangannya, sebentar mencari sosok Panji, tapi dia tidak melihatnya.


Nadin tidak menyadari kalau Panji saat ini sudah berdiri dibelakangnya, karena Panji memang sengaja mengecek dari arah sebelah kanan line.


Panji mengambil satu jaket yang sudah dibuang benang oleh Nadin, dan mengeceknya.


Nadin terkejut, saat dia melihat Panji sudah berdiri disampingnya.


Dia langsung menunduk. Hampir dua puluh menit lamanya Panji berdiri disana, sebelum akhirnya dia pergi menuju ruangan Sambaru.


Panji bertanya pada Sambaru kenapa Nadin dipindahkan, karena tadi dia tidak mungkin menanyakanya dihadapan Irma. Kini Panji tahu kalau ternyata Irma adalah anak bi Sum, dan dia adalah saudara sepupu Nadin.


"Maafkan saya ko!! Saya tahu, saya tidak profesional. Tapi saya gak enak, bi Sum terus memohon pada saya, dan Nadin juga meminta dipindahkan ke area buang benang, katanya dia gak sanggup jadi distribusi."


"Terus gimana cara kerja si Irma?. Apa dia kerja dengan baik?."


"Kerjanya bagus ko. Ya walaupun awalnya dia melakukan kesalahan, tapi makin kesini, dia makin pintar dan mulai menguasai pekerjaanya."


"Baguslah. Dengar Sambaru, mulai hari ini, aku tidak mau lihat Nadin buang benang lagi."

__ADS_1


"Tapi kenapa ko?. Kalau menurut saya dan Ratna, kerja Nadin sangat baik."


"Aku mau dia jadi QC (qiusi)."


"QC?."


"Iya, apa ada masalah?."


"Tidak ko. Tapi....."


"Mulai hari ini kamu jadikan Nadin qc di area packing, dan qc sebelumnya kamu tempatkan di area jahit, mengerti?."


"Mengerti ko." Jawab Sambaru. Lalu Panji keluar dari sana dan kembali ke kantornya.


Sesuai keinginan Panji, mulai hari itu Nadin menjadi qc, walau Nadin tidak mau, tapi dia tidak akan bisa menolak.


Irma semakin iri pada Nadin. Nadin diangkat menjadi qc, tentu saja gajinya juga akan ikut naik. Tidak hanya Irma, tapi juga Nina. Dia sangat tidak senang dan tidak terima Nadin diangkat menjadi qc, seperti dirinya dulu.


Sejak Nadin menjadi qc, sikap Irma mulai berubah. Saat makan siang pun, Irma tidak pernah mau bersama Nadin. Kini dia berteman dengan Nina, yang sama-sama tidak menyukai Nadin.


Irma dan Nina selalu menyindir Nadin.


Awalnya Nadin merasa tidak enak hati dengan sikap Irma, tapi ya sudahlah dia tidak mau ambil pusing.


....


Hari minggu Nadin kembali datang ke rumah Panji. Kali ini Panji melarang Nadin membersihkan rumahnya. Dia hanya meminta Nadin membuatkan sarapan.


Pagi itu, Panji membantu Nadin menyiapkan sarapan, walau Nadin melarangnya, karena merasa tidak enak dan juga tidak nyaman dengan sikap Panji, yang selalu mencuri kesempatan dalam kesempitan. Tapi mana mungkin Panji akan menghiraukan larangan Nadin.


Pagi itu Panji minta dibuatkan sandwich. Dia mencuci mencuci sayuran, dan Nadin yang memotongnya. Panji memberikan tomat yang sudah dia cuci pada Nadin.


Nadin mengambil tomat itu, dari tangan Panji, tapi Panji malah memegang tangan Nadin, membuatnya terkejut dan malu.


Nadin menatap tak percaya pada Panji, sedangkan Panji hanya tersenyum seperti orang yang tidak berdosa. Nadin yang merasa malu, dengan cepat melepaskan tangannya dari tangan Panji.


"Maaf, gak sengaja." Bohong Panji.


"Gapapa." Balas Nadin, malu-malu. Wajahnya langsung bersemu merah.


Panji menyimpan roti yang sudah dia panggang dimeja makan, dan Nadin sedang menumis daging asap, dan membuat telor ceplok. Setelah itu dia menyusun selada, daging asap, telur ceplok, keju slice dan tomat iris.


Tak lupa Nadin menambahkan mayones dan saus tomat. Sandwich buatan Nadin sudah siap di nikmati, dan mereka pun sarapan bersama lagi pagi itu.


Kalau dulu Panji memuji masakan Nadin hanya dalam hati, maka kini dia sudah berani terang-terangan memuji masakan Nadin.


"Sandwich buatan kamu enak banget ya. Beda sama yang lain." Ucap Panji memuji Nadin.


"Biasa aja ko." Balas Nadin.


"Biasa apanya?. Luar biasa sih kalau ini. Enak banget, serius. Kamu pinter Nadin. Bener-bener calon istri idaman." Panji kembali memuji Nadin, sembari tersenyum.


"Cuma sandwich ko, semua orang juga bisa bikin, gampanglah." Kata Nadin, berusaha setenang mungkin, walau dalam hatinya dia mulai merasa sedikit terbang mendengar pujian dan senyuman manis Panji, juga tatapan Panji yang membuat wajahnya kelihatan semakin tampan dan membuat Nadin salah tingkah.


"Oh iya ko, saya lupa belum bikin minumnya. Ko Panji mau minum apa, kopi, teh, susu, atau jus?."

__ADS_1


"Aku mau.........kamu."


"Hahh?."


"Maksudku aku mau kamu bikinin aku jus buah."


"Baik, saya akan buatkan." Kata Nadin. Akhirnya Nadin punya alasan untuk menghindari tatapan Panji, yang membuatnya salah tingkah.


Nadin sudah selesai membuat jus buah. Dia meletakannya di meja makan.


"Kenapa cuma satu?. Punya kamu mana?."


"Saya tidak biasa minum jus pagi-pagi begini ko, suka langsung sakit perut, hehe maklum lah perut orang biasa kayak saya beda sama perut orang kaya seperti ko Panji."


"Kamu jangan ngomong kayak gitu?. Aku gak suka." Ujar Panji.


Lah kenapa?. Apa ada yang salah dengan ucapanku tadi?.


Mereka sudah selesai sarapan. Nadin berniat akan tetap membersihkan rumah, walau tadi Panji melarangnya. Namun baru saja Nadin mengambil sapu, Panji langsung menegurnya.


"Aku sudah bilang, hari ini kamu jangan bersih-bersih, kamu denger aku kan tadi?."


"Saya denger ko. Tapi kalau saya gak bersihin rumah ini, saya harus ngelakuin apa?. Saya gak mungkin hanya duduk manis disini."


"Kamu bisakan temenin aku nonton disini?."Panji menepuk sofa disampingnya.


Ya Tuhan, apa maksudnya itu?.


"Maaf ko, saya gak bisa. Mending saya nyuci mobil ko Panji aja, ya?."


"Kamu berani melawan perintah aku?. Oke gak masalah. Jangan salahkan aku kalau...."


'I-iiya ko baik. Saya mau nemenin ko Panji nonton. Tapi emang gapapa kalau saya nonton?. Saya dateng kesini kan, buat kerja bukan buat nonton."


"Kamu tidak perlu lagi kerja dirumah ini."


"Serius ko?."


"Kamu lupa, aku tidak pernah main-main dengan kata-kataku."


"Ahh terima kasih. Kenapa gak dari dulu aja sih ko, baik kayak gini." Kata Nadin, tetap berusaha setenang mungkin.


"Kamu itu pacarku, jadi mana mungkin aku nyuruh kamu kerja disini. Tapi ingat, kamu masih harus tetep datang kesini, ngerti kan?.


"Haha...pacar?.Pacar apa? Pacar Arab atau pacar China?." Tanya Nadin sembari terkekeh.


Dia tidak mau terlena dengan ucapan Panji. Karena dia yakin Panji hanya bercanda.


Panji tidak menjawab. Panji tahu, Nadin memang menganggap semua ucapannya tadi hanyalah sebuah candaan, padahal Panji menginginkan Nadin menganggapnya sebagai pacar sesungguhnya.


.


.


.

__ADS_1


☘️☘️☘️☘️☘️


Jangan lupa like, vote dan komentarnya ya🤗


__ADS_2