Panji & Nadin

Panji & Nadin
Bu Soraya di tahan


__ADS_3

Panji dan Adam saat ini ada disuatu tempat yang lumayan jauh dari kota. Tempat itu seperti gudang tua yang terlihat masih kokoh.


Di tempat itulah, Roy dan anak buahnya menahan satu orang yang berhasil mereka tangkap saat kebakaran itu terjadi. Ada sekitar tujuh atau delapan orang yang sempat mereka lihat saat itu.


Sejak ditangkap, Roy sudah memaksa lelaki itu bicara, tapi dia tetap tidak mau mengatakan siapa orang yang telah menyuruhnya membakar rumah Nadin. Dan saat ini Panji sendiri yang memaksanya bicara.


Panji menyiksa laki-laki itu, tapi dia tetap diam. Setelah ditelusuri ternyata laki-laki itu hanyalah seorang tuna wisma yang dibayar oleh seseorang untuk ikut membakar rumah Nadin, dengan iming-iming sejumlah uang yang sangat besar.


Panji tidak mau kalah. Dia mengiming-imingi lelaki itu dengan jumlah uang yang jauh lebih besar, dan lelaki itu pun akhirnya buka mulut. Menurut pengakuanya, dia tidak tahu siapa nama orang yang menyuruhnya.


Yang dia tahu seorang lelaki berbadan tegap menghampiri dan menawarinya sejumlah uang untuk ikut membakar rumah Nadin. Yang dia ingat lelaki tegap dan teman-temanya sering menyebutkan satu nama yang sepertinya nama seorang wanita.


"Soraya?. Nama wanita itu Soraya, bukan?." Tanya Panji. Lelaki itu nampak sedang mengingat-ingat nama wanita itu,lalu beberapa detik kemudian, dia pun mengiyakan.


Panji sudah menduganya dari awal, kalau bu Soraya adalah dalang dibalik kejadian ini. Darahnya seakan mendidih. Panji masih menahan lelaki itu, agar dia mau memberikan kesaksian pada polisi.


Ting....satu pesan dari nomor baru masuk di hp Panji. Dia langsung membukanya.


Darah Panji semakin mendidih saat melihat sebuah rekaman video yang memperlihatkan saat bu Soraya datang ke rumah Nadin mengancamnya dan juga keluarganya.


Dia bahkan mendengar dengan jelas, kalau bu Soraya akan melenyapkan satu persatu keluarga Nadin kalau dia tetap menikah dengan Panji.


" Brengsek." Umpat Panji.


"Kenapa Ji?. Ada apa?." Tanya Adam. Panji lalu memberikan ponselnya pada Adam.


"Siapa orang yang ngirimin video ini?." Gumam Adam. Dia tidak mengerti kenapa bisa ada orang yang merekam kejadian itu dan mengirimkannya pada Panji.


Apa sebenarnya maksud orang itu?. Menurut Adam, rekaman video itu diambil menggunakan kamera ponsel. Tapi yang jadi pertanyaannya adalah siapa orang yang telah merekam dan mengirimkanya pada Panji, dan apa motif orang itu sebenarnya.

__ADS_1


"Kita fikirkan itu nanti, yang penting sekarang kita punya bukti kuat untuk menyeret perempuan itu ke penjara." Ujar Panji.


Dari hasil olah TKP dan sejumlah bukti-bukti yang ditemukan, polisi menduga ada unsur kesengajaan dalam kejadian itu. Dugaan mereka semakin kuat saat menemukan beberapa kompan atau jerigen bensin disekitar lokasi.


Polisi meyakini jerigen itu adalah bekas bensin yang mereka gunakan untuk membakar rumah mak Ebah. Panji semakin naik pitam, saat dia mendengar keterangan dari polisi. Apalagi ada kacamata dan masker yang Panji yakini itu adalah milik bu Soraya.


Dia melihat dengan jelas dalam rekaman video itu, bu Soraya memakai masker dan kacamata yang sama dengan yang ditemukan polisi.Tapi pertanyaanya, kenapa masker dan kacamata itu tidak terbakar sama sekali. Padahal polisi menemukannya di antara puing -puing bangunan rumah mak Ebah.


Polisi membawa semua bukti-bukti itu, untuk penyelidikan lebih lanjut. Dan setelah melakukan penyelidikan, mereka menemukan sidik jari bu Soraya di kacamata dan masker, juga di salah satu jerigen yang mereka temukan.


Sudah tidak diragukan lagi, bu Soraya adalah orangnya. Dialah yang membakar rumah mak Ebah. Panji meminta polisi segera menangkapnya. Dia sudah memberikan rekaman video itu, juga keterangan dari lelaki yang ikut membakar rumah Nadin.


Lelaki itu juga ikut ditahan, tapi Panji berjanji akan segera membebaskanya, saat bu Soraya sudah dinyatakan bersalah.


Polisi akhirnya menangkap bu Soraya, dan menahannya, walau bu Soraya terus mengelak semua tuduhan yang diberikan kepadanya. Dia tidak mau mengaku padahal semua bukti jelas-jelas mengarah kepadanya.


Bu Soraya mengatakan kalau semua ancaman yang dia katakan kepada Nadin, hanya untuk menggertaknya saja. Dia tidak sungguh-sungguh akan melenyapkan keluarga Nadin, tapi polisi tidak mau mendengarkan pengakuanya.


Mau tidak mau bu Soraya harus ditahan dikantor polisi. Pak Bahtiar sangat shock mengetahui semua kelakuan istrinya. Dia tidak menyangka bu Soraya berbuat sejauh itu, hanya karena dia tidak mau Panji dan Nadin menikah. Pak Bahtiar kecewa dengan kelakuan istrinya.


Bu Soraya dimasukan kedalam sel yang letaknya tidak jauh, dari sel Jovanka. Berbeda dengan Jovanka yang tinggal bersama napi perempuan lain, bu Soraya hanya seorang diri di dalam sel-nya.


Jovanka meminta pada penjaga agar dia dan bu Soraya bisa tinggal satu sel, tapi petugas tidak menanggapi permintaanya, dan bu Soraya tetap sendiri di sana. Dia sangat tersiksa harus terkurung didalam dinginya jeruji besi yang sangat sempit dan pengap itu.


"Keluarkan aku dari sini. Aku tidak bersalah. Aku bukan pembunuh." Teriak bu Soraya yang tidak dianggap oleh petugas.


"Bisa diem gak sih lo?.Berisik banget. Makanya kalo lu gak mau jadi penghuni sini, lu nggak usah sok-sok an jadi pembunuh."Kata napi yang bersebelahan dengannya.


....

__ADS_1


Dua hari semenjak kebakaran itu terjadi, hari ini seharusnya adalah hari yang indah untuk Panji dan Nadin, tapi yang terjadi justru sebaliknya.


Hari ini adalah hari yang sangat buruk bagi Panji, dia hanya bisa menatap foto Nadin dan juga batu Nisan yang bertuliskan nama kekasihnya itu.


Seharusnya saat ini mereka sudah duduk bersanding dipelaminan, menyandang status baru sebagai suami istri, tapi kenyataanya tak sejalan dengan harapan dan impian mereka.


Apa kabar Nad?. Hari ini aku datang membawa bunga kesukaan kamu, bunga tulip. Kamu tahu Nad, semalam aku mimpi ketemu kamu disuatu tempat yang sangat indah.


Kamu terlihat sangat cantik memakai gaun putih yang aku pilihkan untuk pernikahan kita. Kita berdua menikah di tempat itu. Apa mungkin tempat itu adalah surga?. Walau aku tidak bisa menikahi kamu didunia ini, aku sangat berharap kita akan bertemu dan menikah disurga nanti. Tunggu aku Nad. Aku akan menyusul kamu, kita pasti akan bertemu lagi. Panji bergumam dalam hati sambil meneteskan air mata. Baru dua hari dia ditinggalkan oleh Nadin, dia sudah merasa kesepian dan sangat merindukanya.


Sepulangnya dari makam Nadin, Panji meminta Adam membawanya ke jalan dimana pertama kalinya dia bertemu dengan Nadin. Adam menuruti kemauan Panji, dia mengarahkan mobilnya ke jalan itu.


Adam segera menghentikan mobilnya di jalan itu, jalan yang sama saat mereka berhenti, karena mendengar ada sesuatu yang menimpa mobilnya. Panji turun dari mobil, lalu berdiri tepat ditempat yang sama, saat pertama dia melihat Nadin.


Semua kejadian itu masih jelas terekam di memori otaknya. Bahkan Panji masih ingat wajah kesal Nadin dengan rambut dan bajunya yang basah.


Dia tersenyum getir mengingat semua itu. Air matanya kembali menetes, lalu dia kembali masuk kedalam mobil, dan mengajak Adam pulang.


Panji langsung masuk kedalam kamarnya, sedangkan Adam memilih beristirahat dikamar tamu. Dia menelpon anak buahnya, untuk menanyakan tentang penyelidikan yang mereka lakukan terkait nomor yang sudah mengirimkan video itu pada Panji.


Adam merasa ada keanehan disini. Dia yakin orang yang mengirim rekaman itu bukan orang suruhan bu Soraya. Dia juga berfikir bagaimana bisa orang itu masuk ke rumah Nadin, dan merekam percakapan bu Soraya dan keluarga Nadin dengan begitu baik, seolah si perekam ada disana.


Apa mungkin Nadin memasang kamera pengintai dirumahnya?. Itu mustahil, tapi Adam yakin ada kamera pengintai dirumah Nadin yang dikendalikan dari jarak jauh, tapi siapa yang melakukanya?.


Adam ingin menyampaikan semua ini pada Panji, tapi dia tahu , Panji masih sangat berduka atas kepergian Nadin. Adam akan mencari tahu sendiri.


.


.

__ADS_1


Bersambung..☘️


__ADS_2