
Nadin tersenyum ragu pada Jovanka, tapi ternyata dia membalas senyum Nadin, walau hanya sekilas.
Awalnya Jovanka memang terkejut dengan keberadaan Nadin dirumah Panji, apalagi saat Panji memanggilnya "sayang" tadi.
Tapi dia ingat tentang cerita Nadin waktu itu. Dia tahu, Nadin memang datang setiap hari minggu ke rumah Panji bekerja untuk melunasi hutangnya, dia tahu kalau Nadin dipaksa bersandiwara menjadi kekasihnya dihadapan Jovanka.
Jovanka tersenyum dalam hati karena dia meyakini saat ini Panji juga sedang bersandiwara dihadapanya, saat dia memanggil sayang pada Nadin. Itu sangat tidak mungkin bagi Jovanka, apalagi saat ini dia melihat Nadin memakai celemek.
Jovanka juga melihat beberapa macam sayuran, pisau dan talenan. Dia yakin, Nadin sedang memasak makan siang untuk Panji.
"Hay Nadin! Kamu lagi ngapain?. Lagi masak ya?." Tanya Jovanka.
"Iya nona." Sahut Nadin.
Panji menatap tidak suka mendengar Nadin memanggil nona pada Jovanka.
"Kamu gak perlu panggil dia nona." Kata Panji, seraya mendekati Nadin, dan melingkarkan tangannya dipinggang Nadin.
Nadin merasa canggung dan malu saat itu. Bagaimanapun juga dia belum siap orang lain mengetahui hubungannya dengan Panji, terutama Jovanka yang Nadin tahu sangat mencintai Panji, dan dia adalah gadis yang dipilihkan orang tua Panji.
Panji terus saja bersikap mesra pada Nadin, tanpa mempedulikan kehadiran Jovanka.
Jovanka tidak cemburu atau marah sama sekali karena dia menganggap semua itu hanyalah sandiwara Panji, dia justru tersenyum dalam hatinya, karena melihat sikap Nadin yang canggung dan terlihat malu.
Panji....Panji, kamu fikir aku nggak tahu kalau kamu sedang bersandiwara? Aku akui akting kamu memang sangat bagus, tapi akting pembantu kamu itu, kurang meyakinkan. Harusnya kamu cari cewek lain yang aktingnya bisa sebagus kamu. Kata Jovanka dalam hati.
Lama-lama Nadin merasa tidak nyaman dengan kehadiran Jovanka. Apalagi Panji terus saja bersikap mesra kepadanya. Nadin takut Jovanka menceritakan apa yang dikatakan Nadin kepadanya waktu itu.
Dia yakin Panji akan sangat marah, kalau dia tahu Nadin menceritakan tentang sandiwara Panji waktu itu. Saat dimana dirinya dan Panji belum menjadi sepasang kekasih.
Nadin mengajak Mikha bermain di taman belakang, dan Panji mengikuti mereka. Panji memperhatikan Mikha dan Nadin yang sedang duduk diayunan dari teras belakang, dan Jovanka, dia berdiri dibelakang Panji.
"Kalau boleh tahu, kapan kamu dan Nadin jadian?." Tanya Jovanka pura-pura.
"Bukan urusan kamu." Jawab Panji, sinis.
"Apa kamu mencintai dia?." Tanya Jovanka lagi. Panji menatap tidak suka pada Jovanka. Lalu mengarahkan pandangannya ke arah Nadin.
__ADS_1
"Tentu saja aku mecintai dia. Aku sangat mencintai Nadin. Dia satu-satunya gadis yang aku cintai. Jadi kamu jangan pernah lagi mengharapkan cintaku.
Aku sudah katakan aku tidak pernah menyukai apalagi mencintai kamu. Kamu itu gadis terhormat bukan?. Jangan rendahkan diri kamu hanya untuk mengejar laki-laki yang tidak mencintai kamu."
Manis sekali kata-kata kamu Panji. Sayang, semua itu hanya omong kosong. Kamu fikir aku percaya?. Kalau saja benar kamu mencintai gadis itu, beruntung sekali dia. Tapi itu tidak mungkin. Kamu tidak mungkin bisa jatuh cinta pada gadis seperti Nadin. Kalau saja Nadin tidak menceritakan yang sebenarnya, mungkin aku akan percaya pada aktingmu ini.
"Sebaiknya kamu pulang saja. Aku yang akan mengantarkan Mikha." Kata Panji.
"Oke kalau begitu, aku pulang sekarang." Sahut Jovanka, lalu melangkahkan kakinya, namun kemudian dia menghentikan langkahnya.
"Kamu fikir aku percaya, kalau kamu mencintai Nadin?. Hehh!! Sori Panji, aku sama sekali nggak percaya. Jadi aku akan tetap mengejar dan berusaha mendapatkan cinta kamu." Kata Jovanka, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
"Kamu fikir aku peduli pendapat kamu Jo?. No Jo, Tidak sama sekali. Yang jelas aku sangat mencintai Nadin. Dan tidak ada kesempatan untuk kamu atau gadis lain untuk memenangkan hatiku."
"Kita lihat saja nanti." Pungkas Jovanka, lalu dia benar-benar meninggalkan rumah Panji.
Jovanka tersenyum meledek, saat dia mengingat apa yang dilakukan dan dikatakan Panji pada Nadin tadi, juga semua kata-kata Panji padanya
Hahh drama king banget sih kamu Panji. Seandainya saja tadi aku bilang sama kamu kalau aku tahu semua yang kamu katakan itu hanya kebohongan, gak kebayang reaksi kamu akan seperti apa. Tapi biarlah, aku akan ikuttin permainan kamu.
Panji mengantarkan Mikha lebih dulu, sebelum mengantarkan Nadin. Nadin menunggu di mobil Panji, saat Panji mengantarkan Mikha masuk, lalu dia mengantarkan Nadin pulang.
Nadin ingin sekali menayakan apa yang tadi Panji dan Jovanka bicarakan, tapi dia urungkan niatnya itu.
Tak butuh waktu lama, mereka sampai di jalan dekat gang menuju rumah Nadin. Sebelum Nadin turun, Panji meminta nomor rekening Nadin.
"Buat apa?." Tanya Nadin.
"Jangan banyak nanya. Cepet kirim aja nomornya." Jawab Panji.
Nadin mengirimkan nomor rekening pribadinya lewat ponselnya.
"Udah." Kata Nadin.
Panji membuka ponselnya, lalu dengan cepat menekan beberapa angka di keypad ponselnya itu.
"Aku udah transfer uang jajan buat kamu. Coba kamu cek." Kata Panji.
__ADS_1
"Apa?. Transfer? Kenapa harus transfer uang ke rekening aku?." Tanya Nadin.
"Kamu itu selalu nolak kalau aku ingin ngasih kamu uang, jadi aku fikir mungkin kamu ingin aku transfer uang jajan kamu, iya kan?." Goda Panji
"Bukan gitu. Tapi......"
"Tapi apa?. Denger Nad, aku ini pacar kamu. Dan sebagai pacar yang baik, tentu aku harus ngasih kamu uang untuk jajan atau untuk membeli kebutuhan kamu. Tapi maaf, aku nggak bisa ngasih banyak sama kamu." Kata Panji.
Panji meminta Nadin mengecek saldo rekeningnya, tapi dia tidak melakukannya, karena Nadin tidak menggunakan fasilitas m banking, jadi dia harus pergi ke atm untuk mengeceknya.
...
Dua hari kemudian.
Panji dan Adam sudah berangkat ke luar negeri. Nadin merasa kesepian, padahal baru hari ini Panji berangkat. Nadin tersenyum sendiri, mengingat saat-saat indah bersama Panji, sebelum dia berangkat.
Dan dia ingat, kalau dirinya belum mengecek saldo rekeningnya. Sepulangnya bekerja, Nadin menyempatkan diri pergi ke atm, untuk mengecek saldo. Dan dia sangat terkejut, saat melihat saldo rekeningnya yang ternyata jumlahnya sangat banyak menurutnya.
Berulang kali dia mengucek matanya, memastikan penglihatannya tidak salah. Tapi tetap saja dia melihat jumlah nominal yang sama di layar mesin atm.
Dia nggak salah ngasih aku uang sebanyak ini?. Dan dia bilang maaf karena nggak bisa ngasih banyak. Ya Tuhan, uang sebesar ini dia bilang gak banyak?. Lalu uang banyak versinya dia itu segimana?.
Kalau seandainya saja dulu kak Bily ngasih Aku uang sebanyak ini, pasti mamanya ngamuk-ngamuk dan nuduh aku bener-bener morottin anaknya. Tapi apa orang tua ko Panji gak akan nuduh aku morottin anaknya, kalau seandainya mereka tahu anaknya ngasih aku uang sebanyak ini?.
Ahh bodo amat, aku kan nggak minta. Lagipula aku juga nggak akan gunain uang ini, kalau nggak kepepet banget. Kata Nadin dalam hati.
Nadin mengucapkan terimakasihnya pada Panji, saat mereka berkirim pesan.
Walau merasakan rindu, Nadin tidak pernah menghubungi atau mengirim pesan kepada Panji lebih dulu. Selalu saja Panji yang menghubunginya.
Dia mengirimkan kata-kata cinta yang begitu membuat Nadin semakin merindukan kehadiran Panji. Rasanya saat ini, dia ingin mengulang kembali, saat-saat indah yang dia rasakan bersama Panji.
Nadin belum pernah merasakan apa yang dia rasakan saat ini kepada seorang lelaki. Dia benar-benar merasakan arti cinta yang sesungguhnya, dan benar-benar merasa dicintai. Selain dicintai, Nadin juga merasa nyaman dan terlindungi oleh sosok Panji.
.
TBC.☘️
__ADS_1