
Dua hari kemudian.
Pak Bahtiar dan bu Soraya sudah kembali ke rumah mereka. Semua keluarganya berkumpul, kecuali Panji yang masih berada di luar kota.
Jovanka dan kedua orang tuanya juga ada disana, karena mereka ingin menemui pak Bachtiar dan bu Soraya yang baru pulang menunaikan ibadah haji, walau seharusnya mereka sudah pulang beberapa minggu yang lalu.
Pak Bachtiar sudah sangat merindukan cucunya Mikha yang kini diasuh oleh suster Elin. Dia menanyakan Nadin, ibu sepuh menjelaskan semuanya, dan pak Bachtiar mengerti.
Dia dan bu Soraya sangat senang mendengar kabar kalau sekarang sikap Panji berubah baik dan dia juga dekat dengan Mikha. Mereka juga tahu Panji sampai menginap karena ingin dekat dengan Mikha, padahal sebenarnya Panji melakukannya karena dia ingin dekat dengan Nadin.
Bu Soraya yakin cepat atau lambat Panji juga akan menerima Jovanka sebagai kekasihnya, Dia meyakinkan Jovanka agar lebih sabar menghadapi Panji. Jovanka mengiyakan karena dia juga yakin suatu hari Panji akan menjadi miliknya.
Esoknya, pak Bahtiar dan bu Soraya menemui Nadin untuk mengucapkan terimakasih padanya. Nadin merasa tersanjung dan tidak percaya pak Bahtiar mau berterimakasih padanya.
Terutama bu Soraya, Nadin tidak menyangka bu Soraya mau menemuinya hanya untuk mengucapkan terima kasih. Padahal Nadin merasa tidak melakukan hal yang besar pada Mikha. Dia memang tulus menyayangi anak itu.
Ini pertama kalinya dia dan bu Soraya berhadapan secara langsung. Dilihat dari segi manapun bu Soraya memang terlihat sangat berkelas, dan dia juga sangat cantik.
Nadin sangat tegang, segan dan merasa rendah diri, dihadapannya.
"Ini, buat kamu." Bu Soraya memberikan dua buah paper bag pada Nadin. Satu untuk Nadin dan satu lagi untuk mak Ebah. Nadin tak menyangka mereka masih mengingat neneknya.
Nadin berterimakasih, lalu sepasang suami istri itu kembali ke rumah mereka, dan Nadin kembali ke konveksi.
....
Nadin membuka paper bag pemberian bu soraya. Isinya adalah oleh-oleh yang dia bawa dari tanah suci. Ada perlengkapan sholat, kerudung, kurma, dan pernak-pernik khas timur tengah.
Nadin memasukkan semua itu kedalam lemari miliknya. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa tak enak hati setelah menerima pemberian bu Soraya, padahal dia tahu semua pekerja di rumah bu Soraya juga mendapat oleh-oleh itu.
....
Sudah hampir dua minggu, tapi Panji belum juga kembali dari luar kota. Nadin sudah sangat merindukannya. Dan menurut Panji, dia belum bisa pulang karena pekerjaannya belum selesai.
Malam minggu ini, Nadin kembali membantu neneknya di warung. Walau pembeli tidak terlalu ramai, tetap saja dia merasa kasihan kepada neneknya kalau harus berjualan seorang diri.
Nadin menyuruh mak Ebah pulang, dia dan Hirlan yang menjaga warung. Tidak ada kerjaan yang bisa dilakuan Nadin, selain memikirkan Panji yang tidak juga pulang.
Nadin dan Hirlan sudah mulai beres-beres karena sebentar lagi mereka akan menutup warungnya. Hanya ada empat orang yang sedang menikmati kopi disana, salah satunya adalah mandor bangunan yang selalu datang kesana.
Dan tiga orang lainya, Nadin tidak terlalu memperhatikannya. Menurut Nadin mereka sepertinya masih pekerja proyek.
"Neng Nadin kok nggak malem mingguan neng?. Emang neng gak punya pacar?." Tanya mandor itu.
"Ya punya lah bang." Sahut Nadin.
__ADS_1
"Kalo punya, kenapa gak pergi malam mingguan ama pacarnya?."
"Saya gak suka malem mingguan bang, saya lebih suka malem jum'atan biar sekalian jaga lilin, hahaa." Canda Nadin.
"Kok pacarnya gak pernah kesini?. Abang kagak pernah lihat neng Nadin ama pacarnya."
"Pacar saya jauh bang, diluar kota. Kami LDR-an?."
"Apaan tuh?."
"Ah abang mah gak bakallan ngarti."
"Kalau menurut abang nih ya, mending jangan pacaran ame yang jauh-jauh deh. Kita kan gak tau disana dia setia apa kagak. Udah lah mending yang pasti-pasti aja. Neng mau gak ama adek abang?. Adek abang ganteng lhoo."
"Abangnya aja macem begitu, gimana adeknya?." Gumam Nadin.
"Gimana mau nggak?."
"Enggak ah, saya gak suka mendua."
"Yakin gak mau?. Nanti nyesel lho."
"Abang gak tau aja, pacar saya jauh lebih ganteng."
"Yang bener."
"Tapi ya kalau neng Nadin udah lihat adek abang, abang yakin neng Nadin bakallan jatuh cinta ama dia. Mau abang kenallin gak?. Kebetulan dia juga ada disini."
"Hehe, enggak bang. Kenalan saya udah banyak. Lagian kalau nanti dia jatuh cinta sama saya gimana?. Entar yang ada dia sakit hati, karena cintanya saya tolak." Canda Nadin.
"Palingan neng yang jatuh cinta ama dia. Abang yakin."
Buseeeettt.... pede amat nih orang. Emang seganteng apa sih adeknya? Ya walaupun misalnya bener adeknya ganteng, emang dia yakin aku bakallan suka ama dia.
Tidak semudah itu aku jatuh cinta Ferguso. Bisa-bisa nanti ko Panji beneran bawa aku ke tukang jagal kalo aku sampe ngekhiantin dia.
Tapi aku kok jadi penasaran pengen lihat wajah adeknya si bang mandor. Emang yang mana sih adeknya?. Gumam Nadin seraya mengedarkan pandanganya ke arah bangku yang ada di depan warung mak Ebah.
"Noh, adek abang yang pake jaket item." Kata mandor itu mengarahkan telunjuknya ke arah seorang laki-laki berjaket kulit hitam. Nadin tidak bisa melihat wajah orang itu karena dia membelakanginya.
Hah bodo amat lah dia mau ganteng atau enggak. Hanya siluman Panci, my lovely yang selalu dihati. Awwww. Gumam Nadin dalam hati sembari tersenyum sendiri.
"Neng kopi itemnya satu lagi, gak pake gula ya." Kata salah satu teman si mandor tadi.
"Siap bang." Sahut Nadin.
__ADS_1
"Kalau udah, tolong anterin ke bangku sono." Pintanya.
"Oke bang."
"Gak pake lama juga ya neng."
"Gak pake gelas juga ya bang."
"Si neng bisa aja. Kalo gak pake gelas terus pake apa?."
Laki-laki itu kembali ke bangku dimana tadi dia duduk bersama dua orang temannya. Nadin segera membuatkan kopi hitam itu, dan mengantarkannya.
"Ini bang kopinya, silahkan.!! Ucap Nadin
"Makasih neng." Balas lelaki itu.
"Tunggu neng." Lelaki tadi menghentikan Nadin
"Ada apa bang?." Tanya Nadin
"Ini, ada yang mau kenalan katanya." Kata orang itu seraya mengarahkan pandangannya kedepan, tepatnya pada dua orang lelaki yang duduk memunggungi Nadin
"Kenalan?." Nadin menatap laki-laki berjaket dan bertopi hitam yang masih membelakanginya.
"Iya. Katanya dia udah lama suka sama neng Nadin. Dan sekarang datang kesini sengaja mau ketemu neng Nadin."
"Sekarang udah ketemu kan?. Jadi, saya permisi."
"Nah ini dia adek yang saya maksud neng. Ayo dong kenalan." Timpal si mandor yang menghampiri Nadin dan tiga orang laki-laki yang duduk dibangku.
" Ohh ini. Tapi maaf ya, saya harus beres-beres, bentar lagi warungnya akan tutup."
"Ehh mau kemana?. Jangan buru-buru lah. Itu adek abang kan mau kenalan." Mandor itu menghalangi Nadin. Nadin mulai sedikit panik. Dia takut mereka macam-macam kepadanya.
Akhirnya dengan terpaksa, Nadin menuruti mandor itu. Dia berdiri dibelakang laki-laki berjaket hitam tadi, tapi laki-laki itu masih tetap memunggunginya.
"Ayolah, katanya mau kenalan sama gadis cantik ini. Kenapa malah diam saja?." Kata si mandor.
"Sepertinya dia nggak mau kenalan sama aku. Sebaiknya kita pergi saja." Ucap lelaki itu, tanpa berbalik.
Nadin mengernyit, mendengar ucapan lelaki itu. Bukan ucapannya, tapi suaranya. Suara laki-laki itu, iya dia tahu pemiliknya. Nadin menatap punggung laki-laki yang baru saja berbicara.
"Gak usah mandang aku kayak gitu." Ucap lelaki itu, membuat Nadin semakin yakin kalau dia benar-benar orang yang difikirkannya.
Nadin membuka topi lelaki itu. Lelaki itu berbalik menghadap ke arah Nadin, sambil membuka maskernya. Mata Nadin membulat sempurna, melihat lelaki didepannya sekarang.
__ADS_1
"Ko Panji."
TBC.☘️