
Diam-diam, Panji terus memperhatikan Nadin dan laki-laki yang tidak ia ketahui siapa dia sebenarnya. Tapi, dari sikap yang ditunjukkan keduanya, Panji sangat yakin, ada atau pernah terjadi sesuatu diantara mereka.
Panji merangkul pinggang Nadin dengan erat, membuat sang empunya menoleh seketika, menatap sedikit heran, tapi tetap membiarkan apa yang dilakukan Panji kepadanya, karena dia sadar saat ini mereka sedang berpura-pura.
Apalagi wajah Panji terlihat datar, tanpa ekspresi yang menunjukan dia melakukan itu bukan karena dia menyukai Nadin, atau karena Panji genit, bukan, bukan karena itu.
Nadin juga tidak tahu alasan Panji memintanya berpura-pura menjadi pacarnya. Apa karena Panji ingin memanas-manasi seseorang, seperti dirinya saat di mall, atau karena dia malu pergi ke pesta tanpa pasangan?
Entahlah...itu tidak penting sekarang. Yang penting baginya, Panji memang tidak akan menjualnya seperti fikiran bodohnya tadi. Dan yang jauh lebih penting adalah kehadiran Bily, yang membuatnya seperti mati kutu.
Kakinya tiba-tiba terasa begitu berat, dia terpaku ditempatnya, tidak mau terlalu dekat dengan Bily dan orangtuanya.
Acara dimulai, sang master of ceremony, mulai menyapa dan membacakan susunan acara, dan kini adalah waktunya sambutan dari pihak penyelenggara acara. Setelah itu sang mc menyebut nama Panji sebagai tamu kehormatan di acara itu, memintanya memberikan sambutan.
Panji naik ke podium, mengucapkan sepatah dua patah kata sambutan. Melihat Panji sedang berada diatas podium, Jovanka tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dia berjalan dengan tergesa, berniat menghampiri Nadin, namun sayang, Adam menghentikan langkahnya. Dia menghalangi Jovanka, membuatnya sangat kesal.
Keributan kecil yang terjadi dibelakang Nadin, berhasil mencuri perhatiannya. Dia menoleh kebelakang, melihat wajah Jovanka yang kesal dan sedang menatap ke arahnya, dengan tatapan tidak suka.
Nadin yakin, wanita itu cemburu dan marah kepadanya, tapi saat ini dia tidak mempedulikan hal itu, karena yang ada di fikirannya saat ini, hanya Bily.
Walau dia tidak ingin memikirkannya, tetap saja pertemuannya dengan Bily, mengingatkannya pada manis dan pahitnya kenangan yang dia rasakan bersamanya dulu.
Bu Ranti, (ibunda Bily) menatap Nadin dari atas sampai bawah, seolah tak percaya kalau wanita itu adalah Nadin, gadis miskin yang pernah dia hina habis-habissan, dengan tatapan heran, penasaran dan ingin tahu, kenapa seorang Panji yang terkenal dingin dan tidak pernah dekat dengan wanita manapun, bisa datang bersama Nadin, bahkan mereka terlihat sangat mesra.
Nadin mulai tidak nyaman berada disana, kehadiran Bily dan ibunya, juga Jovanka yang sepertinya sangat marah membuatnya ingin cepat keluar dari pesta orang-orang terhormat yang membuatnya muak.
Panji turun dari podium menghampiri Nadin, mengajaknya menyantap hidangan yang disediakan, Nadin menolak, dia tidak ingin apapun, selain pergi dari sana.
"Saya tidak mau makan ko, saya mau pulang. Bolehkan saya pulang sekarang?." Tanya Nadin
"Tidak." Jawab Panji.
"Saya sudah menuruti dan menemani anda. Sekarang tolong ijinkan saya pergi."
"Aku bilang tidak."
"Tapi ko..."
Nadin langsung terdiam, saat melihat tatapan mata Panji yang sangat tajam. Dia tahu Panji tidak suka dan tidak mungkin mengijinkannya pergi dari sana. Diam dan menurut adalah pilihan yang terbaik untuknya.
Panji dan Adam saat ini sedang menikmati hidangan yang sudah disediakan di meja vip, sedangkan Nadin, dia tidak memakan apapun. Sebenarnya dia juga merasa lapar, namun rasa tidak nyamannya mengalahkan rasa laparnya.
__ADS_1
Nadin hanya menatap ke sembarang arah, melihat sekilas orang-orang yang berada di pesta, hingga matanya kembali menangkap sosok Bily yang juga sedang menatap ke arahnya.
Pandangan mereka kembali bertemu dan terkunci beberapa detik, sebelum akhirnya Nadin membuang pandangannya dari Bily, namun sesaat kemudian, dia kembali menatap ke arahnya.
Ternyata Bily masih setia menatap ke arah Nadin. Bara api cinta diantara keduanya sepertinya benar-benar masih menyala.
Nadin beranjak dari duduknya. "Maaf ko, saya permisi sebentar."
"Mau kemana kamu?."
"Saya kebelet ko, mau ke toilet."
"Dam, kamu ikutin dia, jangan sampai dia kabur."
" Hahh??." Ucap Nadin dan Adam bersamaan.
"Yang bener aja lo Ji, masa gue harus ngikutin Nadin ke toilet cewek, gila aja, bisa ilang wibawa gue." Bisik Adam pada Panji.
"Gak ko, saya gak akan kabur. Saya janji. Kalo gak percaya ko Panji boleh ikutin saya ke toilet, sekalian bisa ny*b*kin saya nanti, hehehe."
"Apa kamu bilang?."
"Hehe, gak ko becanda, jangan marah, entar gantengnya pindah ke mas Adam loh."
"Apanya?." Tanya Nadin tak mengerti.
"Saya kasih kamu waktu 5 menit. Kalo kamu tidak kembali dalam waktu lima menit, kamu harus ingat apa yang akan aku lakukan sama bapak dan nenek kamu."
"Iya ko." Sahut Nadin, lalu segera pergi dari sana, mencari letak toilet yang entah dimana. Walau sebenarnya semua itu hanyalah akal-akalannya saja. Dia hanya ingin menghindar dari tatapan Bily, dan juga suasana di pesta itu, yang benar-benar membuatnya sangat tidak nyaman.
Dasar panci bocor, bisanya ngancem aja, menyebalkan.
Setelah bertanya pada salah satu pelayan, akhirnya Nadin menemukan toilet yang dicarinya. Dia masuk, mencuci tangan di westafel, lalu menatap wajahnya dicermin besar yang ada dihadapannya.
Dia tersenyum dalam hati melihat pantulan dirinya yang memang terlihat sangat cantik dan berbeda dari biasanya. Tak heran, malam itu penampilannya banyak mencuri perhatian orang-orang yang ada di pesta.
Kenapa kita harus bertemu disini kak Bily? Dan kenapa kak Bily terus menatapku seperti itu?
Apa mungkin karena penampilanku ini, kak Bily terus menatapku? Atau, dia masih.....aahh sudahlah Nadin, jangan berfikir yang tidak-tidak. Mana mungkin kamu bisa menggapai bintang yang jauh diatas langit.
Kenangan indah bersama Bily, tiba-tiba menari dimata dan fikiranya. Dia merasa merindukan dan ingin mengulang saat-saat itu. Jujur saja, dia memang masih merindukan Bily, cinta pertamanya.
__ADS_1
Air mata Nadin jatuh menetes, membasahi pipinya saat ia ingat bagaimana keluarga Bily menentang dan menghinanya. Kata-kata yang sangat menyakitkan terekam jelas di memori otaknya.
Nadin mengusap air matanya, saat mendengar seseorang membuka pintu toilet. Wanita itu keluar dari toilet, lalu berdiri dibelakang Nadin yang sedang bercermin.
Degggg.....Nadin sangat terkejut, saat melihat pantulan seorang wanita yang berdiri dibelakangnya. Wanita itu menatapnya dengan tatapan curiga, dan seperti merendahkan. Nadin salah tingkah, karena tidak tahu apa yang harus dilakukannya saat itu. Menyapanya atau mengacuhkannya?.
Tadinya Nadin fikir tidak ada siapapun di toilet itu kecuali dirinya, tapi ternyata dia harus bertemu dengan orang yang tidak ingin ditemuinya, tanpa ada siapapun diantara mereka.
Wanita itu, yang tak lain adalah bu Ranti ibunya Bily, menatap Nadin dari ujung rambut sampai ujung kaki, lalu dia berdiri disamping kiri Nadin, mencuci tangannya sambil berkata:
"Kenapa kamu tidak menyapa saya, Nadin? Apa karena sekarang kamu sudah naik kelas?."Tanyanya sinis, dan Nadin diam saja.
"Waah...waahh...waahh hebat kamu ya, setelah gagal mendapatkan anak saya, ternyata kamu bisa mendapatkan mangsa yang lebih kaya dari kami. Saya jadi heran, kok bisa-bisanya orang berkelas dan pintar seperti pak Panji, tergoda sama wanita miskin seperti kamu.
Apa yang sudah kamu lakukan padanya? Jangan-jangan kamu sudah mengguna-gunai dia, atau mungkin kamu sudah.....Ahh sudahlah."
"Sudah apa maksud ibu?."
"Kamu jangan pura-pura tidak tahu, saya yakin kamu mengerti apa maksud saya. Ternyata bener kan firasat saya. Dulu kamu mendekati anak saya, karena harta kan? Kamu hanya ingin morotin Bily kan?.
Saya sudah tahu modus gadis-gadis miskin seperti kamu, yang rela melakukan apa saja demi uang. Tapi untung saja anak saya mau menuruti saya dan tidak termakan rayuan kamu."
"Maaf bu, tapi saya tidak seperti itu. Saya dan kak Bily dulu memang saling mencintai. Dan saya tidak pernah berniat morotin dia."
"Halaah udah deh, gak usah ngeles kamu. Udah jelas ketahuan kok. Tapi saya akui kamu ternyata hebat juga Nadin. Kamu bisa mendapatkan mangsa kelas kakap seperti pak Panji.
Lihat saja penampilan kamu sekarang. Tidak ada seorang pun yang akan menyangka, kalau kamu ini sebenarnya adalah gadis miskin yang berasal dari tempat kumuh menjijikan itu."
"Maaf bu, tapi yang ibu katakan tidak benar. Saya memang miskin, tapi saya tidak serendah seperti apa yang ibu fikirkan."
"Saya tidak percaya. Lagian mana ada maling yang mau ngaku."
"Sebenarnya saya juga tidak peduli apa pendapat ibu, lagipula saya bukan maling. Jadi apa yang harus saya akui?."
"Sudah pintar ngejawab kamu sekarang rupanya."
"Maaf bu, bukan saya tidak sopan, tapi ibu juga sudah keterlaluan menghina saya."
"Kamu berani sama saya? Saya aduin kamu nanti ke pak Panji. Saya akan bilang sama dia kalau kamu itu hanya mau morottin dia."
"Silahkan saja, saya tidak takut. Lagipula saya tidak yakin, kalau dia akan percaya sama ibu. Setahu saya ko, maksud saya pak Panji tidak akan mudah percaya pada orang lain."
__ADS_1
"Hahaha....orang lain kamu bilang? Asal kamu tahu Nadin, pak Panji itu bukan orang lain. Kami ini satu keluarga. Jadi sudah pasti dia akan lebih mendengarkan saya dibandingkan kamu."
"Ehmmm....ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?."Suara seseorang membuat keduanya menoleh. Mereka sama-sama terkejut saat tahu siapa pemilik suara.