
Sudah empat kali hari minggu, Nadin datang ke rumah Panji. Dan selama itu pula, Nadin selalu bisa mengerjakan pekerjaannya dengan cepat, membuat Panji tidak punya alasan untuk memarahinya, padahal dia ingin sekali melakukanya. Karena bagi Panji, memarahi atau bisa membuat Nadin kesal adalah sesuatu yang menyenangkan.
Nadin sudah menyapu, mengepel dan kali ini Panji memintanya memasak kepiting yang masih hidup. Panji fikir Nadin tidak mungkin bisa melakukannya, tapi ternyata dia salah, Nadin bisa melakukannya. Panji tidak kehabisan ide, sekarang dia meminta Nadin mencuci mobilnya.
"Nagin, sekarang kamu cuci mobilku."
"Mobil yang mana pak?."
"Itu." Panji menunjuk mobil mewahnya.
"Baik pak."
"Berapa kali aku bilang jangan pernah panggil aku 'pak'."
"Asal pak Panji jangan panggil saya Nagin lagi, saya juga gak akan panggil pak lagi."
"Kamu tidak punya hak menentangku. Aku ingatkan sekali lagi, jangan panggil aku pak, atau kamu mau aku..."
"Iya baiklah ko." Seru Nadin.
"Teko panci." Gumam Nadin pelan, dan Panji mendengarnya.
"Ngomong apa kamu, Nagin?." Tanya Panji.
"Eng-gak ko, saya nggak ngomong apa-apa."
"Sekarang cepat bersihkan mobil itu. Nih pake ini." Titah Panji sambil menyerahkan sebuah sikat gigi kepada Nadin.
Panji ingin Nadin mencuci mobilnya dengan sikat gigi itu. Nadin tentu saja menolaknya, tapi percuma saja, Panji tidak mendengarkannya. Dan akhirnya, dengan terpaksa, dia pun membersihkan mobil itu dengan sikat gigi, sambil terus menggerutu, dan memaki Panji. Nadin sangat kesal. Sesekali dia menendang mobil mewah Panji yang tidak bersalah.
"Gara-gara kamu, aku harus berurusan dengan si teko panci aluminium itu. Kalau saja waktu itu kamu tidak lewat didepanku, aku nggak akan pernah ngelempar kamu pake batu." Ujarnya.
Tak lama kemudian, Adam datang.
"Hay Nadin!! Lagi ngapain?." Sapanya.
Nadin tidak membalas sapaan Adam, dia hanya meliriknya sekilas.
"Muka kamu kenapa ditekuk begitu? Belum gajian ya?."
Nadin masih tidak menghiraukan Adam, karena dia tahu Adam hanya ingin mengejeknya.
Adam masih saja menggoda Nadin, membuat Nadin semakin kesal.
"Maaf pak Adam, bapak bisa diem nggak sih? Apa pak Adam tidak liat, saya lagi nyuci mobil? Pake nanya segala. Mendingan bapak cepet masuk, temuin tuh belahan jiwanya." Sahut Nadin
"Idiihhh jutek amat. Mau aku bantuin gak?."Tanya Adam
"Kayak yang iya aja. Kalau yang bener mau bantuin, orang tuh biasanya nggak pernah nanya dulu."
"Oke kalau gitu, aku bantuin ya."
Adam ternyata benar-benar membantu Nadin mencuci mobil Panji, hingga pekerjaan Nadin bisa selesai dengan cepat. Nadin sangat berterimakasih dan meminta maaf atas sikapnya tadi.
"Sebagai ucapan terima kasih, saya akan buatkan pak Adam minuman spesial..Pak Adam mau minum apa?."
"Apa aja."
"Kalau gitu saya buatin sekarang."
Mereka berdua masuk ke rumah Panji. Adam menghampiri Panji yang sedang duduk di kursi ruang tengah, sedangkan Nadin ke dapur, membuatkan Adam kopi.
"Lo kenapa pake bantuin dia segala Dam?."Tanya Panji.
"Bantuin siapa maksud lo?."
"Gadis itu. Harusnya lo biarin dia."
"Ohh maksud lo, Nadin? Ya gue sih kasian aja liat dia nyuci mobil pake sikat gigi. Lagian mau sampe kapan sih lo, nyuruh dia kerja disini?."
"Gue gak perlu ngasih tau lo?."
__ADS_1
"Permisi!! Maaf pak Adam, ini saya buatin es kopi buat pak Adam." Ucap Nadin.
"Terima kasih." Sahut Adam.
"Sama-sama pak Adam." Balas Nadin ramah.
"Jangan panggil pak lah, kesannya aku tuh kayak udah bapak-bapak. Panggil kak, atau mas aja."
Kenapa sih pada nggak mau dipanggil pak?.
"Baiklah mas Adam."
Nadin meminta ijin untuk pulang, karena tadi Panji mengatakan Nadin bisa pulang setelah mencuci mobilnya. Panji mengijinkanya.
"Kamu mau pulang sekarang Nadin? Ya udah kamu bareng aja sama kita, kebetulan kita juga mau keluar." Tawar Adam.
"Tidak usah mas Adam, saya pulang sendiri saja."
"Udah bareng aja."
"Tapi saya...." Nadin melirik ke arah Panji.
"Kamu tenang saja Nadin, ko Panji yang baik hati nggak akan keberatan. Iya kan ko?." Tanya Adam.
Panji tidak menjawab iya atau tidak. Dia tidak peduli. Nadin sebenarnya juga tidak mau ikut bersama mereka, tapi Adam memaksanya, dan dia juga memang sedang terburu-buru.
Hari ini Nadin janjian dengan temannya Doni. Mereka akan jalan-jalan ke mall, jam dua siang. Dan sekarang sudah hampir setengah dua siang. Nadin akhirnya memutuskan untuk ikut bersama Adam dan Panji, agar bisa datang tepat waktu.
Nadin duduk di jok depan, disamping Adam, sedangkan Panji duduk di jok belakang. Sepanjang perjalanan, Adam mengajak Nadin mengobrol, dan mulai sedikit akrab.
"Oh ya Nadin, ngomong-ngomong kamu ini ternyata cantik juga. Kamu mau gak jadi pacar aku?." Tanya Adam.
"Enggak ah." Jawab Nadin.
"Kenapa?."
"Emang mas Adam gak takut dimarahi dia?. Saya kan pacarnya dia. Bisa-bisa nanti mas Adam dimutilasi sama dia." Sahut Nadin dengan suara pelan. Ekor mata kanannya melirik sekilas ke arah Panji.
"Emang mas Adam belum punya pacar?."
"Belum."
"Ahh masa sih."
"Sumpah. Makanya kamu kenalin aku dong sama temen atau saudara kamu."
"Kebetulan kalau gitu, saya juga lagi nyari calon buat anggota keluarga saya."
"Oh ya!! Serius?."
"Serius."
"Cantik nggak?."
"Cantik banget, jangan ditanya. Udah gitu dia baik, dan pinter masak lagi."
"Yang bener. Kenalin dong."
"Boleh."
"Dia siapa-nya kamu? Teman, saudara atau..."
"Nenek saya. Dia udah lama sendiri lho mas Adam."
"Apaa?? Nenek kamu?."
"Iya, nenek saya, kenapa nggak mau ya?. Nenek saya cantik lho. Kalau mas Adam mau, nanti kan mas Adam jadi kakek saya."
"Nggak deh, makasih. Kalau aku jadi kakek kamu, bisa-bisa nanti ada berita kakek tiri yang perkosa cucu tirinya."
"Ihh amit-amit." Sahut Nadin.
__ADS_1
Jalanan siang itu lumayan padat merayap. Nadin dan Adam masih mengobrol. Sesekali keduanya saling tertawa, sedangkan Panji mau tidak mau, menjadi pendengar setia mereka. Panji memejamkan matanya tapi dia tidak tidur.
"Oh ya mas Adam, ngomong-ngomong mas Adam udah lama kerja sama ko Panji?."
Adam mengangguk.
"Kok bisa sih, mas Adam tahan kerja lama sama dia." Ucapnya pelan.
"Kenapa ya? Entahlah.." Jawab Adam.
Hening sejenak, tidak ada yang bicara satu orang pun. Karena merasa bosan, Adam menyalakan lagu kesukaanya.
"Mas Adam, boleh kerasin volumenya dikit nggak?."
"Tentu."
Nadin dan Adam tampak menikmati lagu yang yang sedang diputar, dan sesekali mereka ikut menyanyikan lagu itu, lagu Via Valen, adalah lagu yang mereka dengarkan saat itu.
"Kamu suka lagu ini?." Tanya Adam.
"Suka. Semua lagu yang menurut saya enak didengar, saya suka. "Jawab Nadin.
"Sama kalau gitu."
"Oh ya? Berarti selera kita sama dong ya?. Saya nggak nyangka orang kayak mas Adam suka lagu kayak gini."
"Aku suka semua lagu. Hanya ada satu lagu yang aku tidak suka."
"Lagu apa itu?."
"Lagu lama."
Mereka berdua kembali bernyanyi kompak, menyanyikan lagu "bojo galak". Nadin mengganti kata bojo, dengan kata bos. Menurut Nadin, lagu ini sangat pas untuk menggambarkan bos-nya, Panji.
Wis nasibe kudu koyo ngene
Nduwe bojo kok ra tau ngepenake
Seneng muring, omongane sengak
Kudu tak trimo, bojoku pancen galak
Saben dino rasane ora karuan
Ngerasake bojoku sing ra tau perhatian
Nanging piye maneh atiku wes kadung tresno
Senajan batinku ngampet ono njero dodo
Yowes ben, nduwe bojo sing galak
Yowes ben, sing omongane sengak
Seneng nggawe aku susah
Nanging aku wegah pisah
Tak tompo nganggo tulus ing ati
Tak trimo sliramu tekan saiki
Mungkin wis dadi jodone
Senajan kahanane koyo ngene.
"Berisik." Kata Panji setengah teriak, saat mendengar nyanyian Adam dan Nadin.
Mereka berdua langsung terdiam.
Tbc.🌻
__ADS_1
Jangan lupa vote, like, komen dan favoritenya dears🤗