Panji & Nadin

Panji & Nadin
Saya tidak bersalah


__ADS_3

"Lo udah urus Jovanka kan Dam?. Tanya Panji.


"Sesuai perintah lo." Sahut Adam.


"Apa lo udah tau siapa orang yang udah ngirimin video itu ke gue?."


"Gue udah cari tahu, tapi nomornya gak bisa dilacak Ji. Pasti mereka profesional dan sangat cerdik. Sepertinya selama ini mereka terus ngawasin Nadin dan elo.


Cuman yang gue heran, kenapa tuh orang ngirimin videonya ke elo?. Apa maksud dia sebenernya?. Dia mau ngasih tau elo, atau cuman mancing emosi lo aja?."


"Lo cari tau."


Panji diam memikirkan perkataan Adam. Dia menduga-duga siapa sebenarnya yang sudah mengawasi Nadin selama ini. Dia yakin bukan Bily orangnya, karena menurut Panji, Bily tidak mungkin sanggup membayar intel profesional yang bayarannya tentu sangat mahal. Kemungkinan terbesarnya adalah ibu tirinya, bu Soraya. Itulah yang difikirkan Panji.


....


Dirumah Nadin.


Sepulangnya Panji dan Adam dari rumah Nadin, pak Samsudin langsung menanyakan apa yang ingin dia tanyakan pada anak sulungnya. Mak Ebah juga ada disana saat itu.


"Bagaimana Nad?. Apa jawaban orang tua nak Panji?. Apa mereka merestui hubungan kalian?." Tanya pak Samsudin.


Nadin gelagapan. Dia bingung apa yang harus dia katakan kepada bapaknya.


"Kenapa kamu diam saja nak?. Apa jawaban mereka?." Pak Samsudin kembali bertanya.


"Mereka.......mereka..."


"Mereka nggak setuju kan?." Pak Samsudin menyela ucapan Nadin.


"Bapak benar kan? Mereka nggak menyetujui hubungan kalian?."


Nadin tertunduk.


Pak Samsudin menghela nafas panjang melihat anaknya tertunduk lemah dan tak menjawab pertanyaannya. Dia mengerti apa maksud dari bahasa tubuh anaknya itu.


Dia tahu dan sudah menduganya sejak awal, kalau hubungan Nadin dan Panji memang tidak akan direstui oleh kedua orangtua Panji. Alasannya sudah jelas karena perbedaan status sosial diantara mereka yang sangat jauh. Tidak mungkin orang kaya seperti keluarga Panji, mau berbesanan dengan keluarga miskin seperti keluarganya.


"Dari awal bapak memang meragukan hubungan kamu dan nak Panji. Bapak harap kamu bisa mengerti, keadaan keluarga kita dan keluarga nak Panji itu sangat jauh berbeda. Mereka orang yang sangat kaya, sedangkan kita?. Kita hanyalah buruh yang bekerja pada mereka.


Dengarkan bapak, mulai sekarang sebaiknya kamu jangan berharap terlalu banyak pada nak Panji ataupun hubungan kalian. Dan kalau bisa, bapak mau kamu jangan lagi berhubungan dengan nak Panji."


Apaa??


Nadin tersentak mendengar ucapan pak Samsudin. Hatinya sangat sakit dan rasanya ingin menangis saat itu juga.

__ADS_1


"Kamu jangan salah faham sama bapak Nad. Bapak hanya tidak ingin melihat kamu kecewa dan terluka lebih dalam. Kalau orang tua nak Panji tidak memberi restunya pada kalian, mana bisa bapak mengijinkan kamu dan nak Panji menikah.


Bapak tidak mau keluarga mereka sampai berfikir yang tidak-tidak sama kamu ataupun keluarga kita. Bapak harap kamu fikirkan baik-baik apa yang bapak katakan. Bapak sangat menyayangi kamu. Bapak tidak mau melihat kamu terluka." Ujar pak Samsudin sembari mengusap pelan bahu anak gadisnya, lalu dia masuk kedalam kamarnya.


Nadin masih diam ditempatnya. Mak Ebah menatap Nadin penuh iba. Dia mengerti apa yang dirasakan cucunya saat ini. Tapi apa yang dikatakan pak Samsudin memang ada benarnya menurut mak Ebah.


"Sudahlah nak. Sebaiknya kamu istirahat sekarang." Kata mak Ebah.


Sepanjang malam Nadin memikirkan ucapan pak Samsudin. Dia akui semua yang dikatakan bapaknya memang benar. Dia dan Panji memang jauh berbeda. Walau Panji tidak mempermasalahkanya, tapi keluarga Panji jelas-jelas sangat mempermasalahkan perbedaan itu, dan tidak mau merestui hubungan mereka.


Kalaupun seandainya Nadin menuruti Panji untuk tidak memikirkan tentang restu dari calon mertuanya, Nadin takut pernikahan mereka tidak akan bahagia nantinya. Dalam hatinm, Nadin juga tidak mau menikah tanpa restu orangtua, baik itu orangtuanya atau orang tua Panji. Dan jujur saja Nadin juga masih memikirkan ancaman bu Soraya yang terus dia kirim via chat, yang mengganggu fikiranya.


.....


Esoknya.


Ting...tong......Suara bel terdengar nyaring dikediaman bu Laras. Seorang art bergegas menuju pintu untuk membukanya. Art itu nampak terkejut melihat beberapa orang lelaki berseragam berdiri tepat dihadapannya sekarang. Mereka adalah petugas dari kepolisian. Art itu tidak bisa menyembunyikan keterkejutanya.


"Selamat pagi!!


"Se- selamat pagi."


"Apa benar ini kediaman saudari Jovanka?."


"Apa saudari Jovanka ada di rumah?."


"Ada pak. Silahkan duduk, sebentar saya panggilkan." Ujar art yang sepertinya masih kaget dengan kedatangan para polisi itu. Polisi tadi masih berdiri diteras luar.


"Siapa yang datang bi?." Tanya bu Laras.


"Itu nyonya...anu emhhh, ada polisi."


"Polisi?."


"Iya nyonya. Diluar ada polisi yang nyari non Jovanka."


"Masa sih? Emang ada urusan apa mereka nyari Jovanka?."


"Saya ndak tau nyak."


"Kalo gitu cepet kamu panggil Jovanka, saya akan temui mereka." Titah bu Laras lalu dia menghampiri para polisi itu.


"Selamat pagi!! Sapa sang polisi saat bu Laras menghampirinya.


"Pagi.!! Maaf!! Bapak-bapak ini katanya mencari anak saya, betul?."

__ADS_1


"Betul bu. Kami mencari saudari Jovanka."


"Ada urusan apa ya pak?. Kenapa mencari anak saya?."


"Begini bu, kami mendapatkan laporan bahwa saudari Jovanka telah melakukan penyerangan dan penganiayaan terhadap korban atas nama saudari Nadin. Dan kedatangan kami ingin membawa saudari Jovanka ke kantor. Ini surat perintah penangkapannya." Ujar sang polisi sembari menunjukan surat penangkapan Jovanka.


"Apaa?. Nggak mungkin, anak saya nggak mungkin melakukan hal itu. Bapak pasti salah orang."


"Maaf bu. Tapi berdasarkan data dan laporan yang kami terima, anak ibu memang menjadi tersangka utama atas penganiayaan yang dialami oleh saudari Nadin."


"Nggak mungkin pak. Anak saya gak mungkin melakukan perbuatan seperti itu." Sanggah bu Laras.


"Ada apa sih......mah?." Suara Jovanka terdengar samar di akhir kalimat, karena terkejut melihat ada beberapa orang polisi di depan pintu rumahnya.


Saat art memberi tahu ada tamu yang mencarinya, Jovanka tidak bertanya siapa, karena dia yakin yang datang adalah sahabatnya Marisa, karena mereka sudah janjian. Dia tak menyangka yang datang mencarinya ternyata polisi.


"Apa anda yang bernama Jovanka?." Tanya polisi itu.


"Iya betul, saya Jovanka. Ada apa ya pak?."


"Kami mendapat laporan bahwa anda telah melakukan penyerangan dan penganiayaan terhadap saudari Nadin. Dan kedatangan kami kemari ingin membawa anda, ini surat penangkapanya." Polisi menunjukan surat perintah penangkapannya pada Jovanka."Jadi sekarang saudari ikut kami ke kantor."


"Tidak pak. Saya tidak mau. Saya tidak melakukan apa yang bapak tuduhkan." Sangkal Jovanka.


"Sebaiknya anda ikut saja dan jelaskan di kantor."


"Tidak pak, saya tidak mau."


"Sebaiknya anda tidak mempersulit kami, atau anda kami bawa anda dengan paksa. Sehrusnya anda tidak perlu takut kalau anda memang merasa tidak bersalah."


"Tidak pak, jangan bawa anak saya. Anak saya tidak bersalah."


"Maaf bu. Tapi kami tetap harus membawa anak ibu. Dia harus menjelaskan semuanya disana."


Polisi itu membawa Jovanka dengan paksa. Dia sangat menyesal tidak menanyakan siapa tamu yang datang mencarinya. Dan dia juga tidak menyangka sama sekali akan ada polisi yang mencarinya.


Nadin sialan! Berani sekali dia lapor polisi. Awas kamu. Aku akan balas kamu. Kata hatinya penuh emosi.


Bu Laras yang kaget dan panik langsung menghubungi suaminya, menceritakan apa yang baru saja terjadi pada anak semata wayangnya itu. Dia meminta sang suami segera pulang dan menghubungi pengacara.


.


Bersambung....


Ayo tinggalkan jejaknya lagi ya shaayyy🤗

__ADS_1


__ADS_2