
Nadin heran kenapa Adam membawa mobil Panji ke arah berbeda. Ini bukan arah menuju rumah Panji, tapi menuju jalan tol.
"Kita mau kemana sih?. Kok kesini?." Tanya Nadin, saat mereka hampir tiba di gerbang tol.
Panji menjawab pertanyaan Nadin hanya dengan senyumnya.
"Ditanya bukannya jawab, malah senyam-senyum gak jelas gitu. Jawab dong kita mau kemana?." Tanya Nadin, Panji masih tidak menjawabnya.
"Mas Adam, kita mau kemana?."
"Dari Jakarta ke Surabaya, untuk menengok nenek disana, mengendarai kereta malam. Jugijagijugijagijug...." Adam malah bernyanyi.
"Bos sama bawahan sebelas dua belas. Sama aja, dasar." Gerutu Nadin.
"Dasar kau keong racun, baru kenal eh ngajak tidur." Sahut Adam, masih dengan nyanyianya.
"Nah itu bener kata Adam, aku mau ngajak kamu tidur." Timpal Panji.
"Tidur?." Tanya Nadin.
"Iya, tidur." Jawab Panji.
"Kalau mau ngajak tidur kenapa harus jauh-jauh, emang gak bisa disini apa?."
"Serius sayang, kamu mau disini?." Tanya Panji.
"Heeh. Mau ngajak tidur kan? Ya udah ayo tidur, kebetulan udah ngantuk dari kemaren." Kata Nadin lalu dia menyandarkan kepalanya ke bahu sebelah kiri Panji.
Dia memejamkan matanya, karena sebenarnya dia sangat malu melakukan hal itu. Tapi ini lebih baik, daripada dia mendengarkan gombalan dan tatapan Panji yang bisa menggoyangkan imannya.
Panji merangkul lengan Nadin, agar tubuh kekasihnya semakin dekat dengannya. Nadin tersenyum bahagia dalam hati. Dia sungguh merasa nyaman dalam posisi seperti ini, ditambah aroma parfum Panji yang begitu menggoda indera penciumannya, membuatnya semakin tenang dan nyaman.
"Tidur saja kalau kamu memang mengantuk." Titah Panji. Nadin tidak menjawab.
Bagaimana mungkin dia bisa tidur. Matanya memang terpejam, tapi jantung dan hatinya bertalu-talu seperti genderang yang ditabuh berulang-ulang. Seperti bedug mesjid saat takbiran.
Jadi mana mungkin dia bisa tertidur. Dan malah Panji sendiri yang tertidur. Dia juga sebenarnya sangat mengantuk dan mungkin juga kelelahan.
Diih enak bener kalian berdua bisa tidur. Gue? Hemm...nasib. Batin Adam.
Kurang lebih satu jam kemudian mereka sampai di sebuah vila dikawasan puncak Bogor. Panji membawa Nadin ke vilanya.
VILA KACA. Sebuah nama yang Nadin baca digerbang vila itu.
"Ayo, turun." Ajak Panji.
"Ini vila siapa?." Tanya Nadin.
"Udah, ayo turun, jangan banyak nanya. Yang jelas disini aman, gak bakal ada orang yang akan ngelihat aku nyium kamu." Kata Panji.
"Ihhhh." Sahut Nadin sambil mencubit lengan Panji.
Nadin dan Panji turun, menyusul Adam yang sudah turun lebih dulu. Mereka disambut oleh dua orang perempuan yang Nadin taksir usianya mungkin seumuran bi Sum, dan yang satunya mungkin seumuran dengannya atau Irma.
Dan ada satu orang lelaki, seumuran pak Samsudin. Mereka adalah satu keluarga yang menjaga vila tersebut. Panji memperkenalkan mereka pada Nadin.
"Selamat siang den!! Non!! Sapa mereka kompak.
Non?...mimpi apa aku semalam, dipanggil non?
"Siang!! Balas Panji, Adam dan Nadin.
__ADS_1
"Apa kabar semuanya?."Tanya Adam.
"Alhamdulillaah den, kami baik-baik saja. Silahkan masuk den. Istirahat dulu, pasti aden capek."
Adam, Panji dan Nadin lalu masuk ke dalam vila itu. Vila dua lantai yang memang tidak terlalu luas, namun sangat asri dan nyaman.
Panji membawa Nadin duduk di sofa ruang tengah yang menghadap ke halaman belakang.
Dari sana mereka bisa melihat pemandangan dengan leluasa, karena sebagian besar ruangan disana berdinding kaca. Tak heran kalau vila itu dinamai vila kaca. Ada kolam renang yang airnya berwarna biru jernih, sangat menarik perhatian Nadin.
Kalau saja saat ini dia datang bersama keluarganya, Nadin sudah dari tadi menyeburkan dirinya ke kolam itu, walau dia tidak benar-benar bisa berenang.
"Gue mau istirahat dulu ya Ji, gue ngantuk." Kata Adam lalu dia masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di lantai bawah.
"Terserah." Sahut Panji.
"Silahkan den, non." Ucap perempuan yang Nadin ketahui bernama bi Neneng itu. Dia membawa minuman dan makanan hangat yang ada di daerah sana. Ada sekoteng jahe, ketan bakar, kacang bogor juga manisan pala.
"Makasih bi." Sahut Nadin.
"Sama-sama non." Balas bi Neneng.
"Aden mau jagung bakar?. Kalau mau, bibi bakarin sekarang." Tanya bi Neneng.
"Gak usah bi. Ini juga udah banyak. Bibi istirahat saja. Kami disini juga gak lama. Gak akan nginep." Terang Panji.
"Baik den. Kalau gitu bibi permisi."
"Silahkan bi."
Bi Neneng pergi ke belakang, meninggalkan Panji dan Nadin berdua. Dia nampak heran dan terkejut saat tahu Panji datang tidak hanya dengan Adam seperti biasanya.
Panji mulai beraksi. Dia duduk mendekat disebelah Nadin.
"Geser dikit kenapa sih duduknya?. Itu kursi masih kosong kan?." Kata Nadin.
"Suka-suka aku dong mau duduk dimana."Sahut Panji yang semakin mendekatkan dirinya pada Nadin.
"Mau ngapain?. Jangan macam-macam ya?."Tanya Nadin, Panji tersenyum genit.
"Mau ini?." Tanya Nadin menawari Panji sekoteng hangat. Panji menggelengkan kepala.
"Enak lho, cobain nih aaaa." Nadin mengarahkan sendok berisi sekoteng hangat itu pada Panji.
"Enak kan?. Mau lagi?." Tanya Nadin.
"Mau ini." Tunjuk Panji pada pipi Nadin.
"Iya nanti." Sahut Nadin
"Kapan?." Tanya Panji
"Kapan-kapan." Jawab Nadin
"Mau sekarang." Rengek Panji.
"Boleh. Tapi ada syaratnya." Kata Nadin
"Apa?." Tanya Panji.
"Habisin dulu makanan itu." Tunjuk Nadin pada manisan pala.
__ADS_1
"Cuma itu?." Tanya Panji.
"Hemm." Nadin mengangguk.
"Keciiiiilll. Aku habisin sekarang juga. Tapi janji ya, habis itu aku boleh nyium kamu semau aku."
"Janji." Sahut Nadin sembari mengangkat telunjuk dan jari tengahnya.
"Oke. Aku makan sekarang, suappin ya." Pinta Panji.
"Boleh." Sahut Nadin, lalu mengambil manisan pala itu kedalam mangkuk kecil. Dia menyendoknya dan menyuapi Panji.
"Siap-siap aja, bentar lagi aku cium." Kata Panji penuh percaya diri. Nadin hanya tersenyum. Dia sangat yakin Panji belum tahu dan belum pernah memakan manisan pala. Dan dia yakin Panji tidak akan menyukainya.
"Aaaaa' Nadin meyuapi Panji. Manisan itu sudah masuk kedalam mulut Panji. Panji mulai mengunyah dengan senyum percaya dirinya. Namun seketika senyum diwajah Panji berubah saat merasakan sesuatu yang aneh di mulutnya.
Rasa manis, pahit, asam, sepet, juga sedikit pedas dia rasakan bersamaan. Dan semakin lama rasanya semakin tidak enak dimulut. Panji mengambil tisu dan memuntahkanya.
"Manisan apa ini?. Rasanya aneh banget." Tanya Panji, lalu dia minum dengan tergesa.
Nadin tertawa melihat ekspresi Panji.
" Itu manisan pala. Kenapa dimuntahkan lagi sih?. Makan lagi nih aaaa'." Kata Nadin
"Pala? Maksudnya pala bumbu dapur itu?. Enggak, gak mau, rasanya aneh. Aku gak suka. Lagian masa bumbu dapur dibikin manisan?. Aneh-aneh aja sih orang." Sahut Panji.
Tadi Panji mengira itu adalah manisan salak, makannya dia sangat yakin bisa menghabiskan manisan itu. Apalagi dari tampilannya, manisan itu memang sangat menggoda selera.
"Ini daging buah pala. Kalau yang dipake bumbu itu biji pala." Terang Nadin.
"Rasanya gak enak banget. Emang ada orang yang suka?."
"Ya ada dong. Selera orang kan beda-beda zayaaaang. Tadi katanya keciiil. Katanya mau nyium. Masa sama manisan aja kalah. Gak bisa dipegang nih omongannya. Ahhh.......lemah." Ledek Nadin
"Bukan gitu, tapi...."
"Ya udah gapapa kalau gak mau nyium. Aku gak maksa kok." Kata Nadin sembari tersenyum.
Keyakinannya terbukti benar. Panji tidak menyukai dan belum pernah memakan manisan itu.
"Siapa bilang aku gak mau?."
"Kalau gitu, makan dong manisannya."
"Kamu tega nyuruh aku makan manisan itu?.."
"Hehehe."
"Oke. Demi nyium kamu aku makan nih. Bismillaahirahmanirrohiim." Kata Panji lalu memasukkan manisan kedalam mulutnya. Dia memejamkan mata, sembari mengernyit.
Nadin tertawa geli melihat ekspresi Panji yang baru pertama dia lihat. Selama ini Panji sangat jaim, tapi sekarang dia seperti benar-benar telah mengenal Panji yang sesungguhnya.
Aku gak nyangka dia mau lakuin itu demi aku. Ehh tapi apa bener-bener demi aku, atau hanya karena dia pengen nyium aku sih?. Tapi kasian juga dia.
Panji sudah berhasil memakan manisan itu, dan ini sendok keduanya. "Udah. Jangan makan lagi." Kata Nadin, sambil menahan tangan Panji.
.
.
TBC.☘️
__ADS_1