
Panji dan Nadin sudah sampai diarea parkir pembangunan mall Panji. Jam menunjukan pukul tujuh malam saat itu.
"Nadin". Panggil Panji.
"Iya."
"Besok aku akan keluar kota."
"Apa? Keluar kota?. Kemana? Berapa lama?." Tanya Nadin sedikit terkejut
"Surabaya. Mungkin satu atau dua minggu. Jadi minggu depan kamu jangan kerumahku." Jawab Panji
"I-iiiya."
"Aku akan sangat merindukannmu." Kata Panji sembari menggenggam tangan Nadin.
Nadin tersenyum, hatinya menghangat mendengar ucapan Panji barusan. Dia juga pasti akan merindukan Panji. Dia tidak mau Panji ke luar kota, tapi bagaimana mungkin dia bisa melarangnya pergi.
"Kalau gitu cepat kembali, biar kita bisa bertemu dan jalan-jalan lagi." Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Nadin.
"Tentu saja aku akan cepat kembali menemui kamu." Sahut Panji sambil tersenyum manis dan Nadin membalas senyum Panji tidak kalah manis.
Nadin akan membuka pintu mobil, namun Panji kembali memanggilnya. "Nadin!! Ada sesuatu di pipi kamu."
"Apa?." Tanya Nadin sembari memegang dan meraba pipinya.
"Itu, sebelah situ." Kata Panji seraya mengarahkan telunjuknya ke pipi sebelah kanan Nadin.
"Mana ah, nggak ada apa-apa." Sahut Nadin masih mengusap-usap pipinya.
"Ini, sebelah sini." Kata Panji, dan Cuup Panji mengecup pipi Nadin dengan lembut dan mesra, membuat kedua bola mata Nadin membulat, karena terkejut.
Cukup lama Panji mencium pipi Nadin untuk pertama kalinya. Ciuman Panji di pipi Nadin, langsung menembus ke hati dan jantungnya.
Pipi Nadin langsung merona dan terasa panas. Dia sungguh malu, wajahnya pasti sangat merah sekarang, untung saja karena keadaan disana saat ini sudah gelap, Panji tidak akan bisa melihat wajahnya yang merah.
Walau malu, Nadin tidak menampik ada rasa bahagia yang membuncah dalam dadanya, saat ini.
"Maaf ya, aku gak bisa menahan diri untuk tidak melakukannya. Tapi kamu gak usah khawatir Nad, aku gak akan ngelakuin hal yang lebih dari ini. Aku sayang banget sama kamu." Ucap Panji sembari menggenggam tangan Nadin, lalu menciumnya tidak kalah lembut, membuat Nadin semakin melayang, karena ucapan dan perbuatan manis Panji.
Dia tidak tahu Panji mengatakan semua itu dengan tulus atau hanya modus. Yang jelas hatinya sungguh merasa bahagia.
Panji dan Nadin turun dari mobil. Dia akan mengantarkan Nadin sampai ke rumahnya. Nadin mengatakan tidak perlu, tapi Panji tetap akan mengantarkanya sampai rumah.
Panji tidak melepaskan genggaman tangannya dari tangan Nadin, saat mereka berjalan menyusuri gang kecil menuju rumah Nadin.
"Lepaskan ko, nanti ada yang lihat." Ujar Nadin
"Ko?. Kamu mau dicium lagi ya?." Tanya Panji.
__ADS_1
"Enggak." Jawab Nadin.
"Enggak dimulut, tapi dihati bilang iya kan?."Goda Panji.
"Ihh siapa bilang, sok tau banget." Sanggah Nadin.
Panji melepaskan genggamannya saat mereka sudah hampir tiba dirumah Nadin. Kedatangan Panji disambut baik oleh mak Ebah dan pak Samsudin. Apalagi setelah Panji menjelaskan dan minta maaf pada pak Samsudin, karena Nadin pulang malam.
Pak Samsudin berterimakasih pada Panji, karena sudah mengantarkan anaknya pulang, walau dalam hati dia merasa tidak enak, dan merasa heran, kenapa Panji mau mengantarkan anaknya pulang.
Panji pamit, dan berlalu dari sana.
Di jalan gang, Panji berpapasan dengan Irma, yang baru saja pulang nongkrong bersama teman-temannya. Dia dibonceng temannya naik motor, sedangkan Panji berjalan kaki.
Irma menatap laki-laki yang memakai topi dan kaos putih, juga celana jeans dengan postur tubuh tegap dan sangat ideal. Irma seperti mengenal sosok itu, tapi dia tidak tahu siapa. Yang jelas Irma tahu laki-laki itu bukan orang biasa seperti dirinya atau tetangga-tetangganya.
....
Jam sepuluh malam Panji dan Nadin saling berkirim pesan. Mereka berdua tersenyum saat membaca pesan yang mereka terima.
Hampir satu jam lamanya mereka berkirim pesan, hingga akhirnya mereka pun tidur.
Paginya Panji kembali mengirim pesan pada Nadin. Dia pamit karena akan segera berangkat.
Panji bertanya pada Nadin mau dibawakan oleh-oleh apa.
"Saya mau ko Panji segera kembali."
"Iya, makannya cepet kembali ya."
"Kamu serius?. Awas ya, pulang nanti aku tagih sama kamu."
"Iya, tapi jangan lama-lama ya. Nanti keburu lupa."
"Oke, aku gak akan lama. Awas ya pulang nanti, aku cium kamu."
"Hehehe. Iya kalau gak lama disananya. Kalau lama ciumnya batal, atau nggak diwakilkan sama Doni ya."
"Doni? Maksud kamu aku harus nyium siluman belut itu?. Mending aku nyium nenek kamu daripada nyium dia."
"Wkwkwkwk namanya Doni, bukan siluman belut. Tapi beneran mau nyium nenek saya?."
"Enggak lah, mending nyium kamu."
"Udah ah, saya mau kerja lagian saya cuma bercanda tadi. Gak ada acara cium-cium. Yang semangat kerjanya ya dan cepat kembali my lovely❤️."
"Apanya yang becanda?. Pokoknya
pulang nanti, cium, titik."
__ADS_1
Nadin tidak membaca apalagi membalas pesan terakhir yang dikirimkan Panji, karena dia sudah masuk kerja
Walau begitu, senyum Panji mengembang sempurna dibibirnya, karena rasa bahagia yang dia rasakan saat berkirim pesan dengan Nadin.
Rasanya Panji ingin sekali menemui gadis itu sekarang juga, tapi mana mungkin. Dia harus berangkat ke luar kota.
Panji dan Adam sedang menunggu sopir kantor menjemput mereka menuju bandara. Adam memperhatikan Panji yang sedang tersenyum sambil menatap ponselnya.
"Emang ponsel lo, lucu Ji?." Tanya Adam.
"Maksud lo?." Balas Panji.
"Gue perhatiin dari tadi lo senyum terus sambil ngeliatin ponsel. Emang ponsel lo lucu?."
"Bukan lucu lagi Dam, tapi gemessin."
"Masa sih?. Mana coba gue lihat."
"Enak aja lo."
"Alaahh pelit amat sih. Lo berubah sekarang Ji."
"Berubah gimana maksud lo?."
"Semenjak pacaran sama Nadin, lo berubah. Lo nyuekkin gue dan jarang ngajak gue kencan lagi. Gue bener-bener kecewa. Lo tega Ji."Canda Adam
"Ya begitulah Dam, kalau ada bunga yang baru, bunga yang lama ya gue buang. Lu terima nasib aja Dam." Balas Panji.
"Kalau nanti Nadin udah lama sama lo, lo bakallan buang dia juga?."
"Ya enggak lah, Nadin kan bukan bunga. Dia itu separuh hidup gua. Ngerti nggak lo?."
"Ciih bahasa lo. Gue gak nyangka Ji, lo bisa sebucin ini sama Nadin. Dulu aja lo marah-marah sama dia."
"Itu dulu Dam." Jawab Panji.
Adam merasa senang melihat Panji sekarang. Dia selalu tersenyum ceria dan sepertinya sangat bahagia. Wajah dinginnya perlahan mulai menghangat. Adam merasa Panji sudah kembali menjadi Panji yang dulu.
Semua karena kehadiran Nadin. Cintanya kepada Nadin membuatnya kembali menjadi Panji yang dulu.
Benar kata bang haji, cinta bisa menghilangkan rasa sakit dan juga menimbulkan penyakit. Mudah-mudahan rasa sakit yang lo rasakan benar-benar udah ilang Ji. Dan gue doain moga hubungan lo dan Nadin akan selalu membawa kebahagian buat lo berdua. Aamiin...Do'a Adam dalam hatinya.
.
.
**TBC☘️
Hay reader👋 Maaf ya baru sempet up lagi setelah dua hari gak up, karena memang setiap weekend othor gak akan up, karena kesibukan didunia nyata😁.
__ADS_1
Tapi othor akan usahakan up saat weekend, kalau ada waktu senggang.
Makasih buat semua yang selalu setia dan mampir di cerita ini.🙏**