Panji & Nadin

Panji & Nadin
Aku mau putus.


__ADS_3

Bu Soraya sepertinya belum puas menunjukan kekuasaanya pada Nadin. Pagi itu, saat mak Ebah akan membuka warungnya, dia dikejutkan dengan kehadiran beberapa orang lelaki yang sedang mensegel warungnya.


Mak Ebah tak terima, dan protes saat salah satu dari orang itu mengatakan, mak Ebah sudah tidak boleh berjualan disana, karena tanah itu adalah tanah keluarga pak Bahtiar. Mak Ebah sangat shock, dia kembali kerumahnya dengan lemas.


"Ada apa nek?. Kenapa balik lagi?. Apa ada yang ketinggalan?." Tanya Nadin saat berpapasan dengan neneknya dijalan.


"Warung....warung kita Nad?."


"Warung kita?. Kenapa warung kita?. Ada apa dengan warung kita?." Tanya Nadin penasaran, dan cemas, apalagi mak Ebah tidak menjawab dan malah menangis.


Nadin bergegas menuju warung, ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan warung neneknya. Dia sangat terkejut saat melihat warung neneknya sudah tersegel. Nadin menanyakan kenapa orang-orang itu menyegel warung neneknya, dan mereka menjawab seperti apa yang mereka katakan tadi kepada mak Ebah.


Nadin terduduk lemas dibangku warung. Dia semakin merasa bersalah pada keluarganya. Warung ini bukan saja sumber penghasilan mak Ebah, tapi juga separuh hidupnya. Nadin yakin ini semua perbuatan bu Soraya, dan memang benar ini semua perbuatanya.


Saat ini Nadin sedang membaca pesan yang dikirimkan bu Soraya.


"Bagaimana Nadin? Kamu senang kan?. Saya sudah katakan kalau saya tidak main-main. Saya bisa melakukan apa saja pada kamu dan keluarga kamu, kalau kamu tidak mau menuruti saya untuk menjauhi Panji apalagi sampai menikah dengannya.


Saya bisa melenyapkan satu persatu keluarga kamu, kalau kamu tetap bersikeras menikah dengan Panji. Saya tidak main-main dengan apa yang saya katakan. Ingat itu. Jauhi Panji atau keluarga kamu yang akan menanggung akibatnya."


Pesan dari bu Soraya pagi itu, dan kali ini Nadin membalasnya.


Saat Nadin kembali ke rumah, pak Samsudin sedang menenangkan mak Ebah. Dia menyemangati ibunya, dengan mengatakan kalau mak Ebah masih bisa berjualan walau dari rumah.


Pak Samsudin meyakinkan mak Ebah kalau sudah rezeki mereka, pekerja proyek akan datang kesana membeli makanan mak Ebah, walau jarak dari proyek ke rumah mereka lumayan jauh.


Atau para pekerja bisa memesan makanan melalui aplikasi chat, dan pak Samsudin yang akan mengantarkanya bersama Hirlan. Mak Ebah setuju dengan ide pak Samsudin. Dia lalu mulai bersiap-siap memasak dibantu oleh Nadin dan Hirlan.


...


Brakk.......Panji menggebrak meja kerjanya saat mendengar apa yang terjadi pada keluarga Nadin. Dia yakin semua ini adalah ulah ibu tirinya. Panji ingin sekali menemui wanita itu, tapi saat ini dia sedang berada diluar kota karena ada urusan kantor yang mendadak.


Panji meminta anak buahnya terus mengawasi dan menjaga Nadin, karena dia takut bu Soraya bisa saja menyakiti Nadin. Selebihnya dia yang akan mengurus bu Soraya.


Sejak kejadian itu, sikap Nadin kepada Panji mulai berbeda. Dia tidak sehangat dan seceria biasanya saat mereka berkirim pesan, bahkan Nadin sering mengabaikan panggilan dari Panji, saat dia menghubunginya. Panji makin tidak tenang dan ingin segera kembali.


Hari ini Panji kembali, dia mengabarkan kepulangannya pada Nadin dan mengatakan kalau dia akan langsung menemuinya. Nadin melarang Panji datang kerumahnya, karena dia sendiri yang akan datang menemui Panji dirumahnya. Panji sangat senang mendengarnya.


....


Pagi itu Nadin datang ke rumah Panji, diantarkan adiknya Hirlan, tapi Hirlan tidak mau ikut masuk, dan memilih menunggu diluar rumah Panji. Panji menyambut kedatangan Nadin dengan senyum bahagia. Kerinduan jelas terlihat dimatanya.


"Aku sangat merindukanmu sayang." Ujar Panji, seraya memeluk Nadin dengan erat, tapi Nadin tidak membalas pelukan Panji.


"Apa kamu tidak merindukanku?.'" Tanyanya. Nadin hanya memaksakan senyumnya.

__ADS_1


"Ada yang ingin aku katakan." Ujar Panji.


"Aku juga ingin mengatakan sesuatu." Balas Nadin.


"Oh ya! Kalau gitu kamu dulu." Kata Panji.


"Aku datang kesini ingin mengakhiri hubungan kita?. Aku mau kita putus." Ujar Nadin.


"Apa? Putus?. Jangan bercanda sayang."


"Aku tidak bercanda. Aku serius. Aku ingin kita putus."


"Iya, Tapi kenapa?. Apa salahku?."


"Tidak ada alasan atau penjelasan apapun, pokoknya aku mau kita putus, dan mulai hari ini, aku anggap kita sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi. Permisi." Tegas Nadin lalu melangkahkan kakinya menuju pintu, tapi Panji segera mencekal tangan, dan menariknya hingga tubuh Nadin menempel ke tubuhnya. Panji mendekap tubuh Nadin.


"Lepaskan!!"Pekik Nadin, sambil berusaha melepaskan dirinya dari Panji.


"Lepaskan aku. Aku mau pulang."


"Aku tidak akan melepaskan kamu, sebelum kamu bilang kenapa kamu ingin mengakhiri hubungan kita."


"Karena.....karena aku tidak benar-benar mencintai kamu."


"Benarkah?."


"Lalu?."


"Lalu apa?."


"Kenapa kamu mau menerimaku kalau kamu tidak mencintaiku?.'


"Itu....itu karena aku,.....aku......aku nggak mau membayar ganti rugi mobil kamu."


"Benarkah?."


"Iya. Aku tidak mencintai kamu, karena yang aku cintai hanya kak Bily."


"Cukup Nad." Bentak Panji, membuat Nadin tersentak kaget.


"Jangan pernah kamu sebut nama lelaki itu lagi. Aku nggak mau kamu menyebut namanya dengan mulut manis kamu ini. Aku tidak tahu kenapa kamu mengatakan kebohongan ini Nad. Kamu fikir aku percaya dengan semua yang kamu ucapkan tadi, heh?."


"Siapa yang bohong?.'


"Kamu Nad. Kamu yang bohong. Kamu tidak berbakat menjadi pembohong. Aku tahu kamu juga mencintaiku kan? Aku bisa merasakannya."

__ADS_1


"Itu berarti aku memang berbakat, buktinya orang seperti ko Panji saja bisa percaya kalau aku mencintainya padahal sebenarnya..."


"Sebenarnya apa?. Sebenarnya kamu mencintaiku?."


"Tidak, itu bohong."


"Kalau gitu sekarang katakan kalau kamu tidak mencintaiku."


"Aku tidak mencintai kamu. Udah kan?. Sekarang lepaskan aku."


"Tidak akan pernah. Aku tidak mau dan tidak akan pernah melepaskanmu. Kamu itu milik aku, sampai kapan pun kamu milikku."


"Aku bukan milik siapa-siapa?. Aku milik bapakku. Jangan ngaku-ngaku."


Panji terkekeh, mendengar ucapan Nadin, membuat alis Nadin mengernyit melihat kelakuan lelaki didepanya ini yang sepertinya mood nya bisa berubah-ubah dengan cepat. Tadi dia membentak dan membuat Nadin sedikit takut, tapi sekarang dia malah tertawa, bukankah dia ini orang yang sangat aneh.


"Kenapa ketawa? Nggak ada yang lucu."


"Kamu yang lucu. Kamu lucu kalau lagi boong."


"Aku tidak bohong."


"Sekarang tatap mataku, dan katakan kalau kamu tidak mencintaiku."


"Aku tidak mencintai kamu."


"Tatap mataku Nad." Pinta Panji, seraya mengarahkan wajah Nadin ke hadapannya." Ayo katakan."


Nadin menatap mata Panji yang berada tepat dihadapannya. Dia ingin sekali menjauh dari tatapan Panji yang bisa menggoyahkan imannya. Tapi dia harus kuat menahan diri agar tidak larut dan tenggelam dalam tatapan mata indah itu.


"Aku.......aku...." Oh tidak, kenapa dia semakin terlihat lebih tampan, sial.


"Aku?."


"Aku....aku ti-ti....." Nadin belum menyelesaikan kalimatnya, saat bibir Panji menyambar bibirnya dengan cepat, membuat matanya membulat karena terkejut. Panji mencium bibirnya dengan tiba-tiba.


Dia menyesap bibir manis Nadin yang sudah sangat dia rindukan dan sudah menggodanya dari tadi, dengan lembut dan mesra, walau Nadin tidak membalasnya, tapi dia juga tidak menolaknya.


Panji melepaskan pagutanya. Dia tersenyum menatap wajah Nadin yang berubah merah merona, entah karena marah, atau malu.


"Ayo katakan!! Aku apa?. Aku sangat mencintaimu kan?." Kata Panji seraya kembali mencoba mencium Nadin. Tapi Nadin menghindar, walau dalam hati dia juga menginginknnya. Seharusnya dari tadi dia menolak saat Panji menciumnya, bukanya membiarkan dan malah menikmati ciuman Panji, dasar bodoh.


Nadin akui, dia juga merindukan Panji dan juga merindukan ciumannya. Oh tidak, pasti aku sudah gila. Aku datang kesini untuk mengakhiri hubungan kami, bukan merasakan ciumanya.


.

__ADS_1


.


Bersambung....


__ADS_2