Panji & Nadin

Panji & Nadin
Urusan kita selesai kan?


__ADS_3

"Eh Nadin, lama nggak ketemu makin cantik aja." Ucap Adam.


Nadin tersenyum kikuk, karena saat ini dia melihat Panji yang dari tadi terus menatapnya intens, membuatnya risih seperti biasa.


Apa ko Panji segitunya, sampai-sampai dateng kesini?. Ya Tuhan, ternyata orang ini tidak main-main dengan yang dikatakanya. Aku nyesel banget berurusan dengan orang kaya seperti dia. Apa semua orang kaya di dunia ini seperti dia?.


Jangan sampai dia menggusur warung nenekku. Kasihan sekali nenek kalau itu sampai terjadi. Enggak, aku gak akan biarkan itu terjadi. Batin Nadin.


"Ehh malah bengong lagi. Kamu nggak seneng ketemu sama kami, Nad?." Tanya Adam.


Enggak, sama sekali enggak. Jawab Nadin dalam hati


"Hehe." Jawab Nadin pada Adam.


"Duduk." Titah Panji.


Adam menoleh pada Nadin, memberinya kode agar Nadin duduk. Lalu Nadin pun duduk dengan gelisah. Sesekali dia menolehkan pandangannya ke arah warung, karena takut neneknya curiga.


"A-aada apa ko?." Tanyanya ragu.


"Kenapa nomor kamu nggak aktif?." Tanya Panji.


"I-iitu ko, anu saya sekarang gak punya hp, hp saya udah saya jual." Bohong Nadin.


"Oh ya?. Lalu hp siapa yang kamu pegang tadi?."


"Hp, hp yang mana ko?."


"Besok aku tunggu kamu dirumah jam 9.00 pagi, urusan kita belum selesai, ingat itu."Tegas Panji.


"I-iiya baik ko.Saya akan datang. Saya juga mau urusan kita cepat selesai." Jawaban Nadin membuat kening Panji sedikit berkerut.


"Apa saya boleh pergi sekarang?." Tanya Nadin.


"Hemm." Jawab Panji, lalu Nadin kembali masuk ke warung dengan wajah kesal karena kehadiran Panji dan sikapnya yang terasa mengintimidasi dirinya.


Panji dan Adam masih betah disana padahal saat ini sudah hampir jam setengah sebelas malam. Adam meminta mak Ebah membuatkan gorengan dalam jumlah yang cukup banyak, dan meminta Hirlan memberikanya kepada pekerja proyek yang sedang lembur.


Mak Ebah sangat senang karena malam itu dagangannya habis terjual sebelum jam sebelas malam. Itu artinya sebentar lagi mereka bisa menutup warungnya.


Hirlan dan Nadin mulai bersiap menutup warung neneknya. Sesekali dia menatap ke arah Panji yang masih duduk di tempatnya tadi.


Panji yang sepertinya tahu kalau Nadin sedang menatapnya, balik menoleh kearah Nadin dan pandangan mereka berdua bertemu.


Dengan cepat Nadin membuang mukanya.


Panji tersenyum dalam hati melihat wajah terkejut dan wajah kesal Nadin yang terlihat menggemaskan.


"Maaf ya den, warungnya mak tutup dulu.Terima kasih banyak sudah jajan di warung emak. Semoga Tuhan melipat gandakan rezeki aden." Ucap mak Ebah.

__ADS_1


"Aamiin. Do'a yang sama buat emak dan keluarga." Balas Panji.


Hehh...kayak yang iya aja. Kata Nadin dalam hati.


Mak Ebah, Nadin dan Hirlan lalu kembali kerumah mereka, meninggalkan Panji dan Adam yang masih betah berada disana.


Panji tersenyum menatap kepergian tiga orang yang sedang berjalan menuju rumah mereka. Entah kenapa hatinya menghangat begitu saja melihat mereka bertiga. Tak lama kemudian dia dan Adam pulang.


...


Saat ini, ada yang tidak bisa tidur dan tak sabar menunggu pagi tiba. Dia tersenyum sendirian di dalam kamarnya yang sudah gelap. Tidak ada siapapun yang bisa melihat senyum diwajahnya kecuali author✌️.


Dia, siapa lagi kalau bukan Panji yang sedang merasa bahagia, karena tadi dia bertemu dengan Nadin. Tidak hanya itu, besok dia juga bisa kembali bertemu dirumahnya.


Disisi lain, Nadin juga saat ini tidak bisa tidur. Pertemuanya dengan Panji membuyarkan semua rasa kantuknya. Entah apa yang dirasakannya saat ini, yang jelas bukan rasa bahagia seperti yang dirasakan Panji. Dia juga sudah tidak sabar menunggu hari esok, karena dia ingin segera menyelasaikan urusanya dengan Panji.


....


Minggu pagi.


Pagi itu Nadin datang kerumah Panji diantar sahabatnya Doni. Nadin mengajak Doni ikut masuk, tapi dia menolak dan memilih menunggu di depan gerbang rumah Panji.


Tak ingin membuang waktu, Nadin segera masuk menemui Panji yang sudah menunggunya. Saat masuk ke rumah Panji, dia disuguhkan pemandangan yang lain dari biasanya. Rumah Panji yang biasanya tampak rapi dan bersih, pagi itu terlihat kotor dan berantakan.


Kenapa rumah ini berantakan sekali?. Apa tadi ada gempa bumi?. Ah masa bodo, bukan urusanku.


"Akhirnya kamu datang juga. Kamu lihat kan pekerjaan kamu sudah menunggu?." Ujar Panji.


"Tunggu apalagi. Ayo cepat bersihkan." Titah Panji.


"Maaf ko, hari ini saya datang kesini bukan untuk membersihkan rumah ko Panji. Seperti apa yang saya katakan tadi malam, saya datang kesini ingin menyelesaikan urusan kita."


"Apa maksud kamu?." Tanya Panji yang tidak mengerti arah pembicaraan Nadin.


Nadin membuka resleting tasnya, mengeluarkan sebuah amplop coklat lalu menyerahkannya pada Panji.


"Apa ini?." Tanya Panji heran, walau dia tahu kalau isi dari amplop coklat itu pasti adalah uang.


"Itu uang 10 jt yang ko Panji minta pada saya untuk perbaikan mobil ko Panji yang saya lempar batu waktu itu. Saya sudah membayarnya sekarang, jadi hutang saya lunas kan?. Saya tidak perlu datang lagi kesini, dan urusan kita selesai." Jelas Nadin


Panji tercekat. Dia tak percaya dengan apa yang didengarnya, bukan tak percaya lebih tepatnya tidak menerima.


"Sekarang saya permisi." Ucap Nadin, seraya membalikkan badan berniat akan pergi dari sana.


"Tunggu." Suara Panji menghentikan langkah Nadin.


"Siapa bilang urusan kita sudah selesai?. Tidak semudah itu Nadin. Aku tanya sama kamu, kenapa kamu tiba-tiba memberikan uang ini?. Dan dari mana kamu dapatkan uang ini?."


"Sekali lagi saya minta maaf. Tapi saya rasa, itu bukan urusan ko Panji. Yang penting uang itu bukan uang haram. Saya berikan uang ini, karena ingin membayar hutang saya pada ko Panji. Sekarang hutang saya lunas.

__ADS_1


Terima kasih atas kebaikan ko Panji karena memberikan saya waktu untuk membayar hutang saya. Dan maafkan kesalahan saya yang telah merusak mobil mewah ko Panji. Saya rasa urusan kita sudah selesai. Jadi saya tidak perlu datang lagi kesini. Pemisi."


"Aku tidak mau menerima uang ini. Jadi urusan kita belum selesai. Kamu tetap harus datang membersihkan rumahku."


"Apa maksud ko Panji? Ko Panji sendiri yang bilang sama saya waktu itu, kalau saya sudah bisa membayar hutang saya, saya tidak perlu datang lagi kesini bukan?."


"Iya aku memang mengatakannya. Tapi itu dulu. Sekarang peraturannya berbeda. Aku minta kamu bayar 10 jt waktu itu, tapi kamu meminta mencicilnya kan?.


Jadi aku minta kamu tetap mencicil hutang kamu dengan tetap datang kesini satu minggu sekali. Dan ini, aku kembalikan uang kamu. Aku tidak butuh." Ucap Panji, sambil meletakkan amplop coklat tadi ke tangan Nadin.


Ciih...dasar sombong, licik, seenaknya. Apa maksud dia sebenarnya? Pasti dia benar- benar ingin menyiksaku. Siluman Panci sialan. Tidak, aku tidak mau lagi berurusan dengan manusia aluminium ini.


"Tidak ko. Saya mau melunasi hutang saya sekarang, jadi ko Panji terima saja uang ini." Ucap Nadin tak mau kalah, dia menarik tangan Panji, kembali meletakan amplop itu ke tangan Panji, lalu dia berjalan setengah berlari menuju pintu, Panji mengejarnya.


Saat Nadin memegang handle pintu, tiba-tiba Panji menarik tali tas Nadin, membuat tubuhnya mundur, dan tali tas itu putus.


Nadin yang posisi tubuhnya miring pun hampir terjatuh, untung saja Panji dengan cepat menangkap tubuhnya.


Nadin terjatuh dalam pelukan tangan Panji, seperti adegan yang sering dia lihat di drakor yang dia tonton. Dia terkesiap, dan ingin melepaskan dirinya, namun entah mengapa dia seperti kehilangan kekuatannya.


Apalagi melihat wajah Panji yang terlihat lebih tampan, saat dia melihatnya dari jarak dan posisi sedekat sekarang. Tatapan Panji begitu menusuk hati dan dadanya, hanya saja tidak terasa sakit tapi sebaliknya, dia merasakan sesuatu yang aneh dalam hatinya saat beradu pandang dengan Panji kali ini. Pipinya pun memerah, karena malu.


Tak hanya Nadin yang merasakan hal itu, tapi juga Panji. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang saat melihat wajah Nadin tepat dihadapannya. Wajahnya yang cantik dengan pipi yang berwarna merah alami, membuat Panji gemas sendiri, dan ingin sekali menyentuh pipi itu dengan bibirnya.


Aneh, sungguh aneh. Kenapa dia menatapku seperti ini?. Apa dia menyukaiku?. Tidak Nadin, jangan baper dan kegeerran. Ingat, dia orang kaya yang kejam dan tidak suka perempuan. Kata Nadin dalam hati. Dia lalu melepaskan diri dari Panji.


"M-mmmakasih ko." Ucapnya ragu, dan sedikit malu.


"Tas kamu putus, maafkan aku. Aku gak sengaja." Ucap Panji, dengan jantung yang masih bedegup kencang tak karuan.


"Tidak apa-apa." Balas Nadin sedikit salah tingkah dan malu, sembari pura-pura merapikan rambutnya.


"Aku akan mengganti tas kamu."


"Tidak usah ko. Tas saya memang sudah jelek. Ko Panji nggak usah menggantinya. Sa-saya permisi."


"Ini bawa uang kamu. Dan ingat kamu tetap harus datang kesini. Ngerti.!!


"i-i-iiya ,baik ko." Sahutnya, lalu keluar dari rumah Panji. Dia menghela nafas sambil memegang dadanya.


Ya Allah kenapa ini?. Kenapa aku jadi baper gini? Ko Panji bener-bener tampan. Pantas saja nona Jovanka ngejar-ngejar dia.


No Nadin no. Sadar...sadar....sadar. Ahh gara-gara dibaperrin aku jadi nge iyain kemauan dia kan.


Huhh harusnya tadi aku tetep kasih uang ini, bukanya iya iya aja. Bodoh kamu Nadin, bodoh.


Lagian kenapa juga dia harus narik tas aku dan ada adegan jatuh segala sih tadi?. Jadinya gini kan sekarang, ahhhhh. Dialog Nadin dalam hati lalu dia menghampiri Doni, dan pergi ke tempat tujuan mereka.


TBC❤️

__ADS_1


Like, vote dan komentarnya jangan lupa ya🤗


__ADS_2