Panji & Nadin

Panji & Nadin
Bagai burung lepas dari sangkar


__ADS_3

Hari ini ibu sepuh mengatakan pada Nadin, kalau dia sudah mendapatkan suster baru untuk Mikha. Nadin merasa senang sekaligus sedih mengetahui kabar itu.


Tapi mau bagaimana lagi, ini memang tetap akan terjadi, walau dia sangat menyanyangi Mikha, tapi dia juga tidak mau kalau harus terus-terusan tinggal dan menginap dirumah pak Bahtiar.


Menjadi pengasuh, dia harus stand by dan tidak akan punya waktu libur untuk sekedar pergi dengan Doni, apalagi untuk pacaran. Selain itu, dia juga ingin menikmati waktu remajanya, terutama dia tidak ingin lagi bertemu dan berurusan dengan Panji.


Nadin kembali bekerja di konveksi, dan membantu mak Ebah berjualan saat malam. Dia juga bisa pergi bersama sahabat karibnya, Doni, saat mereka sama-sama libur. Saat ini Nadin benar-benar bisa menikmati kehidupan selayaknya remaja seusianya.


"By the way beb si peci sama si koko itu dah tau, kalo iyey sutra gak kerjong lagi di rumanianya?." Tanya Doni pada Nadin yang saat ini sedang makan siang disalah satu foodcourt mall.


"Meneketehe. Lagian bodo amat kalo dia tau. Aku udah gak mau urusan lagi sama dia. Tapi kayaknya dia belum tau tuh. Secara, dia kan belum balik dari luar dunia. Gak usah balik sekalian lebih bagus...hahaaha."


"Luar dunia? Maksud iyey?." Tanya Doni.


"Hehehe...maksudnya luar kota."


"Ohhh, eh beb iyey kenapa sih kok kayaknya sensi binggow sama lekong cakra birawa itu?. Iyey gak pernah ada rasa gituh sama deseu?."


"Maksud iyey ada rasa?."


"Jatuh cintrong lah, iyey fikir rasa apa? Rasa jus melina?."


"Jatuh cinta? Hehh enggak tuh. Iya aku akuin dia emang ganteng, tapi dia bukan tipeku. Apalagi kalau aku inget kejadian dikamar itu, aku jadi rada ilfil sama dia, bukan ilfil sih, aku saskia hetong."


"What to the what what? Iyey ngapain dikamerun sama deseu yeti? Jengong ngemi iyey mau di icip-icip ama deseu?."


"Sembarangan Yeti. Tinta lah, deseu kan tinta sukiyaki pewong centes, deseu itu pemakan sesama jenis."


"Ahh masako?."


"Iyey tahu, ekeu ampe di bentak-bentak ama deseu, gara-gara ekeu bantuin nyomblangin deseu ama pewong centes. Makanya ekeu saskia hetong. Ekeu belum pernah lilit deseu marah dan ngamuk kayak gitu. Makannya ekeu gak mau lagi punya urusan ama deseu.


Btw, Tengkyu ya Don, kamu udah percaya dan mau pinjemin duit segede itu ama aku. Aku janji akan secepatnya balikin."


"Iya sama-sama. Iyey gak usah fikirin. Ekeu seneng bisikan bantu iyey."


"Kamu memang sahabat terbaik sedunia ghoib."


"Dunia ghoib? Setan dong ekeu ah."


Mereka tertawa renyah bersama sambil menikmati makan siang. Nadin benar-benar merasa seperti burung yang baru lepas dari sangkarnya. Selama ini dia jarang keluar kecuali ke rumah Panji, atau pergi bersama Panji yang membuatnya merasa sangat tidak nyaman dan tidak bebas bergerak.


Tapi sekarang dia bisa pergi sesuka hati tanpa bayang-bayang Panji. Walau sebenarnya bayangan Panji selalu mengikutinya, kemanapun dia pergi.Nadin tidak tahu kalau orang suruhan Panji selalu mengawasi dan mengikutinya.


Setelah puas bermain, Nadin dan Doni berniat akan pulang. Saat sampai dilantai dasar, mereka berpapasan dengan Prisa dan Bily.

__ADS_1


Sebenarnya Nadin sudah melihat mereka dari tadi, dan dia berpura-pura tidak melihat, tapi sayangnya, malah Prisa yang sengaja menghampiri Nadin dan Doni.


Prisa menyapa Nadin dan Doni dengan ramah.


Begitu juga dengan Bily, dan Prisa sama sekali tidak curiga. Prisa juga ingat kalau Doni bersekolah di SMA yang sama dengannya, walau mereka tidak saling kenal.


Prisa mengajak Nadin dan Doni nonton, Nadin langsung menolak dan pamit pergi.


"Beb itu...tadi." Ucap Doni ragu.


"Iya, itu kak Bily." Sahut Nadin dengan suara pelan, namun masih bisa di dengar oleh Doni.


"Mereka???."


"Pacaran."


"Yang sabar ya beb."


"Ya sabar lah mau gimana lagi. Lagian aku juga tau diri kok."


"Bukan gitu maksud ekeu beb."


"Iya aku ngerti kok. Lagian dunia gak akan runtuh kan sekalipun kak Bily pacaran sama cewek lain. Aku ikhlas kok. Udah ah jangan bahas soal kak Bily lagi." Pungkas Nadin, lalu mereka pun pulang.


Ditempat berbeda.


Panji dan Adam baru saja menyelesaikan semua urusannya di luar kota, dan hari ini juga mereka akan kembali ke Jakarta.


Langkah Panji terasa dua kali lebih panjang saat ini, membuat Adam sedikit kesal karena dia harus setengah berlari agar tidak ketinggalan oleh bos nya itu.


"Lu mau kemana sih Panji, buru-buru amat?. Penerbangannya masih setengah jam lagi kan."Ujar Adam.


"Siapa yang buru-buru? Lu nya aja yang lelet, jalan udah kayak penyu." Sahut Panji.


Walau saat ini dia masih ada di bandara, tapi dalam hatinya dia sudah tak sabar ingin sampai di Jakarta.


Rencananya dia akan menemui Nadin dan memintanya kembali bekerja dirumahnya setiap hari minggu. Karena selama ini, handphone Nadin tidak pernah aktif. Nadin memang sengaja mengganti nomor hp nya.


Dia sudah tahu tentang Nadin yang sekarang sudah tidak menjadi pengasuh Mikha dan tidak tinggal dirumah pak Bahtiar. Semua itu membuatnya tidak senang.


Apa aku sudah gila? Kenapa aku bisa tidak tenang seperti ini hanya karena gadis itu? Siapa dia? Kenapa dia begitu berani membuat aku seperti ini?. Apa yang menarik dari gadis itu, apa?. Apa istimewanya dia?. Batin Panji.


Jam 7 malam, Panji sampai di Jakarta, dan dia pulang ke rumahnya. Rencananya besok dia akan pergi ke rumah pak Bahtiar menemui Mikha dan semua penghuni rumah itu, juga....Nadin.


Esoknya.

__ADS_1


Hari senin, semua pekerja konveksi kembali beraktivitas seperti biasanya. Hari ini pak Sambaru meminta Nadin menggantikan tugas Anis bagian distribusi yang tidak masuk.


Nadin harus mengecek turun barang dari proses cuting ke proses sewing. Selain itu dia juga harus melayani semua penjahit jika butuh sesuatu, seperti benang atau jarum jahit ataupun komponen lainya yang dibutuhkan untuk proses produksi.


Dan pekerjaanya kali ini memang cukup menguras energi dan fikirannya. Dia harus melayani tukang jahit juga menurunkan barang sesuai putaran yang diberikan pak Sambaru. Kalau dia sampai salah menurunkan barang, bisa dipastikan proses produksi akan terhambat karena tidak akan nyambung dengan po size yang tersedia, dan juga permintaan produksi.


Nadin sedang mengecek ulang barang yang dia terima dari proses cutting, saat bu Ratna berteriak meminta benang jahit. Nadin menghela nafas lalu melangkahkan kakinya menuju tempat penyimpanan benang yang berada dibawah tangga menuju office atau ruangan pak Sambaru.


Dia memberikan beberapa benang jahit, yang dia kira akan cukup sampai jam istirahat tiba, agar dia tidak perlu bolak-balik jika ada yang kehabisan benang. Nadin memberikan benang itu ke beberapa proses, yang dia rasa paling cepat habis benang dan menyuruh tukang jahit itu menyembunyikannya.


"Ini kak, simpen di loker ya buat stok." Kata Nadin.


"Ahh makasih Nadin, kamu pinter juga ternyata."


"Iya sama-sama kak."


Setelah itu dia kembali mengecek turun barang, karena takut tidak sesuai dengan putaran.


Ahh aman.


Nadin bisa bernafas lega setelah dia melihat stok barang yang akan turun ke proses jahit sesuai dengan permintaan produksi. Dia mengembangkan senyum tipisnya, karena merasa sudah sedikit menguasai pekerjaanya.


Namun senyumnya tiba-tiba menghilang seketika, saat dia melihat tiga orang laki-laki yang sedang berdiri kurang lebih 15 meter darinya. Mereka adalah Sambaru, Adam dan Panji yang sedang mengecek hasil produksi dia area packing.


Duuh siluman panci ternyata udah pulang, gawat nih. Aku harus sembunyi, tapi dimana? Ah aku tahu. Gumam Nadin, sembari memundurkan badan, lalu melangkahkan kakinya menuju tempat penyimpanan benang. Dia bersembunyi disana, berpura-pura merapikan tempat penyimpanan benang yang memang berantakan.


Ko Panji ngapain sih pake acara datang kesini segala?. Bukanya sekarang ada ko Wily yang selalu datang kesini?. Atau jangan-jangan dia sengaja datang ingin nyari-nyari kesalahanku biar bisa marahin aku lagi seperti kejadian gunting itu?. Aduuh dia kesini lagi.


Dialognya dalam hati.


Panji, Adam, dan Sambaru saat ini sedang berdiri di meja distribusi tempat Nadin berdiri tadi sebelum dia bersembunyi. Dari sana mereka bisa melihat line mulai dari proses sewing sampai packing.


Sejak Panji masuk ke sana, pandangan matanya langsung tertuju ke tempat dimana Nadin biasanya bekerja, tapi ternyata bukan dia yang ada disana. Mata Panji menjelajah seisi ruangan konveksi, tapi dia tidak juga menemukan sosok Nadin.


Kemana dia?.


Hampir tiga puluh menit Panji dan Adam berdiri disana, mendengarkan penjelasan Sambaru tentang order baru yang sedang dikerjakan di konveksi itu. Walau sebenarnya Panji tidak benar-benar mendengarkan, karena dia masih mencari sosok Nadin, dan selama itu juga Nadin bersembunyi.


Untung saja tadi dia berinisiatif memberikan benang jahit cadangan yang cukup banyak kepada tukang jahit, kalau tidak, pasti saat ini bu Ratna sudah berteriak memanggil namanya untuk minta benang, atau jarum jahit.


Lima menit kemudian, Panji dan Adam keluar karena mereka harus ke kantor. Panji merasakan gondok dihatinya karena dia tidak bisa menemukan Nadin. Padahal saat ini, dia ingin sekali melihat gadis itu.


TBC❤️


Jangan lupa, like, vote dan komentarnya ya🤗

__ADS_1


__ADS_2