
Dimobil Panji.
Adam tersenyum saat melihat pantulan wajah Panji di spion mobilnya.
"Muke lo kenapa kusut begitu bang? Belom disetrika?." Ejek Adam.
"Diem lo." Ketus Panji.
"Galak amat sih bang. Kenapa gak sampai ya? Hahaha."
"Bacot lo."
"Lo kangen ama siluman ular ya?." Celetuk Adam.
"Siapa maksud lo?."
"Siapa lagi? Nadin lah, gak mungkin Jovanka kan?."
"Jangan sok tau lo."
"Hahaha, bilang iya aja kenapa sih Ji?. Sekali-sekali jangan sok jaim kenapa?. Gue tau, lo tadi nyariin Nadin kan?."
"Kalo iya emang kenapa?. Lagian kalaupun gue nyariin dia, itu bukan karena gue kangen sama dia."
"So?."
"So..so..so apa? Baso?."
"Hahahaa.." Tawa renyah Adam yang terdengar seperti sebuah ejekan bagi Panji.
"Diem nggak lu Dam, atau mau gue sunat sampai buntung?." Ancam Panji.
"Oke gue mau, asal lo sunat nya pake gigi lo Ji. Hahahaa."
"Sialan lo." Ucap Panji seraya meninju jok kemudi Adam.
Panji akui, Adam adalah orang yang paling tahu dan mengerti dirinya. Dia memang soulmate sejati bagi Panji. Sepintar apapun Panji menyembunyikan sesuatu, Adam sepertinya selalu bisa menebak dan mengetahuinya.
"Apa lo mau temuin dia nanti pas dia pulang, Ji?." Tanya Adam
"Siapa juga yang mau nemuin dia?." Sahut Panji. Adam tersenyum.
"M-mmmaksud gue, iya kita temuin dia nanti sore." Ralat Panji, membuat senyum Adam semakin lebar.
"Lo denger gue kan Dam?."
"Enggak, gue gak denger." Jawab Adam, sambil tersenyum.
"Gak usah senyum. Gue benci lihat senyum lo." Sinis Panji. Adam hanya menggelengkan kepalanya.
Apa iya lo beneran suka sama Nadin, Ji?. Atau lo cuman mau ngerjain dia aja?. Tapi apa iya Panji bisa jatuh cinta sama Nadin, gadis biasa dan sederhana? Iya gue akuin Nadin emang cantik, tapi .....ah sudahlah ngapain juga gue mikirin hal kayak gitu. Kita lihat saja nanti oke! Dialaog Adam dalam hati.
__ADS_1
Jam 4.30 sore.
Semua karyawan keluar dari gedung, dari mulai bagian cutting dan sewing. Hanya bagian packing yang belum pulang, karena memang jam masuk dan jam pulang mereka berbeda.
Panji dan Adam sudah berada di luar gerbang, menunggu siluman ular keluar, tapi mereka tidak juga melihatnya.
Bahkan Novi, teman Nadin sudah keluar dan dia hanya sendiri. Biasanya Nadin selalu pulang bersamanya. Setengah jam menunggu, tapi Nadin tidak juga keluar.
"Si neng siluman ular kemana ya? Gak tau apa ini Panji petualang sudah nunggu disini, pengen nangkep?." Celoteh Adam.
"Apa mungkin dia lembur Ji?." Tanya Adam yang berdiri diluar mobil. Panji menjawab pertanyaan Adam dengan wajah kesalnya. Adam mengerti. Dia lalu melangkahkan kaki menuju gedung konveksi.
Sesampainya di gedung, Adam melihat beberapa karyawan packing yang masih bekerja, tapi Nadin tidak ada diantara mereka.
"Eh pak Adam kesini?. Pak Adam sendiri? Ko Panji nya mana?." Tanya Sambaru yang sedikit terkejut dengan kedatangan Adam.
"Ko Panji ada diluar. Saya kesini cuma mau nanyain karyawan kamu yang bernama Nadin. Apa dia sudah pulang?."
"Ohh, iya Nadin sudah pulang pak, 30 menit yang lalu. Memangnya ada apa ya pak Adam?."
"Gapapa. Itu anu, saya disuruh bawa dia ke rumah, sama ibu sepuh. Katanya Mikha mau ketemu sama Nadin." Bohong Adam, lalu dia pamit dan keluar dari sana.
"Nadin udah pulang Ji." Kata Adam, saat dia masuk ke dalam mobil.
"Lo yakin?." Tanya Panji memastikan.
"Yakin. Gue tadi juga udah cek ke rumah bokap lo. Gue fikir mungkin dia nemuin bi Sum, tapi gak ada tuh." Jelas Adam.
"Kita kemana sekarang?." Tanya Adam.
"Pulang." Jawab Panji.
"Oke." Sahut Adam, dan mobil pun melaju menuju rumah Panji.
Kenapa dia sepertinya menghindariku?. Batin Panji.
"Oh ya Ji, ngomong-ngomong kenapa sih nomor hp Nadin gak aktif?. Dan kok aneh banget ya, kita gak lihat dia keluar? Padahal jelas-jelas kita nungguin dia dari sebelum semua karyawan keluar. Apa dia lewat gerbang depan?. Atau jangan-jangan dia punya ilmu menghilangkan diri." Kata Adam.
Menurut Panji apa yang dikatakan Adam memang benar. Panji dan Adam menunggu Nadin sebelum jam pulang karyawan, tapi kenapa mereka berdua tidak melihat Nadin keluar. Panji sedikit menyesal karena menyuruh orang suruhannya berhenti mengawasi Nadin.
Mereka tidak tahu kalau sebenarnya Nadin memang sengaja menghindar. Nadin tahu dan sangat yakin Panji akan menunggunya saat pulang kerja, dan semua itu terbukti.
Saat dia keluar dari gedung konveksi, mata Nadin menyelidik ke luar gerbang, dan dia melihat mobil Panji ada disana. Ia pun menjalankan rencana yang sudah ia fikirkan sejak dia berhenti menjadi pengasuh Mikha, dan bekerja lagi di konveksi.
Nadin memakai jaket dan juga topi Hirlan, adiknya. Tas selempang yang biasa ia pakai, dimasukkan ke dalam tas ransel kecil hitam milik Hirlan.
Sore itu Nadin tidak pulang bersama Novi, karena dia pulang bersama temannya yang lain, untuk mengecoh Panji dan Adam, dan rencananya berhasil. Panji dan Adam sama sekali tidak mengenalinya.
Hahhh katanya siluman panci itu punya banyak mata dan jeli, mana buktinya?. Kok dia nggak ngenalin aku?. Hahaa....ternyata aku ini lebih pintar darinya. Ko Panji saya memang ingin bertemu dengan anda, tapi tidak sekarang, saya belum siap. Hahhaaa
Gumam Nadin dalam hati saat dia sudah melewati mobil Panji, dan Adam yang berdiri disamping mobil.
__ADS_1
Hari itu dan juga hari-hari berikutnya Nadin tidak bertemu dengan Panji. Panji juga tidak pernah datang ke konveksi karena dia sangat sibuk dengan pekerjaan kantornya.
....
Sabtu Malam.
Malam ini, malam minggu. Kata orang malam minggu adalah malam yang panjang. Banyak muda-mudi yang pergi berkencan atau sekedar jalan-jalan dengan pasangan masing-masing, termasuk juga Panji yang malam itu pergi dengan pasangan sejatinya, Adam.
"Tumben-tumbenan lo ngajak gue keluar malam minggu Ji. Mau kemana sih kita?."Tanya Adam.
"Baghdad." Jawab Panji cepat.
"Oke, nanti pulang dari sana kita mampir ke Palestine ya." Sambung Adam.
"Mending kita ke sungai Amazon, biar lo gue umpanin sama anakonda." Balas Panji.
"Kalau gitu, lu gue umpanin sama si neng siluman ular, gimana mau?.Hahaha." Balas Adam diiringi tawanya.
Berbeda dengan Adam dan Panji atau orang-orang kebanyakan yang pergi malam mingguan, Nadin dan adiknya saat ini sedang sibuk membantu mak Ebah diwarungnya yang malam ini sangat ramai pembeli.
Para pekerja proyek yang bekerja lembur, sedang istirahat sejenak dan makan malam diwarung sederhana itu.
Nadin dan Hirlan dengan sigap melayani para pembeli, yang memesan nasi rames, mie rebus, gorengan dan kopi. Walau capek, tapi mereka senang karena warung neneknya selalu ramai.
Jam 9. 30 malam, warung sudah tidak terlalu ramai. Hanya ada dua orang pembeli yang sedang menikmati gorengan dan juga dua gelas kopi hitam hangat.
Nadin dan Hirlan bisa sedikit bersantai. Mereka memainkan hp nya masing-masing, untuk mengusir rasa kantuk yang menyerang.
Tak lama kemudian, dua orang datang dan salah satu dari mereka memesan dua gelas kopi. Mereka duduk di bangku kayu yang berada diluar warung. Mak Ebah meminta Nadin membuatkan pesanan tadi dan mengantarkanya.
Nadin menyimpan hp nya, lalu membuatkan kopi itu dan mengantarkan kepada dua orang laki-laki yang sedang duduk dibangku membelakangi warung neneknya. Dia menyimpannya di meja kayu yang berada tepat dihadapan kedua laki-laki itu.
"Ini kopinya, silahkan!!." Ucap Nadin sopan.
"Terima kasih." Sahut salah satu dari mereka.
Deggg....Nadin sangat terkejut saat mendengar suara orang yang baru saja mengucapkan terima kasih. Suara itu tidak asing ditelinganya. Dia mengenal suara itu, tapi apa mungkin?. Fikirnya.
Nadin yang sedari tadi menunduk sopan, langsung mengangkat kepalanya, dan menoleh kearah suara. Demi apapun juga saat ini dia begitu terkejut, mengetahui pemilik suara ternyata benar-benar orang yang dia fikirkan.
"Mas Adam!! Ko Pan-ji!! Kalian disini?." Ujarnya dengan wajah kaget dan sedikit bingung.
Dia tidak percaya Adam dan Panji ada dihadapannya sekarang, dan mereka memesan kopi di warung neneknya.
Mana mungkin orang kaya seperti mereka yang biasa makan dan minum di restoran mewah dan mahal, memesan kopi di warung sederhana, bahkan sangat sederhana seperti warung neneknya. Fikir Nadin saat itu.
Namun tiba-tiba saja, alarm di otaknya bekerja, mengingatkannya pada ancaman Panji saat itu. Dia ingat kalau Panji bisa melakukan apa saja pada keluarganya, dan mungkin saja saat ini Panji ingin menunjukan kalau ancamannya tidak main-main.
TBC❤️
Jangan lupa like, vote dan komennya ya teman-teman🤗
__ADS_1