
"Jadi ini urusan penting, yang kamu maksud itu, Nagin?." Tanya Panji, sambil menatap tajam Nadin dan Doni bergantian, terutama Doni. Panji menatap Doni, penuh selidik dan menduga-duga.
Menurut Panji dan Adam, dilihat dari fisik, Doni memang lumayan tampan, kulitnya juga putih mulus terawat.
"Sapose beb?." ( siapa beb). Tanya Doni, dengan suara pelan tapi Panji masih bisa mendengar Doni memanggil Nadin dengan panggilan beb.
"Gangster." Jawab Nadin pelan.
"Masa gangster cakrabirawa begindang?."(Masa gangster cakep begitu). Sahut Doni
"Kamu belum jawab pertanyaanku?. Ujar Panji.
"Hehehhe..."
Duuh aku harus jawab apa?. Ayo Nadin berfikir-berfikir.
"Tadi kami menghadiri pesta pernikahan sahabat kami ko, iya kan beb?." Kata Nadin, sembari mengedipkan sebelah matanya pada Doni.
"i-iiiya beb, eh ko." Sahut Doni."
"Siapa dia? Pacar kamu?." Selidik Panji.
"Oh iya sampai lupa. Kenalin ko, ini sahabat saya, Doni." Nadin mengenalkan Doni pada Panji dan Adam. Doni menyalami Panji dan Adam, sembari menyebutkan namanya.
"Hay ko!! hay mas Adam!! Kenalkan, saya Doni."
"Doni? Pewangi konsentrat dong kamu." Sahut Adam.
"Itu Do*ny mas, nambore akika Do-ni, nambore panjaitan akika Do-ni-ta." Sahut Doni, menjelaskan. (Nama aku Doni, nama panjang aku Donita)."
Adam tertawa geli, mendengar dan melihat perangai Doni. Dia tidak menyangka, Doni yang mempunyai wajah lumayan tampan itu, ternyata lemah gemulai, dan bertulang lunak.
"Gue gak nyangka, ternyata Doni ini keturunan mas Fatah, alias temennya Lucinta luna."Bisik Adam pada Panji, membuat Panji menjauh dari Doni.
Krucck....krucck... panggilan suara perut Doni, terdengar begitu nyaring, membuat ketiga orang disana menoleh ke arahnya.
"Hehe...maaf." Ucap Doni. "Beb, mekong yuk, lapangan binggow ekeu." (Beb makan yuk, lapar banget aku)." Ajak Doni.
"Oh iya ayuk." Sahut Nadin.
"Maaf ko Panji, mas Adam, kami harus pergi, kami duluan ya. Permisi." Ucap Nadin lalu melangkah pergi meninggalkan Panji dan Adam.
"Apa katanya tadi Dam? Lapangan apa? Mau kemana mereka sebenarnya?." Tanya Panji yang tidak mengerti apa yang diucapkan Doni tadi.
"Kita ikuti saja mereka." Ajak Adam. Lalu mereka mengikuti Nadin dan Doni.
Ternyata Doni dan Nadin pergi ke sebuah foudcourt. Walau tidak mengerti apa yang diucapkan Doni tadi, mereka berdua yakin Doni tadi mengajak Nadin makan.
ihhh kenapa sih mereka ngikutin aku? Gak ada kerjaan lain apa?. Kata Nadin dalam hatinya, saat melihat Panji dan Adam ada di foudourt itu
"Hay Nadin!! Kami boleh gabung?." Tanya Adam.
"Mau bilang gak boleh juga percuma, mas Adam bakalan tetep duduk disini kan?." Sahut Nadin. Tak lama kemudian, dua orang pelayan datang mencatat pesanan mereka.
"Beb, iyey mewong pesen apipa?."(beb, kamu mau pesen apa).Tanya Nadin.
__ADS_1
"Ekeu mewong nasrudin samsara ayam penyet. Minahasanya jus melina." Jawab Doni. (Aku mau nasi sama ayam penyet, minumnya jus melon).
"Mas Adam sama ko Panji mau pesen apa?. Biar sekalian saya catet. Mas Adam sama ko Panji, juga mau jus melina?."Tanya Nadin sembari tertawa kecil.
"Kami udah pesen kok, tadi sebelum duduk."Jawab Adam.
"Oh."
"Beb sapose sih? Iyey kok bisikan kenal samsara duinta lekong cakrabirawa kayangan mereka? Ebongnya ngidam apose ya dulang? kok bisikan punya enong-enong cuco meong kayangan gindang?." Tanya Doni, sembari menatap Adam dan Panji penuh kekaguman.
(Beb, siapa sih? Kamu kok bisa kenal sama dua laki-laki cakep, kayak mereka?. Ibunya ngidam apa ya dulu? Kok bisa punya anak-anak cuco kayak gini?)
"Cakrabirawa sih ember, tapioka deseu sihombing. Iyey lilit ajijah mukadimanya, bikini tekong kan?." Kata Nadin.(Cakep sih emang, tapi dia sombong. Kamu lihat aja mukanya, bikin takut kan?.
"Ember." (Emang)
"Panci ah!!. Hahaa." Sahut Nadin, sambil tertawa. Dia sangat senang melihat wajah Panji dan Adam yang sedang keheranan karena tidak mengerti apa yang sedang dia bicarakan bersama Doni. Untuk pertama kalinya, Nadin bisa melihat wajah bodoh Adam dan Panji.
"Kalian ngomong apa sih?. Kalian dagang perabot dapur ya? Coba tolong kamu translate ke dalam bahasa indonesia."Kata Adam.
"Mas Adam nggak akan ngerti, ini bahasa kalbu mas." Sahut Nadin dengan senyum bahagianya.
"Apa ada kelas khusus, untuk ikutan kursus bahasa kayak kamu tadi Nadin?." Tanya Adam.
"Mas Adam kursus aja sama Doni. Dia pasti dengan senang hati mau mengajari mas Adam, gratis lagi. Iya kan beb?."
"Boleh kakak." Sahut Doni. "Duuh cakrabirawa bengeus sih, jadi pengen belalang satra deh, buat di rumania. Beb, ekeu bolelang bawa polo diana tinta.?" Tanya Doni, matanya menatap ke arah Panji, membuat Panji bergidik.
(Duuh cakep banget sih, jadi pengen beli satu, buat dirumah. Beb aku boleh bawa pulang dia tidak?).
"Jengong yetiii. Yang kayangan gindang mah, buat temanggung tidore ekeu dong.
Panji dari tadi hanya diam, mendengarkan percakapan Nadin dan Doni, sembari sesekali matanya menatap Nadin yang terlihat sangat cantik siang itu. Iya, Panji mengakui Nadin memang cantik dan dia senang menatap wajahnya, apalagi siang itu. Walau dia merasa risih dengan Doni.
"Jengong ngemi. Lilit tuh mataramnya, iyey tinta tekong apa?." Kata Nadin
(Jangan ngomong. Lihat tuh matanya, kamu tidak takut apa?)
"Tinta yeti. Ekeu sukria bengeus. Beb, iyey bisikan tanya samsara diana, pake apose sih diana, kok mukadimanya bisikan putimura dan mulus gitu?."
(Tidak. Beb, kamu bisa tanya sama dia, pake apa sih dia, kok mukanya bisa putih mulus gitu?)
"Iyey ajija tanyain langsung, tekong ekeu." Sahut Nadin. (Kamu aja tanyain langsung, takut aku).
Tak lama kemudian makanan datang, mereka langsung menyantap makanan itu, hingga habis. Nadin dan Doni pamit pada Adam dan Panji.
"Kamu mau kemana sekarang Nadin?." Tanya Adam.
Mas Adam kenapa kepo banget sih?.
"Anu mas, kami mau nyari cd?."
"Cd apa? Lagu,? Atau film?. Kebetulan kalau gitu, kami berdua juga mau nyari cd."
"Heheehe...bukan mas, bukan cd itu, maksud saya, cel*na dal*m." Sahut Nadin berbohong, karena dia tidak mau Adam dan Panji terus mengikutinya.
__ADS_1
"Kamu mau beli cd sama dia?." Tanya Panji.
Duuh ini lagi, panci bocor ikut-ikuttan kepo juga.
"Kenapa? Ko Panji mau ikut?." Tanya Nadin, yang dibalas tatapan tajam oleh Panji. Nadin tersenyum, namun sesaat kemudian dia menunduk, melihat tatapan Panji yang begitu menusuk hatinya.
Nadin tidak tahu, kalau saat ini, Panji sedang merasa gemas padanya, dia tidak marah atau tersinggung sama sekali, mendengar candaan Nadin barusan.
"Ngomong-ngomong, kamu mau beli BH juga , Doni? Eh Donita." Tanya Adam.
"Ahh mas Adam bisikan ajija. Beb, capcus yuk, ekeu tinta kuat, mewong kencana." Ajak Doni. (Ah mas Adam bisa aja. Beb, ayo pergi, aku tidak kuat mau pipis/kencing).
"Mas Adam, ko Panji, kami duluan ya." Ucap Nadin sambil beranjak dari sana. Dia akan pergi dari foudcourt itu."
"Makanan kalian sudah dibayar." Kata Adam, sedikit teriak membuat Doni dan Nadin menghentikan langkah mereka.
"Tararengkyu, kamsyong." Sahut Doni, kegirangan. Tapi tidak degan Nadin. Dia tidak senang seperti Doni. Nadin yang parno, merasa Panji akan menganggap ini menjadi hutangnya.
Dia kembali menghampiri Panji dan Adam yang masih duduk ditempatnya. "Ko Panji nggak akan minta saya mengganti ini kan?."Tanya Nadin. Panji mengernyitkan alis, mendengar pertanyaan Nadin. Awalnya Panji tidak mengerti apa maksud ucapan Nadin, namun seringai jahatnya muncul saat dia mengerti.
"Tentu saja kamu harus membayar ini, Nagin. Kamu berhutang lagi padaku." Sahut Panji.
"Kalau gitu, saya bayar sekarang. Lagian kenapa ko Panji harus membayar makanan kami?. Kami juga punya uang kalau hanya sekedar untuk membayar makanan tadi." Kata Nadin kesal.
"Aku nggak mau dengar alasan apapun, pokonya sekarang kamu berhutang padaku. Kamu tidak harus bayar dengan uang, kamu cukup buatkan aku masakan spesial pake cinta." Ujar Panji, membuat Adam dan Nadin terkejut berjamaah, dan refleks memandang kearahnya.
"Apa? Hahaha..ko Panji nggak salah?." Tanya Nadin, dengan senyum sedikit mengejek.
"Sekarang kamu pergi, bawa teman kamu yang gemulai itu dari sini. Dan ingat kataku tadi. Satu lagi, kamu hutang penjelasan padaku. Aku tahu kalian tidak pergi ke acara pernikahan teman kalian. Aku tahu kamu bohong Nagin." Tukas Panji, membuat Nadin sangat kesal.
"Kalau nggak ikhlas, nggak usah bayarin orang." Sungut Nadin, lalu dia dan Doni lalu pergi dari sana.
Panji memang ikhlas membayar semua makanan Nadin dan Doni. Dia sama sekali tidak berfikir untuk menjadikan itu semua sebagai hutang yang harus dibayar oleh Nadin. Tapi karena Nadin menanyakannya, ide jailnya pun muncul.
Tbc🌻.
Like, vote, dan komenya jangn lupa yes🤗
.
.
.
Btw, ini wajah cantik Nadin siang itu. ( Versi aku).
Dan ini wajah koko Panji, versi aku✌️
Dan ini mas Adam, versi aku😁
__ADS_1