Panji & Nadin

Panji & Nadin
Dipecat


__ADS_3

Hari senin adalah hari yang paling tidak di sukai oleh sebagian atau mungkin juga kebanyakan orang. Mereka merasa malas untuk kembali menjalani aktifitasnya setelah libur dihari minggu.


Itu juga yang Nadin rasakan pagi ini, rasa malas yang luar biasa dia rasakan saat akan berangkat kerja senin pagi itu. Sebelah hatinya berkata, "udah kalau kamu malas mending jangan masuk kerja. Sekali-sekali kan gapapa. Orang lain aja sering tidak masuk, nah kamu mana pernah gak masuk. Jadi kalau gak masuk sehari mah wajar lah. Pak Sambaru pasti maklum."


Tapi sebelah hatinya yang lain berkata, alasan apa yang akan dia katakan pada Sambaru? Dan kalau dia tidak masuk, gajinya pasti akan dipotong.


Gapapa masih ada uang pemberian ko Panji kan?. Tapi ...ah enggak. Aku gak mau pake uang itu. Aku takut.


Setelah berperang dengan dirinya sendiri, akhirnya Nadin memutuskan untuk tetap masuk kerja hari itu, walau rasa malas yang luar biasa masih dia rasakan.


Sepanjang perjalanan menuju konveksi, Nadin terus menyemangati dirinya sendiri. Masih banyak keinginan dan cita-cita yang belum tercapai. Dia harus bekerja keras dan melawan semua rasa malas yang ada pada dirinya.


...


Hari itu, semua karyawan konveksi sudah disibukkan dengan pekerjaanya masing-masing termasuk juga Nadin. Dia sibuk dan fokus memeriksa semua barang jadi sebelum di pakcing.


Saking sibuknya dia sampai tidak menyadari kehadiran kekasihnya yang sudah berdiri dihadapanya, walau Nadin sempat mencium sekilas wangi parfum Panji, tapi karena terlalu fokus, dia melupakan itu.


Panji juga tidak berniat menganggunya, dia datang hanya ingin memastikan kekasihnya itu baik-baik saja, setelah apa yang terjadi kemarin.


Sambaru dan semua leader disana sangat terkejut dengan kedatangan Panji yang tiba-tiba dan masih sangat pagi sekali. Menurut mereka tidak biasanya, Panji datang sepagi ini. Mereka takut mungkin saja ada masalah, atau mungkin juga komplenan dari buyer, hingga menyebabkan Panji datang sepagi ini.


Mereka bisa bernafas lega karena ternyata, tidak ada masalah atau komplenan apapun menurut Panji. Panji beralasan kedatangannya itu hanya ingin memastikan proses produksi berjalan sesuai dengan apa yang dia harapkan.


Sambaru mengerti, walau sebenarnya ada yang mengganjal dihatinya melihat cara Panji menatap Nadin akhir-akhir ini. Tapi dia tidak berani berasumsi apapun, karena dia takut semua itu hanya perasaannya saja.


Tak lama kemudian Panji pun pergi menuju kantornya.


Tak terasa waktu istirahat pun tiba. Semua karyawan cuting dan sewing sedang menikmati makan siang mereka, tapi tidak dengan Nadin dan juga karyawan packing yang masih sibuk bekerja, karena jam istirahat mereka masih lima belas menit lagi.

__ADS_1


Nadin tersentak saat melihat bu Soraya keluar dari ruangan Sambaru. Perasaanya langsung tidak enak dan dia juga takut bu Soraya mungkin saja akan menghampirinya. Tapi itu tidak terjadi. Bu Soraya langsung keluar tanpa menoleh ke arahya. Entah dia tidak mau, atau mungkin dia juga tidak melihat Nadin karena jarak mereka cukup jauh.


...


Nadin dan karyawan packing sudah kembali bekerja setelah baru saja menikmati waktu istirahat mereka. Tiba-tiba Sambaru memanggil Nadin ke ruangannya. Perasaan Nadin kembali tak enak. Hatinya berkata, pasti ini ada hubunganya dengan kedatangan bu Soraya tadi.


Dan apa yang dikatakan hatinya ternyata benar. Pak Sambaru menyampaikan kabar yang tidak menyenangkan. Katanya, mulai besok Nadin tidak boleh lagi bekerja di konveksi itu, dia dipecat, dan hari ini adalah hari terakhir dia bekerja disana.


Nadin sangat terkejut, tapi dia berusaha menutupi keterkejutannya. Dia tidak berkata apapun, karena dia sudah tahu alasannya dipecat itu karena apa.


"Maafkan saya Nadin. Jujur saja saya tidak ingin kamu berhenti bekerja disini. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa, karena itu perintah langsung dari pemilik konveksi ini.


Saya tidak mengerti kenapa mereka ingin kamu berhenti darisini. Padahal saya sudah jelaskan kalau kamu adalah karyawan yang baik dan kerja kamu juga sangat bagus. Saya sudah berusaha mempertahankan agar kamu tetap bekerja disini." Ujar Sambaru


"Iya tidak apa-apa pak, saya mengerti. Dan terima kasih karena pak Sambaru sudah mau berusaha mempertahankan saya untuk bekerja disini. Tapi mungkin bukan rezeki saya bekerja disini. Saya terima keputusan ini." Sahut Nadin.


"Sekali lagi maafkan saya. Saya do'akan semoga kamu bisa lebih sukses diluar sana."


" Tunggu Nadin."


"Iya pak!


"Saya tidak akan mengatakan pada siapapun kalau kamu dipecat. Saya akan katakan kalau kamu mengundurkan diri. Saya harap kamu juga mengatakan hal yang sama pada mereka.


Dan ini gaji kamu bulan ini. Ada sedikit uang perpisahan yang diberikan oleh pak Bahtiar, katanya untuk membalas jasa kamu selama bekerja disini." Kata Sambaru seraya memberikan sebuah amplop warna coklat kepadanya.


"Terima kasih banyak pak." Ucap Nadin.


"Tunggu Nadin."

__ADS_1


"Iya, ada apa lagi pak?." Tanya Nadin sopan dan tenang. Walau hatinya sudah tidak sabar ingin keluar dari ruangan Sambaru.


"Apa saya boleh tahu, ada masalah apa sampai pak Bahtiar ingin kamu berhenti dari sini?." Tanya Sambaru penasaran.


"Saya juga tidak tahu pak. Mungkin saja beliau memang tidak menyukai dan tidak ingin saya bekerja disini." Jawab Nadin, lalu keluar dari ruangan itu.


Air mata yang sudah dia tahan dari tadi akhirnya tak mampu lagi dia bendung. Dia sudah berusaha menahan untuk tidak menangis, tapi tetap saja dia menangis, mengingat kalau dia telah dipecat dari sana. Nadin langsung menghapus air matanya, karena dia tidak mau siapapun tahu kalau dia menangis karena dipecat.


Dia bukanya sakit hati atau tak terima dipecat, karena dia masih bisa mencari pekerjaan lain diluar sana, walau mungkin itu tidak mudah. Saat ini dia hanya merasa menjadi orang terbuang dan tidak diinginkan. Beda sekali rasanya dipecat dengan mengundurkan diri.


Walau dia sendiri tahu alasan dia dipecat itu, bukan karena kinerjanya yang tidak baik, tapi semua ini karena hubungannya dengan Panji.


Sebenci itukah pak Bahtiar dan bu Soraya padaku, karena aku berhubungan dengan anaknya?


Setelah jam kerja berakhir, Nadin berpamitan dan menyalami semua teman-teman kerja, juga para leader disana. Semuanya terkejut saat tahu Nadin berhenti bekerja dengan tiba-tiba, termasuk juga dengan Irma. Dia juga sama terkejutnya, walau dia merasa senang Nadin keluar dari konveksi.


Dia tersenyum senang, namun sesaat kemudian senyumnya memudar, mengingat mungkin saja dia keluar karena pacarnya yang kaya itu yang memintanya. Hatinya kembali terbakar mengingat hal itu.


Dia tahu saudara sepupunya itu berpacaran dengan pria kaya dan tampan, jadi pasti Nadin tidak pelu susah-susah bekerja untuk mendapatkan uang, itulah yang dipikirkan Irma.


Irma semakin penasaran ingin tahu siapa pacar Nadin sebenarnya. Dia tidak mungkin menayakannya langsung pada Nadin, karena hubungan mereka tidak baik.


Dia sudah pernah menanyakannya pada mak Ebah, tapi mak Ebah tidak mau menyebutkan namanya, dengan alasan lupa dan tidak bisa menyebut nama pacar Nadin karena memang namanya susah disebutkan, Irma percaya.


Saat sampai dirumah Nadin mengatakan pada keluarganya, kalau mulai besok dia tidak akan bekerja lagi dikonveksi, dan akan membantu mak Ebah di warung. Tidak ada satu orang pun yang bertanya kenapa, karena merek berfikir, pasti Panji yang menyuruhnya berhenti kerja.


.


.

__ADS_1


Bersambung☘️


Terima kasih buat yang selalu setia dan sudah mampir🙏. Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya🤗


__ADS_2