
Panji tahu ada ada satu karyawan yang selalu mencuri pandang kearahnya. Saat ini dia tidak terlalu mempedulikannya, karena dia sudah terbiasa dengan hal itu. Dia memilih tetap fokus pada apa yang dilakukannya.
Panji melangkahkan kakinya mengamati bagaimana cara kerja karyawannya. Tangan Nadin tiba-tiba gemetar, saat dia tahu Panji sedang memperhatikanya. Nadin takut Panji benar-benar akan mengenalinya.
Panji tersenyum dalam hati saat melihat tangan Nadin gemetar, dia fikir mungkin saja karyawannya itu grogi, karena diawasi langsung olehnya saat sedang bekerja. Dan kini Panji menatap wajahnya, memastikan kalau dia memang baru pertama kali melihat karyawan itu. Sesuai dugaannya, dia karyawan baru.
Pandangan mata Panji kini fokus pada jaket yang sedang dipacking. Dia kemudian mengambil satu jaket, mengeceknya dan dia menemukan masalah disana. Ada jahitan yang menurutnya tidak sesuai dengan standar.
"Sambaru, kenapa jarak jahitan segede ini bisa lolos?. Apa kalian mau kita kehilangan order?."Tanya Panji, dengan wajah datar namun terasa mengintimidasi.
Aura dingin mulai dirasakan oleh pak Sambaru dan bu Ratna. Mereka sadar saat ini mereka ada dalam masalah.
Pak Sambaru mengambil jaket itu, dan mengecek jarak jahitan yang dimaksud oleh Panji.
"Gimana menurut kamu? Apa kamu yakin mau meloloskan jarak jahitan segede itu?." Sarkas Panji.
"Tidak ko Panji." Jawab pak Sambaru takut-takut.
"Mana, saya pinjem alat ukur." Pinta Panji, lalu bu Ratna memberikan alat pengukur jarak jahitan yang dia pegang kepada Panji.
"Satu koma tujuh mili. Kalian tahu, berapa standar jarak jahitan disini?." Tanya Panji.
"Satu koma lima ko." Jawab pak Sambaru dan bu Ratna bersamaan.
"Lalu kenapa ini bisa lolos ke packing?." Tanya Panji lagi.
Mereka diam.
"Panggil qc jahit kesini." Titah panji.
Tak lama kemudian Nina menghampiri dengan wajah takutnya. Dia sudah tahu seperti apa Panji, kalau sudah marah.
"Kamu qc jahit?." Tanya Panji.
"Iya ko." Jawab Nina sedikit gemetar.
"Siapa nama kamu?."
"Nina."
"Apa kamu faham tugas kamu disini apa? Atau kamu tahu apa itu qc?."
"Tahu ko."
"Kalau kamu tahu, kenapa kamu bisa meloloskan jarak jahitan segede ini? Apa kamu mau bikin saya dan kakak saya bangkrut? Apa kamu mau kita kehilangan order, hanya karena masalah jarak jahitan? Kamu tahu kan ini order Jepang?."
Nina menjawab semua pertanyaan Panji hanya dengan anggukan, membuat Panji sangat muak. Sedangkan Nadin, tersenyum dalam hatinya saat dia melihat wajah panik Nina.
"Apa kamu tidak ingin mengatakan sesuatu Nina?."
Nina tetap diam.
__ADS_1
"Oke kalau gitu, Sambaru mulai hari ini, saya tidak mau lihat dia jadi qc lagi. Kamu cari pengganti yang lebih bertanggung jawab dengan pekerjaanya. Dan turunkan gaji dia ke dasar." Sarkas Panji, lalu melangkahkan kakinya menuju line jahit. Bu Ratna kini yang panik, dia takut masih ada penumpukan ditempat Dalis.
Nadin merasa lega saat Panji pergi darisana. Dia yakin, Panji benar-benar tidak mengenalinya. Bagaimana mungkin Panji akan mengenalinya, saat ini semua karyawan memakai masker, celemek dan head cap. Jadi mana mungkin dia akan mengenalinya, fikir Nadin.
"Apa ini bu Ratna? Kenapa ada penumpukan disini?." Tanya Panji.
"Maaf ko Panji!! Dalis, kamu cepettan buang benangnya." Ujar bu Ratna, sambil terus mengomeli Dalis walau dengan suara pelan, tapi Panji masih bisa mendengarnya.
"Saya bertanya pada anda bu Ratna, kenapa ada penumpukan disini? Kenapa anda malah memarahi karyawan anda?."
"Begini ko Panji, dia ini bukan orang yang biasa memegang proses ini, jadi dia keteter."
"Itu bukan jawaban yang saya inginkan. Seharusnya sebagai supervisor disini, anda bisa menghandle masalah seperti ini. Anda bisa kan membalancing proses atau orang supaya tidak terjadi penumpukan? Bukannya membiarkan penumpukan dan memarahi karyawan anda.
Apa anda fikir dengan memarahi karyawan, pekerjaan akan cepat selesai?. Tidak bu Ratna. Sebagai leader disini anda dituntut untuk pintar."
"Baik ko, saya mengerti."
"Kamu bawa saja Nadin kesini, tukeran sama Dalis." Ucap pak Sambaru pada bu Ratna, membuat mata bu Ratna mendelik tajam kearah pak Sambaru. Dia sangat kesal kepadanya, namun dengan segera bu Ratna menyuruh Dalis pindah kebagian packing bertukar posisi dengan Nadin.
Tak lama kemudian, Nadin datang dan mengerjakan pekerjaanya dengan cepat.
Giliran udah numpuk kayak gini, aku disuruh ngerjain. Emmh....sabarlah wahai hati."
Penumpukan di area buang benang sudah tidak ada. Sekarang kerjaan mengalir one piece flow, seperti keinginan Panji. Dia dan Adam pergi dari sana, menuju proyek pembangunan mall di daerah Jakarta Pusat.
Panji senang melihat pembangunan mallnya yang sudah hampir lima puluh persen itu. Setelah dari sana, Panji berniat akan kembali ke kantor, Namun saat Panji melihat jam ditangannya, waktu sudah menunjukan pukul 4.10 sore. "Kita kembali ke konveksi." Ucap Panji.
"Gue nggak suka ngulang kata-kata gue."
"Iya pak panji, saya tahu.Tapi ngapain kita kesana?."
"Gue bosnya disini. Jadi terserah gue, mau pergi kemanapun."
"Oke bos, suka-suka bos aja dah." Sahut Adam.
.....
Panji dan Adam sudah sampai di gerbang belakang konveksi, atau gerbang tempat keluar masuknya karyawan dan mobil yang mengangkut bahan atau barang hasil produksi.
Panji meminta Adam meminggirkan mobil mereka beberapa meter dari gerbang.
"Sebenernya kita mau ngapain sih bos?." Tanya Adam.
"Jangan banyak tanya deh lo. Liat aja nanti."Sahut Panji.
Lima menit kemudian, gerbang terbuka, bersamaan dengan keluarnya para karyawan dari sana. Panji memperhatikan satu persatu karyawan yang keluar dari sana.
"Ikuti motor itu Dam, tapi jangan sampai ketahuan kalau kita ngikutin mereka." Titah Panji.
Adam langsung tancap gas, mengikuti motor matic warna hitam, yang dikemudikan seorang wanita yang membonceng teman wanitanya.
__ADS_1
Mereka memang tidak menyadari kalau ada mobil yang mengikutinya, karena mereka sedang asyik membicarakan turunnya Nina dari jabatan qc menjadi karyawan seperti mereka berdua.
"Akhirnya si Nina dapet balesan yang setimpal ya Nad. Pak Panji langsung lagi yang udah nurunin jabatan dia. Ahh gak kebayang malunya dia tadi."
"Iya kamu bener Nov, setiap perbuatan itu kan pasti akan mendapatkan balasan."
Motor itu berhenti di pinggir jalan raya lalu penumpang turun, dan pengemudi motor itu pergi berlawanan arah dengan penumpang tadi.
Sepertinya dia sedang menunggu angkot. "Cepetan lo bawa gadis itu kemari." Titah Panji.
"Maksud lo, gadis yang baru turun dari motor tadi?."
"Iya."
"Oke."
Adam turun lalu menghampiri Nadin. Kini Adam tahu siapa gadis itu. Dia gadis yang sudah melemparkan batu ke mobil bosnya, beberapa hari yang lalu.
Ternyata mudah sekali menemukan kamu gadis nakal. Batin Adam
"Hay!! Selamat sore." Sapa Adam pada Nadin.
Nadin sedikit terkejut, saat mendengar ada orang yang menyapanya. Dia lebih terkejut lagi, saat tahu siapa yang menyapanya.
Laki-laki ini, bukanya laki-laki yang tadi bersama pak Panji? Ya Tuhan, kenapa dia disini? Perasaanku jadi nggak enak gini. Batin Nadin.
Saat dia melemparkan batu ke mobil Panji, Nadin memang tidak sempat melihat Adam, yang dia lihat cuma Panji, karena Adam ada dibelakang Panji saat itu, jadi Nadin tidak melihat wajah Adam.
"Maaf nona, bisa ikut saya."
"Siapa anda?." Tanya Nadin pura-pura.
"Sebaiknya nona ikut saja. Kalau tidak, saya pastikan nona akan ada dalam masalah."
"Anda mengancam saya?." Tanya Nadin.
"Saya tidak mengancam, hanya mengingatkan, jadi silahkan ikut saya." Sahut Adam.
"Apa saya boleh minta ijin kepada orang tua saya dulu, sebelum saya ikut anda?." Tanya Nadin.
"Jangan bercanda nona, saya tidak main-main dengan ucapan saya tadi."
"Saya juga tidak bercanda. Saya serius. Bolehkan saya minta ijin dulu sebentar, nanti saya kesini lagi."
"Kamu pengen saya cip*k nona?. Ayo ikut sebelum saya cipo*k kamu." Ujar Adam, lalu membawa Nadin masuk ke mobil.
Adam membuka pintu mobil belakang, Nadin masuk dan deggg...... Dia sungguh terkejut saat melihat Panji ada didalam mobil itu.
Duuh mati aku. Batin Nadin.
"Kunci pintunya, Dam." Titah Panji.
__ADS_1
Adam menuruti perintah bosnya. Dia menekan central lock, hingga mobil itu terkunci.