
Minggu ini, Nadin datang lebih awal, karena Panji yang memintanya. Selain membersihkan rumah, hari ini Panji meminta Nadin membuatkan sarapan untuknya. Nadin tidak keberatan, karena Panji juga benar-benar membuktikan ucapannya, anggap saja ini balasan untuk Panji, fikir Nadin.
Jam tujuh tepat, sarapan sudah tersedia dimeja. Panji akan mulai menyantap sarapan paginya. Nadin membuatkannya nasi goreng, yang kelihatannya sangat enak.
"Kamu nggak naruh racun di nasi goreng ini kan?." Tanya Panji.
"Enggak ko. Mana mungkin saya melakukan itu. Kalau ko Panji mau, saya bisa mencicipinya lebih dulu."
"Jadi kamu nyuruh aku makan bekas kamu, gitu?."
"Bukan ko, maksud saya...." Nadin tidak menyelesaikan kalimatnya, saat Panji mengangkat jari telunjuknya, memberi isyarat agar Nadin diam.
Panji mulai menyantap nasi goreng itu, dengan mata yang terus menatap ke arah Nadin, membuatnya sedikit salah tingkah.
Kenapa pak Panji terus menatapku seperi itu? Apa mungkin nasi gorengnya tidak enak?
Nadin memilih pergi dari sana mengerjakan pekerjaan lain, agar pekerjaan hari ini cepat selesai. Selain itu dia juga merasa tidak nyaman dengan tatapan Panji. Tapi Panji melarang Nadin meninggalkannya sendirian, dan malah menyuruhnya duduk.
"Tidak ko, saya...."
"Aku tidak suka dibantah. Sekarang kamu duduk, atau ......"
"ii-iiiiya ko. Saya duduk." Sahut Nadin lalu dia duduk.
"Sekarang kamu sarapan."
"Apaaaa?? Sarapan?." Tanya Nadin tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Panji menyuruhnya sarapan? Apa dia salah dengar? Rasanya sangat mustahil, mengingat selama ini, Panji tidak pernah menawarinya minum apalagi makan. Untuk sekedar minum saja, Nadin harus memintanya lebih dulu.
"Aku tidak suka mengulang kata-kataku, dan lakukan apa yang aku katakan."
Tak ingin cari masalah, Nadin langsung menuruti Panji. Apalagi perintahnya kali ini masuk akal dan berprikemanusian, dan Nadin memang belum sarapan.
Pagi itu, mereka sarapan bersama tanpa ada yang mengeluarkan suara.
Entah apa yang merasukimu pak Panji? Kenapa tiba-tiba mengajakku sarapan? Atau jangan-jangan dia sedang merencanakan sesuatu? Apa dia mau mengerjaiku lagi setelah ini?.
Sampai kapan sih aku harus terus bekerja disini? Aku ingin sekali menikmati hari liburku. Aku rindu libur dihari minggu. Aku merindukan rest areaku, sudah lama aku tidak kesana dihari minggu. Apa aku tanyakan saja ya?. Batin Nadin.
Panji dan Nadin sudah selesai sarapan. Nadin membereskan piring bekas sarapan, membawanya ke bak cuci, lalu mencucinya.
Panji masih duduk di meja makan, memperhatikan Nadin yang sedang mencuci piring, membuat Nadin semakin tidak nyaman dengan tatapan mata Panji, yang seolah sedang menelanjanginya, membuatnya sangat risih.
Kenapa sih, pak Panji ngeliatin aku terus dari tadi? Kalau naksir bilang aja pak, nggak usah mandangin aku terus kayak gitu dong. Atau sini, mau aku cuci sekalian itu mata. Gumam Nadin dalam hatinya.
"Setelah ini, kita ke super market." Ujar Panji tiba-tiba, menyadarkan Nadin dari lamunanya.
"Kita?."
"Iya. Kenapa? Kamu nggak mau?."
"Bukan ko, maksud saya kita, anda mengajak saya ikut?."
"Menurut kamu?." Tanya Panji
"Jangan kegeeran, aku ngajak kamu karena aku pengen kamu belanja bahan makanan yang harus kamu masak buat makan siangku?."Ujar Panji menjelaskan
__ADS_1
"Apaa??." Pekik Nadin. Mata elang Panji seketika menatapnya. Nadin mengerti, Panji tidak suka mendengar teriakannya tadi.
Nadin mengambil langkah seribu, guna menghindari tatapan mata Panji. Dia memilih membersihkan ruang tamu, dan ruang tv. Selama bekerja disana, Nadin memang hanya disuruh Panji membersihkan kedua ruangan itu, juga ruangan yang ada dilantai dua.
Tapi sekalipun dia belum pernah membersihkan semua kamar yang ada disana, kecuali kamar mandi dapur. Ada sebuah ruangan lainya di halaman belakang, Nadin tidak tahu ruangan apa itu, karena setiap dia ada di sana, ruangan itu selalu terkunci dan gordenya juga selalu tertutup. Nadin tidak tahu kalau ruangan itu adalah kamar art Panji.
Jam 9.00 pagi, mereka berangkat, setelah Adam datang menjemputnya. Adam dan Nadin saling bertegur sapa. Mereka sepertinya sudah semakin akrab sekarang. Nadin duduk di depan bersama Adam, dan Panji di belakang seperti biasanya.
"Mau kemana kita hari ini?." Tanya Adam.
"Ke pantai." Sahut Nadin.
"Cuss......otw pantai." Ujar Adam, lalu mobil pun melaju.
Adam dan Nadin mengobrol, dan Panji mendengarkan.
"Din, sebenernya kita mau ngapain sih ke super market?." Tanya Adam
"Bernyanyi." Jawab Nadin sekenanya.
"Hahaha kamu bisa aja."
"Ngomong-ngomong soal nyanyi, aku punya lo lagu buat kamu, kamu mau denger nggak?."
"Hemm...coba."
Terpesona....aku terpesona
memandang...memandang wajahmu yang manis..
"Lumayan. Saya juga punya lagu buat mas Adam, mau denger nggak."
"ya mau lah."
"Oke."
Dudidudi dam...dam...dudidudi dam
Dudidudi dam...dam..dudidudi dam
"Masa lagunya gitu sih Din."
"Jangan panggil Din dong mas Adam, saya nggak suka. Orang tua saya memberi nama saya Na...."
"Gin." Timpal Panji tiba-tiba, membuat Nadin kesal.
"Nadin..ko, bukan Nagin. Nagin itu siluman ular." Protes Nadin
"Berarti kamu siluman ular." Sahut Panji, membuat Nadin semakin kesal.
"Kalau saya siluman ular, berarti anda Panji petualang yang suka nangkep ular itu kan?."Celetuk Nadin.
"Iya kamu benar, aku juga suka membunuh siluman ular." Ujar Panji.
"Dasar Siluman panci ." Gerutu Nadin, membuat Adam ingin tertawa, tapi dia menahannya.
"Kamu bilang apa, Nagin?." Tanya Panji.
__ADS_1
"Saya tidak suka mengulang kata-kata saya." Sahut Nadin, membuat Panji tergugu dan Adam tak bisa menahan tawanya. Menurut Adam, selama ini belum ada yang bisa atau berani pada Panji, seperti Nadin yang selalu bisa membuat Panji kehabisan kata untuk membalasnya.
"Ngomong-ngomong tadi kamu sarapan apa sih Ji, kok tumben-tumbenan lo mau ikut ngobrol ama kita? Biasanya juga lo diem-diem bae." Tanya Adam.
"Kayak gitu kok dibilang ngobrol to mas. Itu tuh namanya ngenyek. Wong iki ganteng, nanging cangkeme kejem." Sahut Nadin.
"Kamu juga sarapan apa tadi, kok jadi bisa ngomong jawa?." Tanya Adam.
"Saya sarapan gudeg tadi." Jawab Nadin.
"Lalu si manusia panci aluminium itu kamu kasih gudeg juga?." Tanya Adam memelankan suaranya.
"Enggak, tadi saya kasih dia susu kuda lumping, makanya sekarang jadi lincah kan dia." Sahut Nadin.
"Hahhhaa....bisa aja kamu Nadin. Coba lain kali kamu kasih kopi dangdut, biar dia ikutan nyanyi dan joget dangdut."
"Nggak ah, besok-besok mending saya kasih dia kopi sianida aja, biar metong, hahaha."
"Hahaha...kejem amat."
"Metong kesombongan sama kekejamannya dia maksud saya mas Adam. Lagian dia seenaknya aja manggil saya Nagin. Orang tua saya jelas-jelas ngasih nama Nadin, pake bubur merah bubur putih lagi, ngeresmiinya, seenaknya aja dia panggil saya Nagin."
Walau Panji dan Adam mengobrol dengan suara pelan dan saling berbisik, tapi Panji masih bisa mendengarnya. Dan anenhya dia tidak merasa tersinggung atau marah, sekalipun Nadin menyebutnya siluman panci. sebaliknya dia tersenyum dalam hati mendengarnya.
Semua yang dikatakan Nadin dengan wajah kesalnya tadi, membuat Panji tersenyum senang dalam hatinya. Panji semakin ingin menggodanya, karena itu selalu bisa membuatnya sangat senang
"Oh iya mas Adam, mas Adam tahu nggak arti nama Nadin itu apa?."
"Enggak. Emang apa artinya?."
"Nadin itu sebenarnya singkatan dari nama kedua orang tua saya. Nama Almarhum ibu saya kan Nana, dan bapak saya Samsudin, jadi mereka menamai saya Nadin, yang artinya Nana Samsudin." Jelas Nadin
"Hahhaa......pinter juga ya orang tua kamu kasih nama. Terus nama adik kamu gimana, apa singkatan juga?."
"Iya. Nama adik saya kan Hirlan, mas Adam tahu nggak artinya apa?."
Adam menggelengkan kepala, tanda tidak tahu.
"Hirlan itu, singkatan dari lahir di jalan." Jawab Nadin
"Hahhhah...kok bisa?."
"Jadi dulu itu, ibu saya melahirkan adik saya dalam perjalan menuju kampung halamannya di jawa, saat usia kandungannya baru menginjak bulan ke tujuh."
"Ohh gitu, tapi menurutku, orang tua kamu keren dan pinter banget cari nama buat anaknya."
"Iya bener mereka memang keren dan orang tua terbaik didunia." Ucap Nadin penuh arti.
Tak terasa, mereka pun telah sampai di super market. Nadin memulai acara belanjanya. Dia membaca catatan belanjaan yang dituliskan Panji tadi. Setelah selesai dengan acara belanjanya mereka pun pulang.
.......
Tbc🌻
Jangan lupa likenya ya🤗
Dan maafkan jika masih banyak keslahan dalam pemilihan kata maupun penulisan.
__ADS_1