
Malamnya Nadin kembali menangis dikamarnya, saat dia teringat pada Bily dan semua yang dia ucapkan tadi sore. Hatinya kembali terluka, apalagi saat dia ingat ucapan Bily kalau dia masih sangat mencintai Nadin.
Dia kembali teringat kenangan indah bersama Bily, cinta pertamanya yang tidak akan bisa dia miliki.
Tok...tok...tok. Suara pintu kamar diketuk seseorang dari luar. Nadin segera menghapus air mata dipipinya, lalu meneteskan tetes mata ke matanya. Dia bercermin, memastikan wajah dan matanya apa sudah tidak terlihat seperti orang yang baru menangis.
Tok...tok...tok...Suara ketukan di pintu kamarnya kembali terdengar.
"Iya, sebentar." Ujar Nadin, lalu melangkahkan kaki menuju pintu, dan membukanya. Dia sangat terkejut saat melihat siapa orang yang mengetuk pintu kamarnya.
"Ko Pan...ji." Ucap Nadin terbata, karena tak percaya Panji yang datang, dan dia mengetuk pintu lebih dulu, tidak seperti kemarin malam yang selonong boy, seenaknya masuk kamarnya. Nadin langsung menunduk dengan perasaan sedikit takut, karena mungkin saja Panji akan memarahinya lagi seperti kemarin malam.
"Apa ada yang bisa saya bantu ko?." Tanya Nadin ragu, sembari mengangkat sedikit wajahnya tanpa berani memandang ke arah Panji yang berdiri tepat dihadapannya.
Panji menjawab pertanyaan Nadin dengan tatapannya yang terus tertuju pada kedua bola mata Nadin yang masih terlihat sembab. Tatapan Panji yang terus menyelidik, membuat Nadin kembali menunduk takut.
Dia takut Panji tahu kalau dirinya habis menangis, walau sebenarnya yang dia takutkan adalah kemarahan Panji. Meski Nadin merasa tidak melakukan kesalahan apapun, tetap saja dia mempersiapkan hati dan menguatkan mentalnya, kalau-kalau Panji datang untuk memarahinya, seperti kemarin malam.
Panji masih menatap Nadin intens, dia sangat yakin, kalau Nadin habis menangis.
"Maaf ko, ada apa ya?." Nadin memberanikan diri kembali bertanya.
"Ikut aku." Sahut Panji, sambil menarik tangan Nadin, membawanya keluar dari kamar, membuat Nadin sangat tersentak.
"Maaf ko, saya mau dibawa kemana? Kenapa anda menarik tangan saya seperti ini? Apa saya melakukan kesalahan lagi?." Tanya Nadin yang tidak Panji jawab walau Nadin terus bertanya padanya.
"Bisa lepaskan tangan saya ko? Saya tidak mau kalau bibi saya atau orang dirumah ini melihat
apa yang ko Panji lakukan. Saya mohon ko!!" Ucap Nadin yang tak dihiraukan Panji. Nadin terus saja merengek memohon Panji melepaskan tangannya, membuat Panji kesal, dan sedikit emosi.
"DIAAAMM!!! Teriak Panji, membuat Nadin tersentak dan terdiam seketika. Dia lebih memilih menurut dari pada menambah masalah, apalagi pikirannya saat ini sedang kacau, dan suasana hatinya juga sedang tidak baik.
Sesekali Nadin menatap kearah wajah Panji yang sepertinya juga sedang memikirkan sesuatu. Entah kenapa walau teriakan Panji barusan membuatnya terkejut, tapi tidak membuatnya merasa takut atau menyakiti hatinya. Sebaliknya dia merasakan sesuatu dalam hatinya, saat dia melihat wajah Panji yang sepertinya juga sedang tidak baik-baik saja.
Ah jangan sok tau kamu Nadin. Guman Nadin dalam hati.
__ADS_1
Panji sendiri tidak mengerti apa yang sedang dirasakan hatinya saat ini. Niatnya datang ke kamar Nadin adalah untuk meminta maaf. Tapi setelah dia melihat mata Nadin yang sembab karena menangis, perasaanya menjadi kacau. Apalagi dia fikir Nadin menangis karena Bily. Karena pertemuan Nadin dengan Bily, dan mungkin saja Nadin masih mencintainya.
Dia tidak bisa memungkiri, kalau semua itu benar-benar mengganggu fikirannya. Tangannya refleks menarik tangan Nadin, dan rupanya Panji membawa Nadin ke kamar Mikha. Nadin masih tidak mengerti kenapa Panji membawanya kesana, karena Mikha sendiri sudah tidur.
"Apa ada yang bisa saya bantu ko? Atau apa saya melakukan kesalahan lagi?." Tanya Nadin takut-takut.
Panji tidak menjawab, hanya menyuruh Nadin duduk di sofa dekat ranjang Mikha, sedangkan dia sendiri berdiri dengan melipat kedua tangan di depan dada, dengan tatapan yang terus tertuju pada Nadin.
Sebenernya kenapa sih dia dari tadi diem dan mandangin aku terus? Sekalinya ngomong teriak, ngagetin. Dan kenapa juga dia bawa aku ke sini?. Non Mikha kan udah tidur. Kalau dia mau marahin aku, dia nggak mungkin bawa aku kesini. Hahhhh ko Panji bener-bener orang yang gak bisa di tebak. Batin Nadin.
Panji memutuskan akan tetap meminta maaf pada Nadin, tapi entah kenapa keberaniannya tiba-tiba lenyap begitu saja dan mulutnya terkunci rapat. Dia ragu, malu dan entah apa lagi yang dirasakannya.
Panji yang pandai dalam segala hal, sepertinya sudah kehilangan kepandaianya menghadapi wanita untuk sekedar mengucapkan kata maaf.
"Kalau aku minta maaf, apa dia tidak akan besar kepala nanti?. Lagian dia nangis juga bukan karena aku, tapi karena Bily."
"Tapi bagaimanapun juga aku sudah terlalu kasar padanya. Aku harus tetap minta maaf."
Perang batin terjadi dalam hati Panji, hingga malam itu pun berlalu begitu saja. Kata maaf tidak juga keluar dari mulut Panji. Malam itu mereka berdua menghabiskan waktu dengan saling diam.
Apa sih maunya orang ini? Kenapa dari tadi dia terus menatapku seperti itu?. Apa jangan-jangan dia akan berbuat macam-macam sama aku?. Oh tidak Tuhan, lindungilah hambamu ini, jangan biarkan dia melakukan hal yang buruk padaku. Doa Nadin dalam hati.
Dia menyangka Panji masih marah kepadanya karena kejadian itu. Ucapan Panji tiba-tiba saja terngiang-ngiang di telinganya, membuat rasa sakit hatinya kembali dia rasakan. Iya dia sakit hati oleh semua ucapan Panji, dan Bily menambah luka hatinya dengan menyiram sakit itu dengan air garam.
"Besok aku akan keluar kota." Ucap Panji tiba-tiba.
Hahhhh....lalu kenapa dia harus bilang padaku?.
"Aku minta kamu jaga Mikha dengan baik. Besok aku dan Adam berangkat pagi-pagi sekali. Aku mau malam ini kamu tidur disini, temenin Mikha."
"I-iya baik ko." Sahut Nadin.
Setelah itu Panji keluar dari kamar Mikha, dengan penuh penyesalan dan terus memaki dirinya sendiri dalam hati yang tidak bisa mengucapkan maafnya pada Nadin. Dia merasa dirinya seperti pecundang. Sedangkan Nadin menghela nafas dengan lega.
Sejak malam itu, Nadin memutuskan benar-benar akan menghindar dari Panji, juga Bily. Bily sering datang ke rumah pak Bahtiar, karena dia ingin bertemu dan berusaha mencari kesempatan agar bisa mengajak Nadin mengobrol.
__ADS_1
Tak hanya Bily tapi juga Jovanka yang selalu datang menemui Mikha dan meminta Nadin membujuk dan meyakinkan Mikha kalau Jovanka itu adalah wanita yang baik dan pantas menjadi istri sekaligus ibu sambungnya.
Nadin mengiyakan permintaan Jovanka, walau dia tidak benar-benar melakukannya. Nadin takut Panji akan mengetahui dan memarahinya lagi. Dia sudah putuskan tidak mau cari masalah dengan Panji.
Apa aku harus berhenti jadi pengasuh Mikha, agar aku tidak selalu bertemu dengan ko Panji?
Ahh iya bener, sepertinya itu ide yang bagus. Kalaupun aku berhenti jadi pengasuh Mikha, toh aku masih bisa bekerja di konveksi dan masih bisa tetep ketemu sama Mikha kan?. Gumam Nadin dalam hati.
Setelah berfikir dan mengumpulkan keberaniannya, akhirnya Nadin mengatakan maksudnya itu kepada ibu sepuh, karena pak Bahtiar belum kembali dari tanah suci, dan rencananya memang pak Bahtiar tidak akan langsung kembali ke rumah, walau ibadah haji mereka telah selesai.
Apalagi saat ini Panji masih di luar kota, dan menurut kabar yang Nadin dengar, Panji tidak akan kembali dalam waktu dekat. Mungkin satu atau dua minggu lagi dia baru akan kembali. Ini adalah kesempatan bagus untuknya.
Ibu sepuh menanyakan kenapa Nadin ingin berhenti menjadi pengasuh Mikha, dan Nadin beralasan dia ingin membantu neneknya berjualan, saat malam hari.
"Apa benar karena itu? Bukan karena Mikha menyusahkan kamu?." Tanya ibu sepuh.
"Tidak bu. Non Mikha tidak pernah menyusahkan saya, dia anak yang baik dan pintar. Jujur saja saya juga senang bisa menjadi pengasuhnya, tapi saya juga kasihan sama nenek saya. Tidak ada yang membantunya berjualan, karena adik saya juga sedang sibuk belajar, sebentar lagi dia ujian di sekolahnya."
"Baiklah. Saya akan cari suster baru untuk Mikha.Tapi sebelum saya mendapat pengganti kamu, saya minta tolong kamu tetap yang menjaga dan menemani Mikha. Dan kamu bisa pulang sebelum maghrib, agar kamu bisa membantu nenek kamu. Kamu nggak keberatan kan?." Tanya ibu sepuh.
"Tentu bu, mana mungkin saya keberatan. Saya sangat berterima kasih atas kebaikan ibu."Ucap Nadin sumringah.
"Tapi kamu sendiri yang harus bilang dan beri pengertian sama Mikha."
"Iya bu."
Setelah mengatakan dan memberi pengertian pada Mikha, mulai sore itu, Nadin tidak lagi harus menginap dan bisa pulang kerumahnya.
Dia sungguh senang bisa tinggal kembali bersama keluarganya, membantu neneknya berjualan dan tidur dikasur butut kesayanganya.
Walau dia tetap harus berangkat pagi, karena tugasnya sebagai pengasuh Mikha belum selesai. Tapi dia senang, setidaknya dia bisa berkumpul bersama keluarganya saat malam hari, dan dia tidak harus bertemu dengan Panji. Apalagi saat ini Panji masih diluar kota, dia benar-benar merasa hidup tenang tanpa bayang-bayang siluman panci.
TBC❤️
Jangan lupa like,vote dan komentarnya ya teman-teman. Biar makin semangant up nya.
__ADS_1
Terima kasih 🤗