
"Apa sepenting itu harta bagi mama, dibanding kebahagian anak mama?
Dia bukan anakku.
"Tentu saja harta itu penting Prisa. Dan mama yakin harta lah alasan Nadin mendekati Panji. Dia ingin menikah dengan Panji, hanya karena hartanya. Biasalah....orang miskin yang ingin naik kelas.
Dan apa kamu tidak malu kalau seandainya memiliki kakak ipar miskin seperti dia?. Apa nanti kata temen-temen mama?. Mau ditaruh dimana muka mama?. Bagaimana pun juga, orang kaya dan orang miskin itu berbeda, dan mama tidak sudi mempunyai menantu dari keluarga miskin seperti Nadin."
"Aku tahu Nadin memang miskin, tapi mama gak perlu juga menghina dia habis-habisan kan mah?. Mama juga harus fikirin perasaanya. Setiap orang itu tidak mau dilahirkan dan hidup dalam kemiskinan, termasuk Nadin, tapi nasib dan takdir setiap orang itu berbeda-beda.
Ingat mah, roda bumi berputar. Siapa tahu, suatu hari dia ada diposisi kita, dan mungkin kita yang ada diposisi Nadin."
"Kamu jangan Bela dia Prisa, kamu itu anak mama, seharusnya kamu dukung mama. Dan apa tadi kamu bilang?. Kita di posisi gadis miskin itu? Hahhh gak mungkin lah itu. Kamu tahu harta kekayaan papa kamu tidak akan habis sampai tujuh turunan. Jadi itu gak mungkin terjadi."
"Jangan takabur mah. Dan aku tidak bermaksud membelanya. Aku hanya tidak ingin mama bersikap keterlaluan kayak tadi. Bagaimana kalau seandainya aku juga mencintai dan ingin menikahi pria yang bukan dari keluarga kaya? Apa mama juga akan menentang hubunganku?."
"Tentu saja mama akan menentangnya. Kamu itu cantik Prisa. Jadi kamu bisa dapettin lelaki kaya dan tampan." Sahut bu soraya. Prisa memilih pergi kamarnya. Rasanya percuma saja berbicara dengan ibunya.
"Aku nggak mau tahu pah. Pokoknya kamu jangan biarkan Panji menikahi gadis miskin itu, jangan sampai!! Jangan sampai pernikahan itu terjadi. Panji harus menikah dengan Jovanka." Ujar bu Soraya.
Pak Bahtiar tidak merespon ucapan istrinya, karena masih sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan Panji.
"Pah?. Papa denger mama ngomong kan?." Tanya bu Soraya.
"Iya papa denger. Tapi bagaimana bisa kita melarang Panji, kamu tahu sendiri bagaimana dia kan?." Sahut pak Bahtiar.
"Pah, kamu ini papa kandungnya. Seharusnya kamu bisa bersikap tegas pada anak kamu itu. Kalau perlu kamu ancam dia. Kamu bilang kamu akan coret namanya dari daftar ahli waris." Saran bu Soraya. Pak Bahtiar diam.
"Kenapa diam pah?. Kamu nggak mau?."
"Ada sesuatu yang tidak kamu ketahui mah."
"Apa?."
"Semua harta kekayaan ini adalah peninggalan almarhumah Rika, termasuk perusahaan, mobil, deposito, vila dan juga rumah ini."
"APAAAAA??." Bu Soraya terkejut. Apa maksud papa?."
"Seperti yang kamu denger mah, semua ini adalah peninggalan Rika. Kamu tahu sendiri kan kalau almarhum orang tua Rika itu adalah orang yang terkenal sangat kaya raya. Dan karena Rika adalah anak tunggal, semua harta warisan orangtuanya diberikan padanya.
Jauh sebelum Rika meninggal, dia sudah mewasiatkan semua hartanya atas nama Wily dan Panji. Jadi aku tidak mungkin bisa melakukan apa yang kamu minta."
"Apaaa?. Enggak...mama gak percaya. Papa pasti bohong. Papa cuma nyari alesan supaya karena papa gak berani ngancem Panji kan?."
__ADS_1
" Papa nggak bohong mah."
"Kalau gitu mana surat wasiatnya?. Mama pengen lihat."
" Nggak bisa mah, suratnya ada di pak Lubis, pengacara kepercayaan Rika."
"Apa kamu nggak punya copy-anya?."
"Panji dan Wily saja yang punya copy-anya."
"Lalu kekayaan apa yang kamu punya pah?." Tanya bu Soraya
"Sebenarnya papa tidak punya apa-apa. Dulu, papa adalah orang kepercayaan almarhum papanya Rika. Beliau sangat baik dan sangat menyukai papa. Beliaulah yang menjodohkan papa dengan Rika, hingga akhirnya kami menikah. Maafkan papa, karena baru mengatakanya sekarang."
"Jadi papa itu tidak punya apa-apa, gitu maksudnya?."
"Iya. Hanya mobil hitam yang selalu papa bawa lah satu-satunya harta papa. Mobil itu, adalah hasil kerja keras papa dulu saat bekerja kepada pak Anthoni.(Kakek Panji).
Sedangkan rumah ini, dan juga gedung konveksi, dulunya adalah hadiah yang diberikan beliau untuk pernikahan kami, dan semua atas nama Rika, hanya saja papa yang dipercaya mengelola dan menjalankannya.
Tapi uang yang kita pakai ke tanah suci kemarin, itu murni uang papa. Uang yang papa kumpulkan dari hasil penjualan barang-barang kita dari konveksi."
"Tapi papa juga berhak atas rumah ini, karena ini rumah kalian kan,?. Dan menurut aku papa juga berhak menikmati kekayaan ibunya Panji, papa kan suaminya. Harusnya papa juga dapet bagian dong."
Lagipula Wily dan Panji selalu memberi jatah bulanan pada papa, untuk biaya hidup kita sehari-hari termasuk kebutuhan dan biaya kuliah Prisa.
Jadi maaf mah, papa nggak bisa nurutin kemauan mama untuk mengancam Panji. Karena dia sendiri sudah tahu isi surat wasiat itu."
Apa?? Jadi selama ini aku menikahi seorang asisten?.
Bu Soraya sangat shock mendengar cerita suaminya. Dia tidak menyangka kalau pak Bahtiar ternyata tidak sekaya yang dia fikirkan. Semua harta kekayaan yang dimiliki Bahtiar adalah harta almarhum bu Rika, ibunya Panji.
Semua kemewahan dan fasilitas yang dia nikmati, ternyata adalah milik Panji dan Wily.
Hatinya kecewa mengetahui kenyataan ini. Dulu dia fikir pak Bahtiar adalah orang kaya, makannya dia mendekati dan nekat menggodanya, sampai akhirnya mereka terlibat cinta terlarang.
Pak Bahtiar dan bu Soraya menjalin hubungan, walau dia masih berstatus suami bu Rika, hingga kecelakaan itu terjadi, dan bu Rika pergi meninggalkan dunia ini untuk selama-lamanya.
Sudah bisa dia bayangkan seberapa kayaknya Panji dan Wily. Harta mereka berdua dari hasil usahanya masing-masing saja sudah sangat banyak, Apalagi ditambah warisan dari almarhum ibunya. Bu Soraya sendiri tidak akan sanggup menghitungnya.
Bu Soraya semakin bernafsu untuk menjodohkan Jovanka dengan Panji. Karena ini satu-satunya jalan agar dia bisa menguasai harta Panji, fikirnya.
....
__ADS_1
Begitu sampai dirumah Panji, Nadin pergi ke kamar mandi, mencuci mukanya lalu ria memutuskan untuk ikut mandi, agar tubuh dan wajahnya bisa lebih segar. Dia memakai lagi bajunya karena tidak membawa ganti.
Nadin memang kelihatan lebih segar dan lebih tenang saat ini, tapi tetap saja hati dan fikirannya masih teringat semua perkataan bu Soraya.
Saat ini Nadin dan Panji sedang duduk berdua di ruang tamu. Sudah ada dua cangkir minuman panas di meja.
"Ini, minumlah." Ujar Panji, seraya memberikan satu cangkir minuman yang isinya coklat panas.
"Makasih." Sahut Nadin sembari memaksakan senyumnya, lalu dia menyesap sedikit coklat panas itu. Wajah ataupun sikap Nadin tak seceria biasanya. Panji tahu, kekasihnya itu pasti sakit hati mendengar ucapan bu Soraya.
"Aku mohon kamu jangan fikirkan kata-kata wanita itu ya." Kata Panji sembari membelai lembut rambut Nadin.
Nadin kembali memaksakan senyumnya. Bagaimana mungkin dia tidak memikirkannya. ini bukan masalah kecil bagi Nadin. Semua perkataan bu Soraya sangat menyakitkan, sekaligus menyadarkannya kalau dia dan Panji memang tidak pantas bersama.
Karena cinta yang Nadin rasakan pada Panji, membuat Nadin terlena dan lupa pada kata-katanya sendiri, yang tidak akan tenggelam terlalu dalam dan mengharap lebih akan hubunganya dengan Panji. Tapi nyatanya dia tetap tenggelam dalam lautan cinta bersama Panji.
"Aku tetap akan menikahi kamu Nad. Aku sayang banget sama kamu." Ucap Panji lalu mengecup mesra kening Nadin.
Air mata Nadin menetes begitu saja saat Panji mencium keningnya. Entah kenapa saat itu hatinya tiba-tiba berdenyut nyeri. Rasanya dia semakin takut kalau dirinya dan Panji benar-benar tidak bisa bersama.
"Kenapa kamu nangis Nad?. Apa aku sudah menyakiti kamu?." Tanya Panji yang terkejut, melihat air mata dipipi Nadin lalu mengusapnya dengan ibu jarinya.
Nadin semakin luluh dengan sikap Panji. Rasanya dia tidak ingin kehilangan Panji atau berpisah dengannya. Dia benar-benar menyayangi laki-laki dihadapannya ini.
Dia menggelengkan kepalanya, lalu memeluk Panji dengan erat.
"Bagaimana seandainya kita benar-benar tidak bisa menikah?." Tanya Nadin.
"Kamu jangan bicara seperti itu Nad. Tidak ada siapapun yang bisa menghalangi aku untuk menikahi kamu."(termasuk author😏)
"Tapi bagaimana kalau kita memang gak berjodoh?."
"Aku nggak akan pernah menikah kalau tidak sama kamu."
"Huss, jangan bicara seperti itu. Nggak baik."
"Kamu juga jangan bicara seperti itu, aku nggak suka. Pokoknya kita akan tetap menikah. Aku janji." Pungkas Panji.
.
.
TBC☘️
__ADS_1