Panji & Nadin

Panji & Nadin
Kapan Pulang?


__ADS_3

Dia memang Panji yang sengaja datang kesana tanpa memberitahu Nadin, karena ingin memberinya kejutan, dan Nadin benar-benar terkejut.


Dia datang bersama Adam, dan meminta kerja sama pada mandor proyek dan satu pekerja lainya untuk mengerjai Nadin.


"Hello my Sunshine!! Sapa Panji sembari tersenyum.


Nadin melongo tak percaya melihat Panji ada didepan matanya. Dia sangat terkejut sekaligus senang.


Panji bangkit dari duduknya, dan berdiri tepat dihadapan Nadin. Dia masih tersenyum menatap gadis yang sudah sangat dia rindukan ini.


"Hay sayang!!. Panji menyapa kekasihnya dengan suara pelan, namun Nadin masih bisa mendengarnya.


"Haayy!! Nadin membalas sapaan Panji kaku. Hatinya sangat senang saat itu, tapi bibirnya terasa kelu. Rasanya dia ingin sekali memeluk Panji, tapi dia tidak mungkin melakukannya.


Ketiga laki-laki yang ada disana saling menatap sambil tersenyum simpul, melihat Panji dan Nadin.


"Apalagi yang kalian tunggu?. Cepat pergi dari sini." Titah Panji.


"Baik ko." Sahut mandor itu, lalu pergi dari sana.


"Eh bang, makasih ya." Timpal Adam.


"Sama-sama." Jawab bang mandor, yang sudah melangkah pergi.


Adam menghampiri Hirlan mengajaknya mengobrol untuk mengalihkan perhatiannya dari Panji dan Nadin.


Kini hanya tinggal Panji dan Nadin disana, mereka duduk dibangku, membelakangi warung mak Ebah.


"Aku kangen." Bisik Panji, Nadin tersenyum.


"Kamu kangen nggak?." Tanya Panji, Nadin mengangguk.


Panji menggenggam tangan kanan Nadin.


"Kamu makin cantik, sayang." Bisik Panji.


Wajah Nadin merona mendengar pujian Panji. Dia memukul pelan lengan Panji, karena merasa geer dan juga senang.


"Kapan pulang?. Kenapa gak ngasih tau?."Tanya Nadin berusaha menetralkan perasaanya


"Aku sengaja gak ngasih tau, aku maunya ngasih cinta sama kamu."


"Hahh gombaaal." Sahut Nadin.


"Aku dateng kesini, mau nagih sama kamu."


"Nagih apa malam-malam begini?. Udah lama jadi depkolektor?." Tanya Nadin.


"Sejak kenal kamu, aku jadi depkolektor cinta."Sahut Panji. Nadin terkekeh.


"Ayo, mana? Bayar hutang kamu. Hutang cium." Kata Panji dengan senyum nakalnya.


"Ihh, apaan sih?. Genit banget." Nadin refleks mencubit lengan Panji.


"Kenapa? Malu ya?. Malu tapi mau kan?." Goda Panji.


Ihh dia kenapa jadi genit banget kayak gini sih?. Beda jauh sama dulu pas awal-awal aku kenal dia, kayak yang jaim banget. Eh taunya kayak gini.


"Kenapa diem?. Beneran mau ya?. Tanya Panji

__ADS_1


"Iya mau, mau nabok." Sahut Nadin.


"Naboknya pake bibir, aku mau. Ayo." Kata Panji seraya mendekatkan wajahnya ke wajah Nadin.


Nadin terkesiap, lalu mendorong pelan wajah Panji agar menjauh dari wajahnya.


"Ihh apaan sih. Kalau ada yang lihat gimana?."


"Oke kalau kamu gak mau ada yang ngelihat kita, besok aku tunggu di rumah ya. Aku tunggu. Dan ini buat kamu." Panji memberikan paper bag warna putih, pada Nadin.


"Aku mau kamu pake baju itu, besok,oke!!


"Oke."


"Aku pulang dulu ya sayang."


"Kenapa pulang?. Katanya kangen, kok udah mau pulang?. Kita kan baru aja ketemu." Kata Nadin.


"Ngapain juga aku lama-lama disini, kalau nggak di kasih cium." Balas Panji.


"ihhhh. Ya udah pulang sana."


"Oke aku pulang. Awas aja besok." Ancam Panji, dengan senyum nakalnya.


"Ya udah lihat aja, siapa takut?." Tantang Nadin.


"Benerran gak takut?." Tanya Panji memastikan.


"Bener." Jawab Nadin meyakinkan.


"Oke kalau gitu. Aku tunggu besok."


"Pokoknya kamu harus datang. Kalau tidak aku yang akan datang kesini." Ancam Panji.


"Dam.!! Panji memanggil Adam. Mereka lalu melangkah pergi meninggalkan Nadin. Panji berbalik sebentar lalu melemparkan senyumnya.


"I love you." Kata Panji, Nadin tersenyum, walau dia tidak mendengar apa yang dikatakan Panji, tapi dia tahu Panji mengatakan i love you padanya.


"Love you tou." Balas Nadin.


Panji melayangkan ciuman diudara atau kissbye pada Nadin.


Nadin terkekeh sambil menggelengkan kepalanya, melihat apa yang dilakukan Panji.


Hahhaa lebay amat sih, pake kissbye segala.


Nadin menghampiri Hirlan, lalu mereka menutup warung neneknya, dan kembali ke rumah. Hirlan bertanya pada Nadin, siapa laki-laki yang mengobrol denganya.


Nadin mengatakan kalau dia adalah majikannya. Hirlan sepertinya tidak percaya, walau Nadin terus meyakinkannya.


"Kak, aku ini bukan anak kecil lagi. Aku tau dia pacar kakak kan?." Tanya Hirlan.


Nadin diam.


"Bener kan?. Ngaku aja lah kak."


"Ya udah kakak ngaku, dia emang pacar kakak. Tapi kamu jangan bilang sama bapak dan nenek ya."


"Siap. Asal ada uang tutup mulutnya."

__ADS_1


"Nanti kakak kasih. Tapi janji ya, gak bilang siapapun."


"Aku janji kak."


"Bagus."


.....


Dimobil Panji


"Cieee yang lagi seneng, gara-gara ketemu ayang beb, cieeee." Goda Adam saat melihat senyum Panji lewat kaca spion didepanya.


"Berisik lo Dam."


"Emang ya, demi cinta orang rela ngelakuin apa aja. Termasuk elo Ji. Gue gak nyangka lo segitunya ampe bela-belain temuin Nadin lebih dulu, daripada istirahat. Emang lo nggak capek?." Tanya Adam.


"Mana mungkin gue capek. Yang gue temuin kan obat capek gue." Jawab Panji.


"Cieee obat capek, apa obat kuat Ji?." Tanya Adam


"Dia obat penawar luka hati gue." Jawab Panji


"Hahayy obat penawar, bahasa lo. Eh Ji, lo tau kan kalau bokap dan nyokap lo udah balik?."Tanya Adam


"Tau. Besok pagi kita kesana."


"Bukannya besok lo janjian ama ayang beb lo?."


"Iya. Habis dari sana kita jemput dia."


"Oke bos."


Adam mengantarkan Panji lebih dulu, lalu dia pulang ke rumahnya. Mereka tadi dijemput pak Hamdan(sopir kantor) ke bandara. Saat mereka sampai di depan gedung pembangunan mall, Panji menyuruhnya pulang, menaiki taksi online.


Panji memang baru datang dari luar kota. Dia belum pulang kerumahnya, karena ingin bertemu Nadin, walau hanya sebentar, karena rasa rindunya yang begitu berat, lebih berat dari beban hidupnya.


Panji termasuk orang yang sulit untuk jatuh cinta, namun sekalinya dia mencintai seorang gadis, dia akan sedikit posesif, dan tidak segan-segan menunjukan rasa cintanya kepada gadis itu.


Namun jika dia disakiti, dia tidak akan pernah memberi orang itu kesempatan untuk mendekatinya lagi. Walau di awal Panji sedikit jaim, karena dia memang belum benar-benar menyadari rasa cintanya pada Nadin.


Dibalik sikapnya yang dingin, Panji sebenarnya termasuk lelaki romantis yang suka mengobral rayuan dan keromantisannya pada gadis yang dia cintai, seperti pada Vanesa dulu.


Dia tidak malu bersikap mesra pada Vanesa dihadapan keluarganya ataupun orang lain.


Tak heran jika orang berfikiran buruk padanya tentang kehamilan Vanesa.


Dihadapan banyak orang saja Panji berani mencium Vanesa, apalagi kalau mereka hanya berdua, pasti Panji akan melakukan hal yang lebih dari itu. Itulah yang mereka fikirkan.


Padahal Panji memang tidak pernah melakukan sesuatu yang bisa menyebabkan Vanesa hamil, walau Vanesa sendiri tidak keberatan saat itu, seandainya Panji menginginkan sesuatu yang lebih darinya.


Panji memang selalu bersikap mesra, tapi dia tahu batasan yang harus dia jaga. Sayangnya tidak ada yang mempercayainya, kecuali Adam.


.


.


Tbc❤️


Mohon dukungannya ya🤗❤️

__ADS_1


__ADS_2