
Setelah berpelukan cukup lama, Bunda Dele pun mulai bertanya pada Riska pasal pekerjaan Riska saat ini dan juga cara dia hidup dalam mandiri tanpa meminta uang tiap bulan nya pada Mr. Laurent
"Aku cuma punya toko bunga Bu, dan selebih nya ya aku main main saja sambil belajar di kampus." Ucap Riska.
"Main?, Laurent, ini anak mu kamu didik bagaimana weh sudah besar masih main-main." Tanya Bunda pada Mr. Laurent.
"Haha, ya Bapak nya aja begini, ya anak nya juga ikut seperti aku lah Del." Jawab Mr. Laurent.
"Hah?, berarti Riska balapan dan berantem gitu?" Tanya Bunda lagi.
"Begitulah Del" Jawab Mr. Laurent.
"Hehe Bu, aku seperti itu pun untuk kebutuhan ku juga. aku kan tidak mau meminta pada Papah terus" Ucap Riska.
"Tapi tidak begitu juga sayang, bagaimana kalau nanti kamu bekerja di kantor saja dengan Akbar?" Tanya Bunda.
"Hah?, ketemu anak menyebalkan itu lagi?, no no no. tapi kalau gua tolak, nanti Ibu Del marah lagi hais gua jadi bingung" Ucap batin Riska.
"Woy malah melamun, tuh di tanya sama Bunda Del." Ucap Mr. Laurent sambil menepuk pundak Riska.
"Hais Papah selow atuh" Balas Riska dengan ketus.
"So?, kamu mau kan ikut Bunda untuk bekerja sama di Pratama Acour bersama Akbar?" Tanya Bunda sekali lagi.
"Papah, boleh kah?" Tanya Riska sebelum mengambil keputusan.
"Kini kamu sudah dewasa sayang, kalau kamu ingin mandiri dengan cara baru ya kenapa tidak kamu coba. lagi pula kamu kuliah pun jurusan perkantoran kan dan selingan mu ya belajar desain bukan?, siapa tau ilmu yang kamu dapat bisa memajukan perusahaan Bunda Del." Jawab Mr. Laurent yang memberikan masukan yang positif.
Karena Mr. Laurent menyetujui usul Bunda Dele yang memang tujuan nya untuk mendekatkan Riska dan Akbar tanpa sepengetahuan kedua anak itu.
Riska yang menuruti saran Mr. Laurent pun mengiyakan ajakan Bunda Dele dan mulai besok ia pun sudah boleh bekerja di Pratama Acour.
.<>.
__ADS_1
Pagi tiba, waktu pun terus berjalan. Riska yang sudah siap dengan kemeja putih, celana hitam dan jas hitam pun bergegas memakai sepatu nya dan pergi dengan motor sport nya menuju kantor.
Sedangkan Akbar, ia terjebak di jalan karena mobil nya mengalami kempes, hingga dia yang tidak sabaran pun bergegas lari untuk menaiki taxi. namun, taxi tidak kunjung datang.
Sepuluh menit berlalu, Akbar masih terus berusaha menghentikan taxi yang tak kunjung ada yang berhenti. hingga Riska yang melihat Akbar pun segera menghentikan motor nya tepat di depan Akbar.
"Lah, gua mau menghentikan taxi kenapa jadi motor yang berhenti." Ucap Akbar.
"Hailih lu masih aja tidak mengenali gua" Ucap Riska lalu membuka helm nya.
Lalu Akbar pun terpesona ketika Riska turun dari motor nya dengan rambut yang terkuncir rapih dan style nya yang berbalut make up tipis, hingga ia pun terlihat sedikit anggun.
"Woy.. oy.. hailih Akbar!" Teriak Riska di telinga Akbar.
Lalu Akbar pun terperajat kaget dan kembali so cool untuk menghilangkan rasa gerogi dan salfok nya.
"Lu mau ke kantor kan?" Tanya Riska.
"Mau ke kantor juga, ini hari pertama gua kerja. yuk lu mau bareng kah?" Jawab Riska lalu bertanya lagi.
"Kalau searah ya ayo kita on the way saja" Jawab Akbar.
"Yasudah skuy" Ajak Riska yang kini sudah berada di atas jok motor sport nya.
"Serius naik ini?" Tanya Akbar yang tidak biasa dengan motor.
"Ya iya, lagian gua kan tidak punya mobil seperti lu. eh nanti nanti, kan lu punya mobil ya, kok lu gak di antar oleh supir lu?" Jawab Riska sambil bertanya lagi dengan wajah yang penasaran.
"Ban nya kempes Ris, ah sudahlah ayo kita cabut. gua udah telat banget yang ada nanti" Ajak Akbar.
Setelah berbincang cukup lama, Akbar pun naik di jok belakang sambil memegang erat pundak Riska. lalu Riska pun menancap gas di luar rata-rata.
"Woy Riska!!, gua belum siap mati njir" Teriak Akbar.
__ADS_1
"Katanya lu mau cepat sampai, ya ini gua lagi usahakan." Ucap Riska yang berteriak sedikit.
"Tapi tidak begini juga weh, gua bisa modar!" Teriak Akbar lagi yang syok.
Namun Riska tidak menggubris ucapan Akbar. hingga sepuluh menit kemudian, mereka pun sampai di depan gerbang kantor Pratama Acour.
Setelah itu, Akbar turun dan mengucapkan terimakasih. namun saat Akbar mulai melangkah menuju pintu kantor, dia pun kaget ketika melihat Riska memasuki area kantor nya menuju parkiran untuk memarkirkan motor nya.
Lalu Riska pun kembali menghampiri Akbar dan tersenyum tipis. namun Akbar yang dingin tidak membalas senyuman Riska dan langsung menintrogasi Riska untuk menghilangkan rasa bingung nya.
"Lu ngapain parkir di kantor gua?, kata nya hari ini hari pertama lu kerja." Tanya Akbar.
"Ya iya, ini hari pertama gua kerja, lah terus?" Balik tanya Riska.
"Hadeh dasar otak lemod!, lu kan sudah tau hari ini hari pertama lu kerja, lah terus ngapain masih di sini?, lu pergi lah cepat supaya tidak telat." Gertak Akbar yang kesal dengan kelemodan Riska.
"Lah, ngapain gua harus pergi dari sini kalau kantor nya di sini, gimana si lu." Ucap Riska dengan tenang.
"Hah?!, coba jelaskan lagi" Ucap Akbar.
"Hadeh, kalau bukan karena Bu Del gak mau lah aku sekantor sama lu Bar. kemarin Ibu Dele bilang sama gua kalau mulai hari ini gua kerja sebagai sekertaris lu di kantor, and dia juga bilang kalau gua harus kasih kabar tentang lu selama lu di kantor dan luar kantor." Tutur Riska.
Lalu Akbar yang kaget dengan keputusan Bunda Dele pun segera menelepon Bunda Dele.
"Hallo Bun, hais kenapa gak bilang aku kalau Riska yang akan mengambil posisi sekertaris ini?" Tanya Akbar.
📞"Hadeh, kalau Bunda izin kamu ya kelamaan sayang, sedang kan kita perlu segera sekertaris untuk membantu mu." Jawab Bunda.
"Tapi gak gini juga Bun hih, aku tuh gak suka degan Riska" Ucap nya dengan pelan.
📞"Sudah lah, Bunda gak mau tau mulai hari ini dan seterus nya kalian harus bersama dan saling kerja sama. titik!" Tegas Bunda lalu memutuskan panggilan.
Akbar pun mau tidak mau harus menerima Riska sebagai sekertaris nya di kantor. setelah itu, Akbar pun memasuki kantor di ikuti oleh Riska.
__ADS_1