Pembalap Itu Istri Ku

Pembalap Itu Istri Ku
Aku yang tidak sempurna


__ADS_3

...Malam kini berganti pagi.. ...


...Dengan udara sejuk dan dingin menemani.. ...


...Kicauan burung pun mulai bersenandung.. ...


...Dan embun membasahi pepohonan di pagi hari.. ...


^^^-Puisi pendek by, Ar-Ariska^^^


...


Matahari kini mulai menyorot ke wajah Akbar, lantas membangunkan nya dari tidur nyenyak tadi malam. dan ketika ia membuka mata, terlihatlah wajah Riska yang lesu dan terlihat pucat menghiasi pemandangan Akbar pagi itu.


"Ehm.. kamu pasti menunggu ku tadi malam ya Bee, maaf sekali aku pulang sangat larut tadi malam, karena aku masih kesal dengan hobby mu yang terus menentang ku." Ucap Akbar sambil menyelipkan beberapa helai rambut ke telinga Riska.


"Ehm.." Usik Riska karena sinar matahari.


Lalu Akbar yang melihat ketidak nyamanan Riska pun segera menutup lapisan ketiga tirai jendela agar sinar matahari tidaklah mengganggu tidur Riska.


Setelah itu, ia mengecup kening Riska dan keluar kamar menghampiri Bunda Dele yang sudah bangun sambil menimang Aidha.


"Selamat pagi Bunda." Ucap Akbar.


"Selamat pagi, tumben sudah bangun." Balas Bunda Dele.


"Hehe, kebangun Bun." Ucap Akbar.


"Ehm.. bau sekali mulut mu, kamu minum semalam hah?." Tanya Bunda Dele.


"Maaf Bun." Jawab Akbar yang kemudian ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mencuci muka nya.


Setelah itu, ia menghampiri Bunda Dele lagi sambil meraih Aidha untuk di timang nya sebelum ia bersiap untuk kembali ke kantor dan bekerja.


"Kenapa kamu pulang larut dan minum-minum?." Tanya Bunda Dele sambil menatap putra tunggal nya dengan sinis.


"Ehm..." Jawab Akbar dengan diam sambil memberikan Aidha pada Bik Ambar.


"Bawa Aidha ke kamar ya Ambar, saya mau bicara dulu dengan Tuan muda mu ini." Titah Bunda Dele.


"Baik Nyonya besar." Balas Bik Ambar yang kemudian menggendong Aidha dan pergi ke kamar Akbar dan Riska.

__ADS_1


Kemudian Bunda Dele pun duduk berhadapan dengan Akbar di meja makan. dan ia kembali bertanya pada Akbar dengan wajah garang dalam ketenangan.


"Kenapa kamu minum semalam?, lalu pulang larut malam?." Tanya Bunda Dele tanpa ekspresi.


"Aku stress Bunda, Riska selalu saja ingin balap dan balap. lalu aku masih menyimpan kesal hingga ku putuskan untuk mampir ke bar dan minum dari pada pulang melihat wajah Riska yang membuatku kesal." Jawab Akbar.


"Bukankah balap itu hobby Riska, lalu kenapa kamu keberatan?. sedangkan sebelum menikahi wanita itu pasti harus menerima kurang dan lebih nya baru bisa memutuskan untuk mempersunting wanita itu hem.." Jelas Bunda Dele.


"Apa Bunda lupa?, aku menikahi Riska kan terpaksa karena ingin mu, dan baru sekarang-sekarang saja aku mulai mencintai nya. aku masih susah move on dari Rabella Bunda, jadi wajar bila ku masih tidak menerima kurang nya Riska." Ucap Akbar yang tidak terima.


"Ya kamu benar, harusnya Bunda tidak memaksa kamu untuk menikahi Riska. tapi kini dia sudah menjadi istri mu, sekaligus ibu dari putri kecil mu. apakah kamu akan terus mengingat Rabella setelah Riska banyak berkorban untuk mu sejauh ini hah?." Tanya Bunda Dele.


"Jujur aku sudah berusaha untuk melupakan Rabella, tapi dia selalu saja hadir dan hadir. dan aku juga sudah berusaha untuk menyingkirkan perasaan ku, tapi tetap saja melupakan mantan yang sudah menjalin hubungan selama 6 tahun itu susah Bun." Jawab Akbar.


Dan untuk kesekian kalinya, tanpa sepengetahuan Akbar dan Bunda Dele, Riska yang tadi hendak menaruh gelas kotor dari kamar nya ke dapur pun tidak jadi menaruh nya, melainkan hanya mematung karena mendengar obrolan mereka.


Lantas Bunda Dele yang mulai menyadari kehadiran Riska pun, diam ketika melihat Riska yang menatap Akbar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Kenapa Bunda diam?, apa masih tidak jelas apa yang tadi aku bilang?. aku belum bisa sepenuhnya move on Bunda, rasanya semakin aku mencoba pergi tapi dia semakin sering hadir." Ucap Akbar.


"Sebaik nya kamu diam." Balas Bunda.


"Kenapa Bun?, apa salah ya jika aku mengatakan hal yang jujur?." Tanya Akbar.


"Hah?." Pekik Akbar yang kemudian menoleh ke arah Riska.


"Bee.." Panggil lirih Akbar yang kemudian beranjak dari tempat duduk nya.


"Iya.." Balas Riska yang tersenyum menyembunyikan kesedihan nya.


Lalu Riska menghampiri Akbar dan Bunda Dele tanpa melepas gelas kotor yang sedari tadi ia genggam erat di tangan nya.


"Hehe.. selamat pagi Bunda, Bee." Ucap Riska yang menyapa mereka.


"Pagi.." Balas Bunda Dele dan Akbar bersamaan.


"Hehe maaf aku bangun telat dan aku juga tidak bermaksud mendengar obrolan kalian tadi. aku cuma mau menaruh gelas kotor bekas ku minum teh saja tadinya, tidak bermaksud mendengarkan." Ucap Riska sambil menyengir dan beranjak menaruh gelas kotor ke wastafel cuci piring.


"Bee, maafkan aku." Ucap Akbar.


"Tidak usah minta maaf, aku baik-baik saja kok. oh ya, sarapan sudah siap ya?, maaf ya karena aku bangun telat jadi Bunda repot deh harus mengurus Aidha dan sarapan." Balas Riska.

__ADS_1


"Tidak apa-apa Nak." Ucap Bunda Dele yang merasa tidak enak dengan Riska.


Kemudian keheningan pun menghiasi ruang makan, hingga Riska kembali memusnshkan hening itu.


"Yasudah aku buatkan salad dulu ya sebentar, kalian sarapan duluan saja." Ucap Riska yang kemudian beranjak ke meja dapur.


"Nak, bicaralah dulu dengan Riska ya. biar Aidha Bunda yang urus." Titah Bunda Dele.


"Iya Bunda, maafkan aku." Balas Akbar yang tidak enak juga sudah mengungkit keputusan Bunda nya dulu.


Setelah itu, Bunda Dele pun pergi ke kamar Akbar dan Riska. sedangkan Akbar pergi menghampiri Riska yang tengah memotong buah-buahan.


"Hiks... hiks.." Isak tangis Riska tanpa air mata.


"Ehm.. apakah tidak ada pria satu pun yang mencintaiku dengan tulus dan menerima hobby ku?, dulu Galuh hanya obsesi tanpa cinta, sekarang suami ku juga hanya menjadikan ku istri namun mencintai orang lain." Ucap Riska dengan pelan di barengi isak tangis tanpa air mata.


"Bee, sayang.." Panggil Akbar.


"Ehm.. i.. Iya" Balas Riska yang menarik napas lalu membalikkan tubuh nya.


"Bee, maafkan aku." Ucap Akbar yang tidak tega melihat Riska yang terus merasa tidak sempurna.


"Tidak apa-apa kok, kamu ngapain kesini?, bukan sarapan dulu." Balas Riska sambil tersenyum.


"Ehm... tolong jangan berpura-pura, aku tau kamu sedih kan?." Tanya Akbar sambil melangkah mendekati Riska.


"Tidak Bee, aku baik-baik saja." Jawab Riska sambil tersenyum walau matanya semakin berkaca-kaca.


"Maafkan aku.." Ucap Akbar yang kini berada di hadapan Riska.


"Tidak ada yang perlu di maafkan Bee, kamu tidak salah. mungkin memang aku nya saja yang terus memaksakan kamu tetap stay untukku, sedangkan hatimu masih berharap yang lain." Balas Riska yang kemudian membelakangi Akbar.


Kemudian Akbar pun memeluk Riska dari belakang, dan terus mengucapkan maaf, walau Riska selalu bilang tidak apa-apa dan baik-baik saja. hingga air mata Riska pun lama-lama tidak bisa di bendung lagi, lantas ia langsung membalikkan tubuh nya dan memeluk tubuh Akbar dengan tangis yang cukup terdengar lirih menggema dalam satu ruangan.


Bersambung...


..."Walau aku sabar menunggu mu, tapi rasanya sakit juga jika cintamu masih belum bisa ku dapatkan seutuhnya😔"...


^^^_Riska Sad^^^


Segitu saja episode hari ini..

__ADS_1


jangan lupa like, koment, rate, gift or vote. bila kalian suka di fav love saja ya gaes.. thank you..


__ADS_2