Pembalap Itu Istri Ku

Pembalap Itu Istri Ku
Kematian Aura


__ADS_3

Setelah pelukan hangat itu, Riska pun terus meneteskan air mata. yang entah kenapa baby blues nya pun kini kembali menghantui suasana hati Riska.


"Tapi Bun, jika aku tidak bisa melahirkan cucu Bunda bagaimana?." Tanya Riska yang sangat sedih.


"Tidak Nak, kamu wanita kuat. kamu pasti bisa melahirkan putri mu dan Akbar ke dunia ini. jangan memikirkan yang aneh-aneh ya Nak." Jawab Bunda yang kini mengelus rambut Riska untuk menenangkan nya.


"Bee, jangan berpikir seperti itu terus. kan kemarin Dokter sudah bilang, jauhkan pikiran jelek itu dan berpikir yang baik-baik saja sayang." Ucap Akbar yang langsung berlutut sambil memegang kedua tangan Riska.


"Aku takut yang aku pikirkan ini akan jadi kenyataan Bee. aku tidak ingin melihat kalian kecewa nanti." Balas Riska.


"Nak, Bunda juga dulu pernah berpikir seperti ini. namun Bunda sadar, kalau wanita kuat tidak boleh putus asa sebelum kenyataan baik atau buruk itu terjadi sayang." Ucap Bunda.


"Ehm.. tapi pikiran itu selalu hadir Bunda... aku takut.." Balas Riska.


"Semua akan baik-baik saja." Ucap Bunda.


Lalu Akbar yang tidak kuat menahan tangis ketika melihat Riska semakin hari semakin memburuk depresi nya. ia pun langsung mengambil obat yang sebelumnya di berikan oleh Dokter untuk di minumkan pada Riska.


"Bee, coba minum dulu obat nya. kamu belum minum obat kan hari ini?." Tanya Akbar yang langsung mengalihkan Riska agar lupa akan rasa sedih nya.


"Hah?., benarkah aku belum minum obat nya?." Tanya Riska.


"Iya sayang, kamu belum meminum obat nya. katanya kamu mau cepat sembuh, ayo minum dulu ya obat nya." Jawab Akbar sambil menyodorkan segelas air putih dan dua pil obat dan vitamin untuk Riska.


Kemudian, Riska pun meminum obat itu dan mulai rileks kembali, Ia merasa sedikit lega dan tenang. hingga kini Akbar dan Bunda Dele pun bisa bernafas sedikit lega ketika Riska mulai memejamkan mata nya sejenak di sofa.


"Bun, sebaik nya aku bawa Riska ke kamar saja ya. agar nanti sore kondisi nya sudah mulai stabil." Ucap Akbar.


"Baiklah, hati-hati jalan nya, jangan ceroboh oke." Balas Bunda Del.


"Siap Bun." Ucap Akbar.


Lalu Akbar pun menggendong Riska menuju kamar mereka. sedangkan Bunda Del melanjutkan aktivitas yang sebelum nya tertunda.


^^^"Pembalap Itu Istri Ku"^^^


Singkat cerita, Akbar dan Riska pun kini sudah ada di kamar mereka. Akbar yang kasiham melihat Riska terus-terusan merasa tertekan pun mencoba menghiburnya sedikit demi sedikit.


"Ehm.. Bee." Panggil Akbar.


"Apa Bee.?." Sahut Riska.


"Lihat deh, gaun nya lucu ya." Ucap Akbar sambil menunjukkan gambar gaun baby.

__ADS_1


"Iya Bee, kira-kira ada yang jual dress dan gaun baby juga tidak ya di sini?." Tanya Riska.


"Kamu mau?." Balik tanya Akbar.


"Iya Bee, seperti nya lucu jika baby kita memakai nya." Jawab Riska.


"Baiklah, weekend nanti kita cari gaun nya ya di butik." Ucap Akbar.


"Kamu serius?." Tanya Riska untuk memastikan.


"Iya Bee, memang kamu melihat wajah ku sedang becanda gitu?." Balik tanya Akbar yang menatap Riska.


Lalu Riska pun membalas menatap wajah Akbar, hingga Akbar yang memang tidak kuat menahan tawa pun mulai tertawa. yang kemudian membuat Riska tertawa.


"Kamu mah jorok, tuh ih muncrat deh ke wajah aku haha." Protes Riska sambil tertawa.


"Haha ya maaf, habis aku tidak tahan. soalnya wajah kamu begitu mungil dan lucu." Balas Akbar.


"Ih kamu mah suka begitu, aku kan jadi malu." Ucap Riska.


"Untuk apa malu pada suami mu hem?." Tanya Akbar sambil mengelus pipi Riska.


"Ya malu aja." Jawab Riska.


"Ehm Bee, perut aku seperti ada yang menendang-nendang." Ucap Riska yang merasa heran dengan perut nya.


"Benarkah?." Tanya Akbar.


Lalu Akbar pun menaruh tangan dan menempelkan kuping nya pada perut Riska. yang kemudian ia merasakan bayi dalam kandungan Riska pun kini sudah bisa menendang ketika Akbar megajak bicara calon bayi nya itu.


"Alhamdulillah, sehat-sehat ya kamu Nak." Ucap Akbar yang kemudian mencium perut Riska.


Kemudian, Riska dan Akbar pun tersenyum dan merasa bersyukur atas nikmat yang sudah Tuhan berikan kepada mereka.


^^^"Pembalap Itu Istri Ku"^^^


Singkat cerita, kini waktu pun sangat cepat terus mengalir bagaikan air. hingga selamatan empat bulanan kehamilan Riska pun sudah mulai di laksanakan.


Salim, Renata, Kresna dan Tuan Laurent pun ikut serta dalam selamatan kala itu. dan penjagaan di luar rumah Pratama pun semakin di perketat dengan bantuan anggota Tuan Laurent yang semua orang pun tau betapa sadis nya mereka jika sudah menjalankan tugas.


Dan di saat selamatan tersebut sudah setengah berjalan. tiba-tiba terjadilah kericuhan yang di sebabkan oleh suruhan Aura untuk menghancurkan acara itu.


Namun Tuan Laurent yang sigap mengarahkan anggota nya pun segera mengatur strategi dengan tenang agar para tamu tidak panik.

__ADS_1


"Tenang saja, kalian lanjutkan pengajian nya, semua akan aku tangani dengan rapi dan jangan panik." Ucap Tuan Laurent yang kemudian beranjak pergi.


"Ada apa itu Bar?." Tanya Salim.


"Aku tau musuh pasti akan kesini, karena ia ingin melihat kita hancur di saat banyak nya moment indah yang tengah kita lalui. dan itu membuatku sangat kesal hingga ingin rasanya ku bunuh semua orang itu Bee." Pekik Riska dengan emosi nya.


"Sabar Bee, jangan turuti emosi mu. and Salim, lu jangan bertanya dulu sebelum situasi mulai membaik." Balas Akbar.


"Baiklah, gua minta maaf ya." Ucap Salim yang mencoba mengerti maksud Akbar.


Kemudian Akbar pun menenangkan Riska dalam pelukan nya, dan Riska pun mulai tenang di pelukan Akbar. namun di saat Akbar menenangkan Riska, ia pun mendengar suara langkah kaki yang mendekati jendela yang terbuka di dekat nya.


Hingga pisau yang tadinya di sediakan untuk memotong buah apel kesukaan Riska pun jadi melayang, dan tepat mengenai leher orang misterius itu hingga menembus pada belakang leher nya tanpa banyak orang yang mengetahui nya.


"Hah?, Riska lu gila kali ya." Ucap Salim.


"Mafia yang baik itu akan membunuh orang-orang yang akan membunuh nya Salim. jadi apa yang gua lakukan bukan tanpa sebab, dan apa yang mereka inginkan jika niat nya jahat pasti akan ada akibat." Balas Riska.


Lalu di saat pengajian selesai dan para tamu bubar. Tuan Laurent pun langsung mengumpulkan para penyusup yang ia sembunyikan sebelumnya, hidup dan mati ia tidak peduli, yang pasti semua penyusup itu kini berkumpul di depan rumah Pratama.


"Ehm.. apa dia ketua kalian?." Tanya Tuan Laurent.


"I.. iya Tuan." Jawab salah satu penyusup.


Lalu Tuan Laurent pun membuka topeng ketua penyusup itu. yang ternyata di balik di topeng itu adalah Aura yang kini sudah tidak bernyawa.


"Dia memang pantas mati, karena jika aku di bawa ke pengadilan pun tetap saja aku tidak akan bersalah. karena ia sudah berulang kali mencoba membunuh ku dengan segala cara yang selalu gagal karena aku peka." Ucap Riska dengan tatapan dingin nya.


Namun saat Riska terus berucap walau dengan suara kecil. Taun Laurent pun mencoba membuat Riska tenang agar emosi nya tidak menguasai tubuh nya hingga mengundang pribadi ganda nya.


"Sutt.. tenangkan diri kamu dan biarkan Papah yang urus semua ini. Akbar, bawa masuk Riska dan Del." Titah Tuan Laurent.


"Baik Pah." Balas Akbar.


Lalu Akbar pun mengajak Riska dan Bunda Del untuk masuk ke dalam rumah. sedangkan Tuan Laurent kini mengurus jenazah mereka yang sudah tiada ke rumah sakit untuk di evakuasi.


Dan membuat laporan kematian pada pihak berwajib dengan sejujur-jujur nya hingga semua selesai tanpa ada pihak korban yang di rugikan.


Bersambung..


Hallo gaes, maaf ya aku tidak bisa up setiap hari nya. but, aku akan usahakan luangkan waktu ku supaya bisa up dengan rajin kedepan nya.


Mohon dukungan nya ya, cara nya mudah kok, langsung klik saja like, lalu tuliskam koment terbaik kalian, di klik love favorite dan di Rate bintang lima yak hehe.

__ADS_1


Oh ya, bila kalian suka dengan novel ku,. Kalian bisa juga kok melemparkan Gift ataupun Vote ke novel ku yang berjudul "Pembalap Itu Istri Ku". terimakasih..


__ADS_2