
Tiga bulan telah mereka lewati, tanpa terasa kini perut Riska sudah mulai terlihat membuncit, dan kaki Riska juga sudah mulai bengkak.
Dan kala pagi itu, Bunda Del tengah mempersiapkan selamatan untuk acara empat bulan kandungan Riska bersama seluruh Art dan juga Pak Nasik yang di sibukkan mengambil banyak nya pesanan sayur dan keperluan selamatan.
Sedangkan Riska, kini ia tengah bercermin sambil mengelus perut nya dengan senyuman bahagia. ia mengelus perut itu dengan begitu lembut di sertai tatapan hangat dengan penuh kasih sayang.
"Ehm.. nak, jika kamu perempuan, jadilah anak yang shalehah, penyabar dan kuat ya dalam menghadapi situasi apapun nanti. dan jika kamu Pria, jadilah anak yang shaleh, bisa melindungi keluarga, dan juga punya rasa tanggung jawab ya sayang." Ucap Riska sambil mengelus perut nya yang membuncit.
"Dan ya, Mamah ingin memberitahu kamu bahwa Papah kalian seorang CEO. sedangkan Mamah kalian ini suka balapan dan bertarung karena Opah kalian adalah mafia besar di sini. tapi, jika kalian lahir nanti, Mamah mau kalian tidak mengikuti jalan Mamah ya. kalian harus bisa tumbuh menjadi anak baik dengan gelar yang baik seperti Papah." Sambung Riska yang teris tersenyum bahagia ketika mengatakan semua itu kepada calon bayi nya.
Lalu di saat Riska tengah bicara dengan calon bayi nya yang masih di dalam perut, tiba-tiba Akbar yang baru saja selesai mandi pun langsung melingkarkan kedua tangan nya di pinggang Riska dan menyandarkan kepala nya di bahu Riska.
"Selamat pagi Bee, lagi apa?, aku lihat kamu bicara sendiri dan senyum-senyum sendiri di depan cermin." Tanya Akbar.
"Aku sedang bicara dengan bayi kita hehe." Jawab Riska sambil tersenyum.
"Owlah.." Ucap Akbar.
Kemudian, Akbar pun melepas pelukan nya dan berlutut tepat di hadapan perut Riska. ia mencium perut Riska dan menempelkan pipi kanan dan telinga nya ke perut Riska.
"Hallo Akbar Junior, ini Papah Bee." Ucap Akbar.
"Papah mau berpesan sama kamu, tolong jaga Mamah dan jangan biarkan Mamah menangis ketika kalian nakal di dalam perut Mamah oke. dan lahirlah dengan baik dan tumbuhlah menjadi anak yang sholeh sholehah dengan penuh kesabaran dan keberanian ya sayang." Sambung Akbar yang kemudian mengecup perut Riska di balik dress nya.
"Aamiin, dan sekarang, Papah cepat siap-siap. masa mau mempersiapkan empat bulanan anak kita hanya dengan memakai handuk, haha." Ucap Riska yang meledek Akbar.
"Kamu ya, masih saja suka meledek hehe." Balas Akbar yang kemudian berdiri kembali.
"Hehe, habisnya orang sudah pada siap eh kamu baru selesai mandi." Ucap Riska.
"Ya maaf, namanya juga aku kesiangan." Balas Akbar sambil menggaruk belakang rambut nya yang tidak gatal.
"Yasudah cepat pakai pakaian mu, karena aku sudah menyiapkan nya di atas kasur, lalu susul aku ke bawah ya." Titah Riska.
__ADS_1
"Oke Bee, nanti hati-hati jalan nya ya, jangan ceroboh." Ucap Akbar.
"Oke Bee, aku tinggal dulu ya." Balas Riska yang kemudian beranjak namun di tahan oleh Akbar.
"Loh kenapa sayang?." Tanya Riska yang menoleh ke arah Akbar.
"Kamu tidak mau memberikan morning kiss kah?." Tanya Akbar kembali.
"Oh iya, maaf ya aku lupa." Jawab Riska yang kemudian menghampiri Akbar lagi.
Lalu Akbar memegang pipi Riska dan memiringkan kepala nya. setelah itu, ia pun menempelkan bibir sexy nya ke bibir Riska dan terjadilah ciuman hangat yang begitu hati-hati karena mereka tau jika sedikit saja kasar, pasti akan terjadi hal yang tidak di inginkan dari pergerakan mereka yang penuh dengan hasr*t.
"Ehm.. muaach." Suara kecupan yang kini telah usai.
"Selamat melanjutkan aktivitas ya Bee." Ucap Akbar sambil mengelus pipi Riska.
"Kamu juga ya Bee." Balas Riska sambil menggenggam tangan Akbar yang tengah mengelus pipi nya.
Namun belum juga aksi nya di mulai, Galuh yang sudah tau rencana Aura pun menghalangi aksi nya karena sedikit demi sedikit ia mulai menyadari mana yang baik dan tidak baik untuk Riska dan kandungan nya.
"Jangan melakukan hal yang nanti nya akan membahayakan Riska dan calon anak nya." Ucap Galuh.
"Apa si peduli lu Gal?, apa lu tidak bisa ya sekali saja diam dan tidak menghancurkan setiap rencana gua hah?." Tanya Aura yang sudah kesal dengan sikap Galuh yang selalu menghalangi nya.
"Jika rencana lu bisa membahayakan Riska dan calon bayi nya, ya jelas gua tidak akan diam saja. karena mencintai pun harus bisa menjaga bukan hanya menginginkan hasr*t nya terpenuhi." Jawab Galuh dengan tegas.
"Bac*t lu Gal, sejak kapan lu mengganti ambisi lu untuk melakukan segala cara dengan uang dan demi uang menjadi perasaan tanpa memikirkan materi hah?." Tanya Aura yang menyindir Galuh.
"Sejak gua melakukan kesalahan fatal yang membuat orang yang gua sayangi tidaklah baik-baik saja dan membekas hingga kini tanpa bisa di obati hingga tembuh total." Jawab Galuh dengan dingin.
Lalu Aura yang kesal dengan Galuh pun mendorong Galuh dengan paksa, namun tubuh Galuh yang kuat tidaklah bisa terhempas oleh dorongan Aura hingga Galuh yang sudah murka segera menarik tangan Aura dengan Paksa.
"Gua kan sudah bilang, jangan berbuat yang aneh pada Riska." Ucap Galuh yang terus menarik Aura dengan paksa.
__ADS_1
"Lepasin Gal, apa-apaan si hah!." Bentak Aura yang berusaha melepaskan tangan Galuh.
Namun Galuh tidaklah menggubris setiap pergerakkan Aura. melainkan malah semakin murka ketika Aura yang terus menghasut nya untuk melakukan hal yang akan membahayakan Riska.
Lantas Galuh yang sudah di penuhi amarah pun langsung mendorong masuk Aura ke dalam mobil dan menamparnya hingga ia pingsan. dan setelah itu, ia pun masuk ke dalam mobil dan melajukan mobil nya menuju markas besar milik nya.
..."Pembalap Itu Istri Ku"...
Di saat Galuh tengah membawa Aura menuju markas nya. Akbar dan Riska pun kini tengah duduk di sofa bersama Bunda Del untuk meminum teh dan menyantap biskuit sejenak sebelum melakukan kesibukkan mereka mengurus empat bulanan Riska.
"Ehm.. kalian menginginkan bayi berjenis kelamin apa?." Tanya Bunda Del dengan tiba-tiba.
"Perempuan" Jawab kedua nya dengan serentak.
"Kenapa Perempuan?," Tanya Bunda Del lagi.
"Karena kami mau membuktikan kalau perempuan juga bisa menjadi pemimpin yang sukses seperti Bunda, dan perempuan kuat dan bijak seperti Istri ku." Jawab Akbar sambil tersenyum.
Lalu Bunda Del yang mendengar hal itu pun tersenyum bahagia, karena ia tidak menyangka bahwa putra tunggal dan menantu nya itu begitu mengidolakan Bunda De yang memang seorang wanita mandiri.
"Wah terimakasih ya, Bunda tidak menyangka bahwa kalian mempunyai mimpi yang membuat Bunda sangatlah merasa amat sangat bahagia." Ucap Bunda Del.
"Karena tugas kita sebagai anak ialah membahagiakan Bunda." Balas Akbar dan Riska yang kemudian beranjak duduk di samping Bunda Del lalu memeluk nya.
Hingga tangis haru dari Bunda Del pun membanjiri pelukan Akbar dan Riska yang kini tengah membuat hati nya begitu senang dan bahagia.
Bersambung
Hallo gaes, maaf ya aku tidak bisa up setiap hari nya. but, aku akan usahakan luangkan waktu ku supaya bisa up dengan rajin kedepan nya.
Mohon dukungan nya ya, cara nya mudah kok, langsung klik saja like, lalu tuliskam koment terbaik kalian, di klik love favorite dan di Rate bintang lima yak hehe.
Oh ya, bila kalian suka dengan novel ku,. Kalian bisa juga kok melemparkan Gift ataupun Vote ke novel ku yang berjudul "Pembalap Itu Istri Ku". terimakasih..
__ADS_1