Pembalap Itu Istri Ku

Pembalap Itu Istri Ku
Sebuah tugas baru


__ADS_3

Setelah pertikaian, dan sore berganti malam. mereka pun makan malam bersama, lalu Akbar dan Riska saling diam-diaman.


Sedangkan Aidha yang polos dan bingung dengan Ayah dan Ibu nya pun meronta-ronta minta turun dari tempat duduk nya kepada Bunda Dele.


"Mamama.." Ucap Aidha.


"Ai mau turun?." Tanya Bunda Dele.


"Mamama.." Jawab Aidha sambil menunjuk lantai.


"Baiklah, Omah bantu ya." Ucap Bunda Dele.


Lalu Aidha pun di gendong oleh Bunda Dele dan di turunkan ke lantai. setelah itu, Aidha pun merangkak ke tengah-tengah Riska dan Akbar.


Kemudian, ia memegang kursi Riska dan Akbar untuk bertumpu. dan setelah ia berhasil, Aidha pun menengok kepada Akbar dan Riska secara bergantian.


"Mamama..." Ucap Aidha.


"Eh sayang, kok di sini, bukannya makan dulu." Ucap Riska yang kemudian menghentikan makan malam nya.


"Ai kenapa kesini, kan lagi makan." Sambung Akbar sambil mengelus pipi cubby Aidha.


"Uhmm.. tututu.." Balas Aidha sambil cemberut ke arah Akbar dan Riska.


"Aku tidak tau maksud mu sayang." Ucap Riska.


"Maksud Aidha itu, kenapa kalian saling diam dan tidak ceria." Balas Bunda Dele sambil menyuapkan satu suapan.


"Ehm.. maaf sayang, Mama tidak mood sekali hari ini." Ucap Riska.


"Papah juga Nak, jadi jangan memaksa Papah untuk ceria malam ini." Sambung Akbar.


"Ehm.. tututu.." Balas Aidha yang langsung memeluk Riska.


Ketika mereka sedikit berdebat, tiba-tiba terdengarlah orang mengetuk pintu dan menekan bel sekali dua kali.


"Bik.. bukain pintu nya.." Pinta Bunda Dele.


"Siap Nyonya.." Balas Bik Ambar.


Lalu Bik Ambar pun segera membuka pintu. namun saat ia hendak bertanya ada keperluan apa, ia pun kaget karena yang tengah di hadapinya itu adalah dua orang polisi.


"Apa benar ini kediaman Nona Riska Gundala Putri?." Tanya Pak Polisi.


"Iya benar Pak." Jawab Bik Ambar dengan canggung.


"Bisa anda panggilkan beliau untuk menghadap kami?." Tanya Pak Polisi.


"Sepertinya tidak perlu karena saya sudah ada di hadapan kalian." Jawab Riska yang tiba-tiba sudah ada di belakang Bik Ambar.


"Permisi Nona, bisakah anda ikut kami ke kantor polisi?." Tanya Pak Polisi.


"Ada perlu apa kalian memanggil saya?." Tanya balik Riska.


"Tuan memanggil anda untuk menemui nya sekarang juga." Jawab Pak Polisi.

__ADS_1


"Baiklah, kalian duluan saja, nanti saya menyusul." Ucap Riska.


"Baik Nona, kami permisi dulu." Balas Pak Polisi.


Kemudian polisi itu pun pergi dari kediaman Tuan Pratama. dan setelah itu Riska kembali menemui Bunda Dele dan Akbar yang tengah menggendong Aidha.


"Siapa yang bertamu malam-malam begini Nak?." Tanya Bunda Dele.


"Polisi Bun, aku harus pergi karena Papah memanggilku." Jawab Riska.


"Hah polisi?, lalu apa hubungan Polisi itu dengan Laurent?." Tanya Bunda Dele yang masih bingung.


"Polisi dan Papah sudah bekerja sama Bun, karena walau kami mafia, kami bukanlah mafia yang menyakiti orang tidak bersalah." Jawab Riska.


"Ehm.. baiklah kalau begitu, Akbar kamu antar Riska ya." Titah Bunda Dele.


"Tidak usah Bun, profesi dan hobby ku tidaklah cocok dengan suami ku, jika dia ikut bersama ku, pasti dia akan semakin tidak suka dengan ku." Ucap Riska yang langsung menggendong Aidha dan pergi menuju kamar.


"Ehm, kamu puas Nak?." Tanya Bunda Dele.


"Terus aku harus apa Bun?, memang aku tidak suka dengan dua hal itu." Jawab Akbar.


"Setidaknya kamu harus menghargai apapun yang istri mu lakukan nak, karena mau bagaimanapun itu adalah profesi nya. karena Riska itu di besarkan oleh mafia, maka wajar baginya untuk mempunya dua profesi ini." Ucap Bunda Dele.


"Ya Bun, kamu selalu membela Riska, teruslah seperti itu sampai putra Bunda ini berpaling kembali dengan Rabella." Balas Akbar yang kesal.


Kemudian Riska yang mendengar itu pun langsung menghampiri Bunda Dele untuk mencium tangan nya, kemudian mencium tangan Akbar dan menatap nya.


"Kembalilah padanya jika kamu ingin kembali, dan bertahanlah jika memang kamu masih menginginkan hadir nya aku dan putri mu." Ucap Riska yang kemudian pergi.


Namun Riska tidak menghiraukan suara Akbar, kemudian dia langsung menaiki motor nya sambil membawa Aidha dalam gendongan bayi (baby shot).


Sedangkan Akbar yang hendak mengejar Riska pun di hentikkan oleh Bunda Dele. lalu Akbar pun marah-marah karena tingkah Bunda Dele.


"Kenapa si Bun!." Bentak Akbar.


"Biarkan Riska menyelesaikan urusan nya, lebih baik kamu diam dan tunggu dia merasa lebih baik, paham?." Ucap Bunda Dele.


Kemudian Akbar pun mencoba untuk mengalah dan pergi ke kamar nya. lalu ia pun dengan santuy nya mengambil vape dan menyesap nya di kala prustasi nya.


..."Pembalap Itu Istri Ku"...


Satu jam kemudian..


Kini Riska sudah sampai di kantor polisi. lalu ia pun masuk ke dalam dan di sambut oleh Kresna yang sudah berdiri di hadapannya saat ini.


"Lama sekali." Ucap Kresna.


"Sorry, karena sedikit sulit juga mengendarai sepeda motor bersama Aidha." Balas Riska.


"Baiklah, lu masuk ke dalam dulu saja, biar Aidha sama gua dulu." Ucap Kresna.


"Baiklah, gua titip Aidha ya." Balas Riska.


Kemudian Riska pun melepaskan baby shot nya, lalu memberikan Aidha pada Kresna. setelah itu, ia pun langsung masuk ke dalam sebuah ruangan yang sangat rapih milik Tuan Laurent.

__ADS_1


"Malam Pah." Ucap Riska.


"Duduk sayang." Balas Tuan Laurent.


"Papah ada perlu apa?." Tanya Riska lagi.


"Papah perlu kamu menjelaskan satu hal boleh?." Balik tanya Tuan Laurent.


"Silahkan, aku akan menjawab nya." Jawab Riska.


Dan setelah mendapat persetujuan dari Riska, Tuan Laurent pun memberikan sebuah berkas yang berisi data penting.


"Papah tau kini kamu sudah mempunyai suami, tapi tugas ini hanya bisa di handle oleh kamu karena target kita adalah orang yang akan membuat kamu semangat." Ucap Tuan Laurent.


Lalu Riska pun mengambil berkas itu dan membaca nya. dan kemudian setelag membaca, ia pun langsung tersenyum sambil menaruh kembali berkas itu.


"Papah serius?" Tanya Riska dengan senyuman psiko nya.


"Ya Papah serius, dan Papah percayakan semua ini pada mu." Jawab Tuan Laurent.


"Tapi jika aku berhasil, Akbar bisa sangat marah." Ucap Riska.


"Dia tidak akan marah, jika dia marah maka Papah yang akan turun tangan." Balas Tuan Laurent.


"Aku tidak yakin Papah, karena Akbar masih sangat resfect pada dia." Ucap Riska lagi.


"Baiklah, apa yang kamu inginkan jika semua akan berakhir mulus tanpa ada yang marah sedikit pun?." Tanya Tuan Laurent.


"Aku hanya mau cinta yang tulus." Jawab Tuan Laurent.


"Baiklah, Papah akan mengabulkan keinginan mu. tapi dengan satu syarat." Ucap Tuan Laurent.


"Apa syarat nya Pah?." Tanya Riska.


"Selesaikan kasus ini dalam waktu satu hari tanpa ada waktu tambahan sedikit pun." Jawab Tuan Laurent tanpa ekspresi.


"Aku akan menyelesaikan kurang dari satu hari, aku berjanji." Ucap Riska yang kemudian beranjak dari tempat nya.


Bersambung...


Kira-kira kasus apa yang bisa membuat Riska begitu semangat?, dan kenapa Riska juga bimbang karena Akbar bisa sangat marah dengan kasus ini?, kenapa??,,,,


Temukan jawabannya di next episode..


Sampai jumpa semua and see yoy next time..


And so..


^^^"Happy Monthversary My lovely, hopefully it will last forever, and always be united. understand each other and grow^^^


^^^Thank you for everything, and thank you also for being able to fight this far.^^^


^^^i love you"^^^


^^^_Ar29^^^

__ADS_1


__ADS_2