Pembalap Itu Istri Ku

Pembalap Itu Istri Ku
Rendang Ayam


__ADS_3

Dan ketika Akbar melotot dengan mulut yang terus mengunyah, ia pun mulai berkomentar dengan masakan Riska yanh hasilnya ternyata.


"Enak banget sayang." Ucap Akbar.


"Hah??, serius?." Tanya Riska yang tidak percaya.


"Iya serius." Jawab Akbar.


Lalu Riska pun merasa senang dan mencium tangan Bunda Del yang sudah mengajarkan nya masak rendang untuk pertama kali nya.


"Terimakasih ya Bunda." Ucap Riska.


"Sama-sama sayang, yasudah di makan dulu rendang paha ayam nya." Balas Bunda Del.


"Iya Bun." Ucap Riska.


Kemudian, Akbar, Riska dan Bunda Del pun makan bersama dengan menu rendang ayam dan paha ayam sebelah kanan. sedangkan di sisi lain, Salim dan Renata tengah berdiskusi untuk proyek yang baru saja sampai ke email kantor.


"Aku rasa proyek ini tidak pas dengan kantor, sayang." Ucap Renata.


"Iya sayang, kantor kita kan bukan butik. but, jika Riska yang menangani nya, pasti akan lain lagi ceritanya." Balas Salim.


"Kenapa bisa begitu?." Tanya Renata yang kepo.


"Entahlah, tapi aku melihat aura desain yang sangat kuat dari cara ia menulis dan berbusana." Jawab Salim.


"Iya juga ya, kalau di lihat-lihat, Kak Riska itu tidak pernah salah jika mencocokkan sebuah busana yang ia pakai atau pun yang aku pakai." Ucap Renata.


"Baiklah, kalau begitu... kenapa kita tidak ajak Riska saja dalam proyek ini?." Usul Salim.


"Boleh tuh, lagi pula waktu yang mereka berikan dua bulan. jadi kita bisa memperoses proyek ini dengan matang." Balas Renata.


"Jika begitu, kita harus bicara pada Akbar untuk persetujuan. dan untuk saat ini email itu kamu balas sebijak mungkin ya untuk menunda jawaban nya sampai Akbar mengambil keputusan." Ucap Salim.

__ADS_1


"Oke sayang." Balas Renata.


Lalu Renata pun segera membalas e-mail itu dengan bahasa nya. sedangkan Salim, ia langsung mencatat bahan yang nanti akan ia serahkan pada Akbar untuk di terima atau tolak.


"Pembalap Itu Istri Ku"


Setelah selesai makan bersama, Riska pun dengan sigap langsung membereskan piring itu dan di cuci nya sampai tidak ada sisa makanan yang terlihat mengotori area cuci piring, piring dan juga dapur.


Namun Akbar yang melihat itu pun segera bicara pada Bunda Del karena ia sangat khawatir dengan Riska yang memang harus istirahat total selama mengandung.


"Bun, apa dengan melakukan aktivitas ini Riska dan bayi kami akan baik-baik saja?. sedangkan kini ginjal. Riska tidaklah baik-baik saja dan harus cuci darah setiap bulan nya." Tanya Akbar yang khawatir.


"Sebaiknya selama Riska mengandung, kita harus lebih menjaga nya. karena yang Bunda tahu, jika ginjal kita bermasalah pasti tidak boleh kecapean." Jawab Bunda Del.


"Baiklah Bun, terimakasih ya atas jawaban nya. kalau begitu, aku mau menemui Riska untuk mengajak nya istirahat dulu." Izin Akbar.


"Silahkan sayang, Bunda juga mau memanggil Bik Ambar untuk melanjutkan aktivitas Riska dan memperkuat penjagaan kebersihan selama Riska mengandung." Balas Bunda Del.


Dan kemudian, Bunda Del pun pergi menghampiri Bik Ambar dan para Art lain nya untuk mengubah tugas menjaga rumah nya. sedangkan Akbar, ia tengah menghampiri Riska dan langsung memeluk pinggang Riska dari belakang.


"Sayang, sudah tinggalkan pekerjaan nya ya. biar nanti Bik Ambar saja yang melanjutkan nya." Ucap Akbar yang kemudian mengecup leher putih Riska.


"Nanggung sayang, lagi pula orang hamil itu tidak boleh malas." Balas Riska.


"Tapi sayang, kamu kan berbeda dengan wanita pada umum nya. dan Dokter juga kemarin kan berpesan agar kamu banyak istirahat demi bayi dan kesehatan kamu." Jelas Akbar.


"Ehm iya juga ya, tapi ada kalanya aku juga bosan harus rebahan terus sayang. but, demi buah hati kita, aku akan melakukan yang terbaik." Ucap Riska.


Yang kemudian meninggalkan pekerjaan rumah nya dan pergi dengan Akbar menuju kamar mereka untuk istirahat sejenak.


Tidak lama kemudian, Riska dan Akbar pun sampai di depan kamar. lalu mereka pun duduk bersama di kasur sambil mengobrol santai.


"Sayang, apa boleh aku memanggilmu Papah Bee mulai sekarang?." Tanya Riska.

__ADS_1


"Ehm.. sweet sekali. baiklah kalau aku Papah Bee, kamu Mamah Bee dong?." Balik tanya Akbar.


"Hehe iya sayang." Jawab Riska.


"So, kamu mau bayi kita perempuan atau laki-laki?." Tanya Akbar.


"Mau perempuan atau laki-laki bagiku sama saja. yang penting dia tumbuh menjadi anak yang sholeh-sholehah, baik dan menghormati orang tua serta agama nanti." Jawab Akbar.


"Alhamdulillah, aku pun berdoa yang sama untuk hal ini sayang. namun jika di tanya aku ingin perempuan atau laki-laki, ya aku sangat menginginkan ia perempuan. namun jika Tuhan berkehendak lain, kita tetap harus mensyukuri nya." Tutur Akbar.


Lalu Riska pun tersenyum dengan penjelasan Akbar. kemudian, setelah mereka mengobrol lumayan lama. Riska yang ngantuk mulai merebahkan tubuh nya sambil di elus perut nya oleh Akbar yang masih duduk bersandar menemani nya.


Hingga Riska pun mulai tidur siang untuk mengistirahatkan tubuh nya. lalu Akbar pun mengecup kening nya dan beranjak ke luar kamar untuk meneui Bunda Del.


"Bun" Panggil Akbar.


"Iya sayang, kenapa?." Tanya Bunda Del.


"Bun, aku harus ke kantor lagi. tolong jaga Riska dan junior ya." Jawab Akbar.


"Hati-hati ya sayang, dan kamu jangan khawatir dengan Riska, dia aman dengan Bunda dan yang lain nya." Ucap Bunda Del.


"Terimakasih Bun, aku berangkat dulu." Balas Akbar lalu mencium tangan Bunda Del.


Setelah berpamitan, Akbar pun bergegas pergi sendiri tanpa Pak nasik yang mengantar nya menuju kantor.


Bersambung..


Maaf ya semuanya, aku baru bisa update. Soalnya masih banyak sekali orderan di pabrik yang tidak bisa aku tunda karena itu adalah kewajiban ku.


Dan terimakasih untuk readers setia yang selalu menunggu update nya novel "Pembalap Itu Istri Ku", see you next time, jangan lupa like, koment, saran, rate and vote or gift.


Thanks..

__ADS_1


__ADS_2