
Yang membuat Akbar semakin bersemangat. lalu setelah puas di atas, ia pun turun ke bawah lalu membuka kain yang menutupi lembah rindang tipis Riska.
Lalu Riska pun melengk*h menikm*ti permainan Akbar ketika tangan Akbar mulai memainkan lembah rindang nya. dan tangan Riska yang ya jelas wanita normal pun mencoba membalas permainan Akbar dengan masuk ke dalam cel*na nya lalu memua*kan joni.
"Enak Bee?." Tanya Riska.
"Ehm.. Yeah.. sama-sama ach.. enak." Jawab Akbar di barengi des*h..
"Esthh.. Ach.." D*sah Riska.
Hingga beberapa menit kemudian, Riska pun mencapai kl*maks pertama nya, lalu Akbar mensudahi permainan nya dan menyuruh Riska untuk melepaskan si joni yang sudah berdiri tegak.
"Bee, boleh aku mulai?." Tanya Akbar dengan lembut.
"Silahkan Bee, tapi bermainlah dengan sangat lembut." Jawab Riska.
"Terimakasih, aku akan bermain dengan sangat lembut." Ucap Akbar.
Lalu Akbar pun mengarahkan joni ke lubang lembar rindang dengan sangat hati-hati. sedikit demi sedikit Akbar mendorong joni masuk lebih dalam, hingga akhirnua di telan penuh oleh lembang rindang.
"Aachh.." Lengk*h Riska sambil menggigit bibirnya.
"Kamu cantik sekali Bee." Puji Akbar dalam batin nya sambil memegang pundak Riska.
Dan kemudian, setelah di rasa joni sudah di telan habis oleh lembah rindang, Akbar pun langsung menambah tempo kecepatan nya hingga membuat guncangan hebat.
"Ehm.. aku rindu masa-masa ini Bee." Ucap Akbar.
"Ach.. aku juga.." Balas Riska.
Dan gaya seperti itu berlanjut lebih lama, hingga Riska mencapai klim*ks kedua. lalu Akbar melepas joni dan meminta Riska untuk menung***ng.
Setelah Riska menuruti kemauan nya, Akbar pun kembali memas*kkan joni ke dalam lembah rindang itu. lalu menggoyangkan pingg** nya dengan sangat cepat.
Hingga membuat dua melon yang menggant*ng bebas itu goyang tiada aturan di barengi suara rintihan nik**t Riska dan Akbar.
Namun di saat Akbar dan Riska tengah bahagia, di sisi lain Rabella kini tengah geram, karena tanpa Akbar dan Riska sadari, suruhan Rabella kini tengah mengintip mereka di jendela balkon untuk memata-matai.
"Apa yang lu lihat?." Tanya Rabella.
"Ehm.. kenikm*tan yang begitu indah Nona." Jawab mata-mata.
"Maksud lu?." Tanya Rabella.
"Kini Akbar dan Riska tengah bers*tubuh, dan gua bingung mau melakukan apa." Jawab mata-mata.
__ADS_1
"Apa!!" Teriak Rabella sambil memukul meja.
Lalu ia pun bertanya kembali apa gaya yang di pakai Akbar dan Riska. dan mata-mata itu pun menjawab gaya ketiga setelah Akbar bosan dengan gaya ke dua.
Dan karena pada gaya itu Akbar berada di bawah, dan Riska yang menguasai area atas. Rabella pun memulai aksi nya di saat Akbar dan Riska tengah melepas rindu.
"Gua mau lu tusuk Riska tanpa melukai Akbar sedikit pun, dan jika Akbar melawan, ambil Anak nya lalu bawa dia kehadapan gua." Titah Rabella.
"Baik Nona, akan saya laksanakan perintah Nona." Balas mata-mata.
Rabella memutus panggilan itu sambil tertawa dan berkata. "Akbar cuma milik gua Ris, jadi sorry kalau gua akan singkirkan satu persatu yang menghalangi cinta gua untuk bersemi." Ucap Rabella di tengah kesendiriannya.
..."πΏπππππππ πΈππ πΈππππ πΊπ"...
Dan benar saja, mata-mata itu pun memulai aksi nya. lalu di saat Riska memeluk Akbar dan berc**man, mata-mata itu pun mendekat pada Riska.
Namun di saat ia hendak menusukkan sebilah pisau ke punggung Riska, tangan mata-mata itu pun diam tak berkutik saat Riska genggam dengan kasar.
"Ehm.." Dehem Riska yang langsung menghentikan cium*n nya.
"Why?." Tanya Akbar yang kemudian menatap mata Riska yang membuka lebar.
Lalu Akbar yang merasa Riska tengah emosi pun melihat ke belakang Riska. dimana ada seorang Pria yang kini tengah Riska genggam tangan nya dengan penuh emosi.
"Dia sudah mengganggu kebersamaan kita, tidak mungkin aku langsung melepaskannya begitu saja." Balas Riska yang kemudian beranjak.
Lalu Akbar yang menganalisa akan terjadi sesuatu yang tidak di inginkan pun segera memakai boxer dan menutup tubuh Riska dengan kimono.
"Atas izin siapa lu masuk rumah gua hah?." Tanya Riska yang semakin mengeratkan genggaman nya.
"Ma..af, gua cuma di suruh oleh Rabella, tolong lepaskan gua." Jawab mata-mata itu dengan terbata-bata menahan sakit.
"Lu jangan sembarangan memfitnah orang ya." Tegur Akbar yang tidak terima Rabella di tuduh.
"Gua tidak menuduh, ini fakta nya" Balas mata-mata itu.
"Kenapa Bee?, apa kamu masih tidak percaya kalau dia suruhan Rabella." Tanya Riska yang tetap fokus melihat sang mata-mata.
"Bu.. bukan gitu Bee, a.. aku cuma.." Jawab Akbar yang terbata-bata.
"Ehm.., memang cinta membutakan segala nya." Ucap Riska.
Lalu di tengah kesal nya, Riska pun langsung menarik tangan si mata-mata hingga berdiri membelakangi nya. dan dengan cepat, pisau yang si mata-mata pegang pun langsung menyayat leher nya sendiri.
Kemudian, Riska melepas mata-mata itu dan menghampiri Aidha yang benar-benar anteng tanpa menangis sedikit pun di kala suara gaduh itu berlangsung.
__ADS_1
"Bee, apa yang kamu lakukan hah?, dia bisa mati." Tegur Akbar.
"Jika dia tidak mati, maka aku yang akan mati. apa kamu lebih memilih aku yang mati agar kamu bisa bersama Rabella hah?." Tanya Riska.
"Bukan begitu Bee, aku tidak akan kembali dengan Rabella. tapi bukan berarti kamu harus membunuh orang yang tidak bersalah ini." Jawab Akbar sambil meninggikan suara nya.
"Orang tidak bersalah?, orang yang datang dengan lancang ke kamar untuk mengganggu kesenangan ku, dan orang yang akan mencoba membunuh ku itu tidak bersalah hah?." Tanya Riska sambil menahan emosi nya.
Kemudian Akbar yang melihat tatapan mata Riska mulai berbeda pun diam tanpa banyak bicara lagi. sedangkan Riska segera menekan tombol darurat yang langsung membuat para penjaga berkumpul di depan kamar mereka.
Lalu Riska pun membukakan pintu untuk memudahkan mereka membawa mayat si mata-mata. sedangkan Bunda Dele yang kaget melihat mayat itu pun segera menghampiri Riska dan Akbar.
"Itu mayat siapa?." Tanya Bunda Dele.
"Suruhan Rabella Bun." Jawab Riska dengan lancar nya.
"Hem.. kenapa dia main-main dengan keluarga kita terus si!, dan kamu!, lupakan Rabella dan jangan pernah menghubungi nya lagi, paham!." Teriak Bunda Dele pada Akbar yang membuat Akbar dan Aidha yang tengah tidur kaget.
"Uwek... Uwek..." Cuala Aidha comel menangis ma...
"Hustt.. sini sama Omah ya, kita ke kamar omah saja." Ucap Bunda Dele sambil menenangkan Aidha.
"Menantuku, kamu lebih baik bersihkan diri dulu ya. tangan mu sangat kotor, Bunda tidak ingin tangan mu kotor sedikit pun hanya karena mengurus suruhan si j*lang itu." Titah Bunda Dele yang kemudian pergi meninggalkan Akbar dan Riska.
Lalu Riska pun beranjak ke kamar mandi. namun sebelum itu, Akbar langsung menggenggam tangan Riska dan menatap nya.
"Kenapa Bee?." Tanya Riska.
"Aku yang harusnya bertanya, kamu kenapa lancang sekali bilang kalau semua itu ulah Rabella sebelum ada bukti." Jawab Akbar.
"Kenapa Bee, apa harus menunggu ku mati baru kamu diam tanpa membela nya sedikit pun?." Tanya Riska.
"Bukan begitu Bee, tapi semua kan belum ada bukti. harusnya kamu diam dulu sebelum semua bukti mengarah pada Rabella." Jawab Akbar.
"Terserah kamu saja Bee." Ucap Riska yang kemudian melepas secara paksa genggaman Akbar.
Bersambung...
^^^"Apa begini cara mu menunjukkan bahwa aku berarti untuk mu?, jika memang ya, kenapa kau tidak meninggalkan ku dan kembali padanya."^^^
_Riska sad.
see next episode.. jangan lupa di like, koment, rate, vote or gift ya..
terimakasih semua.. thanks for everything..
__ADS_1