
"Kamu bisa memegang janjimu, namun sebelum itu, kamu harus check up dulu oke." Ucap Tuan Laurent.
"Sebelum aku menyelesaikan tugas ini, aku tidak mau check up Pah." Balas Riska.
"Tapi kesehatan mu lebih penting di banding tugas yang Papah berikan." Ucap Tuan Laurent.
"Percayalah aku akan baik-baik saja Pah. tolong biarkan aku menyelesaikan tugas ini baru check up Pah." Mohon Riska pada Tuan Laurent.
Lalu Tuan Laurent yang melihat kondisi Riska pun mengizinkan permintaan Riska. namun karena hari semakin larut malam, Tuan Laurent pun memberikan sebuah pil obat.
"Minumlah..." Ucap Tuan Laurent.
"Ehm.. kenapa harus obat ini lagi Pah?." Tanya Riska dengan malas nya.
"Papah cuma mau kamu tidur nyenyak malam ini." Jawab Tuan Laurent.
"Aku tidak mau meminum nya, biarlah ku tidur semauku Pah. intinya aku tidak akan mengecewakan Papah dengan tugas yang Papah berikan pada ku." Ucap Riska dengan tegas.
"Baiklah jika kamu tidak mau meminum nya, lebih baik kamu sekarang kembali dan istirahat dengan cukup." Ucap Tuan Laurent.
"Oke Pah, aku pulang dulu ya, kasihan Aidha pasti sudah tertidur di gendongan Kresna." Balas Riska.
"Iya sayang, baik-baik ya kamu." Ucap Tuan Laurent.
"Papah juga, muach dadah.." Balas Riska yang langsung mengecup pipi Tuan Laurent.
Lalu Riska pun pergi keluar ruangan Tuan Laurent dan menghampiri Kresna yang tengah menggendong Aidha yang sudah tertidur.
"Maaf ya gua lama banget di dalam." Ucap Riska sambil meraih Aidha.
"Tidak apa-apa Ris, oh ya gua antar lu pulang ya, kasihan Aidha lagi tidur begitu." Balas Kresna.
"Gua tidak mau merepotkan lu." Ucap Riska.
"Tidak apa-apa Ris, gua tidak pernah merasa di repotkan lu. ayo masuk ke mobil, urusan motor nanti biar supir yang urus." Balas Kresna.
"Baiklah kalau begitu, thanks ya." Ucap Riska.
Kemudian Kresna pun tersenyum dan langsung mengajak Riska ke parkiran mobil. setelah itu Riska dan Aidha pun pulang di antar Kresna.
..."Pembalap Itu Istri Ku"...
Beberapa menit kemudian, Riska dan Aidha pun sampai di depan rumah. lalu Kresna pun langsung pergi dengan supir yang tadi membantu mengantar motor Riska ke rumah.
__ADS_1
Setelah itu, Riska langsung ke dalam dengan di sambut Akbar yang berdiri sambil menyilangkan kedua tangan nya di dada.
"Habis dari mana kamu?." Tanya Akbar.
"Ketemu Papah di kantor polisi." Jawab Riska sambil melangkah tanpa menghiraukan Akbar.
"Ke kantor polisi apa ketemu Kresna hah?." Tanya Akbar sambil mengikuti langkah Riska.
"Aku bertemu dengan Papah di kantor polisi, dan kresna ada di sana juga." Jawab Riska dengan sangat santai.
"Jangan bohong kamu sama aku." Ucap Akbar.
"Untuk apa aku berbohong?, tiada untung buat ku juga." Balas Riska yang kemudian masuk ke dalam kamar.
Lalu Akbar yang masih belum percaya dengan Riska pun terus bertanya pada Riska. hingga Riska yang pusing mendengar banyak pertanyaan Akbar pun segera menaruh Aidha di ranjang nya dan menarik tangan Akbar ke balkon.
"Dengar!, aku tidak pernah berselingkuh dengan siapapun, dan aku juga sedang tidak membahas balapan atau apapun dengan Kresna. aku ke kantor polisi atas panggilan Papah bukan semata-mata hanya alasan untuk bertemu Kresna, paham kamu." Ucap Riska dengan wajah dingin tanpa memperlihatkan emosi maupun sedih.
"Ehm.. baiklah untuk kali ini aku percaya padamu. tapi ingat, kalau kamu masih berisi keras untuk balapan atau melakukan hal yang tidak aku suka, maka aku akan.." Ucap Akbar yang Riska potong.
"Akan apa?, cerai?, ninggalin aku?, selingkuh?, mau apa?" Tanya Riska yang memotong ucapan Akbar.
Dan dengan seketika, Akbar pun terdiam dengan pertanyaan Riska. sedangkan Riska langsung menatap Akbar dengan tatapan tajam dan wajah dingin nya.
"Karena hubungan itu berjuang bersama bukan berjuang sendiri." Sambung Riska yang kemudian membuang muka menatap langit malam.
Lalu setelah mendengar ungkapan hati Riska yang sudah tidak bisa di pendam, Akbar pun memeluk Riska dari belakang dan mengecup pucuk kepala nya.
"Aku tidak akan meninggalkan kamu kok Bee, aku cuma mau kamu menjaga dirimu dengan baik dan tidak bermaksud menyakiti mu." Ucap Akbar yang mencoba menenangkan Riska.
"Aku tidak butuh belas kasihan mu, aku hanya ingin di cintai bukan hanya memiliki mu namun tidak memiliki hatimu." Balas Riska yang masih melihat langit.
"Aku mengerti kok Bee, dan aku pun sudah mencoba nya, akan tetapi aku.." Ucap Akbar yang kembali Riska potong.
"Kamu masih mencintai Rabella, aku tau kok, jadi santai saja." Balas Riska yang memotong ucapan Akbar.
Lalu Akbar pun hanya membenamkan wajah nya ke leher Riska sambil mengeratkan pelukan nya seolah tidak ingin lepas.
"Aku tau kamu menyayangi aku Bee, tapi aku juga tau kamu masih mencintai Rabella. namun maaf, aku tidak ingin membagi suami, maka dari itu aku akan membuatmu menjauh dari Rabella untuk selamanya." Ucap batin Riska sambil mengepalkan tangan nya dengan erat.
..."Pembalap Itu Istri Ku"...
Waktu terus berlalu, kini malam sudah berganti menjadi pagi lagi. kicauan burung mulai terdengar, dan pepohonan di basahi oleh air embun pagi.
__ADS_1
Namun di pagi itu Riska sudah tidak ada di kamar sehingga membuat Akbar panik bukan main.
"Bunda!!!, Bun....!!!" Teriak Akbar sambil berlari kesana-kemari.
"Ada apa si Akbar?, pagi-pagi sudah berisik sekali." Tanya Bunda sambil merapihkan rambut nya.
"Riska dimana Bunda?, aku tidak melihat nya." Tanya Akbar.
"Riska sudah pergi pagi-pagi sekali untuk melaksanakan tugas dari Laurent." Jawab Bunda Dele.
"Tanpa izin dari ku, begitu?." Tanya Akbar dengan kesal.
"Sudahlah, tugas ini yang akan membuat kamu sadar akan pilihan mu. maka dari itu, diamlah sampai nanti menantuku kembali dengan wajah ceria." Jawab Bunda Dele yang membela penuh Riska.
"Bunda selalu membela Riska, jangan sampai Bunda menyesal atas pembelaan penuh Bunda terhadap Riska." Ucap Akbar.
"Bunda tidak peduli, yang pasti Bunda yakin menantu Bunda tidak akan pernah salah dalam mengambil keputusan." Balas Bunda Dele dengan yakin.
Lalu Akbar yang mendengar pembelaan Bunda Dele pun langsung beranjak pergi ke kamar mandi dan bersiap ke kantor. sedangkan di sisi lain, Riska sudah di kantor Akbar dan menaruh surat di atas meja nya.
Kemudian ia bertemu dengan Salim dan Renata secara bergantian untuk berbicara sedikit atas perintah singkat nya yang harus mereka laksanakan.
"Sebagai sahabat Akbar, aku mau kalian menjaga Akbar selama ku pergi, aku tidak akan lama meninggalkan Akbar dengan kalian dan Bunda Dele. dan pesan ku, tolong jangan izinkan Rabella masuk ke kantor ini apapun yang terjadi." Ucap Riska dengan beberapa perintah nya.
"Kami paham Ris." Balas Salim dan Renata dengan bersamaan.
"Terimakasih, aku pergi dulu. jaga diri kalian dan jika aku tidak kembali, maka ikhlaskan lah aku karena aku akan pergi dari bumi ini." Ucap Riska yang kemudian pergi tanpa banyak bicara lagi.
"Ehm.. kenapa Kak Riska senekat ini si Sayang?." Tanya Renata.
"Riska seorang yang tanggung jawab, aku yakin ini adalah bentuk tanggung jawab nya sebagai anak dari mafia. dan aku juga yakin dia tengah melakukan tugas nya untuk menjaga suami nya dengan baik." Jawab Salim yang percaya penuh dengan Riska.
"Aku tidak mengerti maksud mu sayang." Ucap Renata.
"Nanti juga kamu akan mengerti kok." Balas Salim.
Lalu Salim dan Renata pun melanjutkan aktivitas kerja nya setelah mengobrol sedikit. sedangkan Riska kini sudah pergi menaiki motor nya dengan pakaian serba hitam dan penyamaran penuh ala Riska.
Bersambung...
Hello all, maaf ya aku baru sempat up, karena di real ku masih banyak sekali pekerjaan yang tertunda dan harus ku selesaikan bulan ini juga.
Terimakasih karena kalian selalu menunggu up novel kesayangan kalian. semoga sehat selalu ya semuanya.
__ADS_1
See you di next episode.