
Hari beberapa hari kemudian.
Kini Riska sudah semakin lancar menjadi skertaris Akbar, bahkan Akbar pun mulai merasa nyaman walau kadang berbagai hal usil pun kian selalu terjadi antara Akbar dan Riska.
Hingga suatu hari, Bunda Dele pun mengajak makan malam bersama para staf karyawan serta keluarga Riska di rumah nya untuk memperingati hari ulang tahun Pratama Acour.
Lalu Akbar yang terlihat tampan pun menjadi incaran cuci mata para staff karyawan wanita di Pratama Acour, sedangkan Riska, dia pun heran dengan para gadis di sana karena melihat Akbar begitu antusias.
"Kalian kenapa si melihat Akbar seperti melihat bidadara terbang saja." Tanya Riska yang masih heran.
"Coba deh kamu lihat Pak Akbar baik-baik Bu Riska, dia tampan sekali seperti malaikat." Jawab salah satu staff wanita.
Lalu Riska pun melihat baik baik Akbar dan menaikkan sebelah halis nya sambil menilai style Akbar malam itu, setelah itu, Akbar yang melihat Riska tengah memperhatikan nya pun berpikir bahwa Riska kagum dengan dia.
Dan dengan Pd (percaya diri) nya, Akbar pun menghampiri para gadis itu dan Riska yang terlihat heran dengan Akbar yang sok kecakepan.
"Lah ngapain kesini Bar?" Tanya Riska.
"Lu ngapain melihat gau seperti itu?, hati-hati naksir nanti lu haha." Balik tanya Akbar.
"Hadeh tidak usah sok kecakepan dulu deh, gua cuma heran saja kok staff karyawan cewek lu pada suka sama CEO seperti lu ya, padahal lu kan biasa saja." Ucap Riska.
"Anjer nih cewek, kalau bukan lagi ada Bunda dan Pak Laurent, udah gua bejek abis dah jadi tempe terus gua goreng." Celetuk batin Akbar dengan kesal.
"Woy kebiasaan lu suka melamun, belum saja lu kesambet aing maung." Tegur Riska.
"Heleh, lu sendiri sudah seperti wanita tidak normal saja. yang lain saja kagum dengan ke gantengan gua, masa lu biasa saja si." Ucap Akbar sambil mengedipkan sebelah mata nya sebelah dan mengusap rambut nya.
Dan hal itu pun membuat para Staff karyawan wanita perusahaan nya meleleh bahkan satu dua orang pingsan karena melihat Akbar ber pose ganteng bin gagah ala Akbar.
__ADS_1
"Hais bener-bener sok kecakepan lu" Ketus Riska lalu pergi begitu saja.
Namun saat Riska hendak melangkah lebih maju, Akbar pun mengambul micropon dan berkumandang.
"Riska kamu cantik malam ini, seperti bidadari yang turun dari kayangan hingga jatuh tepat di hatiku..." Puisi Akbar sambil melangkah mendekat pada Riska.
Lalu Bunda Dele dan Mr. Laurent yang melihat hal itu pun kaget bahkan semakin mantap akan rencana kedua nya.
"Seperti nya kita tidak salah waktu Ren." Ucap Bunda.
"Iya Del, mungkin memang ini saat nya." Balas Mr. Laurent.
Setelah itu, Bunda Dele dan Mr. Laurent pun bergabung dengan kerumunan para staff karyawan Pratama Acour untuk menyaksikan pesona puisi Akbar untuk Riska.
"Mau sampai kapan kamu akan berbohong kalau kamu tidak mencintai ku, mau sampai kapan kau pura-pura dingin pada ku.." Ucap Akbar.
Lalu Riska yang awal nya kesal dengan Akbar pun berubah menjadi lebih lembut, karena diam-diam Riska sudah menaruh rasa pada Akbar sejak ia menolong Riska sampai kini.
"Bar, ih malu woy" Tegur Riska sambil tersenyum kecil dan pipi nya pun memerah karena malu.
"Gua... iya gua melihat lu itu aneh karena penampilan lu yang hahaha sudah lah haha." Sambung Akbar sambil tertawa lalu memberikan microfon itu pada MC lagi.
Lalu Riska yang merasa di permainkan oleh Akbar pun pergi dengan kecewa, lalu menabrak Bunda Dele dan Mr. Laurent.
"Akbar!, ehm Nak jangan menangis sayang." Ucap Bunda.
"Ehm.. maaf ya Bunda jadi malah rusak kan make up hasil riasan nya Bunda." Balas Riska lalu melanjutkan lari nya.
Lalu Bunda Dele pun menjewer telinga Akbar, dan Mr. Laurent pun memukul pundak Akbar pelan.
"Haduh Bar, kalau kamu suka dengan anak saya itu jangan begini. yang ada dia malah kecewa." Ucap Mr. Laurent.
"Aduh iya iya." Balas Akbar sambil meringis kesakitan karena jeweran Bunda.
__ADS_1
"Nih bawa kotak ini lalu minta maaf pada Riska." Titah Bunda Dele sambil memberikan kotak kecil pada Akbar.
"Aduh ini apa Bun?" Tanya Akbar.
"Udah jangan banyak tanya, sana minta maaf lalu kamu lakukan suatu hal untuk Riska dengan kotak ini sesuai hati mu okey." Jawab Bunda.
"Iya tapi lepaskan dulu Bun jeweran nya, sakit oey.." Ringis Akbar.
Lalu Bunda Dele pun melepas jeweran nya dan membiarkan Akbar menghampiri Riska yang tengah duduk di kursi sambil meminum bir dengan 10% alkohol.
"Ris, gua minta maaf." Ucap Akbar.
"Tidak apa-apa gua sudah biasa." Balas Riska sambil menaruh bir anggur yang sudah terteguk setengah nya.
"Woy lu mabuk!" Tegur Akbar yang melihat Riska lebih dekat.
"Tidak lah Bar, lagian gua sudah biasa. jadi kalau cuma sebotol ya tidak akan mengaruh pada gua." Jawab Riska dengan santai dan masih sadar sepenuh nya.
"Ehm.. lain kali jangan mabuk Ris, ini tidak baik dengan kesehatan lu." Ucap Akbar lalu berlutut sambil menjauhkan bir itu dari Riska.
"Apa peduli lu hah?, gua mati pun lu tidak akan peduli Bar." Ucap Riska.
"Gua peduli sama lu, gua juga sayang sama lu. jika tidak sayang, untuk apa gua melarang lu meminum bir yang tidak baik untuk lu." Balas Akbar sambil merapihkan rambut Riska dan mengelap tangan Riska dengan tisyu.
"Terus kenapa lu mempermalukan gua dengan puisi bangk* lu?." Tanya Riska yang sudah habis kesabaran nya.
"Hadeh Ris, please gua itu sayang sama lu, tapi gua tidak tau cara mengungkap kan nya." Jawab Akbar sambil berdiri membelakangi Riska.
Lalu Riska pun terbelalak kaget dengan jawaban Akbar, begitu pun dengan Akbar yang keceplosan akan perasaan nya.
Namun semua itu pun kembali di alihkan oleh Akbar dengan memberikan sebuah kotak yang di beri oleh Akbar.
Dan Riska pun semakin tidak percaya di buat nya, karena isi kotak yang di berikan Bunda Dele untuk Akbar itu adalah...
__ADS_1
Bersambung..