
Sesampai nya di dalam kantor, Riska jadi pusat perhatian karena penampilan nya yang beda dari para karyawan dan staff di kantor Pratama Acour.
Lalu Akbar yang melihat Riska yang risih dan bingung dengan tatapan para pekerja nya pun segera memegang tangan Riska.
"Kenapa Akbar?" Tanya Riska.
"Gak apa-apa, lu diam ya selama gua bicara" Titah Akbar.
Lalu Riska pun mengangguk meng iya kan apa yang Akbar pinta, karena ia tau apa yang Akbar pinta dan suruh selama di kantor berarti itu tanggung jawab nya.
"Ehm.. apa begini ya cara kerja kalian?, melihat staf baru seperti baru melihat manusia di bumi dan membicarakan dia. apa itu cara kerja kalian?" Tanya Akbar dengan dingin.
Dan para Karyawan dan Staff pun diam dari bising nya, lalu menundukkan kepala mereka dan tidak berani menatap Riska maupun Akbar. dan tidak lama dari itu, Salim pun menghampiri Akbar dan Riska.
"Ada apa Bar, pagi-pagi sudah bicara tegas kepada mereka?" Tanya Salim lalu menengok menatap Riska sambil tersenyum.
"Gak apa-apa Lim, gua cuma gak suka saja ada orang yang membicarakan bahkan melihat Riska seperti melihat yang tidak pantas di lihat" Jawab Akbar.
"Owalah gitu, by the way namanya Riska Mbak?" Tanya Salim sambil mengulurkan tangan nya.
"Iya Pak, nama saya Riska gundala putri biasa di panggil Riska atau Dala" Jawab Riska dengan sopan.
"Baik Riska, nama ku Pernando salim panggil saja saya Salim atau apalah terserah kamu asal jangan terlalu formal. anggap saja kita teman" Ucap Salim.
"Baik Pak." Balas Riska.
"Sudahkah kenalan nya?" Tanya Akbar.
"Haha sudah Tuan CEO ambekan" Ejek Salim.
"Kampret lu Eng!, dah sana lu kerja" Usir Akbar secara halus.
Lalu Salim pun melangkah dan masuk ke dalam ruang kerja nya, lalu di susul oleh Akbar yang masuk ke dalam ruang kerja nya di ikuti oleh Riska di belakang Akbar.
"Baik Riska, ini ruang kerja kita. ini meja kerja lu dan sebelah nya meja kerja gua. di sini banyak sekali furniture yang gua suka, dan lu jangan sekali-kali menggeser atau mengubah tata letak nya karena gua tidak menyukai nya." Tutur Akbar yang menunjukkan seluruh isi ruangan nya.
Dan setelah Akbar menjelaskan sistem kerja Riska dan juga ruangan kerja mereka, Akbar pun melangkah menuju meja furniture dan memutar satu patung kecil di atas meja. hingga sebuah dinding pun terbuka seperti layak nya pintu ajaib.
"Loh, ini ruangan apa Pak?" Tanya Riska.
"Ini ruangan istirahat gua" Jawab Akbar lalu masuk ke dalam ruangan rahasia itu yang di susul oleh Riska di belakang nya.
Lalu Riska pun terkagum ketika banyak sekali lukisan dan prakarya yang di buat oleh Akbar sendiri di ruangan itu. namun mata Riska berhenti ketika melihat foto seorang wanita cantik di atas nakas.
"Dia siapa Bar?" Tanya Riska.
__ADS_1
"Hidup gua yang kini menjadi kenangan pahit. " Jawab Akbar.
"Sabar ya Bar, dan maaf jadi ngupas luka lu deh" Ucap Riska.
"No problem" Balas Akbar.
Setelah melihat all ruangan, Akbar pun duduk di meja kerja nya begitu pun dengan Riska. lalu ketika Riska akan memulai kerja nya, Akbar pun mengucapkan sesuatu pada Riska.
"Kenapa Bar?" Tanya Riska.
"Gak apa-apa, gua cuma mau selama kita di kantor lu panggil gua Pak, dan ketika di luar silahkan saja mau memanggil gua dengan sebutan apa lu mengerti?" Jawab Akbar.
Lalu Riska pun memahami apa yang Akbar bilang. dan setelah itu, Akbar dan Riska pun memulai kerja nya.
<<>>
Mr. Laurent yang tengah sibuk mengurus kantor pun di kaget kan dengan kabar bahwa musuh besar nya yaitu Pramuja tengah mengincar Riska untuk bisa mendapatkan semua aset satu cabang perusahaan Mr. Laurent.
"Bagaimana bisa?" Tanya Mr. Laurent pada ketua bodyguard nya.
"Maaf Tuan" Hanya itu yang keluar dari mulut ketua bodyguard.
"Jika memang benar dia tengah mengincar Putri ku, saya mau kamu dan dua orang bawahan mu ke rumah Riska untuk mengajak nya tinggal bersama ku." Titah Mr. Laurent.
Lalu Mr. Laurent pun mengangguk dan meraih hanphone nya. dan tanpa pikir panjang, ia pun langsung menelpon Riska ketika jam kerja baru saja di mulai.
"Tring.. tring.. tring.." Suara handphone berdering.
"Ehm.. jawab dulu panggilan telephone nya Ris" Ucap Akbar yang tengah bergelut dengan laptop nya.
"Baik pak" Balas Riska.
Lalu Riska yang tengah bergelut dengan laptop nya pun menghentikan aktivitas nya sejenak lalu menjawab panggilan telephone yang tidak lain dari Mr. Laurent tadi.
"Hallo sayang, nanti pulang kerja kamu langsung ke rumah Papah saja ya" Ucap Mr. Laurent.
"Kenapa Pah?, kok mendadak begini" Balas Riska sambil bertanya pelan-pelan.
"Nyawa mu dalam bahaya karena Papah" Ucap Mr. Laurent yang menyesal.
"Papah tenang saja, aku bisa menjaga diri ku baik-baik. jangan merepotkan dirimu sendiri hanya karena aku ya, aku tidak mau jadi beban Papah." Balas Riska.
"Bukan begitu sayang, musuh Papah mengancam untuk melukai kamu. tolong ikuti perintah Papah demi kebaikan kamu juga." Ucap Mr. Laurent memohon karena takut.
"Baiklah, nanti aku akan pulang ke rumah Papah. share saja lokasi nya nanti aku kesana" Balas Riska.
__ADS_1
"Baiklah, yasudah kalau begitu kamu lanjut kerja nya yak, see you" Ucap Mr. Laurent.
"See you too" Balas Riska.
Lalu panggilan pun terputus. setelah itu, Riska pun melanjutkan kembali aktivitas nya hingga tak terasa waktu pun terus bergilir dan menujukkan pukul 12:00 wib tanda waktu istirahat kerja tengah tiba.
"Sudah Ris jangan kerja terus, sekarang lu boleh istirahat karena sudah waktu nya istirahat kerja." Ucap Akbar.
"Oh gitu ya, terimakasih sudah memberitahu" Balas Riska.
Namun Akbar tidak merespon ucapan Riska dan langsung pergi keluar tanpa menunggu Riska. sedangkan Riska langsung beranjak ke luar ruangan nya menuju kantin.
Di sana semua orang tengah asik menyantap makan siang nya, namun berbeda dengan Riska. ia tengah membuka handphone nya melihat step by step memodifikasi kecepatan motor di atas rata-rata sambil menyantap sepotong roti.
Lalu Akbar yang tengah asik mengobrol dengan Salim dan Renata pun tidak fokus dengan obrolan mereka, namun ia tengah memperhatikan Riska yang gelagat nya aneh tidak seperti yang lain bahkan setelah roti nya habis pun ia meminum obat entah obat apa.
"Bar kenapa?" Tanya Salim.
"Gua cuma lagi memperhatikan Riska. dia tidak makan siang dan hanya menyantap sepotong Roti, tidak berbaur dan memilih sendiri, dan itu obat apa yang tengah ia minum gua pun tidak tau." Jawab Akbar.
"Apa mungkin dia mempunyai kelainan?" Tanya Salim.
"Kepala lu tiga, mungkin dia memang suka menyendiri Lim bukan punya kelainan. astaga pacar lu Na keterlaluan banget" Jawab Akbar sambil menepak pundak Salim.
"Haha, namanya juga Pernando salim" Balas Renata.
Lalu mereka pun kembali menyibukkan diri dengan aktivitas istirahat masing-masing. hingga bel masuk pun berbunyi, namun dering nya terdengar lebih dengung karena ada gangguan dari sistem bel tersebut.
"Aaghr.." Ringis Riska sambil memegang kepala nya.
Dan semua karyawan dan staff pun memegang kuping mereka begitu pun Akbar, Salim dan Renata. namun Renata tanpa sengaja melihat Riska yang terjatuh dari kursi nya sambil memegang kepala nya.
"Pak Akbar, Sayang, itu Riska kenapa?" Tanya Renata.
"Seperti nya dia pingsan." Jawab Salim.
Lalu tanpa pikir panjang, Akbar pun lari menuju Riska di susul oleh Renata dan Salim. setelah sampai di samping Riska, Akbar pun langsung menggendong nya menuju ruangan nya.
Bersambung..
Maaf ya gaes aku baru update sekarang, karena aku sibuk sekali minggu ini.
Maaf sekali untuk all readers maupun autors setia karena sudah menunggu lama pasti kan.
Baik segitu saja episode kali ini yak, jangan lupa like koment and rate.
__ADS_1