Pembalap Itu Istri Ku

Pembalap Itu Istri Ku
Penculikan Riska


__ADS_3

Lalu Raihan pun hanya tersenyum dan mengelus Riska tanpa berkata apa-apa lagi. dan setelah itu, Raihan menatap Riska semakin dalam.


Namun ketika Raihan hendak mencium Riska, ia pun mengalihkan keinginan nya karena mencoba mengerti kondisi Riska.


"Maaf" Ucap Raihan.


"Tidak apa-apa Kak." Balas Riska.


"Oh ya, Reival tidak menganggumu kan hari ini?." Tanya Raihan.


"Tidak Kak, dia sangat baik hari ini. dan ya, kamu sudah makan?." Tanya balik Riska.


"Aku sudah makan, kamu jangan khawatir. dan aku ingin bertanya satu hal pada mu." Jawab Raihan.


"Apa itu Kak?." Tanya Riska dengan wajah yang penasaran.


"Kenapa kamu bunuh diri hanya karena Akbar?, bukankah aku sudah bilang pada mu untuk bersabar. kita pasti akan mendapat hak asuh Aidha." Jelas Raihan.


Namun kali ini Riska hanya diam dan menundukkan kepalanya tanpa menjawab sedikit pun pertanyaan Raihan. hingga akhirnya Raihan yang mengerti perasaan Riska pun langsung memeluk nya.


"Jika tidak mau jawab, tidak apa-apa kok." Ucap Raihan.


"Maaf" Balas Riska yang kemudian memeluk pinggang Raihan.


"Yasudah kamu istirhat dulu ya, Reival biar ku bangunkan dulu." Ucap Raihan sambil membangunkan Reival.


"Tidak apa-apa Kaka, jangan di bangunkan. biarkan dia tidur di pangkuan ku karena semenjak sudah beranjak dewasa, Val jarang tidur di pelukan ku atau pun tidak lagi sering mengabariku." Balas Riska.


"Baiklah jika begitu" Ucap Raihan.


Kemudian Riska pun tertidur karena efek obat yang dia minum. lalu Raihan yang terjaga pun membangunkan Reival karena Riska harus istirahat dengan benar.


"Val.. Bangun nak." Ucap Raihan.


"Iya Pah" Balas Reival sambil menggisik mata nya.


Setelah itu, Reival pun beranjak dan melanjutkan tidurnya di sofa, sedangkan Raihan membenarkan tidur Riska agar merasa nyaman.


Lalu Raihan pun mengecup kening Riska dan berbisik padanya.


"I love you.. cepat sembuh ya sayank." Bisik Raihan yang kemudian duduk di sofa satu nya.


........

__ADS_1


Ketika di sepertiga malam, ternyata diam-diam Qasid yang terluka pun menyiapkan rencana jahat. karena ia tidak terima dengan kekalahannya, dengan strategi nya, ia pun menyuruh dua anak buah nya untuk menyusup ke rumah sakit.


Lalu dua anak buah nya pun menyusup ke dalam ruangan Riska dengan diam-diam. kemudian Riska yang membuka matanya dan mencoba


teriak pun harus terdiam lemah karena di bekap obat bius.


"Cabut infusnya dan kita pergi dari sini." Titah salah satu dari mereka.


Kemudian Riska pun di gendong menuju luar ruangan dan di pindahkan ke kursi roda yang sudah di siapkan oleh dua anak buah Qasid yang tengah menunggu di luar ruangan.


"Aman.." Ucap salah satu dari mereka.


"Ayo cepat kita pergi dari sini sebelum di sadari pihak rumah sakit." Balas salah satu dari mereka.


Lantas Riska pun berhasil di culik dan di bawa dengan mobil menuju markas Qasid yang bisa di bilang villa yang masih terawat di dekat hutan.


....


Pagi tiba..


Raihan yang terbangun duluan pun kaget karena Riska sudah tidak ada di brangkar. Bahkan di kamar mandi maupun seisi ruangan di rumah sakit pun tidak ada Riska di sana.


Namun di saat Raihan panik, Reival pun menenangkan Raihan dan mencoba mencari solusi untuk masalah ini.


"Cctv pah." Ucap Reival.


Lalu mereka pun beranjak dari ruangan menuju ruang cctv. dan berkat cctv itu, Reival yang daya ingat nya cukup baik pun langsung mengenali semua penyusup yang membawa Riska pergi.


Dan dengan cepat Reival segera ke ruangan Riska yang sebelum nya di rawat. ia mengambil laptop nya di tas dan mulai mencari info tentang Qasid.


Setelah itu, Reival tanpa berdiskusi dengan Raihan pun segera mengerahkan PWD (PowerWariorDestroyer) untuk segera berpencar mencari lokasi yang di tunjukkan Reival dengan diam-diam.


"Pah.." Panggil Reival.


"Iya iya.." Balas Raihan yang baru saja sampai di ruangan.


"Aku sudah menemukan keberadaan Mama, ayo kita berangkat sekarang sebelum terjadi apa-apa." Ucap Reival.


"Baiklah ayo.." Balas Raihan.


Kemudian Reival dan Raihan pun pergi menuju markas villa milik Qasid. namun di sisi lain, Riska yang tidak berdaya pun di pukul dan di siksa di dalam ruangan kosong villa itu.


"Karena ulah Anak lu, inilah balasan yang setimpal." Ucap Qasid sambil mencambuk Riska.

__ADS_1


Namun di saat Qasid mencambuk Riska, ia pun menyadari kalau Riska baru saja selesai oprasi jantung berkat darah yang terus keluar dari luka jahit Riska yang sobek akibat terkena cambukkan.


"Oh.. jantung lu bermasalah ya.. haha.. " Ejek Qasid.


"Gua tidak takut dengan banyak nya luka yang lu kasih, tapi jangan salahkan gua bila mana nasib lu tidak lagi akan sama dengan sebelum nya." Balas Riska.


"Berani lu banyak bacot sama gua hah!." Bentak Qasid.


"Tunggu saja." Ucap Riska yang terus memperingati Qasid.


Lalu Qasid yang geram pun langsung menekan luka pada dada Riska yang belum kering, namun Riska hanya terlihat santai tanpa merintih sedikit pun.


Hingga Riska yang ikut geram dengan tingkah laku Qasid, ia langsung mengadukan kepala nya pada wajah Qasid sampai ia mengeluarkan darah di hidung nya.


"Cuma segitu saja?" Ucap Riska yang langsung beranjak berdiri dari kursi.


"Lu pikir semudah itu mau menumbangkan gua?." Sambung Riska yang langsung menginjak dada Qasid.


Lalu Riska terus menghajar Qasid sehingga semua anak buah nya hanya bisa diam ketakutan melihat ke brutalan Riska.


"Kalian urus bos kalian, dan jangan pernah sedikitpun macam-macam dengan gua mau pun keluarga gua." Ucap Riska dengan penuh penekanan.


Setelah itu, Riska keluar dari villa itu dan pergi. sedangkan Qasid benar-benar di bawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pertolongan medis yang cukup serius.


Hingga di sisi lain, Riska yang mencoba mencari jalan pulang pun bertemu dengan Reival dan Raihan yang sedari tadi mencari Riska.


"Pah, itu Mama." Ucap Reival.


"Oke" Balas Raihan.


Lalu Raihan segera menepikan mobil nya di pinggir jalan dan langsung menggendong Riska masuk ke dalam mobil karena kondisinya sudahlah lemah.


"Bertahan sebentar ya Mama." Ucap Reival.


"Kita pulang saja, aku tidak mau di rumah sakit." Balas Riska.


"Kita harus ke rumah sakit Mam, kondisi Mama tidaklah baik." Ucap Reival.


"Pulang ke rumah." Balas Riska dengan tegas.


"Baiklah Reival tolong hubungi Grandfa untuk segera memanggil Dokter keluarga, kita akan segera pulang." Titah Raihan.


"Baiklah kalau begitu Pah." Balas Reival yang langsung menelpon Tuan Laurent.

__ADS_1


Kemudian Raihan pun segera mengemudikan mobil nya dengan kecepatan penuh. sedangkan Riska hanya menggenggam tangan Reival sambil menguatkan diri nya agar tetap stabil.


Bersambung..


__ADS_2