Pembalap Itu Istri Ku

Pembalap Itu Istri Ku
Berusaha menjelaskan #2


__ADS_3

Namun Riska yang tidak melihat moment itu pun tengah duduk di sofa ruangan Renata sambil mendengarkan musik dari earphone nya.


"Ehm.. kamu sudah lebih tenang Kak?." Tanya Renata.


"Ini jauh lebih baik Nata" Jawab Riska.


"Masih sakit kah kepala dan perut nya?." Tanya Renata.


"Hehe, ini adalah penyakit ku. jika kambuh pasti butuh waktu lama untuk memulihkan nya. tapi kamu jangan khawatir, aku akan baik-baik saja selama Akbar bahagia." Jawab Riska.


"Kenapa Kakak masih melanjutkan hubungan Kakak dengan Kak Akbar?, padahal kan Kakak tau kalau Kak Akbar itu suka kasar pada mu Kak?." Tanya Renata yang kemudian duduk di samping Riska.


"Karena dialah cinta pertama ku, dia juga suami ku. sudah seharusnya seorang istri membahagiakan suami nya dan mencintai nya sepenuh hati. tapi aku sadar, dia memang tidak mencintai ku, dan aku hanya tengah menunggu nya melepaskan ku saja. lalu setelah itu, tugas ku sebagai istri sudah selesai." Jawab Riska sambil tersenyum.


"Kak, tolong jangan paksakan dirimu yang lelah. jika memang Kakak sakit, tolong sudahi saja. aku tidak mau melihat mu sedih saat bekerja, bahkan saat kamu sendirian pun, kamu suka menangis walau tidak pernah di perlihatkan pada kami." Ucap Renata.


Namun kali ini Riska hanya diam, lalu ia mengelus rambut Renata dan menepuk pundak nya. setelah itu, ia membuka earphone nya dan menatap Renata.


"Lanjutlah pekerjaan mu, jangan khawatir akan diriku." Titah Riska.


Lalu Renata yang memang tidak pernah menolak perintah Riska pun dengan terpaksa langsung kembali ke meja nya dan melanjutkan kerja nya. sedangkan Riska kembali memakai earphone nya dan tidur di sofa Renata.


Beberapa menit berlalu..


Setelah Rabella benar-benar pergi, Akbar pun ke ruangan Salim untuk mencari Riska yang tadi pergi begitu saja dari ruangan nya.


"Lim, lu liat Riska tidak?." Tanya Akbar.


"Gua dari tadi di sini Bar, banyak banget kerjaan, jadi gua tidak begitu memperhatikan sekitar." Jawab Salim.


"Tapi dia tidak ke ruangan lu sama sekali Lim?." Tanya Akbar.


"Tadi pagi buta si dia kesini untuk mengambil berkas, tapi setelah itu dia tidak terlihat kesini lagi." Jawab Salim.


"Thanks kalau begitu." Ucap Akbar lalu pergi dari ruangan Salim.


Dan karena ia tidak menemukan Riska di ruangan Salim, ia pun lantas mengetuk pintu ruangan Renata yang membuat Renata kaget.

__ADS_1


"Astaga, masuk saja Pak." Ucap Renata.


Lalu Akbar pun membuka pintu dengan pelan, setelah itu ia menghampiri Renata dan menengok ke arah sofa ruangan Renata.


"Ada yang bisa ku bantu Pak?." Tanya Renata.


"Kamu sudah membantu ku, karena yang ku cari sudah ada di depan mata ku." Jawab Akbar.


"Untuk apa kamu mencari Kak Riska?, jika melepas Kak Riska itu bisa membuat mu bahagia, kenapa kamu masih saja mencari nya jika dia hilang." Tanya Renata.


"Riska pasti sudah banyak cerita ya pada mu Nat?." Tanya balik Akbar.


"Sebenar nya Kak Riska tidak pernah menceritakan masalah keluarga nya pada ku, tapi aku dapat merasakan kalau dia sedang tidak baik-baik saja Pak." Jawab Renata.


"Dikala ia tengah duduk sendiri, kadang ia menangis. bahkan saat ia bekerja aku juga kerap sering melihat ia meremas tangan nya hingga banyak luka yang pasti tercetak di tangan itu. sebenarnya apa yang kamu lakukan hingga ia begitu depresi, Pak?." Tanya Renata.


"Aku melakukan kesalahan yang membuat hati nya terluka, dan aku akan memperbaiki kesalahan itu Nat. aku ingin Riska bahagia dan tau kalau aku tidaklah berpura-pura mencintai nya." Jawab Akbar.


"Jika memang begitu, tolong jagalah dia Pak. jangan membuatnya menangis ataupun banyak pikiran." Ucap Renata.


"Aku janji akan melakukan yang terbaik setelah ini Nat. kalau begitu, bolehkah ku memindahkan Riska dari ruangan mu?." Tanya Akbar.


Lalu Akbar pun menggendong Riska dan di bantu oleh Renata yang membukakan pintu ruangan nya untuk Akbar hingga pintu ruangan Akbar juga ia bantu bukakan.


"Terimakasih Nata." Ucap Renata.


Setelah tugas nya selesai, Renata pun hanya tersenyum dan kembali ke ruangan nya setelah menutup pintu ruangan Akbar. kemudian Akbar pun memutar vas bunga nya yang membuat ruangan rahasia terbuka.


Setelah itu, ia pun membaringkan Riska di kasur ruangan rahasia itu. lalu Akbar pun duduk menemani Riska dan membuka earphone di telinga Riska.


"Nata, jangan buka earphone nya ehm..." Gurau Riska yang masih menutup mata nya.


"Tidak baik tidur sambil mendengarkan musik keras sayang." Ucap Akbar di telinga Riska.


"Akbar" Balas Riska lalu membuka mata nya.


"Aku dimana?, bagaimana aku ada di sini dengan mu?." Tanya Riska yang kemudian duduk karena kaget.

__ADS_1


"Di ruangan rahasia ku, aku sengaja memindahkan mu dari ruangan Renata kesini." Jawab Akbar.


Lalu Riska pun melihat sekeliling ruangan rahasia itu yang penuh dengan lukisan wajah nya, foto kebersamaan nya dengan Akbar dan juga foto-foto pernikahan nya dengan Akbar.


"Ehm.. kenapa diam?" Tanya Akbar.


"Apa kamu sengaja memindahkan ku kesini untuk melihat pemandangan seindah ini Tuan?." Tanya Riska yang meneteskan air mata nya.


"Riska, ini bentuk kasih sayang ku padamu. sekarang kamu percaya kan kalau aku mencintai mu?." Tanya Akbar.


Lalu Riska pun hanya menangis karena terharu dengan semua ini. sedangkan Akbar yang melihat Riska bahagia pun langsung memeluk nya dan mengecup pucuk kepala nya.


"Tapi, apa kamu sudah yakin dengan hati mu?." Tanya Riska sambil melepas pelukan nya.


"Aku sudah yakin sayang, dan aku juga sudah memutuskan untuk tidak berhubungan lagi dengan nya. aku sadar aku telah salah sudah mencintai wanita yang tidak seharusnya aku cintai selain diri mu." Jawab Akbar.


"Dan apakah kamu masih membenci seorang pembalap motor wanita?." Tanya Riska.


"Aku tidak pernah membenci seorang pembalap sayang, tapi aku hanya tidak suka jika kamu terus balapan hanya untuk mendapatkan apa yang kamu inginkan." Jawab Akbar.


"Ehm.. tapi jika aku tidak bisa lepas dari balapan itu, apakah kamu akan marah pada ku?." Tanya Riska lagi.


"Aku tidak akan marah padamu selama kamu izin dan berjanji akan baik-baik saja tanpa tegores sedikit pun." Jawab Akbar.


"Terimakasih ya Tuan." Ucap Riska.


"Kenapa kamu memanggil ku Tuan?, aku kan suami mu." Tanya Akbar.


"Ehm.. aku hanya ingin meringankan beban mu untuk tidak berpura-pura, namun kini kamu sudah menyakinkan ku atas isi hati mu." Jawab Riska.


Lalu Akbar hanya terdiam dan memeluk Riska kembali. setelah itu ia pun membantu Riska keluar dari ruangan rahasia nya menuju ruang kerja mereka.


..."Pembalap Itu Istri Ku"...


Satu bulan sudah berlalu..


Setelah banyak nya lika-liku cobaan pernikahan, Akbar pun pergi ke rumah Tuan Laurent untuk kesekian kali nya. namun saat ia hendak mengetuk pintu, tiba-tiba Tuan Laurent sudah membuka pintu dan langsung berdiri di hadapan Akbar.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2