
Satu jam kemudian, Tuan Laurent pun memarkirkan mobil nya dan dengan segera Akbar menggendong Riska masuk ke dalam rumah.
"Nyonya Tuan muda dan Tuan Laurent sudah sampai" Teriak Bik Ambar lalu membukakan pintu untuk mereka.
"Bun semua sudah di siapkan?." Tanya Akbar sambil menggendong Riska dengan terburu-buru.
"Sudah Nak, Dokter.. Suster cepat stay in room." Teriak Bunda Del yang fanik.
Setelah itu Riska pun langsung di bawa masuk ke dalam kamar Akbar, lalu ia pun segera di tangani oleh Dokter dan Suster.
Sedangkan Tuan Laurent langsung memilin kening nya sambil menunggu kabar baik dari Dokter. dan di saat keadaaan genting, Galuh yang kini sudah ada di kantor polisi pun sudah masuk ke dalam jeruji besi karena laporan yang di buat Renata kini sudah di proses oleh Polisi.
"Selamat menikmati hari indah lu Gal." Ucap Kresna yang muak dengan Galuh.
"Semoga lu sadar setelah ini." Sambung Salim.
"Ya jika gua berada di sini lama ya, jika tidak.. ya tunggu pembalasan gua." Balas Galuh dengan tawa nya.
"Jika kamu bisa Kak, jika tidak bagaimana?." Tanya Renata dengan senyum licik nya.
"Tidak ada yang tidak mungkin, haha." Balas Galuh.
"Biarkan dia menggila Ta, ayo kita pergi dari sini." Ajak Kresna.
Lalu mereka bertiga pun pergi setelah memastikan Galuh bermalam di jeruji besi entah sampai kapan.
"Pembalap Itu Istri Ku"
Jam pun terus melaju dengan cepat dan silih berganti..
Namun Dokter masih belum juga keluar kamar. hingga akhir nya Akbar yang sudah kesal menunggu pun beranjak dan mengetuk pintu.
__ADS_1
"Dok, tolong jangan terlalu lama, aku khawatir dengan keadaan istri ku." Ucap Akbar sambil menggedor-gedor pintu.
"Sayang, tenanglah jangan begini. kamu tidak kasihan apa sama Riska?." Tanya Bunda Del sambil menenangkan Akbar.
"Tapi Bun, kenapa di periksa nya lama sekali, aku khawatir dengan Riska." Jawab Akbar yang terlihat prustasi.
"Bersabarlah sedikit sayang, sebentar lagi juga Dokter keluar untuk memberikan kabar baik." Ucap Bunda Del.
"Ya Akbar, kamu duduklah. semua pasti akan baik-baik saja. kamu harus tenang dan jangan seperti itu lagi." Sambung Tuan Laurent.
Kemudian Akbar pun menghela nafas setelah mendengar ucapan demi ucapan dari Tuan Laurent dan Bunda Del.
Sedangkan di dalam kamar...
Terlihatlah Riska yang terbaring lemah sambil di pakaikan berbagai macam alat medis pada tubuh Riska. lalu berbagai cara juga sudah di lakukan Dokter upaya untuk meringankan sedikit rasa sakit di kepala Riska akibat setruman.
"Sus, tolong awasi Nona muda tanpa lengah. saya mau Nona muda terawasi hingga kalau nanti terjadi apa-apa, saya sudah ready untuk menangani nya." Titah Dokter.
"Baiklah kalau begitu, saya tinggal dulu ke luar untuk memberikan kabar pada Tuan muda yang sepertinya sangat terpukul." Ucap Dokter.
"Baik Dok." Balas Suster.
Lalu Dokter pun keluar kamar dan menutup pintu kembali setelah berada di hadapan Akbar, Bunda Del dan juga Tuan Laurent.
"Bagaimana kondisi Istri saya Dok?." Tanya Akbar.
"Alhamdulillah Nona berhasil melewati masa kritis nya. namun kita harus memeriksa ulang scan kepala Nona." Jawab Dokter.
"Memang nya ada apa dengan istri saya Dok, kenapa harus di scan lagi?." Tanya Akbar.
"Karena setelah saya periksa, terdapat banyak titik yang menghambat aliran syaraf yang menuju ke dalam otak." Jawab Dokter.
__ADS_1
"Ehm.. baiklah Dok, jikalau begitu tolong bantu istri sampai dia sembuh." Ucap Akbar.
"Pasti Tuan, anda tidak usah khawatir. Kami pasti akan melakukan yang terbaik untuk Nona muda." Balas Dokter.
"Terimakasih Dok," Ucap Akbar.
"Sama-sama Tuan, dan anda juga sekarang sudah bisa menengok Nona muda kok." Balas Dokter.
Dan kemudian Akbar pun langsung masuk ke dalam sambil memeluk Riska dengan erat. sedangkan Suster yang tadi menunggu Riska, kini ia izin keluar kamar. setelah itu membiarkan Akbar yang khawatir dengan Riska untuk bicara walau Riska masih diam.
"Ehm sayang, bangunlah jangan tidur mulu. kamu tidak mau membuatkan makan siang kah untuk ku hah?." Tanya Akbar sambil melihat Riska yang masih menutup mata nya.
"Sayang bangunlah." Sambung Akbar sambil mengguncangkan tubuh Riska dengan pelan.
Namun di saat Akbar mencoba membuat Riska sadar. Riska yang memang merasa diri nya pembawa sial pun lantas masuk ke dalam dimensi lain dan bertemu dengan mendiang kakek moyang nya.
"Opah, aku tidak ingin kembali, aku capek dengan semua nya Opah. aku juga ingin bahagia tanpa harus terus mendapat siksa." Ucap Riska.
"Opah tau Nak, namun perjalanan kamu masih panjang, begitupun dengan Suami kamu. kamu harus bisa mengontrol emosi kamu ya nak. karena masih banyak yang sayang dan peduli dengan tulus. Balas Opah.
"Aku tau Opah, tapi semua itu hanya bertahan beberapa hari saja. Setelah itu semua kembali dengan trauma." Ucap Riska.
"Namun walau begitu, kamu harus sabar dan kuat Nak. Bukankah pernikahan itu pasti ada ujian?, maka inilah ujian nya." Balas Opah.
"Kembalilah Nak, tenangkan diri mu dan tetap tersemyum walau hati terasa sakit." Sambung Opah.
Lalu Riska pun mulai bangkit kembali dan membaringkan tubuh nya di bebatuan. hingga ia pun melihat cahaya terang dan dengan bersamaan, Riska di real pun membuka mata nya namun sayu karena kita sudah lelah.
Hingga akhir nya Akbar pun dapat tidur tenang setelah banyak nya cek cok yang di buat. setelah itu Akbar pun langsung memeluk Riska dan bersyukur.
Bersambung..
__ADS_1
Jangan lupa koreksi nya ya gaes and jangan lupa pula like, koment, rate, vote and gift.